
Di dalam kamar Kaisar Huifang…
Kaisar Huifang duduk di sebuah kursi menunggu Yang Huian datang.
“tok tok tok” seseorang mengetuk pintu “ibu, aku datang!.” Ucap Yang Huian sudah berada di depan pintu kamar itu.
“masuklah nak!.” Kaisar Huifang mempersilahkan Yang Huian masuk di ruangannya.
“ada apa ibu memanggilku?.” Ucap Yang Huian berbasa – basi, ia sebenarnya sudah tahu namun tetap saja bertanya.
“tentu saja aku rindu kepada putriku ini.” Ucap Kaisar Huifang lalu memeluk Yang Huian.
“eh?. bukan itu yah?.” Batin Yang Huian.
“aku juga merindukan ibu.” Ucap Yang Huian dan membalas pelukan itu.
“jadi, apakah kau menyukai Liang Wei?.” Itulah tujuan sebenarnya ia menyuruh Yang Huian datang, dan Yang Huian sudah menduganya sejak awal.
“ibu!, aku kira kau rindu padaku.” Yang Huian dengan wajah yang mulai memerah, segera melepaskan pelukannya.
“tentu saja aku rindu, tapi aku lebih penasaran.” Kaisar Huifang mengucapkannya sambil menahan tawa.
Yang Huian sedikit kesal karena Kaisar Huifang lebih memilih menanyakan tentang hal itu daripada melepas rindu.
Namun di waktu yang sama ia juga sangat senang, karena itu berarti sebentar lagi ia akan mendapatkan dukungan dari ibunya
“dia sangat mengagumkan, aku tidak pernah melihat orang yang lebih muda dariku, namun lebih kuat.” Ucap Yang Huian dengan antusias tapi wajahnya memerah karena sedikit malu bercerita tentang hal itu.
“kau mengingat pesan ibu untuk mencari lelaki yang lebih kuat.” Ucap Kaisar Huifang, ia jadi bangga pada Yang Huian.
Kaisar Huifang berpesan seperti itu agar kejadian kematian ayah Yang Huian tidak terulang, ia tidak ingin jika lelaki pendamping hidup anaknya tidak dapat melindungi diri sendiri, maupun melindungi Yang Huian.
“tentu saja ibu!.” Ucap Yang Huian dengan mantap, meskipun ia dikenal egois, namun ia selalu menurut pada ibunya.
“aku bersedia mengajarimu cara menggoda seorang lelaki.” Ucap Kaisar Huifang sambil menyenggol perut Yang Huian dengan sikunya.
“ibuu!!!. “ teriak Yang Huian dengan wajah memerah seperti tomat, ia merasa sangat malu di saat Kaisar Huifang menggodanya.
Kaisar Huifang tertawa melihat reaksi anak kandungnnya itu, namun tidak lama setelah itu ia menghela napas.
“ada apa bu?.” Tanya Yang Huian.
“dia sangat muda tapi juga kuat, apakah menurutmu hanya kau yang ingin memilikinya?.” Ucap Kaisar Huifang sambil menggelengkan kepala.
Perkataan Kaisar Huifang ada benarnya, dan Yang Huian tahu siapa saingannya selama ini, meskipun begitu ia tidak mau kalah.
“ibu, dia memiliki hubungan yang cukup dekat dengan gadis kecil yang selalu mengikutinya kemanapun ia pergi.” Ucap Yang Huian dengan wajah lesu.
__ADS_1
“itu bukanlah masalah, ibu akan mendukungmu.” Ucap Kaisar Huifang sambil tersenyum penuh makna.
Yang Huian melihat wajah ibunya, dan ia tahu maksud raut wajah dan senyuman itu.
“ibu, jangan melakukan sesuatu yang bisa membuatku malu!.” Ucap Yang Huian memberi peringatan.
“ahh tidak akan nak, jangan memikirkan hal yang macam – macam, ini sudah sangat larut, aku ingin tidur.” Ucap Kaisar Huifang lalu menuju ketempat tidurnya lalu berbaring.
Yang Huian tahu bahwa itu hanyalah akal – akalan ibunya agar ditanya lebih jauh.
“pergilah istirahatkan tubuhmu nak.” Lanjut Kaisar Huifang.
“pasti dia merencanakan sesuatu.” Batin Yang Huian, ia sudah sangat hapal dengan kelakuan ibunya itu.
“huffft baiklah bu.” Yang Huian menghela napas terpaksa setuju.
Ia pun meninggalkan ruangan itu dan menuju ke ruangan pribadinya untuk beristirahat.
--
Keesokan harinya..
Ruangan yang sudah di sediakan pihak Kekaisaran Yang untuk para tamu, Masing masing ruangan di isi oleh satu orang.
Di salah satu ruangan itu, Liang Wei tertidur sangat nyenyak. namun tidak lama kemudian, ia membuka matanya dan terbangun dari tidurnya.
Pemandangan pertama yang ia dapatkan adalah langit – langit ruangan.
Seorang pendekar tidak akan sakit atau demam kecuali sedang teluka parah, alasan itu lah yang membuatnya jadi bingung setengah mati.
“ahh sudahlah, itu tidak penting.” Liang Wei pun mengabaikannya.
Liang Wei pun beranjak dari tempat tidurnya dan segera membersihkan tubuhnya.
Setelah ia membersihkan tubuhnya dan berganti pakaian, ia duduk dalam posisi meditasi.
“ohhh iya, aku belum memeriksa barang yang ayah berikan kepadaku.” Batin Liang Wei yang baru mengingat sesuatu.
Sebelum Hong Cheung meninggal, ia memindahkan seluruh barang yang berada di ruang dimensionalnya ke ruang dimensional Liang Wei.
Hong Cheung juga lah yang mengajari Liang Wei menggunakan ruang dimensional sejak kecil.
Sebenarnya Liang Wei sudah tahu konsepnya, karena ia juga pernah menggunakan hal semacam itu dikehidupan sebelumnya, makanya dengan sangat mudah ia menguasainya.
Liang Wei pun menutup matanya dan mengalirkan tenaga dalam untuk melihat isi ruang dimensionalnya.
Tiba – tiba Liang Wei membuka matanya.
__ADS_1
“apa aku salah lihat?.” Batin Liang Wei yang berpikir bahwa ia salah melihat benda di dalam ruang dimensionalnya.
Ia pun menutup matanya dan mencoba melihat barang di ruang dimensionalnya sekali lagi.
“ternyata tidak salah lihat.” Ucap Liang Wei yang melihat gunungan emas yang jika ditaksir berjumlah lebih dari triliunan emas.
Liang Wei bukannya kaget melihat emas itu, tapi ia heran darimana Hong Cheung mendapatkan semua itu.
“apakah ayah memang sekaya ini?.” Liang Wei tidak bisa menemukan jawaban untuk pertanyaan itu, karena hanya Hong Cheung yang tahu jawabannya.
Selain menemukan segunung emas, Liang Wei juga menemukan banyak sumber daya dan Kristal jiwa Hewan Spiritual.
Tapi Liang Wei hanya tertarik pada 2 barang yang berada di dekat barang yang lain.
“hmmm apa itu?.” batin Liang Wei yang melihat sebuah kertas yang di gulung dan kitab.
Liang Wei pun mengeluarkannya dari ruang dimensionalnya, lalu Liang Wei meletakkan kitab itu dan mengambil gulungan kertas di dekatnya.
Liang Wei pun membuka gulungan kertas itu.
“surat?.” Liang Wei baru menyadari bahwa gulungan itu adalah surat. Ia pun langsung membacanya.
“anakku Liang Wei, jika kau membaca surat ini, maka sudah bisa dipastikan bahwa aku telah tiada di dunia ini.” Bunyi kalimat pembuka di dalam surat itu.
Mata Liang Wei langsung berkaca – kaca membacanya.
“jadi dia sudah memprediksi tentang kematiannya?.” Batin Liang Wei, seketika ia merasa sesak di dadanya.
Liang Wei melanjutkan membaca surat itu lagi.
“aku sebenarnya telah hidup lebih lama daripada yang kau tahu, sudah banyak pengalaman hidup yang aku alami, aku juga pernah bertemu dengan Kaisar Siluman 1000 tahun yang lalu, ia adalah sosok yang kejam dan sangat ambisius untuk menguasai dunia, namun aku harap kau tidak melakukannya lagi anakku.”
Liang Wei membelalakkan mata membaca baris pertama dalam surat itu.
“jadi sejak awal ayah sudah tahu identitasku?. Lalu mengapa dia tetap memperlakukanku seperti anaknya?. Ayah, apakah hatimu sungguh semulia itu, aku jadi semakin rindu padamu!.”
Liang Wei pun tidak bisa lagi membendung air matanya, ia menutup mata dengan lengannya dan membiarkan air matanya keluar membasahi lengan jubahnnya.
Ia sangat tersentuh dengan kebaikan hati Hong Cheung yang menerima dia sebagai anaknya, tanpa mempermasalahkan identitas dan juga semua dosa yang telah ia lakukan di masa lalu.
ia jadi semakin menyesal karena tidak pernah menunjukkan kasih sayangnya kepada Hong Chueng, yang ia lakukan saat itu hanya membuat Hong Cheung susah.
“hati manusia memang lemah, tapi tidak kusangka akan selemah ini.” Penyesalan itu sungguh membuat hatinya sangat sesak dan tidak tahu harus berbuat apa.
__ADS_1