Reinkarnasi Kaisar Siluman

Reinkarnasi Kaisar Siluman
Tentang Kitab Misterius


__ADS_3

“bagaimana bisa teknik yang kuciptakan ada di dalam kitab ini.” pikir Liang Wei yang masih mematung dalam keadaan berjongkok.


Hong Cheung menyernyitkan dahi melihat Liang Wei yang mematung.


“Hei ada apa denganmu nak?.” perkataan Hong Cheung itu seketika menyadarkan Liang Wei yang sebelumnya mematung.


Masih dalam posisi berjongkok, Liang Wei mengalihkan pandangannya lalu menatap Hong Cheung didepannya dan lekas menjawab “ah tidak apa – apa ayahanda guru.”


Senyuman manis ia tunjukkan dengan tujuan menutupi hal yang sebenarnya ia pikirkan.


“lantas kenapa dari tadi raut wajahmu seperti orang yang terkejut?.” tanya Hong Cheung, yang memang memperhatikan ekspresi wajah Liang Wei dari awal.


Pertanyaan Hong Cheung membuat Liang Wei sedikit gugup.


“sial, dia memperhatikanku” pikir Liang Wei.


“aku hanya takjub membaca teknik di dalam kitab, menurutku itu  sangat luar biasa” jawab Liang Wei, tentu saja dengan menaburkan sedikit bumbu kebohongan.


“oh benarkah?, teknik mana yang membuatmu takjub?.” tanya Hong Cheung.


“teknik ini, ayahanda guru.” jawab Liang Wei dengan menunjuk kitab yang masih ditanah dengan halaman yang terbuka.


Melihat hal itu Hong Cheung membulatkan mata, bukan karena ia kaget, namun karena…


“hei kau belum boleh membaca bagian itu, aku memang mengizinkanmu membaca kitab itu tapi hanya pada bagian pertama dan kedua.”


“kau bahkan belum bejalar tentang beladiri tangan kosong” Hong Cheung mengucapkannya dengan nada tegas, sembari berjongkok dan segera meraih kitab di depannya.


Alasan Hong Cheung tidak mengizinkan Liang Wei membaca bagian itu, tidak lain karena ia khawatir Liang Wei hanya akan fokus mempelajari bagian itu tanpa mempelajari dasarnya.


Mempelajari beladiri sama halnya dengan membangun rumah, diawali dengan membangun fondasi yang kokoh, jika fondasi tidak kokoh ataupun tidak ada fondasi, tentu saja rumah itu akan runtuh cepat atau lambat.


Mempelajari beladiri selalu dan harus dilakukan secara sistematis dan berurutan. itulah juga salah satu alasan mengapa sebuah kitab beladiri diciptakan, agar dasar dan inti latihan tidak tertukar.


Kitab beladiri terdiri dari dua atau tiga bagian, yaitu dasar dan inti, dan kadang – kadang terdapat bagian penutup.


Seperti judulnya, bagian dasar berisi dasar – dasar dalam mempelajari suatu teknik, bagian Inti berisi  teknik utama dalam suatu kitab beladiri, serta bagian penutup biasanya berisi teknik tambahan sebagai pelengkap teknik utama.


Kembali pada Hong Cheung yang telah mengambil Kitab itu


“kau harus mulai dari bagian pertama, jangan mencoba melangkahinya.” Ucap Hong Cheung dengan tegas.


“baiklah ayahanda guru, tapi kalau boleh aku tahu, darimana ayahanda guru mendapatkan kitab itu.” Liang Wei bertanya dengan gugup.


“kitab itu…hmmmm” Hong Cheung mengucapkan itu dengan memberikan jeda sembari  memegang dagunya seperti mencoba mengingat sesuatu.

__ADS_1


Liang Wei hanya menelan ludah dengan kasar memikirkan lanjutan perkataan Hong Cheung.


setelah beberapa menit kemudian Hong Cheung tersenyum lalu mengangguk – anggukan kepalanya seperti telah berhasil mengingat sesuatu, lalu melanjutkan perkataannya yang sempat terjeda.


“entahlah.” jawaban yang sederhana bahkan terlalu sederhana dan mudah diucapkan, tapi jawaban mudah yang Hong Cheung berikan juga dengan mudahnya membuat urat didahi Hong Cheung muncul.


“dasar tua Bangka sial*an, dia mempermainkanku jika aku masih di tubuh lamaku, akan ku remukkan wajah kotormu itu.” pikir Liang Wei.


Hong tertawa terbahak – bahak melihat wajah kesal Liang Wei. Seperti biasa Hong Cheung melatih Kesabaran Liang Wei.


“sudahlah jangan pasang raut wajah seperti itu lagi, aku hanya bergurau, sebenarnya mendiang guruku yang memberikan kitab itu.” Ucap Hong Cheung kembali serius.


Liang Wei melupakan rasa kesalnya karena tertimpa rasa penasaran lagi. Dengan segera Liang Wei bertanya


“ayahanda guru, apakah dia pewaris Jiwa Dewa sebelumnya?.”


“bukan” singkat saja jawaban yang diberikan Hong Cheung.


Dari jawaban Hong Cheung kitab itu tidak terkait dengan Jiwa Dewa, berarti kemungkinan besar tidak ada campur tangan ‘sosok cahaya’ dengan adanya teknik yang Liang Wei ciptakan di dalam kitab itu.


“ini tidaklah sesederhana yang kupikirkan.” pikir Liang Wei.


“lalu, siapa yang memberikan kitab ini pada guru dari ayahanda guru?.” tanya Liang Wei yang masih penasaran.


“kalau itu aku tidak tahu, aku memang tidak menanyakan kepadanya darimana asal kitab itu.” Jawab Hong Cheung.


“waktu itu aku sempat menolaknya karena biarpun aku menerimanya, aku tidak akan pernah bisa mempelajarinya, karena teknik itu tidak cocok denganku.”


“tapi dia bersikeras menitipkan kitab itu padaku, kata – kata yang dia ucapkan saat itu adalah ‘kelak seseorang yang cocok dengan kitab itu akan datang di kehidupanmu’ .”


“dan benar apa yang dikatakan guruku, orang yang cocok telah datang” ucap Hong Cheung sambil mengarahkan jari telunjuknya kepada Liang Wei.


“mengapa ayahanda guru mengatakan bahwa kitab itu cocok denganku sedangkan guru tidak?. ” Tanya Liang Wei heran.


“syarat untuk mempelajarinya adalah memiliki elemen kegelapan.” Jawab Hong Cheung.


Lalu tiba – tiba tatapan Hong Cheung menajam, dengan serius yang lebih serius daripada sebelumnya, ia melanjutkan perkataannya.


“ini cukup aneh, aku tidak merasakan ayah dan ibu kandungmu memiliki elemen seperti yang ada dalam tubuhmu.” Perkataan itu bagai sebuah gunung yang menindih napas Liang Wei.


“sepertinya memang, kau di takdirkan menjadi Pendekar Hitam” Ucap Hong Cheung memberikan penekanan pada kata – katanya, membuat Liang Wei keringat dingin.


Pendekar Hitam atau Pendekar Aliran Hitam adalah pendekar yang sumber kekuatannya dari aura jahat atau kegelapan, baik itu dari benda atau teknik tertentu.


biasanya jika seorang pendekar hitam tidak dapat mengendalikan kejahatan dalam dirinya, ia akan selalu merasa haus darah.

__ADS_1


“anakku, aku hanya berpesan kepadamu, dengarkan dan ingat ini baik – baik..”


“dimanapun kau berada dan apapun yang kau lakukan, pastikan tujuanmu tidak bertentangan dengan jalan ‘kebajikan’ dan ‘kebenaran’.” Jelas Hong Cheung.


“karena….” Hong Cheung menjelaskan mengenai ‘pandangan’ nya terhadap Pendekar Hitam yang berbeda dengan pandangan orang – orang pada umumnya.


Orang – orang pada umumnya beranggapan bahwa Pendekar Hitam selalu berbuat jahat dan memang dari awal jahat, namun Hong Cheung beranggapan bahwa ‘tidak semua’ Pendekar Hitam itu jahat.


menurutnya yang jahat hanya segelintir orang dari mereka yang tidak bisa mengendalikan diri atau rasa haus darahnya.


Hong Cheung beranggapan seperti itu berdasarkan pengalaman pribadi selama ia hidup, ia kerap kali menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri Pendekar Hitam yang tetap berada di jalan kebajikan dan kebenaran.


Apa yang Hong Cheung saksikan adalah sebagian dari Pendekar Hitam itu tidak pernah memulai suatu perkara duluan dan tidak membunuh dengan alasan yang tidak jelas.


Sebaliknya Kerap kali juga Hong Cheung menemukan sekelompok atau seorang Pendekar putih namun bertingkah semena – mena dengan kekuatannnya, bahkan perbuatannya lebih kejam daripada Pendekar Hitam.


Hong Cheung sebenarnya cukup heran kenapa Pendekar Hitam selalu jadi pihak yang salah.


Karena Bagi Hong Cheung baik itu Pendekar Hitam ataupun Pendekar putih sama saja.


‘Pisau di dapur yang biasanya digunakan untuk memasak juga bisa digunakan untuk membunuh’


Jahat atau tidaknya seorang Pendekar bukanlah tergantung apakah dia Pendekar Hitam atau Pendekar putih, namun itu tergantung pada bagaimana ia mempertanggungjawabkan kekuatan dimilikinya.


kembali pada Hong Cheung yang berpesan pada Liang Wei.


Liang Wei menghembuskan napas lega mendengarnya, Liang Wei mengira bahwa Hong Cheung akan membunuhnya karena alasan ia ditakdirkan menjadi Pendekar Hitam.


Liang Wei hanya mengangguk dengan mantap dan menjawab “akan ku ingat pesan ayahanda guru.”


Meskipun ia tidak mendapat jawaban yang memuaskan mengenai kitab misterius itu, ia tidak lagi memikirkannya, karena kitab itu sekarang berada di tangan yang tepat.


Kali ini Liang Wei hanya harus memastikan Hong Cheung memberikan kitab itu padanya, Liang Wei terus menatap kitab itu dan memikirkan cara agar Hong Cheung memberikan kitab itu secepatnya.


Cukup cepat tanggap Hong Cheung menyadari tatapan Liang Wei pada kitab yang sekarang ada ditangannya.


“nak, jika kau telah berhasil menguasai semua bagian dasar dari kitab ini, kau boleh memilikinya.” Ucap Hong Cheung dengan tersenyum.


Mendengar perkataan Hong Cheung, Liang Wei tersenyum lebar dan jadi bersemangat, ia tidak sabar mendapatkan kitab itu.


“bisa kita segera mulai latihannya ayahanda guru.” Ucap Liang Wei dengan antusias.


 


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2