Pria Gila Kaya Raya

Pria Gila Kaya Raya
So Tau


__ADS_3

Sore harinya Arfan segera pergi untuk menjemput Sindi langsung ke Kantor Anggera Land, karena Sindi tentunya masih berada di kantor itu saat ini


Dan perhitungan Arfan cukup tepat, saat dia sampai di kantor Anggera_land, karyawan baru saja bubar dari tugas masing-masing, dan mereka berhamburan keluar dari kantor untuk pulang ke tempat masing-masing, tidak terkecuali Sindi dan Nadira


Sindi dan Nadira terlihat keluar bersamaan dengan beberapa Rekannya yang lain, dan mereka terpisah setelah mereka keluar dari gerbang perusahaan, karena jalan pulang mereka berbeda arah


Mereka berdua pun berjalan bmendekat pada mobil Civic hitam milik Arfan yang terparkir tidak jauh dari pintu gerbang perusahaan Anggera_Land


Tentu saja Nadira dan Sindi hapal betul dengan mobil Arfan, dan sangat mengenali kode digit putih yang tertera di plat nomor nya


"Mau apa dia kemari??, apa dia janjian dengan wanita ular itu?, dia terang terangan sekali menunggu wanita siluman itu di depan kantor ini, apa dia tidak takut ayahku akan tau kalau dia selingkuhan istrinya??" gerutu Nadira pada Sindi


Sindi yang tau kalau Arfan sebenarnya akan menjemput nya pun hanya tersenyum tanpa berkomentar


Hingga saat mereka tepat berada di samping mobilnya, Arfan dengan sengaja menurunkan kaca jendela mobilnya


Dan Sindi pun langsung melihat ke arah Arfan yang ada di dalam mobil, dia memberi isyarat supaya Arfan tidak menegurnya dulu di depan Nadira, dengan lirikan matanya


Tapi Arfan justru malah menegur Nadira "Nadira, kebetulan sekali aku lewat kantor Anda saat jam pulang kantor, apa boleh aku mengantar mu pulang?" ucap Arfan


Nadira malah langsung bergidik mendengar tawaran dari Arfan itu "Tidak perlu, aku bisa pulang naik Taksi, bilang saja kalau Anda kesini sengaja untuk menemui pacarmu kan?, Tidak perlu berpura pura" ucap Nadira dingin


"Tidak juga,, apa kamu yakin tidak mau ku antar pulang?" tanya Arfan


"Sudah ku bilang tidak perlu, apa anda tidak dengar" ucap Nadira kesal


"Oh, kalau begitu bagaimana dengan nona Sindi, apa dia mau ku antar pulang?" ucap Arfan


"Boleh kak Arfan" ucap Sindi tanpa berpikir


Tentu saja Nadira langsung menarik tangan Sindi "Apa kamu gila, kenapa kamu mau maunya menerima tawaran pria itu" bisik Nadira pada Sindi


"Tidak perlu, Sindi tinggal di daerah sini, jadi dia tidak perlu di antar pulang olehmu" ucap Nadira


"Aku bertanya pada nona Sindi, kenapa Nona Nadira yang menjawab?" ucap Arfan


Nadira pun sedikit gelagapan karenanya, "Sindi teman ku, jadi aku tau dia tidak akan mau di antar olehmu" ucap Nadira


"Sungguh, tapi tadi dia bilang mau" ucap Arfan

__ADS_1


"Dia asal bicara saja, Iya kan Sind?" tanya Nadira


Sindi pun hanya tersenyum saja


"Kamu jawab dong, kenapa malah tersenyum saja, aku bisa malu kalau kau tidak berpihak padaku" bisik Nadira sambil mencubit tangan Sindi


"Aw, sakit Nadi" bisik Sindi


"Kalau gitu bilang padanya kamu tidak mau" ucap Nadira


Arfan memperhatikan mereka yang malah berdebat tanpa Suara itu, dan menurutnya itu sedikit lucu


"Iya Kak Arfan, aku bisa pulang sendiri" ucap Sindi dengan tersenyum canggung,


"Oh, kalau begitu kamu langsung naik sendiri saja ke mobil" ucap Arfan


Nadira pun langsung memutar mata malas "Apa Anda sedikit Bolot pak Arfan?, Sindi bilang dia tidak mau di antar" ucap Nadira


"Itu karena Sindi di larang oleh Anda Nona Dira, kalau Anda memang tidak mau ku antar pulang, tidak papa,, tapi setidaknya jangan melarang orang lain,, kasian kan nona Sindi jika harus jalan kaki ke rumahnya" ucap Arfan sengaja menggoda


"Iiihh, menyebalkan sekali pria ini" gumam Nadira pelan


"Kamu juga, teman macam apa?, masa kamu tidak peka" ucap Nadira


"Nona Dira, kalau boleh jujur sebenarnya aku kemari memang untuk menjemput Nona Sindi, soalnya Andreas sakit, dan dia ingin bertemu dengan Sindi" ucap Arfan beralasan


"I Iya Nadi, sebenarnya kita sudah Janjian" ucap Sindi


"Apa??, dasar, tidak bisa di percaya, kamu tidak takut apa kalau dia macam macam padamu??" Tanya Nadira pelan


"Nona Sindi, ayo masuk, nanti keburu terlalu sore" ucap Arfan


"Maaf ya Nadi, aku harus pergi" ucap Sindi


"Mana boleh begitu?, Kamu ini bandel sekali" ucap Nadira


"Nona Dira, aku mohon pinjam teman mu sebentar, aku janji akan mengembalikan nya dengan keadaan utuh ke tempat tinggalnya" ucap Arfan


Nadira langsung menatap sinis pada Arfan "Oke, kalau begitu aku tidak akan membiarkan sahabat ku pergi berduaan saja dengan mu" ucap Nadira

__ADS_1


Arfan sedikit tersenyum mendengar pernyataan Nadira itu, "Kalau kamu mau ikut, bilang saja, tidak perlu buat alasan kan" ucap Arfan tersenyum


"Iiih, menyebalkan" ucap Nadira pelan


Sindi pun segera membuka pintu mobil Arfan dan langsung masuk kedalam nya, itu pun di ikuti Nadira yang masuk dari sisi lain mobil,, Kedua gadis itu pun akhirnya duduk cantik di kursi belakang mobil Arfan,


Arfan memperhatikan Nadira yang duduk di belakang nya dengan menekuk wajahnya itu, dia bisa melihat Nadira dari pantulan kaca spion tengah, sementara Nadira mungkin tidak sadar kalau dirinya di perhatikan Arfan


"Kita sudah masuk kan, apa anda akan tetap mediamkan mobil anda di sini?, kalau tidak mau jalan kita turun lagi" ucap Nadira


"Baiklah nona, kita jalan sekarang" ucap Arfan tersenyum, dan langsung menginjak pedal gas mobilnya perlahan, sebenarnya dia belum puas memperhatikan Nadira


"Ngomong-ngomong, apa anda sedang datang bulan Nona Dira, aku rasa hari ini Anda sensitif sekali" ucap Arfan menggoda Nadira


"Tidak, aku aku hanya ...." Nadira sedikit bingung memberi alasan, dia merasa tidak mungkin mengatakan kalau dia sebenarnya sebal pada Arfan karena dia dekat dengan Yovi, itu sama saja dengan mengakui kalau dia cemburu "Iya,, aku, datang bulan" ucap Nadira langsung menyangga dagu di jendela mobil dengan memanyunkan bibir, dan mengalihkan pandangan ke arah Luar


"Oh, kalau gitu kamu jangan terlalu kecapean, kamu harus istirahat yang cukup, dan jangan lupa minum minuman herbal untuk meredakan nyerinya" ucap Arfan yang sengaja terus menggoda Nadira, karena dia tau kalau Nadira berbohong


"Anda tidak perlu So perhatian padaku" ucap Nadira dingin


Sindi yang menyimak hanya sesekali tersenyum kecil mendengar obrolan mereka, dan tidak berniat untuk ikut campur


"Aku memang selalu perhatian padamu" ucap Arfan


"Aku tidak suka pria yang suka mengumbar rayuanya pada setiap wanita" ucap Nadira ketus


Arfan langsung tersenyum simpul "Tapi aku hanya merayu mu saja kan, aku tidak melakukannya ke setiap wanita, buktinya aku tidak merayu Sindi, iya kan Sind??" tanya Arfan sedikit menoleh kebelakang


"Iya" ucap Sindi tidak menampik


"Kamu!!, kenapa terus membelanya?, aku teman mu, harusnya kau berpihak padaku?" ucap Nadira dengan suara kecil


"Aku hanya bilang iya saja Nadi, bukan membelanya, kamu ini kenapa sih, Kak Arfan baik pada kita kan?, apa aku salah jika hanya mengiyakannya?" ucap Sindi dengan suara kecil, juga


Meski mereka berdebat dengan berbisik di mobil, tapi Arfan masih bisa mendengar perdebatan kecil mereka itu "Jangan bertengkar di mobilku" ucap Arfan sambil tersenyum


"Siapa yang bertengkar, dasar So tau" ucap Nadira kembali membuang mukanya ke arah jendela lagi


Arfan tersenyum lagi dan lagi saat mencuri pandang pada Nadira, meski dia melihat Nadira terus menekuk wajahnya selama perjalanan, Arfan tetap tidak bosan memperhatikan wajahnya itu

__ADS_1


__ADS_2