Reinkarnasi Kaisar Siluman

Reinkarnasi Kaisar Siluman
Puluhan Juta Bangsa Siluman


__ADS_3

“Yang Mulia lihatlah daratan yang membentang di bawah bukit ini.”


Liang Wei menghentikan langkahnya dan menatap hal yang dimaksud Jing Jian.


“ini….”


Yang membuat Liang Wei takjub bukanlah daratan yang luas itu, namun puluhan juta Bangsa Siluman yang berlutut dengan satu kaki sambil menangkupkan kedua tangan di depannya.


“Kami menyambut Yang Mulia Kaisar Siluman!.”


Puluhan mahluk dari bangsa yang sama itu serentak meneriakkannya dengan sangat bangga.


Liang Wei menganggukkan kepala dan sambil tersenyum, seolah ikut bangga.


‘Yang Mulia tersenyum dan mengangguk!, syukurlah, pasti dia sangat suka dengan ini, itu artinya dia akan memimpin kami lagi menuju kejayaan.’


Jing Jian ikut bangga karena telah turut membantu Jing Mao memimpin pasukan itu.


Liang Wei menyambut teriakan yang meriah itu dan berkata dengan lantang


“Memimpin kalian itu merepotkan!, sudahlah, aku pergi saja dari sini!.”


Ucapnya lalu berbalik dan melangkahkan kaki dengan santai.


Puluhan juta Siluman itu hampir terjatuh dari posisi berlututnya, bahkan ada yang sudah terjatuh.


Mereka semua memikirkan hal yang sama ‘lalu untuk apa kau tersenyum sambil menganggukkan kepala tadi tadi.’


“Lalu untuk apa kau tersenyum sambil mengangguk tadi!?.”


Jing Mao yang berada di dekatnya pun ikut kesal dan tidak tahan, ia mengutarakan hal identik dengan yang ada dalam pikiran puluhan juta mahluk yang berada di situ.


‘Terima kasih telah mewakili kami Yang Mulia Jing Mao.’ pikir salah satu dari mereka yang sudah terjatuh dari posisi berlututnya.


“Itu terserah padaku, dan juga aku bereinkarnasi untuk menghindari kalian, jika aku memimpin kalian lagi, lalu untuk apa aku bereinkarnasi.”


Panjang lebar ia terus menjelaskannya, Alasan Liang Wei cukup masuk akal baginya, namun tidak masuk akal bagi para pengikutnya.


“Kami mohon pikirkan lagi Yang Mulia, kami bisa meminjamkan anda kekuatan untuk menghentikan penyerangan Pendekar Aliran Hitam di Kekaisaran.”


Perkataan Jing Jian itu berhasil membuat langkah kaki Liang Wei berhenti.


“Perkataanmu cukup menarik.”


Liang Wei sedikit menoleh kebelakang tanpa membalikkan badan, ia tahu Jing Jian adalah sosok yang paling cerdas di antara semua mahluk itu.


“Itu memang menarik Yang Mulia, maka dari itu dengarkan rencanaku.” Jing Jian sangat antusias.


Liang Wei memberi tanda setuju dengan menganggukkan kepala. ‘dia sangat cerdas pasti rencana yang ia susun sangat tertata dan bisa mengatasi masalah itu’


Liang Wei berharap banyak pada Jing Jian, bisa jadi itu juga menjadi solusi untuk membebaskan Lin Lixue dengan cepat.


“Aku akan membawa seluruh pasukan ini dan menyerang semua manusia di sana tanpa pandang bulu...”


“… kami tidak akan menyisakan satupun manusia, bukankah jika seluruh manusia di sana sudah tidak tersisa maka penyerangan Pendekar Aliran hitam itu juga tidak akan terjadi lagi?…”

__ADS_1


“…bagaimana Yang Mulia?. Bukankah itu sangat brilian.”


Dengan sangat bangga dan percaya diri Jing Jian mengatakannya, ia berpikir bahwa itu adalah rencana paling sempurna.


Jing Mao dan Puluhan juta Siluman itu pun berbinar, menurut mereka itu memang sangat brilian.


‘Brilian jidatmu’ pikiran Liang Wei berbeda mereka. ‘sepertinya ide yang buruk membawa mahluk bar – bar ini’ pikirnya seraya memberi tepukan pada dahinya.


“Kau sekarang jadi dungu!.” Singkat saja jawaban Liang Wei, lalu kembali melangkah tanpa menoleh kebelakang lagi.


‘Dungu’


‘Dungu’


‘Dungu’


Satu kata itu terngiang – ngiang berulang kali dan menusuk perasaan Jing Jian. Membuat Dia hampir menangis.


Ia adalah sosok yang jenius dalam pengobatan, juga dikenal cerdas di segala bidang, kekuatannya pun tak diragukan lagi, sudah melampaui batas wajar dunia.


Tak ada satupun mahluk yang pernah mengatainya dungu, tentunya sosok dengan kecerdasan tinggi juga memiliki harga diri yang tinggi, itulah mengapa dia jadi sangat shock.


Namun perkataan Liang Wei berikutnya membuat ia melupakan perkataan menyakitkan itu.


“Jing Jian, aku hanya tidak setuju dengan rencanamu, latihlah pasukan itu sehingga menjadi lebih kuat, sementara aku akan pergi menyelesaikan masalahku sendiri!.”


“Tapi Yang Mulia!, anda bisa mati jika pergi sendirian kesana, dengan tingkat kekuatan anda yang sekarang, bukankah itu sangat mustahil?.”


Jing jian bisa merasakan peningkatan yang signifikan pada kekuatan Liang Wei setelah siuman.


”Jing Jian, apa kau sudah lupa siapa aku?, berhentilah mengajariku!.”


Mendengar nada suara yang agak ditinggikan, mau tidak mau Jing Jian tak membantah lagi.


Ia tahu Kehebatan Kaisar Siluman bukan hanya pada teknik level tinggi dan tingkat kekuatannya, namun juga sangat cerdik dan penuh siasat.


Di saat Jing Jian terpaksa harus menerima ‘perkataan’ yang lebih mirip ‘titah’ itu, Liang Wei kembali berkata tanpa menoleh. “Aku akan menghubungi kalian, jika membutuhkan bantuan.”


Liang Wei tidaklah naif, bukan tidak mungkin ia membutuhkan bantuan dari kekuatan dengan skala besar di masa depan nanti, maka dari itu ia menerima kesetiaan mereka.


Para Siluman di depannya jadi bahagia dan berpikir bahwa kesetiaan mereka selama  ini tidaklah sia – sia.


“Hidup Yang Mulia Kaisar Siluman!.” Serentak suara menggema di area luas itu.


Jing Jian pun ikut menelangkupkan tangan dan berlutut dengan satu kaki sambil meneriakkan perkataan yang sama.


Liang Wei mengangguk. tanpa berkata apa – apa lagi, ia menghilang dari hadapan mereka semua.


Sebelum Liang Wei benar – benar menghilang, Jing Mao dengan sigap melompat dan memeluknya dari belakang.


‘huft, Nyonya memutuskan untuk mengikuti Yang Mulia…’


Jing Jian menghela napas melihat tempat yang sudah kosong tanpa jejak dari Liang Wei dan Jing Mao.


--

__ADS_1


“Kau keras kepala juga wanita iblis.”


Zhi Qiang dan Dai Yu bertarung imbang, tingkat kekuatan yang mereka miliki memang sama.


Setelah beradu lebih dari seratus serangan dalam jangka waktu kurang lebih 2 jam, mereka berdua mundur beberapa langkah mengambil napas.


“Itu wajar karena aku suka sesuatu yang keras.” Balas Dai Yu sambil menjilat bilah pedang yang penuh darah segar korban pembunuhannya.


Zhi Qiang merinding melihat tingkah wanita di depannya. ‘kuharap aku bisa segera pergi dari sini’


Ia memiliki pikirannya sendiri untuk enyah dari situ, hanya saja terhalang kewajiban melindungi para penduduk ibukota.


‘Kalau begitu aku hanya harus menyelesaikannya dengan cepat’ pikir Zhi Qiang.


“Cukup, mari kita akhiri ini.”


Zhi Qiang sudah tak sabar, tanpa peringatan ia menolakkan kakinya kebelakang dan melayang dengan cepat ke arah Dai Yu.


“Ya ampun, aku tidak suka sesuatu yang cepat berakhir dan layu sebelum waktunya.” Cibir Dai Yu.


Ting!


Kedua serangan beradu. dengan sedikit gerakan, pedang Dai Yu merubah arah tusukan pedang Zhi Qiang.


Pedang Zhi Qiang hampir terpental kesamping, ia mengeratkan pegangan pedangnya untuk mencegah itu terjadi.


Namun di saat ia berfokus pada itu, sebuah tendangan datang menyasar perutnya.


Zhi Qiang segera memutar tubuhnya, Reflek tubuh dalam sepersekian detik itu menyelamatkannya dari tendangan penuh tenaga dalam dari Dai Yu.


“Masih bisa menghindar rupanya.” Dai Yu meremehkannya, karena ia sedang berada di atas angin.


Secara teknik mungkin Zhi Qiang unggul, namun Dai Yu tidak kalah dalam hal kecepatan.


Saat Ia senang, berpikir akan menang, detik selanjutnya ia tak dapat menahan amarah dengan wajah merah.


“kauu!!!.”


Diwaktu yang sama ketika Zhi Qiang memutar tubuhnya, 2 jarum menusuk kedua lengan dan 1 jarum menggores wajah Dai Yu.


Wajah Dai Yu merah padam. Goresan kecil di pipi kanannya berhasil membuat masalah besar baginya.


Wajah adalah aset paling penting bagi Dai Yu,  meskipun bagi seorang pendekar bekas luka itu akan hilang, tetap saja ia tetap saja kesal, karena itu menganggu rasa percaya diri dan harga diri.


“Wah, ternyata kau juga bisa marah, tenang saja, itu bukan luka permanen.” Zhi Qiang berbalik mengejek Dai Yu.


Ia tahu betul bahwa wanita paling tidak suka wajahnya dilukai.


“Mati kau!.” Dai Yu sudah tak dapat menoleransinya, ia meledakkan auranya dan melompat dengan semua tenaganya.


Ia berusaha melancarkan serangannya, tapi lututnya tiba – tiba tak memiliki tenaga untuk menopang badannya, ia terjatuh bagai pohon tumbang.


“Aku lupa mengatakannya, di dalam setiap jarum itu terdapat racun pelumpuh otot…” kini Zhi Qiang memegang kendali pertarungan itu.


“…jika kau ingin balas dendam, lakukanlah di neraka!.” Tanpa basa basi ia melemparkan pedangnya kepada Dai Yu.

__ADS_1


“Sia….” Belum sempat Dai Yu menyelesaikan umpatannya, sebilah pedang sudah menusuk dahi menembus kebelakang kepalanya.


__ADS_2