
“Bocah, serahkan Kitab itu padaku, atau kau akan menjadi seperti tikus yang telah kau habisi.” Nada bicara Zhang Bingjie datar dan tidaklah seperti orang yang mengancam, wajahnya pun menunjukkan senyum ramah dan bersahabat, namun entah mengapa itu sangat mengintimidasi siapapun yang mendengar dan melihatnya
“Zhang Bingjie, menyingkirlah!, biarkan aku mengakhirinya!.” Teriak Shé Dú, tidak peduli meski darah mengucur deras dari luka di perutnya, ia tetap memaksakan dirinya untuk berdiri.
Shé Dú mengambil ancang – ancang untuk melompat dan terbang, namun rekan yang berada di dekatnya segera menahan langkahnya dengan memegangi lengannya. “bukankah terlalu berlebihan memaksakan diri hanya untuk bocah itu.” ucapnya.
Shé Dú menepis tangan orang itu, dan tidak sengaja membuat penutup kepala orang itu terbuka, memperlihatkan wajah seorang kakek dengan bekas luka di wajahnya, dia adalah Cao Pi.
Setelah menepis tangan Cao Pi, Shé Dú terbang ke arah Liang Wei yang masih dicekik oleh Zhang Bingjie. “dia mangsaku!.” Teriak Shé Dú.
Dalam 2 tarikan napas Shé Dú sudah berada di depan Liang Wei dan Zhang Bingjie.
Saat ia hendak mendaratkan tinjunya kepada Liang Wei, tiba – tiba saja tangan kiri Zhang Bingjie datang, juga mencekik leher dan mengangkat tubuhnya “aku tidak suka saat ada orang yang menggangguku.” Ucap Zhang Bingjie dengan senyum ramah di wajahnya.
“uhhuk, apa yang kau lakukan?.” Shé Dú tidak habis pikir kenapa Zhang Bingjie melakukan itu, padahal mereka adalah sekutu dan Zhang Bingjie jugalah yang menyelamatkannya tadi.
“Aku sudah muak denganmu!.” Zhang Bingjie mengeratkan cekikan pada leher Shé Dú dan terdengar suara “krak” dari tenggorokannya.
Retak dan tak ada lagi saluran pernapasan pada leher Shé Dú, ia pun berhenti bergerak dengan mata melolot sambil menunjuk wajah Zhang Bingjie “Kau!” itulah yang ingin ia katakan namun pita suaranya pun ikut hancur.
Tak dalam selang waktu yang lama detak jantung Shé Dú berhenti, matanya masih membelalak tapi napasnya sudah tidak ada.
Zhang Bingjie kemudian melempar tubuh Shé Dú yang sudah tak memiliki kehidupan lagi.“nahh tikus penganggu sudah tidak ada, apakah kita bisa melanjutkan kembali pembahasan kita?.” Ucapnya dengan tersenyum ramah.
“Cuihh” meludahi wajah Zhang Bingjie, Liang Wei yang sudah hampir kehabisan napas tak takut sama sekali. “Lepaskan aku, atau kau akan menyesalinya.” Ucapnya dengan tatapan tajam.
Senyum di wajah Zhang Bingjie tak juga hilang ketika menyeka wajahnya dengan tangan kiri.
“Selain jenius dalam bertarung, ternyata kau juga jenius dalam hal melawak, bagaimana membuatku menyesali perbuatanku, sedangkan kau tidak bisa berbuat apa – apa, dasar semut!.” Ucap Zhang Bingjie lalu meninggikan intonasi pada ujung kalimat dan melototkan matanya kepada Liang Wei.
Ia mulai mengeratkan genggaman tangan pada leher dan membuat Liang Wei kesakitan.
“Baiklah!.” Sorot mata tajam, Liang Wei kemudian melepaskan kalungnya, dan berkata dalam hati “dalam keadaan ini, memaksakan diri akan mati dan tidak memaksakan diri juga mati, aku sudah tahu apa yang akan kulakukan. Ayah, aku belum membalaskan dendam, tetapi sepertinya sebentar lagi aku akan segera menemuimu!.”
__ADS_1
Aura Iblis dari tubuhnya bocor dan memberikan tekanan pada siapapun yang berada di dekatnya, tak terkecuali Zhang Bingjie, Zhang Bingjie terpaksa melepaskan cekikan pada leher Liang Wei.
Sambil menunduk memegang kepalanya dengan kedua tangan, ia berteriak histeris.
Dikenal sebagai Pendekar Hitam terkuat, seumur hidup tak ada aura yang bisa memberikan ‘tekanan’ padanya, namun aura iblis dari tubuh Liang Wei membuatnya merasakan itu untuk pertama kalinya.
Cao Pi yang berada sepuluh meter darinya pun tak luput dari tekanan mental aura iblis.
“Aura apa ini?.” Sangat bingung, tak kuat menahannya Cao Pi berlari menjauh dari tempat itu meninggalkan Zhang Bingjie sambil memegangi kepalanya dengan kedua tangan.
Liang Wei mengeluarkan kembali Pedang Ganda Kaisar Siluman miliknya.”mati kau!.” Teriak Liang Wei lalu segera mengayunkan pedangnya menuju leher Zhang Bingjie.
Sementara itu Zhang Bingjie masih memegangi kepalanya, namun tiba – tiba aura dari tubuhnya meledak. Aura dari tingkat Pendekar yang tak pernah diraih oleh manusia di seluruh benua, Aura seorang Pendekar Mutlak tahap awal.
Aura yang belum ada tandingannya itu membuat Liang Wei terpental 10 meter kebelakang “uhhuk” Liang Wei memuntahkan seteguk darah saat tubuhnya dengan kasar mendarat di tanah.
Ia merasakan sakit yang teramat di seluruh tubuhnya akibat memaksakan diri sampai melebihi batas yang bisa ditoleransi oleh tubuhnya. Kendati demikian dia masih berusaha untuk berdiri dengan menggunakan pedang sebagai tumpuannya.
“Menahan rasa sakit di tubuh ini berjuta - juta kali lebih mudah daripada menguasai dunia.” Bangkit dengan seluruh kekuatan yang masih tersisa, ia mengatur napasnya yang memburu.
Zhang Bingjie menyeringai dan berkata “dengan senang hati!.” Lalu terbang secepat kilat menuju Liang Wei. Dalam waktu tak lebih dari satu tarikan napas ia sudah tiba tepat 1 langkah di depan Liang Wei.
Zhang Bingjie mengeluarkan pedang besar milliknya dari ruang dimensional, menebaskannya kepada Liang Wei.
Liang Wei menangkisnya dengan pedang gandanya, lalu melakukan gerakan menendang menuju perut Zhang Bingjie.
Zhang Bingjie menggunakan lututnya untuk menangkis tendangan yang menuju perutnya.
Melihat tendangannya ditangkis dengan mudah, Liang Wei mundur dan menarik kedua pedangnya, lalu maju kembali dengan menebaskan kedua pedang itu menuju lutut Zhang Bingjie yang masih terangkat.
Zhang Binjie tak tinggal diam saat kedua pedang Liang Wei hanya berjarak 1 jari dari lututnya, ia mundur selangkah dan mengayunkan pedang berat dan besar miliknya secara horizontal, dinding gang sempit itu berlubang dengan sangat lebar namun tak menghentikan ayunan pedangnya.
Liang Wei reflek mengelak dengan melakukan split, kedua kakinya menyentuh dinding gang sempit itu, setelah itu ia menusukkan pedangnya ke arah kaki Zhang Bingjie,
__ADS_1
Zhang Binjie masih mengayunkan pedangnya dan tak bisa membatalkannya, namun Zhang Bingjie dengan cepat mengangkat kaki kanan yang hendak ditusuk oleh pedang Liang Wei.
“bomm” Pedang besar dan berat Zhang Bingjie menghantam dinding dan membuatnya hancur dan berlubang, beruntung bangunan itu kosong sehingga tak ada korban akibat ayunan pedang itu.
Liang Wei bangkit dan menebaskan pedang dari bawah ke atas, berniat menebas perut hingga dagu Zhang Bingjie, namun matanya tiba – tiba membelalak karena Zhang Bingjie sudah lebih dulu mendaratkan tendangan ke wajahnya.
“arghhtt.” Liang Wei mengeluh kesakitan dan terlempar cukup jauh.
“Kau memang lebih kuat daripada tikus – tikus itu, namun bagiku kau juga adalah salah satu dari mereka.” Ucap Zhang Bingjie sambil tersenyum tanpa menyipitkan mata kepada Liang Wei.
“uhhuk” berkali kali Liang Wei muntah darah “si*al!” sudah tidak dapat lagi menggerakkan tubuhnya, tenaganya sudah habis, dan tubuhnya mengalami luka dalam akibat memaksakan diri menggunakan pedang gandanya.
Zhang Bingjie tiba – tiba muncul di depan Liang Wei, dan penglihatan Liang Wei pun jadi gelap.
--
“boom” di seluruh bagian di Ibukota Xijing terjadi penyerangan dan pembantaian oleh Pendekar Hitam.
“Mereka sudah memulainya.” Kaisar Aiguo mendengar suara lantang itu. dapat ia pastikan bahwa mereka adalah musuh yang datang mengibarkan bendera perang.
“Segera panggil para Prajurit, murid Perguruan Beladiri dan Sekte Dao Barat, lalu pimpin mereka untuk melakukan pertahanan agar dapat mengevakuasi penduduk, itu adalah prioritas kita!.” titahnya kepada Jenderal Ding.
Jenderal Ding menelangkupkan tangan dan undur diri dari Kaisar Aiguo untuk melaksanakan titah itu.
“Kalian Para Petinggi Perguruan Beladiri dan tetua Sekte cepat cari akar pembuat masalah dan kirim pesan kepada Hong Bingwen bahwa perang sudah dimulai!.”
Para Petinggi Perguruan Beladiri Xijing dan Tetua Sekte Dao Barat segera menuju ke pusat kota menjalankan titah Sang Kaisar.
Setelah mereka semua pergi melaksanakan titah, Kaisar Aiguo membuka sebuah pintu di belakang singgasana dan memasukinya dengan buru - buru, itu adalah sebuah pintu ruang bawah tanah, lorong di ruang bawah tanah itu sangat gelap, Kaisar Aiguo terus berlari hingga ke ujung lorong.
Sebuah pintu berada di ujung lorong itu, Kaisar Aiguo segera membukanya dengan cepat.
Saat ia membuka pintu itu terlihat 5 orang yang sudah sangat sepuh sedang dalam posisi meditasi. “para leluhur! bangunlah dari pertapaan, kami membutuhkan bantuan kalian!”
__ADS_1
Mereka semua membuka mata serentak “Semut besar seperti apa yang membuat kami harus turun tangan.” Ucap salah seorang dari mereka.