
Di Pagi hari, saat matahari belum terlihat di kota Xijiing.
Liang Wei dan Lin Lixue berjalan memasuki Istana Kekaisaran, berniat untuk menjalankan misi, mereka berdua di dampingi oleh Chuang Li
“aku masih mengantuk, mengapa mereka menyuruh kita datang sepagi ini?.” Keluh Liang Wei sambil menguap.
“bersabarlah bocah, lihatlah kekasihmu bahkan tidak mengeluh.” Ucap Chuang Li.
“dia bukan kekasihku!” ucap Liang Wei dengan nada sedikit meninggi.
Mendengar ucapan Liang Wei, Lin Lixue menatapnya dengan tajam.
“lihatlah dia tidak suka kau tidak mengakuinya.” Ucap Chuang Li sambil menahan tawa.
“hufft yang lebih penting, dari semua orang, mengapa kau yang menjadi pendamping kami.”
Liang Wei masih kesal mengingat Chuang Li begitu menyebalkan mengganggu tidurnya saat ujian sebelumnya.
“hey bocah tidak tahu sopan santun, kau kira ini keinginanku, jalankan saja misinya tanpa mengeluh lagi.”
“hufftt baiklah.” Liang Wei menghela napas terpaksa setuju.
Mereka bertiga berjalan memasuki gerbang setelah memberikan surat misi kepada penjaga gerbang.
“lewat sini.” Ucap seorang Prajurit menuntun mereka.
Mereka bertiga pun mengikuti Prajurit itu dari belakang.
“tidak buruk, istana manusia yang bagus.” Komentar Liang Wei saat memasuki istana.
“apa maksudmu?.”
“maksudku, istana ini bagus.”
Akhirnya mereka tiba di depan sebuah pintu yang sangat besar.
Prajurit itu pun membuka pintu untuk mereka bertiga.
Terlihat sudah banyak orang di dalam ruangan itu, Kaisar, Para Pejabat Kekaisaran, serta 2 Perwakilan dari Kekaisaran Yang.
Liang Wei, Lin Lixue, dan Chuang Li berjalan memasuki ruangan yang luas itu, semua mata di ruangan itu memandang mereka dengan remeh.
“jadi kali ini mereka yang jadi pengawal, apakah Perguruan Beladiri sudah menjadi tempat lawak?.” Ucap seorang pria paruh baya dari Kekaisaran Yang bernama Ming Hao.
“benar, apa maksud Perguruan Beladiri mengirim dua orang lemah ini untuk mengawal Tuan Putri”.
Seseorang yang juga Pria paruh baya dari Kekaisaran yang sama menimpali perkataan Ming Hao, ia bernama Liu Changhai.
Orang lain dalam ruangan itu mengangguk setuju dengan perkataan kedua orang itu. namun tidak dengan seseorang, dia adalah Kaisar Aiguo.
“hahaha, kalian jangan meremehkan bocah dan gadis kecil itu, mereka adalah 2 orang jenius baru di Perguruan Beladiri Xijing.” Ucap Kaisar Aiguo, ia sedikit senang dengan kedatangan Liang Wei.
“apa maksud anda yang mulia, kita bisa lihat sendiri, satu orang dari mereka hanya memiliki kekuatan tingkat dasar tahap awal.” Ucap Ming Hao sambil menunjuk Lin Lixue
“dan yang satunya lagi bahkan tidak memiliki tenaga dalam sama sekali.” Lanjutnya sambil menunjuk Liang Wei.
__ADS_1
Para Pejabat Kekaisaran juga setuju dengan hal yang dikatakan orang – orang dari Kekaisaran Yang.
Itu bukanlah salah mereka, wajar dan Tentu saja setiap orang akan berpendapat berdasarkan apa yang ia lihat.
Namun menilai sebelum memeriksa adalah hal yang salah.
“Kalian bisa menguji mereka.” Ucap Kaisar Aiguo sambil tersenyum penuh makna.
“maaf Yang Mulia, saya rasa ini hanya buang – buang waktu.” Ucap Ming Hao.
“benar Yang Mulia, lebih baik suruh mereka mengirim pendekar yang berpengalaman.” Liu Changhai menimpali.
Liang Wei sedikit kesal diremehkan, urat di dahinya sedikit muncul, ia rasanya ingin segera menghajar kedua orang itu.
Beruntung Liang Wei masih berpikir jernih, ia tidak melakukan hal yang bisa memicu konflik antar Kekaisaran.
“Jika Kaisar kalian yang memberi perintah, apakah kalian juga akan menolak.” ucap Kaisar Aiguo sekali lagi, kali ini mereka tidak bisa lagi menolak.
“baiklah, tapi aku tidak akan menahan diri.”
Setelah mengucapkan itu, Ming Hao membocorkan aura pendekar tingkat mahir tahap awal.
“bagaimana jika kita mulai dari kau bocah.” Ucapnya sambil menunjuk Liang Wei.
“sejak awal memang hanya akulah yang akan turun tangan.” Ucap Liang Wei dengan suara seraknya yang khas.
Ming Hao kemudian berlari ke arah Liang Wei, berniat memberinya sebuah pukulan.
Sebuah tinju dengan konsentrasi tenaga dalam yang kuat dia arahkan ke wajah Liang Wei.
Liang Wei hanya tersenyum tidak menanggapi perkataannya.
“Tinju Pembelah Langit.”
Ming Hao pun tanpa ragu mengayunkan tinju mematikan yang ia miliki.
“wooosshhh.” Hembusan angin akibat tinju yang ia ayunkan, seketika asap muncul menghalangi pandangan mata.
Ketika asap itu sudah menghilang Para Pejabat Kekaisaran dan orang lainnya hanya menggelengkan kepala, mereka berpikir mungkin tubuh Liang Wei sudah hancur tanpa jejak.
Reaksi dari Para Pejabat tidak seperti Ming Hao, ia merasakan ada hal yang salah, karena ia tidak merasa telah memukul apapun.
“kemana bocah itu?.” ucap Ming Hao.
Ming Hao menengok kekiri dan kekanan, ia berusaha mencari Liang Wei diseluruh ruangan.
“apa yang kau cari. Ming Hao?.” Tanya Liu Changhai.
“bocah itu menghilang sebelum pukulanku mengenainya.” Jawab Ming Hao yang masih terus mencari keberadaan Liang Wei.
Para Pejabat Kekaisaran heran, ia juga mendengar apa yang dikatakan oleh Ming Hao barusan, namun mereka tidak melihat ada tanda – tanda keberadaan Liang Wei disekitar mereka.
Lebih tepatnya mereka tidak pernah melihat Liang Wei bergerak keluar dari asap tadi.
Chuang Li dan Kaisar Aiguo tersenyum, tentu saja mereka yang sudah menyaksikan Liang Wei bertarung tidak akan kaget lagi.
__ADS_1
Sangat frustasi Ming Hao mencari Liang Wei, ia menjambak rambutnya sendiri karena kesal.
Dalam keadaan frustasi itu ia ceroboh mengendorkan penjagaan dan sedikit tidak waspada, memamfaatkan celah yang ada, Liang Wei muncul dari balik bayangan Ming Hao.
“Iblis Hitam Pembalas Dendam”
Pukulan tangan kosong yang ganas bertubi – tubi mendarat di perut dan dada Ming Hao, pukulan itu sangat cepat, bahkan tidak cukup setengah tarikan napas, sehingga Ming Hao tidak sempat bereaksi.
Ia terpental setelah ratusan pukulan sudah bersarang di tubuhnya, Namun saat sebelum tubuhnya menabrak dinding.
“Tangan Kegelapan”
Liang Wei berjongkok dan meninju bayangannya sendiri, tangannya masuk di bayangannya itu dan muncul dari balik bayangan Ming Hao.
tangan yang muncul dari balik bayangan memukul punggung Ming Hao, tubuhnya terlempar kembali kearah Liang Wei sebelum sempat menabrak dinding.
Melihat tubuh Ming Hao yang sudah terlempar ke arahnya, Liang Wei menyambutnya dengan mengulurkan telapak tangan kanannya.
Di saat tubuh Ming Hao yang terlempar tiba di depan Liang Wei, Telapak tangan itu menangkap kepala Ming Hao.
Lalu, dengan gerakan yang sangat cepat Liang Wei menghantamkan kepala Ming Hao ke lantai, seperti membanting sebuah kelapa muda.
Ming Hao tidak sadarkan diri setelah berkali – kali memuntahkan darah, wajahnya masih tidak terluka sedikitpun, namun organ dalamnya serasa bergeser dan tulang – tulangnya banyak yang retak.
Orang - orang yang menyaksikan hal itu jadi mematung.
Mereka merinding memandang ngeri pada cara bertarung Liang Wei yang sangat brutal.
Mereka tidak pernah berpikir bahwa bocah dengan tubuh mungil itu bisa memiliki kekuatan seperti itu.
Mereka yang tadi memandang remeh kepada Liang Wei, sekarang bahkan tidak berani menatapnya sedikitpun.
“apakah masih ada?” ucap Liang Wei sambil menatap Liu Changhai.
Liu Changhai yang dipandang entah mengapa jadi merinding dan pucat, ia secara naluri menghindari tatapan mata Liang Wei.
“se-segera panggil tabib.” Ucap Liu Changhai gelagapan, ia malah mencari tabib tanpa mempedulikan Liang Wei.
Sebenarnya Ia tidak ingin dipermalukan, jadi ia memilih menghindari pertarungan dengan Liang Wei.
Liang Wei pun sebenarnya sudah tahu bahwa Liu Changhai tidak akan bertarung dengannya, Liang Wei hanya berbasa – basi bertanya pada Liu Changhai tadi.
“aku beritahu, gadis kecil itu lebih kuat dariku, jadi bersyukurlah karena tadi aku tidak membiarkannya bertarung.” Ucap Liang Wei sambil menunjuk ke arah Lin Lixue.
“jika dia yang bertarung tadi, maka tanpa berbasa – basi ia akan menyerangmu setelah menghabisi temanmu.” Lanjut Liang Wei dengan sengaja menakut – nakuti Liu Changhai.
Liu Changhai menelan ludah dengan kasar, ia kemudian mengalihkan pandangannya pada Lin Lixue.
Matanya membelalak dan secara naluri menghindar setelah melihat Lin Lixue tersenyum tanpa menyipitkan mata kepadanya.
__ADS_1