Pria Gila Kaya Raya

Pria Gila Kaya Raya
Kediaman Ednan Bersaudara


__ADS_3

Arfan mengendarai mobilnya menyusuri jalanan Kota B yang ramai lancar di sore hari yang masih cukup cerah itu,, dan tidak terasa mereka pun akhirnya sampai di daerah tempat Nadira tinggal,


Arfan segera menepikan mobilnya di area depan gerai kecil tempat pertama kali dia bertemu dengan Nadira


Kini kounter itu terlihat sudah berganti penunggunya


"Kanapa kita kesini?" tanya Nadira


"Aku mengantarmu pulang kan, memangnya kamu mau kemana?" tanya Arfan


"Terus kenapa Sindi tidak di antar pulang juga?" tanya Nadira


"Dia nanti ku antar pulang,, tapi setelah dia ikut kerumahku" ucap Arfan


"Tidak boleh, kamu tidak boleh membawa nya sendirian, aku akan ikut juga" ucap Nadira


"Aku hanya ada perlu dengan Sindi, bukan dengan mu" ucap Arfan


"Pokonya aku akan ikut juga, aku tidak mungkin tenang membiarakan Sindi pergi bersama orang seperti Anda" ucap Nadira


"Memangnya menurutmu aku ini orang seperti apa?" tanya Arfan


Nadira pun langsung termenung sejenak, karena dia sedikit bingung untuk menjawab pertanyaan Arfan itu


"Kamu ya,,, kamu penyuka istri orang lain" ucap Nadira


"Kalau begitu Sindi akan aman pergi dengan ku, secara dia bukan istri Siapa pun, jadi aku tidak mungkin menyukainya kan?" ucap Arfan tidak menampik


"Itu itu..."


"Sudahlah Nadi, aku yakin kak Arfan tidak akan berani macam macam padaku, kamu tidak perlu khawatir" ucap Sindi


"Baiklah, tapi kalau ada apa apa kamu langsung hubungi aku oke, satu miskol saja darimu aku akan langsung mencarimu" ucap Nadira


"Iya iya, kamu ini terlalu berlebihan Nadi" ucap Sindi


"Ya Sudah, aku turun kalau gitu, jaga dirimu baik baik ya" ucap Nadira

__ADS_1


"Iya, sudah sana pulang, ibumu pasti sudah menunggumu untuk memandikan mu" ucap Sindi bercanda


"Memangnya aku ini anak TK yangn baru pulang main apa, pake langsung di mandikan segala, dasar" uca Nadira ketus


"Iya Iya aku bercanda" ucap Sindi tersenyum


"Ya Sudah aku turun duluan ya, dah" ucap Nadira membuka pintu mobilnya dan kemudian keluar


"Nona Nadira, kurasa Anda melupakan sesuatu" panggil Arfan dari jendela mobil


Nadira yang sudah akan beranjak pun langsung menoleh lagi pada Arfan yang di dalam mobil


"Apa maksudmu?" tanya Nadira


"Apa orang tuamu tidak mengajarkanmu untuk berterima kasih?" tanya Arfan


"Pamrih sekali, ya sudah, terima kasih banyak karena sudah mengantarku pulang, apa itu cukup?" ucap Nadira


"Iya,, Sama sama, sampai ketemu lagi" ucap Arfan tersenyum ke arahnya


Arfan terus memperhatikan Nadira yang kini sudah bisa berjalan normal tanpa tongkatnya itu, dan Nadira juga segera masuk ke gang rumahnya dan kemudian hilang dari pandangan Arfan


"Sindi, apa Nadira menceritakan sesuatu tentang ku padamu?" tanya Arfan


"Ada, Nadira bercerita kalau dia merasa kecewa pada kak Arfan, karena kak Arfan ternyata mendekatil ibu tirinya" ucap Sindi


"Begitu kah, harusnya dia senang kan?, bukan kah dengan Yovi berselingkuh pak Edgar akan menceraikan ibu tirinya itu?,, Nadira hanya perlu melaporkan ke ayahnya kalau ibunya itu sudah selingkuh kan" ucap Arfan


"Melaporkan perselingkuhan Yovi pada ayahnya Itu sudah sering di lakukan Nadira, soalnya bukan kali ini saja Yovi punya selingkuhan, tapi meskipun dia sudah beberapa kali mengadu pada ayahnya, perkataan Nadira tidak pernah di percaya oleh pak Edgar, karena yovi itu wanita yang sangat pandai bersandiwara, dan bodohnya pak Edgar selalu saja percaya pada wanita siluma itu" ucap Sindi


"Begitu kah??,, kurasa ayahnya Nadira itu benar-benar sudah di butakan oleh cintanya pada Yovi" ucap Arfan


"Memang begitu keadaannya, tapi ngomong-ngomong, aku tidak mengerti dengan mu kak, bukanya kamu menyukai Nadira, tapi kenapa kakak malah mendekati Yovi ibu tirinya?" Tanya Sindi


"Alasannya karena aku ingin memisahkan Yovi dari Edgar, siapa tau Nadira akan senang jika ayahnya itu berpisah dari Yovi, dengan begitu mungkin hubungan Edgar dan Nadira bisa membaik" ucap Arfan


"Ya ampun, begitu ya??,, sudah kuduga, pasti kak Arfan ada maksud lain pada Yovi,, soalnya aku yakin kakak tidak akan benar-benar menyukai perempuan seperti Yovi lagi" ucap Sindi

__ADS_1


"Ya begitulah" ucap Arfan


"Tapi kenapa kakak tidak menjelaskan apapun pada Nadira, Jadinya Nadira sekarang salah paham kan, dan seperti itulah sikap dia sekarang pada kakak" ucap Sindi


"Biarkan saja, dengan Nadira begitu aku malah merasa lebih tenang melakukan sandiwara ku, Andai kata Nadira sudah menyimpan harapan yang dalam padaku, aku yakin dia akan melarang ku untuk melakukan sandiwara ini,, dan itu artinya Yovi akan seterusnya menguasai Edgar" ucap Arfan


"Begitu ya, Baiklah, aku paham maksud mu sekarang, kalau begitu goodluck, pesan ku, awas saja kalau kakak beneran suka pada Yovi, aku tidak akan mau berteman dengan kakak lagi" ucap Sindi


"Iya Iya,, Baiklah, sekarang kita pergi ke rumah ku, apa kau tidak takut sendirian?" tanya Arfan asal


"Takut sih, tapi aku yakin kalian tidak akan sampai memakanku hidup hidup" ucap Sindi


"Kebetulan aku dan Andreas memang tidak makan orang, aku lebih suka makan daging kalkun atau hewan berkaki dua lainya" ucap Arfan sambil melajukan mobilnya


"Syukurlah, jadi aku tidak perlu takut untuk pergi ke rumah kalian kan?" ucap Sindi


Arfan tidak menanggapi Sindi lagi, karena sekarang dia fokus untuk mengemudi


Setelah Beberapa saat berkendara, Arfan pun segera membawa mobilnya masuk ke sebuah Rumah mewah di kawasan perumahan hijau, karena rumah mereka memang terletak di kawasan yang masih terbilang asri di kota B, bukan di kawasan komplek elit


Andreas memilih lokasi itu bukan tanpa alasan, selain karena akses jalanya yang mudah, karena kawasan itu bukan daerah yang rawan macet, juga Andreas dan Arfan memang menyukai lingkungan yang masih rimbun dengan pepohonan besar yang tumbuh di kawasan rumah mereka


Mobil Arfan pun berhenti di halaman rumah yang cukup luas, dan mereka pun segera turun dari mobil Arfan


"Waaww, ini Rumah kalian?, besar sekali, berapa orang keluarga kalian di sini" tanya Sindi yang terbelalak melihat kemegahan rumah yang di diami Ednan bersaudara itu


"Hanya ada aku dan Andreas saja di sini, kami sudah tidak memiliki ayah dan ibu, tapi kami sebenarnya masih punya nenek dan satu adik perempuan, tapi sayangnya mereka tidak mau tinggal di sini bersama kami" ucap Arfan


"Begitu ya, apa kalian tidak merasa kesepian mendiami rumah sebesar ini hanya berdua?" tanya Sindi


"Kami tidak tinggal berdua saja, kamu hitung saja ada berapa penjaga di depan gerbang , di dalam juga masih ada beberapa pengurus rumah yang kerja, jadi banyak yang tinggal di sini" ucap Arfan


"Oh, Iya yah" ucap Sindi


"Ya sudah ayo masuk" ucap Arfan beranjak menuju ke pintu masuk rumahnya


"Baiklah" ucap Sindi, dia juga langsung mengikuti Arfan di belakangnya

__ADS_1


__ADS_2