
Arfan langsung tersenyum simpul pada Nadira yang di samping Edgar itu
Nadira pun merespon nya dengan tersenyum juga,, hanya saja Nadira tidak punya kesan apapun pada Arfan sekarang, karena dia merasa tidak pernah mengenal pria di hadapannya itu sebelumnya, dia memang tidak pernah menyangka kalau Arfan itu adalah pria gila yang sering di ajaknya curhat di pos tua, yang sudah di anggap nya sebagai teman itu
Adapun dia sadar kalau Arfan selalu memperhatikanya, tapi dia berpikir kalau itu hanya tatapan genit yang lumrah dari seorang kaya pada seorang gadis sepertinya, dan pikir nya itu mungkin di lakukan Arfan kepada setiap wanita yang di temuinya, tanpa terkecuali
"Kalau begitu saya pergi dulu pak Arfan, sampai bertemu lagi di lain kesempatan, saya senang bisa bekerja sama dengan direktur direktur muda yang handal seperti kalian ini" Ucap Edgar yang langsung berjabat tangan dengan Arfan dan Andreas
Setelah itu, Edgar, Nadira, Yola, dan beberapa stafnya pun segera pergi dari hadapan Arfan,
Sementara Arfan terus saja memperhatikan Punggung Nadira yang perlahan menjauh dari hadapannya dan kemudian hilang di balik lorong
"Kak, aku tau kau sangat menyukainya, jadi jangan membohongi dirimu lagi, katakan yang sebenarnya pada Nadira kalau kau ini adalah teman curhat nya" ucap Andreas
"Entahlah, aku sedikit takut dia tidak akan bisa menyukaiku" ucap Arfan
"Kalau tidak di coba mana tau jawabannya kan?" ucap Andreas
"Kalau di coba dan hasilnya mengecewakan, aku mungkin akan gila lagi nanti" ucap Arfan sambil berlalu dari hadapan Andreas
"Baiklah aku tidak akan memaksa mu, Pikiran mu itu terlalu rumit kak, kenapa tidak mebuatnya simpel saja, kalau dia menerima mu ya syukur, kalau tidak ya tinggal cari saja yang lain, gampang kan?" ucap Andreas sambil mengikuti langkah Arfan
"Tidak semudah itu Dre" ucap Arfan
...°°°°...
Sementara di sisi lain, Nadira sudah duduk di kursi bagian belakang mobil, dan berdampingan dengan Edgar ayahnya
"Nadira, Kau mengenal baik dua pria itu kan?, Apa kau dekat dengan salah satu dari mereka?" Tanya Edgar
"Tidak, aku hanya sebatas mengenal mereka saja, tidak lebih" ucap Nadira
"Kalau mereka bisa menerima mu, ayah ingin menjodohkan kamu dengan salah satu dari mereka" ucap Edgar
__ADS_1
"Aku bisa mencari jodohku sendiri, tidak perlu kau ikut campur dengan urusan jodohku" ucap Nadira
"Kau memang anak yang keras kepala," ucap Edgar
Mobil Mereka pun segera membawa mereka ke kantor Anggera land, dan Nadira pun mengikuti Edgar untuk keruanganya, karena dia masih belum resmi di beri jabatan lagi di hari pertamanya masuk kantor itu
"Wah wah, si anak lumpuh ini ternyata kembali lagi ke kantor ini, aku dengar kamu mengenal pemimpin dari perusahaan Ednan grup ya, apa kau ada main di belakang dengan pemimpin perusahaan itu??, hebat sekali, Kau terlihat baik di luar, tapi nyatanya kau ini mainan seorang konglomerat ya?" ucap Yovi yang ada di ruangan ayahnya
"Jaga bicara Anda nyonya sekretaris, aku tidak sebusuk dan sehina anda yang ahli dalam menggoda atasanmu" ucap Nadira
"Nadira!!, jaga bicaramu!!" bentak Edgar
"Jaga??, apa dia juga menjaga bicaranya, tidak kan?, buat apa aku menjaga bicaraku" ucap Nadira sedikit menaikan nada bicaranya
"Kenapa sih mas harus bawa dia kemari lagi, memangnya apa yang bisa dilakukan gadis lumpuh seperti dia di kantor ini, apa dia akan diam saja dan makan gajih buta di perusahan ini?" ucap Yovi
"Sayang, dia kan masih putriku juga, dia juga sudah membantu memuluskan kerja sama kita dengan Pihak Ednaninternasional_grup" ucap Edgar
"Tapi dia juga kan yang mempersulitnya, dan itu pasti hanya akal akalan dia saja supaya dia bisa bekerja di sini lagi," ucap Yovi
"Baik, dia boleh kerja disini lagi, tapi aku yang tentukan dia jadi apa di kantor ini, dia tidak akan menduduki jabatan manager seperti sebelumnya, aku tidak yakin dia masih mampu memimpin salah satu divisi di kantor ini lagi, dan aku putuskan dia hanya akan jadi staf biasa saja" ucap Yovi
"Tapi sayang......"
"Tidak ada tapi tapian, kalau putrimu mau Kerja di sini lagi, itu artinya dia harus mengikuti aturan ku, kalau tidak, ya tidak perlu ada dia di perusahaan ini" ucap Yovi
Edgar pun tidak bisa melawan pada Istrinya itu, diapun menoleh pada Nadira
"Nadira,,, kau boleh kerja di sini lagi, tapi sebagai staf biasa, apa kamu bersedia?" tanya Edgar
"Kenapa papah harus menurut pada wanita gila itu?, kenapa kamu tidak bisa membela Putri mu sendiri" ucap Nadira
"Itu sudah jadi keputusan nya, terserah kamu mau atau tidak" ucap Edgar menegaskan
__ADS_1
"Papah memang benar-benar tidak peduli lagi padaku" ucap Nadira
"Jadi kau masih mau kerja atau tidak?, kalau tidak ya silahkan pergi," ucap Yovi
"Bagaiman Dira?" tanya Edgar
"Baik, aku bisa terima jadi staf biasa, tapi aku tidak akan menuruti perintah dari wanita gila itu" ucap Nadira
Diapun langsung berbalik dan keluar dari ruangan Ayahnya itu, dan ayahnya pun mengikuti nya untuk menentukan akan di tempatkan di mana Putri nya itu
Dan Nadira pun memilih departemen yang pernah di pimpinya sebelumnya, karena di sana ada Sindi teman dekatnya
Dan Nadira pun segera pergi ke departemen itu dengan perasaan kesalnya
Nadira pun segera masuk keruangan itu dengan malas, dan begitu dia masuk Sindi yang melihat kedatangan nya pun langsung menghampiri Nadira dan langsung meraih tanganya dengan girang
"Nadira??, kamu Bekerja di sini lagi sekarang?, syukurlah, aku senang sekali bisa melihat mu di kantor ini lagi" ucap Sindi
"Iya, tapi aku bukan manager lagi sekarang, aku hanya karyawan biasa" ucap Nadira
"Kok bisa??, ini kan kantor Ayahmu Nadi, Kenapa kamu harus jadi karyawan biasa?" ucap Sindi
"Kau tau sendiri kan, ayahku sekarang sudah tunduk pada si nenek sihir itu, dan dia juga yang menentukan jabatanku di kantor ini sekarang" ucap Nadira
"Yang sabar ya Nadi,,, o yah, bagaimana kondisi kakimu sekarang?" tanya Sindi mengalihkan topik
"Lumayan sudah tidak terlalu sakit sih, tapi kata dokter kakiku harus di operasi, kalau tidak, aku tidak akan bisa menggerakkan kakiku lagi," ucap Nadira
"Apa Ayahmu tau itu?" tanya Sindi
"Jangankan menanyai soal kakiku, menemuiku saja dia baru kemarin melakukannya, itu pun karena ada kesalahpahaman yang terjadi, kalau tidak, mungkin dia tidak akan pernah menemui ku lagi" ucap Nadira sambil matanya berkaca-kaca
"Yang sabar ya, ya sudah, kita duduk yuk" ucap Sindi sambil memapah Nadira untuk duduk di salah satu kursi
__ADS_1
Dan Sindi pun mencoba untuk menghibur Nadira yang terlihat sedikit sedih itu
Nadira pun sekarang menjalani tugas di kantor ayahnya sebagai karyawan biasa, padahal sebelumnya dia menjabat sebagai manager di perusahaan ayahnya itu