
“Apa yang kau lakukan di sini, Liang Wei?, cepat masuk!, Kaisar telah menunggumu dari tadi!.”
Perkataan Hong Bingwen membuat Liang Ye mematung. Ia jadi bingung harus bereaksi seperti apa.
Hampir saja ia menyesal karena menghabisi cucuknya sendiri, ia tahu bahwa nama cucuknya adalah ‘Liang Wei’, tapi tak pernah menemuinya secara langsung.
“Leluhur, mungkin reuni dengan cucuk anda harus ditunda dulu, karena semua orang termasuk para leluhur yang lain juga sudah berada di dalam!.”
Liang Ye jadi malu mendengar perkataan Hong Bingwen. Hong Bingwen tidak memperhatikan itu dan hanya berlalu lebih dulu ke dalam Istana.
Tiba – tiba sebuah suara terdengar di kepala Liang Ye sehingga membuatnya terperanjat.
‘Aku kira kau adalah orang tua yang tak tahu malu, ternyata kau juga bisa malu setelah hampir membunuh cucukmu sendiri.’
Liang Wei mengejek kakeknya sendiri yang menurutnya sembrono, menuduh dan menganggapnya musuh tanpa memastikan terlebih dahulu.
Liang Ye tak dapat menyembunyikan rasa kagetnya, ia berpikir bahwa ‘Bukankah hanya pendekar tingkat tinggi keatas yang bisa melakukan telepati seperti ini?’
Ekspresinya tetap sama saat Liang Wei melewatinya begitu saja dan berjalan memasuki Istana.
Meskipun Liang Ye tak mengatakan apapun, tapi dari raut wajahnya, Liang Wei dapat dengan jelas membaca pikirannya.
‘Itu persis seperti yang kau pikirkan!. Ingat! kau adalah kakekku, maka dari itu, kau harus menjaga rahasia ini dan melindungiku.’
Liang Wei sedang khawatir jika ia diburu akibat memiliki kekuatan itu di umurnya, sepandai – pandainya ia menyembunyikan kekuatan, pasti akan tiba waktunya itu terungkap.
Adanya Liang Ye membuatnya sedikit tenang, karena kakeknya itu pasti akan menjadi orang pertama yang berdiri untuknya.
‘kau adalah kakekku.’
‘kau adalah kakekku.’
Liang Ye sangat bahagia mendengar itu, cucuknya sudah berbagi rahasia dengannya, tanpa dipaksa pun, ia akan dengan senang hati melindunginya.
--
“Leluhur Liang dan Liang Wei telah tiba.”
Pintu terbuka, Liang Wei dan Liang Ye memasuki aula kekaisaran. Di dalam aula, semua orang sudah duduk di tempatnya masing masing.
Semua orang itu antara lain para petinggi Perguruan Beladiri dan Sekte, serta para Bangsawan.
Susunan tempat duduk mereka berbentuk huruf ‘U’. Liang Ye duduk di kursi leluhur yang berada di depan, tepat di samping Kaisar. Sedangkan Liang Wei duduk di tempat paling ujung.
“Baiklah, mari kita mulai, sebelumnya aku meminta maaf telah memanggil kalian semua dengan tergesa – gesa, padahal kalian masih lelah karena pertarungan beberapa hari ini.”
Kaisar Aiguo membuka pertemuan darurat itu. lalu melanjutkan perkataannya.
“Ada informasi penting yang harus kusampaikan kepada kalian semua, ini adalah sesuatu yang sangat sensitif dan harus dijaga kerahasiaannya, kuharap kalian mengerti.”
Kembali, Kaisar Aiguo memberi jeda pada perkataannya agar semuanya dapat mencerna tiap kata tanpa melewatkannya.
Orang – orang yang berada di dalam aula seluruhnya mengangguk mengerti, Kaisar Aiguo pun melanjutkkannya lagi, dan itu sudah pada intinya.
“Setelah mendengar ini, kalian jangan panik…” Kaisar Aiguo menghela napas terlebih dahulu.
“..Kekaisaran ‘Yang’ telah jatuh pada musuh!. dengan kata lain perang belum benar – benar berakhir!.”
Mendengar perkataan Kaisar Aiguo, semua orang yang baru mengetahuinya jadi kaget dan mematung.
Mereka sudah cukup lelah dengan perang, tapi kali ini datang lagi ancaman yang jauh lebih besar daripada perang sebelumnya.
__ADS_1
“Aku ingin mendengar pendapat kalian semua.” Kata Kaisar Aiguo.
Seorang bangwasan mengangkat tangan ingin berpendapat.
“Silahkan Bangsawan Tao.”
“Menurutku, kita bisa kumpulkan semua kekuatan dari seluruh Kerajaan di bawah Kekaisaran dan bersatu untuk melakukan serangan besar – besaran.”
Hong Bingwen tidak setuju dengan pendapat itu.
“Kita tidak boleh menggerakkan pasukan sebesar itu, karena mereka pasti akan menyadari dan memikirkan cara untuk mengatasinya, kalian tahu bukan bahwa mereka sangat licik!.”
Bangsawan Tao tetap pada pendapatnya ”Tapi mustahil kita bisa mengalahkan mereka kalau bukan dengan kekuatan penuh.”
Suaranya mulai meninggi, Ia kini berdiri dari tempat duduknya dan menunjuk – nunjuk Hong Bingwen.
Sebenarnya pendapat Bangsawan Tao ada benarnya, menghadapi pasukan yang besar juga harus dengan pasukan yang besar.
Hong Bingwen menggelengkan kepala, meski ia dibentak, tapi ia tidak marah sama sekali.
“Kau salah paham, aku setuju kita mengumpulkan banyak kekuatan, tapi tidak dengan membiarkan mereka tahu rencana kita.”
Sebenarnya Hong Bingwen bukan menolak menyerang dengan kekuatan penuh, tapi ia menolak melakukannya secara terbuka, karena informasi adalah hal yang paling penting dalam perang.
Membiarkan musuh tahu jumlah pasukan atau siapa saja sekutu, pasti akan memberi kerugian yang fatal. Musuh akan memamfaatkan infomasi itu untuk mencari kelemahan dan celah.
Bukannya setuju, Bangsawan Tao semakin meninggikan suaranya sampai urat lehernya terlihat.
“Kalau begitu, beritahu aku cara yang lebih baik!.”
“CUKUP!” seseorang tiba – tiba menggebrak meja dengan keras, sehingga semua orang mengalihkan pandangan padanya.
“Kita tidak butuh perdebatan, kita butuh jalan keluar, dinginkan kepalamu Bangsawan Tao!.”
Setelah aura itu ditarik, Bangsawan Tao duduk dan menarik napas dalam – dalam untuk menenangkan diri.
Suasana seketika jadi hening. Kaisar Aiguo tak membiarkan itu, satu detik mereka lewatkan maka satu nyawa akan terancam, ia mengarahkan pembicaraan agar tidak membuang waktu dalam pertemuan penting itu.
“Apa ada pendapat yang lain?, dan jangan berdebat!.”
Ia menekankan agar tak ada lagi yang membuang waktu dengan perdebatan yang tak perlu.
Aula yang luas itu tetap saja senyap, semuanya memutar otak dengan keras, tapi tidak bisa menemukan jalan keluar yang terbaik.
Bahkan hingga beberapa menit, tetap tak ada yang berpendapat. Kaisar Aiguo menjadi sedikit kesal.
Kaisar Aiguo menatap wajah semua orang satu persatu mulai dari orang yang duduk di sampingnya, terlihat raut wajah mereka tegang, dapat diketahui tanpa dijelaskan bahwa mereka menemui jalan buntu.
Bahkan para leluhur menunjukkan raut wajah yang sama, Kaisar Aiguo tak bisa menyalahkan mereka, karena ia pun belum menemukan jalan keluarnya.
Masih lanjut memperhatikan raut wajah orang – orang satu persatu, kini pandangan Kaisar Aiguo berakhir pada tempat duduk yang paling ujung.
“Liang Wei, bagaimana pendapatmu?.”
“Aku?.”
Liang Wei menunjuk wajahnya karena tidak percaya, ia tidak pernah berharap Kaisar akan meminta pendapatnya. Ia pun tidak pernah berharap akan berada di tempat itu jika bukan karena permintaan pamannya.
Bangsawan Tao langsung berdiri dari tempatnya dan menolaknya dengan keras.
“Bagaimana bisa anda memberikan kesempatan berbicara kepada bocah itu?.”
__ADS_1
Tapi Kaisar Aiguo menentang Bangsawan Tao “Aku tidak akan bertanya padanya, jika kau bisa memberi pendapat yang lebih baik tadi.”
Akhirnya Bangsawan Tao duduk kembali dengan kesal.
“Kalau begitu, Silahkan berbicara, Liang Wei!.” Kaisar Aiguo memberikan waktu kepada Liang Wei.
‘Kumis uban ini sungguh merepotkan’ pikir Liang Wei.
“Pertama, aku tidak setuju dengan pendapat siapapun, baik itu Paman Bingwen atau Bangsawan apalah itu. menurutku, menyerang dengan kekuatan penuh adalah tindakan bodoh..”
“Apaaa?, berarti kau mengataiku bodoh?.” Karena itu adalah pendapatnya, Bangsawan Tao jadi sangat tersinggung.
Liang Wei justru menantang Bangsawan Tao. “Biarkan Kekaisaran kosong, dan lihat apa yang akan mereka perbuat!”
Menyerang dengan kekuatan penuh berarti meninggalkan Kekaisaran tanpa pengawasan.
“Aku sependapat denganmu, nak.” Ucap Kaisar Aiguo.
“Lihatlah, bahkan Kaisar setuju, jika ada yang berkata bahwa itu salah, berarti orang itu lebih bodoh daripada orang bodoh.”
Liang Wei mengucapkannya sambil tersenyum mengejek kepada Bangsawan Tao.
“Kurang aj….”
Belum sempat Bangsawan Tao berbicara, Kaisar Aiguo sudah memotong perkataannya.
“Ku ingatkan, jangan ada yang berdebat. lanjutkan, nak!.”
Liang Wei menganggukkan kepala dan melanjutkan pendapatnya.
“..Kedua, kita harus mencari cara untuk membuat para penduduk percaya bahwa Kekaisaran sedang baik – baik saja.”
“Apa hubungannya dengan perang?.” yang bertanya kali ini adalah Hong Bingwen.
“Apakah ada yang bisa menjamin bahwa tidak ada musuh selain Para Pendekar Hitam itu?.”
“Itu ada benarnya.”
Sebagian dari orang – orang itu baru sadar, sedari awal mereka berdiskusi dengan mengabaikan keberadaan rakyat.
Kepanikan rakyat akan membuat pihak tertentu memamfaatkannya, musuh datang dari segala penjuru mata angin, bukan tidak mungkin ada pemberontak yang menunggu momen penting di saat genting.
“Bagaimana pendapatmu, Bangsawan Tao?, apakah kau bisa memberikan pendapat yang lebih baik?.” Itu jelas – jelas ejekan kepadanya.
Bangsawan Tao melotot dengan wajah yang merah padam kepada Liang Wei, seumur hidup ia tidak pernah dipermalukan oleh seorang bocah.
Ia semakin malu karena tidak bisa memberi pendapat yang lebih baik, dan berakhir menjadi bungkam.
Mengabaikan Bangsawan Tao, kali ini Yin Anguo yang bertanya kepada Liang Wei.
“Untuk poin kedua, kami sepenuhnya mengerti dan setuju, tapi untuk poin pertama, bukankah seharusnya kau menjelaskannya lebih lanjut?”
Yin Anguo masih belum mengerti, jika tidak menyerang dengan kekuatan penuh, lalu apa yang harus dilakukan?.
Liang Wei menyeringai dan memusatkan pandangannya kepada Bangsawan Tao.
“Sebelum aku berpendapat, bisakah Bangsawan Tao enyah dari sini?.”
“Lancang kau boc..”
“Dari tadi, aku membiarkanmu bertindak se-enak hati, terima kasih masih hidup sampai beberapa detik yang lalu.”
__ADS_1