
“Apakah maksudmu Liang Wei yang masih bocah? murid baru di Perguruan Beladiri Xijing?.” Lu Bian berucap karena sepertinya tahu siapa orang yang dimaksud.
Lu Bian adalah salah satu orang yang pernah menyaksikan Liang Wei dalam ujian ke tahap kedua penerimaan murid baru Perguruan Beladiri.
“Benar Tuan, tepat seperti yang anda katakan.”
10 orang lainnya tercengang mendengar fakta itu, bahkan Zhang Binjie yang biasanya tidak menunjukkan perubahan raut wajah tiba – tiba menunjukkan keterkagetannya.
Bagaimana tidak, jika mendengar kata ‘bocah’ maka yang ada dalam benak mereka adalah seorang pendekar yang baru belajar mengolah tenaga dalam atau bisa dikatakan seorang yang baru berada pada tingkat dasar.
Berdasarkan hal itu,sangat tidak masuk akal jika seorang bocah bisa mengalahkan seorang pendekar tingkat tertinggi, apalagi yang ia bunuh dua orang dalam waktu yang berdekatan.
“Berarti bocah itu adalah seorang yang lebih jenius daripada seorang jenius.” Begitulah pikir mereka, walau sulit mereka percayai, tapi itulah yang terjadi.
Tak satupun dari mereka yang tidak berpikir untuk segera melenyapkan Liang Wei, umurnya masih muda tapi sudah menjadi ancaman besar dan berbahaya bagi mereka.
“Bibit unggul yang sangat unggul dari musuh tak boleh dibiarkan terus tumbuh.” Ucap Cao Pi, dan itu mewakili pemikiran sekutunya yang lain.
Mereka tidak ingin generasi muda seperti Liang Wei mengancam eksistensi mereka di masa kini maupun di masa depan nanti.
“Dan satu lagi Tuan” 11 orang yang duduk mengalihkan pandangan kepada orang yang berlutut.
“dia juga yang telah menghabisi Shé Huo dan seluruh pembunuh bayaran yang sebelumnya menjalankan misi di kota Wen Kerajaan Yuan.”
“Apa?.” Mendengar perkataan itu, Shé Dú membelalakkan mata dan tak sadar bangkit dari tempat duduknya.
Mendengar suara gaduh dengan kata yang sama, Shé Dú melihat kekiri dan kekanan, ternyata 10 orang lainnya juga melakukan hal yang sama, berdiri dengan mata membulat dan rahang yang terbuka lebar, tidak terkecuali Zhang Bingjie.
“Ini sungguh serius, dia bukanlah lelucon!.” Pikir mereka .
--
Di Perguruan Beladiri Xijing.
Lebih dari ratusan orang berdiri di depan gerbang, semakin hari jumlah mereka semakin banyak, mereka semua menuntut untuk dipertemukan dengan Liang Wei. Sudah cukup seminggu mereka melakukan itu, namun Liang Wei tak kunjung menemui mereka.
“Apakah hari ini dia tidak muncul juga?.” Salah seorang dari mereka mulai merasa lelah karena Liang Wei tak juga menampakkan batang hidungnya.
“Entah mengapa dia tidak ingin menemui kita?.” mereka sungguh tidak tahu alasannya.
“Aku yakin karena dia adalah orang tidak ingin menerima pujian dan hadiah.” Itulah jawaban yang mereka duga merupakan alasan paling kuat.
__ADS_1
“Selain jenius, dia juga memiliki hati yang baik.” dan yang lain menyetujuinya.
“Aku jadi semakin ingin menemuinya!.” Tak lelah, mereka justru semakin bersemangat hanya untuk menemui seorang Liang Wei.
Mereka tidak tahu bahwa Liang Wei yang dimaksud adalah bocah kurang ajar yang pernah membentak Kaisar dan hampir bertengkar dengan mereka saat Ujian Kedua penerimaan murid baru Perguruan Beladiri.
--
“Hey nak mengapa kau tidak ingin menemui mereka?, ini sudah seminggu!.” To Mu datang menemui Liang Wei yang sedang berlatih di ruang berlatih.
Liang Wei menatapnya dengan malas dan berbicara di dalam hati “kakek ini sungguh sangat keras kepala, setiap hari dia datang kesini hanya untuk memberitahuku tentang hal itu.” ia jadi kesal karena latihannya di ganggu.
“Kakek berwajah seram tapi konyol atau siapalah namamu?.” Ucap Liang Wei yang memang tidak mengingat nama To Mu.
“Lupakan tentang namaku!, hal yang tadi kukatakan lebih penting!.” To Mu langsung menjawab.
“yah namamu memang tidak penting.” Batin Liang Wei dengan wajah datar. “aku tidak peduli dengan hal penting yang kau maksud, bisakah kau tidak mengganggu latihanku lagi?.” Ucapnya.
“Tidak ada ruginya bagiku?, itu hanyalah menurutmu!.” Batin Liang Wei, jika ia menemui mereka, maka ia akan jadi pusat perhatian, jika ia menjadi pusat perhatian maka hidupnya sudah pasti tidak akan tenang, dan ia benci itu.
Liang Wei bisa membayangkan bagaimana dirinya ketika berjalan – jalan di ibukota dan diganggu oleh orang – orang sepanjang jalan. “itu akan sangat menyebalkan” batinnya.
“Sudahlah, aku sungguh tidak ingin menemui mereka, panggillah satu murid untuk menggantikanku.”
Liang Wei lebih memilih bertarung daripada berhadapan dengan orang seperti To Mu. Ia kemudian menghilang melalui bayangannya tanpa pamit dari hadapan To Mu.
--
Liang Wei muncul di sebuah gang sempit tempat di mana ia mengejar Kilat Malam. Ia kemudian melangkahkan kaki keluar dari gang itu.
Tempat yang ia tuju adalah tempat yang dapat membuatnya tenang. Setelah berjalan beberapa saat “akhirnya tiba juga.” ia menghentikan langkah kakinya saat menemukan rumah makan yang pernah ia datangi bersama Hong Cheung.
Liang Wei lalu melangkah memasuki rumah makan itu, saat ia memasuki rumah makan itu ia melihat ke kanan dan ke kiri mencari meja yang masih tidak terisi oleh orang lain.
“Untung saja masih kosong.” Meja yang ia tuju adalah meja di pojok ruangan yang merupakan tempat favorit Hong Cheung.
Ia berjalan menuju meja itu, dan saat tiba di situ ia langsung duduk, seorang pelayan langsung mendatanginya. “sudah lama anda tidak berkunjung ke sini Tuan Muda, di mana ayah anda?.”
__ADS_1
Pelayan itu beberapa kali melihat Liang Wei bersama Hong Cheung di rumah makan itu, jadi wajar jika ia bertanya untuk berbasa basi.
Liang Wei sedikit tersentak dan diam untuk beberapa saat, kemudian menarik napas yang dalam lalu menjawab.
“Ah beliau pergi ke suatu tempat yang sangat jauh, dan mungkin suatu hari nanti aku akan menyusulnya.” Ucap Liang Wei mempertahankan raut wajahnya untuk tetap tenang.
Sang pelayan mengerutkan keningnya “kenapa dia jadi aneh?.” Batinnya.
Siapapun yang pernah bertemu Liang Wei pasti tahu sifatnya yang tidak sopan, dan itu sungguh aneh melihatnya bertingkah sebaliknya.
Namun ia tak ingin menyinggung privasi Liang Wei “Oh begitu, lalu apa yang ingin anda pesan hari ini?.”
“Daging Panggang.” Liang Wei selalu memesan menu yang sama, menu yang ia selalu pesan saat bersama Hong Cheung.
“Oh iya, aku pesan dua porsi.” Lanjut Liang Wei.
“Seperti biasa ia makan banyak.” Batin pelayan itu.
“Baiklah pesananmu akan segera datang tuan muda.” Pelayan itu pun pergi untuk mengambilkan pesanan Liang Wei.
Selang waktu yang tidak lama.”silahkan dinikmati tuan muda.” Pelayan itu pun datang membawa pesanan Liang Wei dan meletakkannya di meja.
Liang Wei hanya mengangguk, dan langsung menyantap satu porsi makanan itu, satu porsinya lagi tidak ia makan, ia hanya membiarkannya tetap berada di situ seolah ada orang lain yang menemaninya makan.
Setelah ia selesai menyantap makanan itu, ia meletakkan sekantung emas di meja dan beranjak dari tempatnya.
“Tuan muda, ini terlalu banyak, dua porsi itu hanya satu koin perak!.” Pelayan yang tadi, datang dari belakang dan menegur Liang Wei saat ia baru berjalan dua langkah dari kursinya.
Liang Wei hanya melirik kebelakang dan membalas ucapan pelayan itu.
“Dengan sekantung emas yang kuberi, Biarkanlah tempat itu tetap kosong, kumohon sajikanlah makanan yang tadi ku pesan 3 kali sehari dan letakkan di meja itu.” Liang Wei menunjuk meja yang ia tempati tadi.
--
Liang Wei tiba di gang sempit tempat ia muncul pertama kali.
“keluarlah, aku tahu dari tadi kalian mengikutiku!.” Ia mengucapkannya dengan raut wajah yang sangat serius.
__ADS_1