
Ketiga insan itu bisa sedikit keluar dari suasana duka yang masih menyelimuti hati mereka, jalan jalan dan menenangkan diri di taman lumayan ampuh untuk meringankan kesedihan yang mereka rasakan,
Arfan mengajak Dua wanitanya untuk kembali ke kediaman Ednan bersaudara lagi, karena hari memang sudah sore
Arfan pikir Andreas akan sendirian di rumah, tapi saat dia masuk kedalam ternyata ada Sindi yang berkunjung, mereka duduk dan mengobrol di ruang tamu,
Sindi yang melihat Arfan dan yang lainya datang pun langsung tersenyum ke arah Mereka
"Hay, sore Nadi, kak Arfan, Dinda" sapa Sindi
"Sindi??, apa kamu tidak masuk kantor??" tanya Nadira
"Masuk lah, hanya saja aku pulang lebih awal, dan langsung kemari" ucap Sindi
Mereka pun segera bergabung untuk duduk di sofa ruangan itu
"Kalian habis darimana?, kok sayangku di tinggal sendirian di rumah sih, kasian tau" ucap Sindi
"Aku yang tidak ingin ikut mereka Sind" ucap Andreas
"Iya,,, pacar mu tidak ingin keluar jika tidak denganmu" ucap Arfan
"Sungguh, kamu itu manja sekali sayang" ucap Sindi langsung meraih tangan Andreas
"Tidak begitu juga,, kau ngarang saja kak" ucap Andreas
"O yah sayang, bagaimana kalau malam ini kita keluar, mau ya?" ucap Sindi yang berniat menghibur Andreas
"Boleh" ucap Andreas
"Kalian mau gabung tidak??" tanya Sindi pada Nadira dan Arfan
"Kalau aku gimana Arfan saja, kalau dia ikut, aku tentu saja ikut" ucap Nadira sedikit melirik Arfan
"Kalian pergi berdua saja, kami bersama Dinda saja dirumah, suapaya kalian tidak ada yang gangu" ucap Arfan
"Oh iya, bilang saja kalian mau, ehem ehem di rumah, kalian kan pengantin baru" ucap Sindi menatap aneh pada Nadira
"Sindiiiiiii" Nadira malah balas melotot pada Sindi karena dia sadar ada Dinda yang masih di bawah umur di sana
"Aku bilang kan cuma ehem ehem, apa salah ya sayang??" ucap Sindi mengadu pad Andreas
Arfan dan Andreas malah kompak mesem
"Enggak,, kamu enggak salah", ucap Andreas
"Emang ehem ehem itu apa??" tanya Dinda polos
__ADS_1
"Nah lho, jawab tuh" ucap Nadira
"Ya Ehem ehem itu kalau kita batuk kan" ucap Sindi
"Emang kalau jadi pengantin suka batuk batuk gitu" Tanya Dinda lagi
"Sudahlah, tidak perlu di bahas, Kakak mu yang satu ini memang agak sedikit koslet" ucap Arfan dengan tersenyum geli
"Enak saja, aku tidak koslet" ucap Sindi membantah
Mereka bercengkrama di ruang tamu hingga beberapa saat, dan setelah itu Arfan meninggalkan Sindi dan Andreas berdua lagi untuk kembali ke kamarnya,
Nadira dan Dinda juga mengikuti Arfan naik ke lantai atas berdampingan, dan saat Nadira melewati kamar Arfan, dia melewati nya begitu saja
Arfan yang akan membuka pintu kamarnya pun langsung menoleh pada istrinya itu "Dira, kamu mau kemana??, kamarmu di sini kan" ucap Arfan melirik pintu kamarnya
"Oh, Iya, tapi aku mau mandi dulu di kamar Dinda" ucap Nadira
Arfan langsung tersenyum, "Sekedar informasi saja, di kamar ku juga ada kamar mandinya" ucap Arfan
"Tapi......"
"Masuk saja" ucap Arfan meraih pundak Nadira dan mendorong nya untuk masuk ke kamarnya
Dinda juga segera berlalu dari depan kamar Arfan dan kembali ke kamarnya
Setelah Nadira masuk Arfan langsung memojokan Nadira di dinding kamar nya "Kenapa kamu sepertinya tidak ingin bersama suamimu ini" ucap Arfan
"Kau harus membiasakan nya mulai sekarang" ucap Arfan dengan langsung mendekatkan wajah nya ke wajah Nadira yang bersandar di dinding kamar nya itu
Dan Arfan langsung mencium bibir manis Nadira dengan gemas,
Nadira juga membalas ciuman dari Arfan itu tanpa segan, dia tidak merasa ragu Karena sekarang Arfan adalah suaminya
Tangan nakal Arfan pun mulai merayap ke salah satu gundukan yang ada di dada Nadira, dua bukit Nadira itu memang cukup menarik minat Arfan untuk menyentuhnya
Sontak Nadira merasa kaget dengan jantung yang berdebar kencang, tidak pernah ada orang laian yang menjamah bagian itu sebelumnya, selain dirinya sendiri, jadi Nadira replek menepis nya, dan mendorong tubuh Arfan
Otomatis Ciuman Arfan pun terlepas dari bibirnya
"Kenapa?" tanya Arfan
"Aku aku tidak tau" ucap Nadira
Arfan berniat mencium Nadira lagi dan melakukan nya lagi, namun
"Tu tunggu dulu, Aku aku harus kembali kamar Dinda, ada yang harus aku Ambil" ucap Nadira dengan ekspresi gugup
__ADS_1
"Apa tidak bisa mengambilnya nanti saja?" tanya Arfan
"Ti tidak bisa" ucap Nadira
"Kenapa kamu menghindar, hm??" tanya Arfan yang menyadari gelagat Nadira
"Aku aku...."
"Apa kau tidak menginginkannya??" tanya Arfan
"Bukan begitu, aku aku rasanya belum siap untuk melakukan itu" ucap Nadira
"Kenapa??,, apa Karena aku berhutang resepsi pernikahan padamu?" tanya Arfan
"Tidak, bukan itu alasannya, aku aku masih sedikit takut, apa bisa kalau itu di tunda dulu" ucap Nadira
Arfan pun langsung menghela nafasnya, "Baiklah, terserah kau saja" ucap Arfan
"Kalau begitu aku ke kamar Dinda dulu" ucap Nadira, dia langsung membuka pintu kamar Arfan lagi dan langsung keluar untuk melarikan diri ke Kamarnya Dinda
Arfan juga tidak menahanya, dan membiarakan mangsanya itu lepas begitu saja
"Apa menurutmu ini terlalu cepat??,, baiklah, aku akan melakukannya Setelah kau merasa siap" gumam Arfan pada pintu yang ada di depannya
Setelah nya Arfan pun bergegas untuk membersihakan dirinya
…
Sementara Nadira yang masuk ke kamar Dinda langsung bersandar di pintu kamarnya dengan perasaan yang tidak karuan 'Kenapa aku malah lari ?,, kenapa aku malah menghindar?,, Bukankah itu hal yang wajar bagi yang sudah menikah??, harusnya tidak begitu kan?,, Arfan marah gak ya??' batin Nadira
Dinda yang baru saja keluar dari kamar mandi langsung memperhatikan kakak iparnya yang terbengong di depan pintu kamarnya "Kak Nadira kenapa?, kok kakak bengong di situ" tanya Dinda
"Oh tidak, kakak tidak papa Din, kakak hanya gerah saja, kakak mandi di sini saja ya Din, di kamar Kak Arfan kamar mandinya rusak" ucap Nadira beralasan, diapun dengan cepat bergegas ke kamar mandi yang ada di kamar Dinda dan segera masuk untuk membersihkan dirinya
"Aneh" gumam Dinda, diapun segera naik ke tempat tidurnya dan memainkan ponselnya
...°°°°...
Sementara itu di tempat Lain, di salah satu ruangan lapas yang di peruntukan untuk tahanan wanita, terlihat seorang pria paruh baya yang duduk berhdapan dengan salah satu tahanan wanita di sana,
Dan wanita itu terus memegangi tangan pria yang duduk di sebrang kursinya itu "Ayah, aku tidak mau tau, pokonya aku ingin keluar dari sini secepatnya, aku tidak betah di sini,, dan ayah harus membalas semua yang sudah Arfan lakukan padaku yah,," ucap Yovi
Tapi pria paruh baya yang di panggil ayah oleh Yovi itu hanya terdiam seperti sedang memikirkan sesuatu
"Ayah, jawab aku, ayah bisa melakukan sesuatu untuk membalas Arfan kan?, Ayolah ayah, bantu aku ini, ayaahh" Yovi terus merengek dan menggerak gerakan tangan ayahnya
"Diamlah, berhenti merengek, ayah sedang memikirkan cara supaya dia melepaskan mu dari sini, dan ayah juga akan membalas Arfan untuk mu, kamu tidak perlu khawatir, cepat atau lambat dia dan keluarganya pasti akan hancur" ucap Ramon
__ADS_1
"Terima kasih ayah, kau memang ayah terbaik di dunia ini" ucap Yovi, dia pun mulai tersenyum sinis dan mengumpat 'Lihat saja Arfan, kau pasti akan menyesal karena sudah berani melakukan semua ini padaku' batin Yovi
...~°~...