
Yovi terus mengeluarkan bujuk Rayunya kepada Edgar supaya dia bisa menandatangani dokumen perusahaan agar bisa atas mamanya
"Ayolah mas, apa lagi yang kamu pikirkan, aku akan selamanya ada di sampingmu, jadi kenapa kamu seperti keberatan untuk sekedar Menganti nama saja, pada dasarnya perusahaan ini akan tetap milik kita kan, atau kamu memang ada niat membuang ku Setelah kamu bosan padaku, hah?" tanya Yovi sedikit manyun
Edgar pun langsung beranjak ke belakang kursi Yovi "Bukan begitu sayang, aku akan mencintaimu sampai kapanpun,, tapi untuk mengganti hak sepenuhnya atas perusahaan ini aku harus meminta persetujuan dari beberapa pihak, termasuk Nadira dan Gio, karena bagaimanapun mereka adalah putraku, dan mereka berhak atas sebagian perusahaan ini nantinya" ucap Edgar
"Mas memang benar-benar menyebalkan" ucap Yopi ketus
"Tolonglah kamu mengerti, kalau kamu meminta penambahan saham bagianmu, oke aku bisa langsung berikan, tapi kalau itu menyangkut soal kepemeilikan perusahaan aku harus benar-benar teliti mengambil keputusan nya, agar tidak ada pihak yang di rugikan nantinya, tapi aku berjanji,, kamu juga akan dapatkan hak bagian mu dari perusahaan ini nanti, oke" ucap Edgar meraih dagu Yovi
"Terserah lah, aku malas ngobrol lagi dengan mu" ucap Yovi langsung memalingkan wajahnya dari Edgar
'Sepertinya aku harus cari cara lain untuk merebut perusahaan ini, lihat saja, aku pasti akan mendapatkan apa pun yang ku inginkan,' pikir Yovi
Dia langsung berpikir harus menyusun rencana lain supaya dia bisa melaksanakan niatnya itu, dia memang wanita yang akan menghalalkan segala cara untuk memenuhi setiap ambisinya, termasuk jika harus menyingkirkan Nadira dan Gio yang sebagai ahli waris Edgar
...°°°°...
Sementara di tempat lain,,
Nadira yang kini kembali bisa hidup normal tanpa harus membawa tongkat kemana pun merasa dunianya tidak terlalu buruk lagi, itu membawa pengaruh positif pada mood kerjanya, dia sedikit lebih aktif daripada biasanya, dan selalu menebar senyum pada setiap karyawan di divisnya yang sebelumnya adalah anak buahnya
Dan bedanya sekarang mereka ada di kedudukan yang sama karena Nadira juga sekarang bersetatus karyawan biasa
"Hay Nadi, serius banget sih, ayo makan, sudah waktunya makan siang ini" ucap Sindi
Nadira pun menengok jam di pergelangan tangannya, "A Iya, kenapa rasanya waktu cepat sekali berlalu" ucap Nadira
"Mungkin itu karena kamu terlalu bersemangat kerja" ucap Sindi
"Iya, aku memang merasa kembali keduniaku lagi, sebulan kemarin rasanya aku seperti di penjara di rumah sakit, tidak bisa kemana mana kan" ucap Nadira
"Kalau begitu hari ini kita makan di luar, pasti kamu sudah rindu makan di kafe favorit kita yang biasa kita makan dulu kan?" tanya Sindi
"Yaa, tapi lebih baik jangan lah, kita makan di kantin saja seperti biasa,, biar hemat" ucap Nadira
"Kamu tidak perlu khawatir soal kantong, pokoknya kali ini aku yang traktir kamu makan, bagaimana?" ucap Sindi
"Sungguh?, ini tanggal tua lho, apa kamu yakin mau mentraktir ku makan di sana?, gak takut kebobolan apa?" tanya Nadira memastikan
__ADS_1
"Tidak lah, aku senang kamu bisa sembuh, jadi anggap saja ini untuk merayakan kesembuhanmu ini Nadi" ucap Sindi
"Kalau begitu ayo, jangan di tunda lagi, takutnya kamu Akan berubah pikiran nanti" ucap Nadira langsung beranjak dari duduknya dan merangkul pundak Sindi yang sedikit lebih pendek darinya itu,
"Iya, ayo" ucap Sindi
Mereka berdua pun segera turun dari lantai tepat mereka bekerja, dan langsung bergegas pergi untuk makan siang dengan mengendarai sepeda motor Sindi
.
Tidak lama Mereka pun akhirnya tiba di tempat makan yang biasa mereka kunjungi saat Nadira masih menjabat sebagai manager di kantor ayah itu, dan kadang menelaktir Sindi makan juga di tempat itu
"Sudah lama aku tidak pernah kesini lagi" ucap Nadira yang baru turun dari motor Sindi
"Ya sama, aku juga baru sekarang kesini lagi, biasanya kamu yang mengajaku kesini kan" ucap Sindi sambil membuka helmnya dan menggantungnya di sepion motornya
"Ya sudah, ayo kita masuk" ucap Nadira bersemangat
Mereka berdua segera melangkah masuk kedalam kafe yang lumaya luas itu, dan segera memilih tempat duduk di meja yang dekat dengan jendela, dan mereka segera memesan menu favorit mereka yang ada di kafe itu,
Saat Nadira sedang menunggu pesanan mereka datang, tidak sengaja Netra Nadira menangkap sosok pria yang dia kenali masuk kedalam kafe itu,
Dan itu adalah Arfan, namun dia tidak datang sendirian ke kafe itu, dia masuk bersama Wanita cantik berambut kemerahan dan bermake-up tebal di sampingnya
'K**enapa Arfan bisa jalan dengan Wanita siluman itu, apa semua pria di dunia ini harus tertarik padanya???' pikir Nadira
Nadira yang tadinya nampak sumringah pun kini wajahnya sedikit mendung dan bahkan menggelap, dia pun mencoba untuk tidak Terus melihat Arfan lagi
Sindi yang Sadar kalau Nadira bertingkah aneh pun mencoba mencari tau apa yang sudah di lihat Nadira, dia menoleh ke arah pandangan Nadira sebelumnya, dan dia juga sedikit tidak habis pikir kenapa Arfan jalan dengan ibu tiri Nadira
"Apa itu pak Arfan dan ibu tirimu Nadi???" tanya Sindi dengan suara pelan
"Iya, kurasa mereka saling mengenal" ucap Nadira datar
"Apa kamu ingin pindah tempat makan?" tanya Sindi yang menghawatirkan mood Nadira
"Tidak perlu, kita makan disini saja" ucap Nadira
Tidak lama pesanan mereka pun segera tersaji di meja, Nadira mencoba untuk tidak terlalu menghiraukan Arfan, dan segera menyantap makan Siangnya dengan moodnya yang sedikit buruk
__ADS_1
Sementara Arfan masih belum sadar kalau di kafe itu ada Nadira yang memperhatikan nya, dia biasa janjian dengan Yovi untuk makan Siang di sana, dan sangat jarang untuk memperhatikan orang di sekitarnya, dan kebetulan tempat duduk Arfan juga sedikit jauh dari tempat duduk Nadira
Tapi Meskipun Begitu, Arfan merasa kalau perasaannya sedikit tidak enak, itupun membuatnya jadi sering terbengong
"Sayang, kok kamu bengong,, apa kamu sakit?" tanya Yovi
"Mungkin aku memang sedikit tidak enak badan" ucap Arfan
"Kalau gitu habis pulang dari sini kamu langsung periksa ke dokter ya!, aku tidak mau kamu sakit" ucap Yovi
"Iya, nanti aku periksa" ucap Arfan, dan dia segera menyantap makan Siangnya yang baru saja sampai di mejanya
.
Setelah Arfan menyelesaikan makan Siangnya, dia membayar bill tagihanya, dan segera beranjak keluar dengan di gandeng Yovi lagi, masih tanpa memperhatikan orang di sekitarnya
Sementara mata Nadira terus menatap tajam ke arah Arfan
.
Di luar Kafe
"Sampai jumpa lagi besok ya, awas lho kalau kamu gak datang lagi seperti kemarin, aku kecewa tau, O yah kapan kamu ada waktu untuk temani aku ke klab lagi?,, kamu susah sekali sih di ajak jalan" ucap Yovi
"Sudah kubilang, akhir akhir ini aku sering tidak enak badan,, jadi aku sedikit malas untuk keluar malam" ucap Arfan beralasan
"Kamu ini gak asik ah, culun,, aku tidak mau tau, pokonya akhir pekan ini kamu harus temani aku keluar, tidak boleh nolak," ucap Yovi
"Iya lihat nanti saja" ucap Arfan yang sudah membuka pintu mobilnya, dan kemudian dia masuk
"Sampai jumpa lagi nanti ya," ucap Yovi dari jendela mobil Arfan
"Iya Iya" ucap Arfan malas
Arfan segera menghidupkan mesin mobilnya, Yovi juga segera bergegas pergi ke mobilnya
Namun saat Arfan sudah bersiap melajukan mobilnya, ponsel di saku jasnya tiba tiba bergetar sekilas, karena arfan penasaran diapun mengambil ponselnya untuk melihatnya
Dan itu adalah sebuah Chat yang dikirim oleh Nadira, "Nadira???" gumamnya,, Arfan pun segera membuka chat nya, dan Nadira hanya menulis
__ADS_1
[📩"Jangan pergi dulu, Ada hal yang ingin ku bicarakan dengan Anda"]
Sontak Arfan pun langsung memperhatikan area kafe dari jendela mobilnya,, dan Arfan melihat kalau Nadira sekarang berdiri tepat di depan pintu masuk kafe itu bersama Sindi