
“baiklah!, aku akan menjawabnya!.” Ucap Topeng Serigala dengan terburu – buru.
ia tidak peduli lagi dengan rahasianya, karena sudah tidak sanggup menahan sakit akibat siksaan Liang Wei.
“token berasal dari seseorang yang tidak kami kenal, dia datang dengan jubah hitam dan tudung yang menutupi wajahnya.” Ucap Topeng Serigala.
“orang itu memberi kami ribuan koin emas, dan katanya dia akan memberikan kami lebih banyak lagi, dengan syarat kami harus berhasil meneteskan darah Tuan Putri di token itu.” lanjutnya.
“apakah hanya itu?.” ucap Liang Wei sambil menginjak kaki Topeng Serigala yang buntung.
“arrghhht, aku bersumpah hanya itu!.” ucap Topeng Harimau sambil mengerang kesakitan.
“kalau begitu pertanyaan terakhir, apakah dia menggunakan kereta kuda yang kurang lebih sama seperti kereta itu.” Tanya Liang Wei sambil menunjuk kereta kuda Yang Huian.
“bagaimana kau bisa tahu?.” ucap Topeng Serigala sambil mengernyitkan dahi.
“seperti yang kuduga, sepertinya ini akan menarik.” Batin Liang Wei.
“aku sudah mengatakan semuanya, kumohon bunuh aku sekarang! Aku sudah tidak kuat lagi, ini sungguh menyakitkan!.” Ucap Topeng Serigala sambil menangis memohon kepada Liang Wei.
Liang Wei tidak mempedulikannya Topeng Serigala yang memohon, ia hanya berjalan santai berniat kembali ke kereta kudanya.
“heey bukankah kau akan membunuhku!.” Teriak Topeng Serigala yang sudah sangat putus asa.
Namun Liang Wei tetap berjalan tanpa berbalik.
“membiarkanmu mati membusuk kehabisan darah adalah salah satu caraku membunuhmu.” Ucap Liang Wei dengan dingin.
“ahhhhhhhhh, dasar iblis, bang*at, semoga kau mati mengenaskan!!!.” Topeng Serigala melampiaskan kekesalannya dengan mengutuk Liang Wei.
“aku telah dikutuk lebih dari puluhan juta manusia sebelumnya, apakah menurutmu satu kutukan darimu akan ampuh?.” Bisik Liang Wei yang tiba – tiba muncul di belakang Topeng Serigala.
Mata Topeng Serigala membelalak mendengar hal itu. ia ingin mengatakan sesuatu tapi Liang Wei menyumpal mulutnya dengan sebuah kain.
“lanjutkanlah menikmati rasa sakit itu dalam diam.” Ucap Liang Wei lalu menanggalkan lengan kiri Topeng Serigala dari tempatnya.
Liang Wei kemudian muncul kembali di dekat kereta kuda.
Topeng Serigala kesakitan tanpa bisa berteriak lagi.
ia ingin berlari tapi kakinya hanya tinggal satu, ia ingin melepaskan kain yang menyumpal mulutnya, tetapi sudah tidak memiliki kedua tangannya.
Kini ia hanya bisa mengerang kesakitan sepanjang waktu sebelum malaikat maut menjemputnya.
Di dalam kereta kuda Yang Huian.
“ia bahkan sangat tegas dan tidak ragu sedikitpun.” Ucap Yang Huian yang mengintip melalui celah jendela kereta kuda, ia justru merasa kagum pada kekejaman Liang Wei.
Yang Huian sangat fokus mengintip melalui celah jendela itu, ia bahkan tidak menyadari bahwa seseorang telah masuk ke dalam kereta kuda itu dan duduk di sampingnya.
Yang Huian baru menyadari orang itu, ketika orang itu membisikkan sesuatu kepadanya.
“lanjutkan, dan akan kucongkel kedua bola mata itu dari tempatnya.” Ucap orang itu dengan dingin.
Merinding sekujur tubuh Yang Huian mendengar bisikan itu, meskipun ia tidak pernah mendengar suara itu, tapi ia sudah bisa menduga siapa pemilik suara itu.
Yang Huian berbalik kebelakang, seperti yang ia duga itu adalah Lin Lixue.
__ADS_1
Lin Lixue memelototinya sambil membocorkan aura yang membuat ia sesak napas, tak cukup sampai di situ, Lin Lixue juga mencekik leher Yang Huian.
“hen- hentikan, aku adalah Tuan Putri Kekaisaran Yang.” Yang Huian yang sudah sesak menjadi semakin sesak karena cekikan itu.
“apakah kau akan tetap ‘Tuan Putri’ jika jantungmu sudah hancur?” bisik Lin Lixue, sambil menunjuk dada di mana letak jantung Yang Huian berada.
Yang Huian membelalak tak percaya mendengar bisikan itu, seumur hidup tidak ada yang pernah dan berani mengancamnya.
“le-lepaskan aku.” Ucap Yang Huian hampir menangis.
“aku tahu tujuanmu, lebih baik kau mengurungkan niatmu sebelum aku mengurungkan hidupmu.” Ucap Lin Lixue yang masih memelototi Yang Huian.
“cih” gumam Lin Lixue.
Masih ingin melanjutkannya, namun Lin Lixue tiba – tiba menghentikan semua yang ia lakukan sebelumnya.
auranya ia tarik kembali dan tangannya ia lepaskan dari leher Yang Huian, ia kemudian berpindah ketempat duduknya semula yang berada di depan Yang Huian.
Yang Huian menarik napas lega karena sudah dilepaskan.
Sambil memegang lehernya yang sakit, ia langsung bernapas dengan cepat dan terengah engah.
Meski ketakutan, Yang Huian adalah tipe orang yang suka membangkang, semakin dilarang maka semakin ia akan melakukannya.
“aku tidak akan kalah darimu, gadis kecil si*lan.” ucap Yang Huian, Akhirnya sifat keras kepala yang ia miliki telah mengalahkan rasa takutnya.
Ia dengan resmi mengibarkan bendera perang kepada Lin Lixue, Namun Lin Lixue hanya diam tidak menanggapi.
Di Luar kereta kuda Yang Huian.
“aku sudah berbaik hati membiarkan dia hidup lebih lama.” Ucap Liang Wei dengan santai.
Chuang Li hanya menggelengkan kepala mendengar ucapan Liang Wei.
Chuang Li juga sempat merinding melihat cara bertarung Liang Wei tadi. Namun ia memilih tidak ambil pusing karena mereka semua adalah musuh yang pantas di bunuh.
Namun Chuang Li juga sangat bingung, kenapa Liang Wei membunuh seperti seseorang yang sudah berpengalaman melakukannya.
“aku penasaran bocah, seharusnya seorang bocah akan muntah setelah membunuh manusia, tapi mengapa kau tidak?.”
“aku bukanlah bocah naïf seperti mereka.”
Cukup sederhana jawaban yang Liang Wei berikan, tapi tidak sesederhana kenyataanya, dan Chuang Li tahu itu.
“huffft” Chuang Li menghela napas, walaupun tidak mendapat jawaban yang membuatnya puas, namun ia tidak ingin ambil pusing lagi, karena itu juga tidak merugikannya.
Liang Wei memegang gagang pintu kereta kuda berniat untuk masuk ke dalam.
“apa kau yakin akan masuk sekarang?.” Ucap Chuang Li.
Perkataan Chuang Li membuat Liang Wei bingung.
“apa maksudmu?.” Tanya Liang Wei.
“jika kau masuk sekarang, kau akan melihat sesuatu yang menarik, jadi lebih baik kau tidak masuk sekarang.” Ucap Chuang Li sambil tersenyum penuh makna.
Liang Wei tidak mempedulikan lagi perkataan Chuang Li, ia menduga bahwa Chuang Li hanya mencoba mengerjainya.
__ADS_1
Akhirnya Liang Wei membuka pintu kereta kuda itu.
“seperti yang kuduga, dia hanya mencoba mengerjaiku.” Batin Liang Wei tidak melihat sesuatu yang aneh di dalam kereta kuda itu.
Liang Wei hanya melihat Lin Lixue dan Yan Huian duduk berhadap – hadapan.
Liang Wei kemudian duduk di tempat sebelumnya, di samping Lin Lixue.
“mengapa kau duduk di dekatnya?.” Ucap Yang Huian dengan nada meninggi.
“bukankah ini memang tempat dudukku tadi.” Ucap Liang Wei dengan santai.
Lin Lixue terlihat diam, tapi senyuman mengejek dengan jelas ia tunjukkan dan Yan Huian jadi kesal melihatnya.
“ada apa dengan mereka berdua?.” Liang Wei mulai merasa ada yang aneh.
Lin Lixue kemudian memeluk lengan Liang Wei dan tersenyum sinis kepada Yang Huian.
“apa yang kau lakukan gadis aneh?.” Ucap Liang Wei.
Yang Huian kemudian berpindah tempat di samping Liang Wei. Liang Wei pun kini di apit oleh dua orang.
Liang Wei sudah merasa pengap, semakin pengap ketika Yang Huian melakukan hal sama seperti yang dilakukan Lin Lixue.
“gadis jelek mengapa kau ikut – ikutan!.” Ucap Liang Wei dengan nada meninggi karena kesal.
“si*l, sepertinya ini yang ia maksud.” Batin Liang Wei mengingat perkataan Chuang Li tadi.
--
Di Istana Kaisar Siluman. Di dalam sebuah kamar.
“Jing Gan menghadap Ibu Suri.”
Ucap Jing Gan berlutut kepada seorang wanita muda yang sangat cantik seperti dewi, ia sedang duduk bercermin dan menyisir rambutnya yang berwarna hitam.
Matanya indah walau berwarna merah, tubuh dan kulitnya yang cerah pun sangat indah dan terawat.
“tidak usah seperti itu nak, kau adalah anak kandungku, mengenai ayahmu, bagaimana?.” Ucap wanita cantik itu, ia adalah Permaisuri Siluman yang bernama Jing Huli.
“Ibu, dia berkata tidak akan pulang.” Ucap Jing Gan.
“apaa???” ucap Jing Huli dengan nada meninggi sambil berdiri dari tempat duduknya.
karena marah, ia tidak sengaja memunculkan telinga yang menyerupai rubah berwarna putih, taringnya memanjang, dan muncul 9 ekor dengan warna yang sama dengan telinganya.
Auranya juga tidak sengaja bocor dan membuat Jing Gan ketakutan.
“I-Ibu!” ucap Jing Gan dengan gemetaran.
Jing Huli tiba – tiba sadar telah lepas kendali dalam beberapa detik itu, ia segera meraih ketenangannya kembali.
“lihat saja nanti, aku akan turun tangan untuk membawamu pulang!.” Batin Jing Huli sambil membuat raut wajah serius.
__ADS_1