
“bisa kita segera mulai latihannya ayahanda guru.” Ucap Liang Wei dengan antusias.
Liang Wei sudah tidak sabar memulai latihannya, karena semakin cepat ia latihan maka semakin cepat pula kitab itu berada ditangannnya.
“baiklah, karena kau sudah bersemangat, kita tidak akan buang – buang waktu lagi” Balas Hong Cheung, ia merasa senang karena melihat Liang Wei yang antusias.
Hong Cheung membuka kitab misterius lalu membaca bagian pertama beserta penjelasannya, walaupun Hong Cheung tidak pernah mempraktekkannya, tapi secara keseluruhan ia memahaminya, itu semua berkat kecerdasan dan pengalamannya.
Di masa lalu, selain Hong Cheung berlatih beladiri, dia juga banyak membaca buku dan kitab. Dan tentu saja seseorang yang rajin membaca akan lebih mudah memahami suatu maksud tersirat dalam tulisan atau bacaan daripada orang yang malas membaca.
“nak, langkah kegelapan adalah…” Hong Cheung menjelaskan bahwa bagian pertama yaitu ‘langkah kegelapan’ merupakan salah satu dari 3 dasar dalam kitab itu,
Langkah kegelapan adalah dasar yang membahas tentang kecepatan, kecepatan adalah salah satu hal yang penting bagi seorang pendekar.
Dalam sebuah peperangan, siapa yang lebih cepat maka dia yang berkemungkinan besar dapat bertahan hidup.
karena walaupun seorang pendekar kalah dalam hal kekuatan, namun paling tidak dia memilki kecepatan untuk menghindari serangan yang datang, atau mundur dari medan perang untuk menyelamatkan diri dan menyusun siasat kembali.
Selain dalam peperangan, Kecepatan juga seringkali menjadi alasan kemenangan dalam pertarungan 1 lawan 1, dalam kasus jika 2 orang pendekar yang bertarung memiliki tingkat kekuatan yang setara atau sama.
Walaupun bukan hal yang mutlak memenangkan suatu pertarungan hanya dengan kecepatan, namun kebanyakan pendekar dengan tingkat kekuatan yang sama juga memilki teknik yang sama kuat
Dengan tingkat kekuatan dan teknik yang sama kuat tentu saja tidak ada lagi hal lain yang menjadi penentu akhir kemenangan selain kecepatan.
Memukul, menendang, mengelak, dan menangkis juga membutuhkan kecepatan. Sehingga dapat disimpulkan bahwa kecepatan adalah hal yang sangat penting bagi seorang yang belajar beladiri ataupun bagi seorang pendekar.
Kembali pada Langkah kegelapan.
cara melakukan dan menguasai Langkah kegelapan dijelaskan di dalam kitab misterius itu bahwa langkah kegelapan dilakukan dengan berlari menyatu dengan unsur kegelapan yang ada, unsur kegelapan yang paling biasa dan paling mudah ditemui adalah bayangan.
__ADS_1
Baik itu bayangan benda mati atau bayangan mahluk hidup, benda mati yang dimaksud adalah bangunan atau hal lain selain mahluk hidup.
Suatu kelebihan langkah kegelapan adalah pengguna dapat menggunakannya dimanapun ia berada, karena dimana – mana ada bayangan, selama ada cahaya maka musuh pasti memiliki bayangan, kalaupun tidak ada cahaya, justru unsur kegelapan semakin banyak.
Semakin banyak unsur kegelapan di dalam suatu tempat maka semakin efektif penggunaan langkah kegelapan, waktu penggunaan paling efektif langkah kegelapan adalah pada saat malam hari.
“bagaimana?, sampai disitu apakah kau sudah memahaminya?.” Setelah menjelaskan secara panjang lebar, Hong Cheung bertanya kepada Liang Wei.
“sudah, penjelasan ayahanda guru sangatlah mudah dipahami.” Ujar Liang Wei menjawab pertanyaan Hong Cheung.
“aku sudah memahaminya dari awal meskipun kau tidak menjelaskannya.” Batin Liang Wei dengan ketus.
“kalau begitu saatnya kau mempraktekkannya, berkonsentrasilah dan rasakan unsur kegelapan dalam hutan ini.” Kata Hong Cheung dengan serius sambil menutup kitab misterius itu.
“baik ayahanda guru.” Kata Liang Wei juga dengan wajah serius diiringi dengan anggukan kepala.
Liang Wei menutup mata dan mulai berkonsentrasi merasakan unsur kegelapan yang berada di sekitarnya, semua bayangan di dalam hutan itu seakan hidup dan memanggil – manggilnya, itu adalah pertanda bahwa ia sudah merasakan unsur kegelapan di dalam hutan itu.
“langkah kegelapan.” Setelah mengucapkannya ia menghilang ke dalam bayangan pohon dan tidak lama setelah itu “ssssyuuuuh” ia muncul dari bayangan Hong Cheung.
Namun hal itu di luar ekspektasi Liang Wei.
“gawat aku terlalu berkonsentrasi dan lupa berpura – pura.” batin Liang Wei, Liang Wei mulai keringat dingin karena kecerobohannya.
“ini… ini ay- ay- yahanda guru, a- aku aku.” Sangat gugup Liang Wei coba menjelaskan.
Melihat Liang Wei berhasil dalam sekali coba, Hong Cheung menanggapinya dengan wajah datar.
“bahkan aku sudah tidak bisa kaget lagi” batin Hong Cheung.
__ADS_1
“itu….” kata Hong Cheung masih dengan wajah datar, Liang Wei yang sudah sangat gugup mulai memikirkan kemungkinan terburuk.
“apakah dia akan mengatakan ‘itu mencurigakan’ dan akan membunuhku” batin Liang Wei yang tidak bisa berpikir jernih lagi, ia menjadi panik.
sebenarnya apa yang Liang Wei pikirkan sangat berlebihan namun pikiran seseorang ketika dalam keadaan normal akan berbeda jika dalam keadaan panik.
“itu ‘biasa saja’ ” ucap Hong Cheung, namun dalam hatinya “yah itu memang ‘biasa saja’ baginya yang lebih jenius dari seorang jenius.”
Mendengar ucapan itu Liang Wei merasa seperti peredaran darahnya menjadi sangat lancar, ia merasa sangat lega walaupun sedikit kaget dengan jawaban yang di luar ekspektasinya, ia hanya terdiam dan melamun memikirkannya.
“aku kira dia mencurigaiku, huft sepertinya kepanikan ku tadi sungguh tidak berguna.” Pikir Liang Wei, dengan wajah datar diiringi dengan telapak tangannya yang menepuk dahinya.
“namun ini hal yang bagus. syukurlah, aku sangat lega menjadi ‘biasa saja’.” Batin Liang Wei dan sedikit senyuman tersungging di bibirnya.
“kalau begitu lanjutkan latihanmu, meskipun kau berhasil pada percobaan pertama, tapi lakukan berulang – ulang sampai kau menjadi mahir.” Ucap Hong Cheung membuyarkan lamunan Liang Wei.
“baik ayahanda guru.” Ucap Liang Wei dengan mantap dan mulai melakukan latihannya lagi.
Liang Wei melakukan latihannya ditemani Hong Cheung yang masih konsisten dengan mabuk – mabukannya.
Namun kali ini meskipun Hong Cheung mabuk, ia tak pernah sekalipun melepaskan Liang Wei dari pengawasannya, bukan karena ia curiga, tapi karena ingin melihat perkembangan Liang Wei yang diluar akal sehat.
Hong Cheung melihat perkembangan Liang Wei tidak merasa iri sedikitpun, justru dia merasa sangat bangga pada Liang Wei.
Perasaan bangga itu juga karena ia sudah menganggap Liang Wei sebagai anak kandungnya, namun ia tidak menunjukkan bahwa ia bangga pada Liang Wei, sekali lagi karena alasan jika ia menunjukkannya Liang Wei akan merasa dirinya hebat, sudah cukup puas dan mulai bermalas – malasan.
Bagi Hong Cheung menunjukkan rasa bangga seperti ‘memuji’ bukanlah tindakan memotivasi, tapi tindakan melemahkan yang lemah.
Karena seringkali pujian membuat seseorang merasa dirinya sudah cukup puas dengan kekuatan yang ia miliki saat itu, sehingga merasa tidak membutuhkan latihan lagi.
__ADS_1
Sedangkan untuk menjadi kuat dibutuhkan rasa ‘tidak puas’ terhadap kemampuan diri sendiri, karena rasa tidak puas di hari ini akan menjadi rasa ‘puas’ suatu hari nanti.
“suatu hari kau akan menjadi pendekar dengan nama yang besar dan saat itulah aku membanggakanmu dihadapan semua orang.” Pikir Hong Cheung, dan Bagi Hong Cheung Itulah saat yang tepat ia menunjukkan rasa bangganya pada Liang Wei.