
Setelah Arfan dan Nadira melalui perjalanan yang sedikit canggung itu, akhirnya Arfan pun memberhentikan mobilnya di depan area Konter tempat Nadira bekerja sebelumnya,
Arfan pun segera turun terlebih dulu dari mobilnya, kemudian diapun membantu Nadira untuk turun dari mobil dengan memegangi sebelah tangan Nadira yang tidak memakai tongkat
"Terima kasih" ucap Nadira saat dia sudah turun
"Sama sama, O yah, kamu sekarang bekerja di kantor ayahmu lagi kan?, apa kamu tidak akan kerja di sini lagi??" tanya Arfan mengarahkan pandangan pada Gerai Nadira
"Iya, di kondisi kaki ku sekarang ini sebenarnya aku lebih suka bekerja di sini seperti sebelumnya, hanya saja aku sedikit mengalami krisis keuangan kalau aku kerja di sini,, jadi mau tidak mau aku harus keluar dari zona nyamanku untuk mencukupi kebutuhan aku dan Ibuku" ucap Nadira
"Oh," ucap Arfan singkat
"O yah, terimakasih sudah mengantarkan ku pulang" ucap Nadira
"Jangan dulu terimakasih, aku belum mengantar mu sampai depan rumahmu kan" ucap Arfan
"Tidak perlu, aku bisa jalan sendiri dari sini" ucap Nadira
"Aku sudah berjanji pada ayahmu untuk mengantarmu sampai ke depan rumah, aku tidak akan mengingkari nya" ucap Arfan
"Baiklah jika kakak tidak keberatan" ucap Nadira, diapun segera melangkahkan kakinya dengan bantuan tongkat untuk memasuki gang yang menuju ke rumahnya, tidak lupa dia juga sejenak memperhatikan pos tua yang ada di pinggiran jalan gang itu
"Ada apa?" tanya Arfan yang berjalan di belakang Nadira,, sebenarnya dia tau kalau Nadira mencari sosoknya di pos itu, Hany saja dia masih belum bisa mengatakan kalau pria gila itu adalah dirinya
"Ah tidak, aku hanya lihat lihat saja" ucap Nadira, kemudian dia pun segera melanjutkan lagi langkah kakinya meskipun belum terlalu memastikan kedalam pos
Setelah Beberapa saat Arfan pun sudah mengantar Nadira sampai di depan pintu rumahnya yang tanpa pintu pagar itu
Setelah Nadira menginjakan kaki ke teras rumahnya diapun berbalik pada Arfan "Sudah sampai, inilah rumah ibuku, jauh dari kata mewah kan?" uca Nadira
"Yang penting kamu merasa nyaman tinggal di sini kan,?" ucap Arfan
"Ya Mungkin begitu,, terima kasih sudah mau mengantar ku sampai ke depan rumahku, kamu boleh pergi sekarang" ucap Nadira
"Kamu Masuk dulu, baru aku akan pergi" ucap Arfan
"Baiklah kalau begitu, sampai jumpa " ucap Nadira
"Iya,, Sampai jumpa" ucap Arfan sambil tersenyum kepada Nadira, dan diapun terus memandangi gadis di depannya yang perlahan membalikan badanya dan melangkahkan kakinya ke pintu rumahnya, hingga perlahan Nadira pun masuk dan hilang di balik pintu
Arfan terdiam beberapa saat di sana sambil melihat ke arah pintu yang sudah di tutup Nadira "Gadis yang terlalu berhati hati, tapi aku suka" gumamnya, setelah itu Arfan pun segera beranjak dari sana setelah memastikan Nadira masuk ke rumahnya dengan aman
__ADS_1
...°°...
Sementara di dalam rumah, Nadira masih mengintip Arfan dari celah gorden nya
"Hehhhh,, lagi ngapain" ucap Narita tiba tiba
Nadira pun kaget dan langsung berbalik menghadap ke ibunya "Astaga ibu,, bikin kaget saja" ucap Nadira
"Kamu lagi ngintip apa??" tanya Narita yang penasaran dan menyingkap gordenya lebih lebar
"Tidak ada apa apa bu, aku hanya iseng saja mengintip keluar" ucap Nadira yang langsung beranjak untuk duduk di kursi ruang tengahnya
"Apa Ayahmu yang mengantarmu pulang,?" tanya Narita yang mulai mengikuti Nadira yang berjalan ke arah kursi
Nadira pun mendudukkan dirinya di kursi dan melepaskan hils nya "Tidak, aku tidak di antar ayah" ucap Nadira
"Lalu kamu pulang dengan siapa?" tanya Narita yang juga segera duduk di kursi lain
"Pak Arfan yang mengantarku pulang" ucap Nadira
"Siapa lagi pak Arfan?, apa dia laki laki pilihan ayahmu?" tanya Narita
"Bukan, Dia tamu ayah, dia adalah kakaknya pak Andreas" ucap Nadira menjelaskan
"Semuanya tergantung jodoh bu" ucap Nadira malas
"Ya kan setidaknya kamu berusaha mendekatkan diri, jangan kalah oleh wanita penggoda yang merebut papahmu dari ibu itu" ucap Narita
"Jangan bahas dia lah bu, males,, aku mandi dulu ya bu" ucap Nadira menghindar
"Ya Sudah sana" ucap Narita
Nadira pun segera beranjak ke kamar nya untuk mengambil baju ganti dan melepaskan stelan gaun malamnya, diapun keluar dari kamarnya dengan hanya berbalut handuk di badannya, dan segera pergi ke kamar mandi untuk membersihkan badannya
...°°°...
Di sisi lainArfan juga baru sampai ke depan Rumahnya, begitu dia turun dari mobilnya, diapun langsung melihat Andreas sudah berdiri di depan rumah mereka
Jadi Arfan pun segera menghampirinya "Katanya kamu mau ketemu rekan bisnis, tapi kenapa kamu sudah di rumah lagi??" tanya Arfan
"Aku tadi hanya berbohong saja pada kalian, aku sebenarnya sengaja ingin membuat kalian berdua saja" ucap Andreas
__ADS_1
Mereka pun berjalan bersama untuk masuk kedalam rumah
"Kau ini memang adik yang nakal, tapi aku harus berterima kasih padamu, dengan begitu aku jadi tau kalau Dira hanya kagum saja padamu, tidak lebih" ucap Arfan
"Baguslah, jadi apa kah kalian sudah menyinggung soal perasaan kalian?" tanya Andreas
"Aku masih ragu kalau untuk itu, juga ada suatu hal yang mengganjal di pikiranku yang harus ku selesaikan terlebih dulu dengan Yovi, baru aku akan benar-benar siap untuk mendengar apapun keputusan Nadira nanti" ucap Arfan
"Baiklah, semua terserah padamu, ini kisahmu, jadi kau bebas mengaturnya sendiri, aku hanya bisa mendukung mu dari belakang" ucap Andreas
Setelah mereka masuk kedalam rumah, mereka pun segera mendudukkan diri mereka di Sofa ruang tamu yang luas
"O ya Dre, kau pernah bilang kalau kau sudah punya pendamping, tapi selama ini aku tidak pernah melihatmu jalan dengan siapa pun" ucap Arfan
"Dia berada jauh di negri kanguru kak, dia kuliah dia sana, namanya Arumi," ucap Andreas
"Jadi maksudmu kau LDR denganya?" tanya Arfan
"Bisa di bilang iya, bisa di bilang tidak, karena sebenarnya kami belum jadian, kami hanya sudah bersama semenjak sekolah menengah dulu, dan aku merasa sudah ada kecocokan antara aku dan dia" ucap Andreas
"Jadi kau hanya akan menunggu dia kembali dengan sendirinya?, aku sedikit ragu kalau dia akan kembali ke Indonesia lagi, mungkin saja di sana dia punya pacar bule yang sudah berhasil merayu nya" ucap Arfan Asal
"Kaaaaak, jangan bilang begitu, aku benar-benar menyukainya, aku tidak mau kalau iu sampai terjadi" ucap Andreas
"Kalau begitu cepat suruh dia pulang dan cepat lamar dia, supaya dia tidak di embat orang," ucap Arfan
"Kamu bisanya hanya menceramahi orang lain saja, dirimu sendiri juga belum punya keberanian itu pada Nadira kan?" ucap Andreas
"Itu lain lagi ceritanya" ucap Arfan
"Sama", ucap Andreas
"Tidak, itu berbeda" ucap Arfan
"Sama saja" ucap Andreas sengaja memancing kakak nya supaya kesal
"Sudah kubilang beda,, oke!!, aku ngantuk sekarang, lebih baik aku tidur daripada harus berdebat dengan mu disini" ucap Arfan langsung beranjak dari kursinya
"Tapi menurutku itu sama saja" ucap Andreas lagi
"Ter se rah" ucap Arfan yang sudah bergegas ke tangga rumah untuk naik ke lantai atas,
__ADS_1
Arfan segera menuju ke kamarnya dan langsung membersihkan dirinya, kemudian di langsung beristirahat di kasur empuknya dengan senyuman yang tetap terpatri di bibirnya, itu karena pikirannya terus di penuhi oleh bayangan Nadira