
Lima tahun berlalu.
Dikedalaman hutan terlihat seorang anak berumur enam tahun bersembunyi dibalik semak – semak
Dengan ekspresi serius, ia diam memperhatikan sesuatu yang berada kurang lebih lima meter darinya
Dia sedang memperhatikan gerak – gerik seekor rusa liar yang ada di depannya, rusa itu bukanlah sembarang rusa, rusa itu adalah hewan spiritual
Melihat rusa liar gemuk di depannya, tanpa anak itu sadari air liurnya menetes dan jatuh pada daun kering, sedikit suara dari daun kering akibat air liur anak itu malah terdengar oleh telinga si rusa, memang hewan spiritual memiliki indra yang sangat sensitif
rusa itu berlari sangat kencang karena merasa waspada pada suara yang dia anggap secara naluri cukup mencurigakan
“ah siaal, jangan mencoba untuk berlari” melihat rusa itu berlari anak itu mencoba mengejarnya
“ahhh aku terpaksa harus menggunakannya”
“langkah kegelapan” setelah mengucapkan itu tersebut anak tersebut berlari secepat kilat dan secara ajaib menyatu dengan bayangan pohon – pohon di dalam hutan, dan secara tiba – tiba ia muncul dari bayangan Si Rusa
Rusa itu kaget, refleknya melambat, sehingga anak itu memenggalnya dengan mudah
“duuk duuk” suara kepala Rusa yang jatuh ditanah karena telah terpisah dari tubuhnya
“ahhh aku mencoba berburu tidak mengandalkan tenaga dalam tapi sepertinya sangat mustahil, hewan spiritual itu sangat curang karena memiliki telinga yang sensitif” keluh anak itu sambil menatap darah rusa yang ada pada bilah dipedangnya
“masa bodoh, yang penting perut ku bisa kenyang, perut yang kenyang membawa bahagia dihati” memikirkan daging rusa panggang, air liurnya lagi – lagi keluar bagaikan air terjun
Ia menyentuh tubuh rusa itu dan secara ajaib hilang entah kemana
“sepertinya pengendalian ruang dimensi ku makin membaik”
Saat ia ingin beranjak dari tempatnya, tiba – tiba seekor banteng muncul dari semak – semak, banteng itu tanpa di duga menyerang anak itu dengan serudukan tanduknya
“pasti rasanya sakit” ucap anak itu wajah datar, melihat tanduk banteng itu menyasar di bokongnya, ia pasrah karena menyadari tidak sempat baginya untuk menghindar, dan benar saja akibat serangan itu ia terpental sejauh sepuluh meter
“duuuuak”
“booom”
“aduh duh, aku sudah menduga rasanya akan sakit, tapi tidak kuduga akan sesakit ini” ucap si Anak mencoba berdiri sambil memegangi bokongnya
“sepertinya dalam beberapa hari ini aku akan kesulitan buang air besar” anak itu mengoceh sendiri, tapi masih belum cukup rasanya ia mengoceh, Banteng itu datang lagi
“berhenti !!! ” ucap anak itu
__ADS_1
Banteng yang jaraknya tinggal satu jari dari anak itu langsung berhenti
“apa ini ? , hewan spiritual ini mendengarkan ku, hahaha sepertinya dia tahu siapa Rajanya” percaya diri ia mengucapkan itu sambil membusungkan dada
“benar benar banar hahaha, tunduklah padaku yang agung ini” ucapnya sambil menempeleng kepala banteng itu
“taak”
Akibatnya mata Banteng itu memerah, dua titik cahaya seperti Kristal kecil muncul dari dahinya, dan keluar asap dari tiupan napas hidungnya
“kenapa? , apa kau marah?” mendengar ucapan sombong si Anak, Banteng itu membalikkan tubuhnya dan berjalan seakan ingin pergi
“hahaha kau pasti takut, ahahhah akulah Raja rimba. tidak, aku adalah kaisar rim…..” belum sempat ia melanjutkan perkataannya, Kedua kaki belakang Banteng itu sudah mengecup pipinya
“boom” suara tubuh anak itu yang lagi – lagi terpental
“sialan, berani – beraninya kau melakukan itu pada Kaisar yang agung ini”
“langkah kegelapan” sekali lagi ia berlari secepat kilat, dan menyatu di bayangan pohon – pohon di hutan itu
Banteng yang melihat anak itu Menghilang dari pandangannya mulai merasa waspada , tapi dia tidak dapat mengimbangi kecepatan anak itu
Anak itu muncul dari balik bayangan
kepala dan tubuh banteng itu seharusnya jatuh ketanah, namun belum sempat jatuh ketanah, kepala dan tubuh banteng itu sudah meleleh dan menghilang sekejap mata, hal itu karena pedang yang menjadi kabut hitam itu memiliki efek korosif yang sangat tinggi
melihat hal tersebut, anak itu hanya mengucapkan sebuah perkataan dengan dingin “daging mu tidak pantas dimakan, jadi kuhancurkan saja” suara yang dia keluarkan serak dan berat layaknya orang dewasa, yah dia adalah Liang Wei
pedang Liang Wei kembali kebentuknya semula , tidak ada bekas darah dari di pedang itu, pedang itu adalah pedang yang istimewa, pedang itu adalah satu dari dua pedang Kaisar Siluman yang ia bawa dari kehidupan sebelumnya
selain pedang itu, teknik yang dia gunakan tadi adalah teknik yang selalu Liang Wei juga gunakan di kehidupan sebelumnya saat ia membantai jutaan musuhnya.
--
Setelah berhadapan dengan banteng itu, Liang Wei kembali kerumahnya
Kedatangan Liang Wei disambut hangat oleh Hong Cheung
“kau sudah kembali nak” ucap Hong Cheung
“iya ayahanda guru, lihat apa yang kudapat” ucap Liang Wei sembari mengeluarkan tubuh rusa yang ia tangkap tadi
“kau berburu hewan spiritual lagi ! pantas saja kau babak belur seperti itu” ucap Hong Cheung dengan nada meninggi
“ahh aku lupa bahwa aku telah dilarang” batin Liang Wei
__ADS_1
“aku tidak apa – apa, yang lebih penting ini pasti enak jika dipanggaang , ayahanda guru” mencoba mengalihkan pembicaraan Liang Wei membahas hal lain
“hey kau pandai sekali berbicara, kau harus tahu bahwa hewan spiritual itu juga punya tingkat kekuatan, jadi pasti ada hewan spiritual yang bisa mengalahkanmu dengan mudah, jadi kau harus waspada” perkataan itu merupakan sebuah teguran namun malah membuat Liang Wei penasaran
Dengan segera ia bertanya “ayahanda guru, aku kurang memahami perkataanmu barusan, bisakah engkau menjelaskannya?”
Kemudian Hong Cheung menjelaskan bahwa hewan spiritual juga memiliki tingkatan kekuatan yang sama dengan manusia, namun karena aura hewan spiritual yang berbeda membuat seorang pendekar dengan tingkat kekuatan yang rendah cukup kesulitan mendeteksinya
Bagi pendekar dibawah tingkat pemula, untuk mengetahui tingkatannya dapat dilihat dari titik cahaya seperti Kristal yang ada pada dahinya
satu titik cahaya maka itu setara dengan pendekar tingkat dasar
dua titik cahaya maka hewan spiritual itu setara dengan pendekar tingkat pemula
tiga titik cahaya setara dengan pendekar tingkat mahir
empat titik cahaya sama dengan pendekar tingkat tinggi
lima titik cahaya berarti kekuatannya sama besar dengan pendekar tingkat tertinggi
dan untuk membedakan tahapannya dilihat dari warna matanya
warna hijau berarti dia berada pada tahap awal
kuning berarti pada tahap menengah
dan merah berarti ia sudah berada pada tahap puncak
sejauh ini hewan spiritual terkuat yang pernah ditemui manusia hanya memiliki lima titik cahaya
konon ada yang pernah melihat hewan spiritual dengan enam titik cahaya di dahinya, namun tidak ada yang percaya dengan hal itu, orang – orang hanya menganggap itu sebuah kebohongan, karena jika memang hewan seperti itu ada, pasti dengan keberadaannya sendiri dapat mengacaukan seluruh benua
--
Setelah menjelaskan tentang hewan spiritual secara panjang lebar, Hong Cheung bertanya kepada Liang Wei “jadi, berapa titik Cahaya di dahi hewan spiritual ini” ia bertanya karena ia tidak melihat kepala Rusa itu di tubuhnya, Liang Wei memang meninggalkan kepalanya di tengah hutan
“seingatku hanya satu, dan matanya hanya berwarna hijau” ucap Liang Wei mengingat jumlah titik cahaya dan warna mata rusa itu
“lalu kenapa kau bisa babak belur seperti itu, padalah kau sekarang pendekar tingkat dasar tahap menengah” Tanya Hong Cheung dengan heran
Pertanyaan itu membuat Liang Wei gugup, ia mengumpat dalam hati dan membatin “ini gara – gara Banteng itu, si jelek itu ternyata tingkat pemula puncak, titik cahaya di dahinya ada dua dan matanya merah, pantas saja aku bisa babak belur”
“aku hanya terpeleset di batu yang licin ketika aku hendak buang air besar di sungai” jawab Liang Wei dengan wajah datar tidak bisa memikirkan alasan lain untuk berbohong, Hong Cheun hanya menanggapinya dengan wajah datar juga
“pembohong amatir” batin Hong Cheung
__ADS_1