
Oma Laura nampak bahagia saat cucunya yang sudah tiga tahun tidak pernah mengunjunginya itu kini kembali dengan membawa sosok Gadis cantik nan anggun kehadapannya, dan oma punya kesan yang Sangat baik pada Nadira meskipun ini pertemuan perdana mereka,, Oma menyangka kalau mereka berdua itu memang benar-benar memiliki hubungan yang spesial
"Oma sangat senang bisa bertemu dengan mu, o yah, Siapa namamu sayang??" tanya oma Laura sambil menepuk nepuk punggung tangan Nadira yang masih berjabat tangan dengannya
"Namaku Nadira Oma" ucap Nadira
"Nadira ya?, Nama Yang cantik,, Oma berharap kalian bisa secepatnya menikah, dan segera melahirkan Cicit Cicit yang lucu untuk oma" ucap Oma Laura
"Oma, kami belum lama bertemu, jadi Kami masih harus menyesuaikan diri masing-masing dulu" ucap Arfan
"Ya Oma paham itu, tapi jangan lama lama, kalau kalian berdua sudah merasa saling cocok, cepat cepat lah menikah," ucap Oma laura, dipaun mulai memperhatikan wajah Arfan, dan dia melihat ada luka lebam di kening Arfan itu, meski usianya sudah senja, tapi penglihatan oma Laura memang masih bagus
"Arfan, dahimu kenapa?, kok memar begitu?, apa itu sakit?" tanya oma Laura yang baru menyadari luka bekas hils Nadira itu di dahi cucunya
"Oh, ini tadi aku tidak hati hati Oma, jadi aku kepentok sesuatu di dalam mobil" ucap Arfan sedikit melirik Nadira
Nadira pun Sadar kalau Arfan pasti menyalahkan dirinya, dan dia menatap Arfan dengan perasaan bersalah, dia sedikit menyesal sudah melakukan itu pada Arfan, karena pada kenyataannya Arfan tidak memiliki niat buruk seperti yang di pikirkanya sebelumnya.
"Ya Sudah, kalau begitu cepat cepat obati dulu lukamu itu, Dinda, kamu ambilkan kotak obat untuk kakakmu" suruh Oma Laura
"Iya Oma, sebentar, Dinda ambil dulu" ucap Dinda segera beranjak untuk mengambil kotak Obat yang di perlukan
Tidak lama Dinda kembali dengan membawa kotak obat di tanganya, "Sini kak, duduk di sofa,, biar Dinda obatin dulu" ucap Dinda
"Baiklah" Arfan segera beranjak menghampiri Dinda yang sudah duduk di sofa
Nadira juga beranjak dari hadapan oma Laura dan mengikuti Arfan
Dinda pun segera membuka kotak obatnya saat Arfan sudah duduk di depanya
"Din, biar kakak saja yang obatin kak Arfan" ucap Nadira
"Oh, Baiklah, ini kak obatnya" Dinda langsung menyerahkan kotak obatnya kepada Nadira, dan menggeser duduknya untuk memberi ruang untuk Nadira duduk di dekat Arfan
Arfan merasa sedikit hangat karena Nadira bisa bersikap manis di depan keluarga nya, itu mungkin akan meyakinkan oma kalau Nadira memang pasangannya,, dan tentu saja itu tidak ada dalam rencana Arfan sebelumnya
Nadira duduk di sebelah Arfan dan mulai membuka kotak obatnya, dia mengambil kapas dan antiseptik untuk membersihkan luka Arfan
"Dinda, kamu ambil minuman dulu untuk kakakmu sana" ucap Oma Laura
__ADS_1
"Oh iya Oma, Dinda lupa" ucap Dinda, dia langsung beranjak untuk mengambil minuman
Nadira pun mulai mengoles cairan antiseptik ke luka Arfan perlahan,
"Aw," lirih Arfan yang merasa itu sedikit perih
"Sakit ya?, maaf ya,, aku tidak bermaksud membuatmu begini" ucap Nadira yang merasa bersalah juga karena luka itu di sebabkan olehnya "Kenapa tidak Jujur sedari awal kalau kamu mengajaku mengunjungi nenek mu" ucap Nadira dengan suara pelan
"Jika seandainya aku jujur dari awal, apa kamu akan bersedia untuk ikut?" tanya Arfan juga dengan suara pelan
"Ya tidak juga,, tapi setidaknya aku tidak perlu memukulmu seperti tadi kan, kamu sudah benar-benar menakuti ku, kukira kamu benar-benar pria mesum" ucap Nadira
Arfan langsung tersenyum mendengar pernyataan Nadira, dia memang tidak tau apa yang sebelumnya Nadira pikirkan saat dia mengetok kepalanya dengan hils,, Dan Arfan sedikit memakluminya saat tau alasan dari Nadira memukulnya
"Aku seanang bisa di pukul olehmu" ucap Arfan Asal
"Kau ini memang pria yang aneh, kalau kau suka di pukul, kenapa tidak jadi petinju saja sekalian, atau perlu ak memukulmu lagi?" tanya Nadira
"Boleh juga" ucap Arfan sambil terus menatap wajah Nadira yang serius mengobatinya
Nadira yang mendengar jawaban Arfan jadi sedikit kasar mengolesi anti septik nya
"Segini saja sudah sakit kan?, masih nantang ingin di pukul lagi" ucap Nadira
"Ayolah, kalian baikan dong, masa terus berantem sih" ucap Dinda yang tiba tiba datang dengan membawa minuman di namapan, dan dia sedikit memperhatikan gelagat dari keduanya
Nadira pun langsung menoleh pada Dinda
"Siapa yang berantem?, Kakak sedang mengobati kakak mu kan" ucap Nadira
"Iya, tapi jangan pake emosi juga kali, kasian tau, itu kakak Dinda loh" ucap Dinda sambil menaruh minuman untuk Nadira dan Arfan di meja
"Iya Iya maaf, habisnya kakakmu nantangin sih" ucap Nadira
"Minumannya kak" ucap Dinda
"Iya terimakasih" ucap Nadira
Dinda segera duduk di samping Nadira Lagi, dan Nadira juga segera melanjutkan pengobatanya Lagi di kening Arfan
__ADS_1
"Kak Nadira, kamu malam ini menginap di sini saja Ya, supaya Dinda ada teman malam ini" ucap Dinda
Nadira melirik Dinda sekilas, dan kemudian menatap Arfan "Kakak sepertinya tidak bisa menginap Din, Iya kan pak Arfan?" tanya Nadira
"Kok panggil pak sih?, kalian ini pasangan bisnis atau apa?, tidak ada romantis romantis nya" Sahut Oma Laura yang di belakang Arfan
"O Iya maaf oma, Aku aku keceplosan barusan, maksud ku Arfan saja" ucap Nadira tersenyum canggung
"Panggil sayang dong kak, masa panggil nama sih, yang Dinda tau kalau pasangan kekasih itu sukanya sayang sayangan" ucap Dinda
"Kamu masih kecil, pake tau sayang sayangan segala" ucap Arfan
"Tau lah, teman sekolah Dinda juga ada yang sudah sayang sayangan" ucap Dinda
"Awas saja kalau kamu ikut ikutan" ucap Arfan
"Hihii" Dinda hanya nyengir mendengarnya
"O yah, tadi kamu nanya kak Nadira menginap atau tidak kan?,, jawabanya kak Nadira memang akan menginap di sini malam ini" ucap Arfan
Sontak Nadira pun langsung membelalakkan matanya pada Arfan "Tidak tidak, aku tidak mau menginap Arfan" ucap Nadira
"Kenapa tidak Panggil sayang saja, kenapa panggil nama, kata oma itu tidak romantis" ucap Arfan menggoda
"Tidak mau" ucap Nadira
"Ayolah kak Nadira, Dinda akan merasa senang kalau Kakak mau menginap di sini malam ini" ucap Dinda yang langsung meraih pangkal lengan Nadira dengan tatapan penuh harap
Nadira pun tertegun untuk memikirkannya, meski ibunya tidak akan khawatir karena dia sudah di suap Arfan, tapi dia merasa tidak ingin jauh jauh dari rumahnya sendiri,
"Maaf Dinda, seperti nya Kaka tidak bisa" ucap Nadira
"Ya kakak" ucap Dinda merasa kecewa
"Sekedar informasi, kalau kamu tidak mau menginap, Kamu boleh pulang sendiri, soalnya aku akan menginap di sini" ucap Arfan
"Mana boleh begitu?, kalau kamu memang merasa pria yang baik, kamu harusnya ber tanggung jawab mengantar wanita pulang setelah mengajak nya pergi" ucap Nadira
"Uhuk uhuk,, aku merasa tidak enak badan setelah mendapat benturan di kepalaku, jadi maaf, aku tidak bisa mengantar kamu pulang nanti, bukannya aku tidak bertanggung jawab" ucap Arfan beralasan
__ADS_1