
Setelah Arfan mendegar Nadira menerimanya, dia langsung melirik Andreas yang duduk di seberang kursinya, "Dre, apa kau akan tetap di sini untuk menonton, mending kamu cari aktivitas lain" ucap Arfan mengusir Andreas secara halus
"O Iya, duh sepertinya di sini memang sedikit panas, aku cari angin dulu di luar" ucap Andreas langsung beranjak dari duduknya
Setelah Andreas pergi, Arfan langsung meraih tangan Nadira dan menciumnya saat itu juga, dia tidak bisa melukiskan perasaan nya sekarang, dia mengira harus menunggu lagi jawaban dari Nadira, tapi nyatanya Nadira langsung menerimanya meskipun di suasana yang tidak terlalu mendukung
Arfan menatap lekat mata Indah Nadira yang berwarna sedikit kecoklatan "Maaf, Aku tidak punya bunga atau hadiah untuk ku berikan padamu sekarang, apa kau menginginkan sesuatu di hari jadi kita ini? bilang saja" ucap Arfan
Nadira juga menatap lekat mata Arfan dengan mata sayu "Aku tidak menginginkan bunga atu apa pun itu,, yang aku ingin sekarang kau menjaga hati ini dengan segenap ketulusan mu, apa kau bisa melakukan itu?" tanya Nadira
"Pasti, aku pasti akan menjagnya, selamanya" ucap Arfan Asal
"Aku percaya padamu" ucap Nadira Seraya menampakan senyum yang indah dari bibirnya
Arfan lalu meraih kepala Nadira dan Langsung mencium lembut keningnya sebagai tanda di mulai nya kasih sayang di antara mereka
Mereka saling menatap satau sama lain dengan perasaan yang mungkin sulit untuk mereka gambarkan
Arfan kemudian mengajak Nadira ke salah satu spot di area belakang rumah yang terdapat taman dan kolam ikan Koi, karena menurutnya di sana tempat yang cukup nyaman dan menenangkan
Mereka duduk di salah satu bangku taman dan menatapi ikan ikan koi yang berenang kesana kemari di kolam yang ada di depan mereka
"Aku suka tempat ini kak, rumah mu benar-benar sangat nyaman" ucap Nadira
"Aku juga sangat suka, Andreas yang membangun semua ini" ucap Arfan sambil memperhatikan sekitar taman itu
"O yah??, ku pikir kalian berdua yang membangun rumah ini"ucap Nadira
"Tidak, Andreas yang membangunnya sendirian,, sebab beberapa tahun belakangan aku sakit yang menyebabkan ku tidak turut andil, jadi semua ini dia yang membangunnya," Arfan menoleh kemudian menatap wajah Nadira di sampingnya, "Nadira, ada hal yang ingin ku katakan padamu tentang masa lalu ku, dan ku harap itu tidak akan merubah keadaan yang sekarang ini" ucap Arfan
"Katakan saja, aku juga tidak ingin ada rahasia yang kamu sembunyikan dari ku" ucap Nadira membalas tatapan Arfan
"Baiklah, aku sebenarnya......."
Tiba tiba ponsel Nadira berdering tanda panggilan masuk, dan Nadira segera melihat ponselnya itu "Adiku memanggil, ala boleh aku mengangkat telponnya dulu?" tanya Nadira
"Angkat saja, mungkin ada sesuatu yang penting" ucap Arfan
"Mungkin bagitu, Soalnya dia jarang sekali menghubungi ku" ucap Nadira, dia pun segera menerima panggilan dari Gio adiknya
"Hallo Gio, ada apa kamu menghubungi kakak?" tanya Nadira
📲"Kak, papah masuk rumah sakit, apa Kakak bisa rumah sakit sekarang?" tanya Gio
__ADS_1
"Kenapa papah masuk rumah sakit??" tanya Nadira peduli tidak peduli
📲"Papah pingsan di rumah tadi, aku juga tidak tau papah kenapa, kakak kesini saja, ya" ucap Gio
"Iya Iya,, kamu Sherlock saja posisimu, nanti kakak kesana" ucap Nadira
📲"Iya kak" ucap Gio
Nadira pun segera menyudahi panggilannya, dan menoleh kembali ke Arfan "Kak Arfan, papahku masuk ke rumah sakit, jadi aku harus kesana sekarang" ucap Nadira
"Baiklah, Aku akan antar kamu kesana," ucap Arfan
"Terima kasih kalau gitu" ucap Nadira
Mereka pun segera beranjak dari taman, dan segera menuju ke mobil Arfan yang terparkir di halaman depan untuk pergi ke rumah sakit
.
…
Sesampainya di rumah sakit Nadira dan Arfan langsung bergegas menuju ke kamar rawat ayahnya setelah mereka di beri tahu suster jaga, dan mereka langsung masuk ke ruangan tempat Edgar di rawat
Nadira melihat ayahnya terbaring lemas di ranjang Rumah sakit, dan dia sedang di periksa oleh beberapa dokter
"Tentu saja, kakak tidak mau kamu sendirian mengurus papah di sini, tapi papah sebenarnya kenapa?" tanya Nadira
"Aku tidak tau kak, aku menemukan papah sudah tergeletak di ruang tamu saat aku ingin keluar" ucap Gio
"Apa kamu belum bertanya pada dokter?" tanya Nadira lagi
"Belum kak, mereka baru memeriksanya sekarang" ucap Gio
Nadira melangkah untuk menghampiri Edgar yang masih di periksa intensif oleh dokter, dan tidak lama dokter berbalik pada Nadira sambil melepaskan stetoskop dari telinga nya
"Sebenarnya ayah saya kenapa dok?" tanya Nadira
"Pasien mengalami serangan jantung ringan, mungkin dia sebelumnya menerima kabar buruk, atau marah pada seseorang, Hingga membuat emosinya tidak stabil dan memicu terjadinya serangan jantung" ucap Dokter
"Begitukah?, lalu bagaimana kondisinya sekarang dok?" tanya Nadira
"Pasien masih bisa kalmi tangani, karena memang kondisinya belum terlalu buruk, dia hanya perlu beristirahat di bawah pengawasan kami, dan saran saya jangan beri dia kabar buruk yang bisa mengganggu kesehatannya lagi" ucap Dokter itu
"Baik dok, saya mengerti" ucap Nadira
__ADS_1
"Kalau begitu saya tinggal dulu" ucap sang Dokter
"Iya silahkan, terima kasih dok" ucap Nadira
Dokter itu pun segera meninggalkan ruangan Edgar
Nadira menoleh pada Arfan yang sekarang berdiri di sampingnya, "Apa mungkin papah seperti ini karena perpisahannya dengan Yovi?" tanya Nadira
"Mungkin saja, tapi ini lebih baik untuk Ayahmu daripada dia harus terus di manfaatkan oleh Yovi kan?,,, dan mungkin ini juga baik untuk hubungan keluarga mu nantinya" ucap Arfan
"Tidak ada yang bisa di perbaiki dari keluarga ku kak, cermin yang retak tidak akan bisa kembali seperti semula meskipun di perbaiki" ucap Nadira
"Aku tau, tapi setidaknya sudah tidak ada Yovi di antara kau dan ayahmu kan, dan mungkin kamu bisa sedikit memperbaiki hubungan mu dengan ayahmu" ucap Arfan
"Apa Yovi sekarang sudah masuk penjara?" tanya Nadira
"Harusanya begitu, tapi aku masih belum dapat pemberitahuan dari pihak berwajib" ucap Arfan
"Oh,, Kalau kamu nanti ada panggilan dari pihak berwajib, aku ikut ya, aku ingin melihat penderitaan Yovi sekarang" ucap Nadira
"Tentu saja" ucap Arfan.
.
Mereka bertiga menunggu Edgar di dalam ruangan itu, sampai ketika hari beranjak siang, Edgar baru mendapat kan ke sadaranya kembali
"Na,,di,,ra" nama itulah yang pertama kali di sebut oleh Edgar dengan suara yang berat
Nadira yang merasa namanya di sebut langsung menghampiri Edgar "Aku di sini" ucap Nadira
"Kau di sini sayang?,, ku kira kau tidak akan perduli pada ayahmu ini" ucap Edgar seraya menjatuhkan bulir air dari sudut matanya
"Aku hanya kasihan pada Gio jika dia harus mengurus mu di sini sendirian" ucap Nadira
Edgar langsung meraih tangan Nadira dengan gerakan patah patah "Nadira, papah minta maaf padamu, papah tidak pernah mendengar apa yang kamu katakan selama ini tentang Yovi,, dan papah baru tau kalau semua yang kamu katakan itu benar, papah menyesal karena selalu membelanya dari pada membela mu" ucap Edgar
"Tidak ada yang perlu di sesali sekarang, aku bersyukur kau sudah mengetahui kelakuan buruk istri mu itu" ucap Nadira
"Apa kamu mau memaafkan kesalahan papah sayang?" tanya Edgar dengan terus menitikan Air matanya
"Itu tergantung papah sendiri, jika papah mau berubah seperti dulu lagi, aku akan memaafkan papah, tapi jika papah berniat mengulangi hal yang sama, aku tidak ingin memaafkan papah Samapi kapan pun" ucap Nadira
"Papah janji Dira, papah akan mencoba jadi ayah yang baik lagi untuk mu dan untuk Gio" ucap Edgar seraya mempererat gegamanya di tangan Nadira
__ADS_1