Reinkarnasi Kaisar Siluman

Reinkarnasi Kaisar Siluman
Harapan untuk Yang Huian


__ADS_3

Kelompok Liang Wei tiba di sebuah  penginapan yang terlihat sangat tua.


“Penginapan Rou.” Xiao Ba membaca plakat nama penginapan itu.


Xie Jian menuntun mereka untuk memasuki penginapan itu.


“Kebetulan kami sedang mencari penginapan, biarkan aku bersama para murid ini tetap di sini dan memesan kamar terlebih dahulu.”


Chuang Li berdalilh memesan kamar untuk mengawasi penginapan itu dari musuh yang mungkin memata – matainya.


“Aku ingin berkunjung ke  kamar paman Jian terlebih dahulu karena ada hal yang harus ku bahas.” Liang Wei paham maksud Chuang Li, ia bergegas pergi demi perannya sendiri.


“Serahkan masalah kamarmu pada kami!.”


Xie Jian dan Liang Wei menganggukkan kepala lalu menaiki tangga yang ada di dekat meja resepsionis penginapan itu.


“Senior, kami ikut denganmu!.”


Xiao Ba dan dua rekannya berlari mengikuti Liang Wei dari belakang, tetapi Liang Wei melarang mereka.


‘Tetaplah berada di situ dan lakukan tugas kalian dengan baik, atau kalian akan kubunuh!’


Saat ancaman itu terdengar di dalam kepala mereka, Ketiga murid itu jadi pucat dan menghentikan langkahnya.


Berbicara tentang tugas, mereka masih belum mengerti tugasnya apa sampai saat itu.


‘Aku berharap besar pada kesialan kalian’ Perkataan itu akhirnya membuat mereka mengerti tentang tugasnya.


Ting Zhe dan Xiao Ba gemetaran seluruh badan, sedangkan Da Ru gemetar hebat sampai lututnya seperti lumpuh, ia hampir terjatuh dari tangga kalau tidak berpegangan di pegangan tangga.


‘Hari bersama senior Wei membuat kami merasa setiap hari adalah hari terakhir kami’


Mereka berpikir seperti itu, padahal belum sampai satu hari mereka bersama Liang Wei.


--


“Xie Jian kau lama sekali!, aku sudah bosan dan kelapar...”


Yang Huian berhenti melanjutkan perkataannya saat melihat kehadiran Liang Wei di dekat Xie Jian.


Semburat kesedihan terpancar dari matanya, menggambarkan putus asa dirinya yang sudah lama menantikan bantuan dari Kekaisaran Yin, tetapi semua itu nampak hanya sekilas, tetap saja dia tidak bisa melepaskan sifat aslinya.


“Kenapa kau lama sekali Liang Wei!, aku hampir menjadi makanan basi di kamar ini!.” Ia tidak terlihat bersedih atau menangis lagi, malah dia lebih seperti sedang marah.

__ADS_1


Ia tidak diizinkan keluar demi keamanannya, sehingga membuatnya begitu bosan sampai mengumpamakan dirinya makanan basi, walau itu bukan perumpamaan yang tepat.


“Pantas saja, Gadis barbar yang ku kenal sekarang menjadi Gadis bau.” Liang Wei menutup hidungnya dengan telunjuk dan jempolnya.


“Setelah lama tidak bertemu, ternyata kau sudah pandai menyapa, padahal dulu kau itu sangat tidak ramah.”


Yang Huian menyinggung tentang temperamen Liang Wei yang buruk dan gampang marah.


“Hahaha, sepertinya kau salah mengenaliku, Tuan Putri barbau!.” Liang Wei tersenyum menyipitkan mata, tapi ia menggertakkan gigi dan urat di pelipisnya berkedut.


“Hahaha, apakah yang kau maksud barbau adalah bar – bar dan bau?.” Raut Wajah Yang Huian hampir identik dengan Liang Wei, hanya saja ia sudah hampir meledak, wajahnya sudah sangat merah.


“Kelihatannya Tuan Putri lebih pandai daripadaku.”


“Terima kasih pujiannya.”


“Hahahaha” mereka berdua tertawa dengan kompak.


“Ya ampun….kenapa Tuan Putri mengeluarkan pedang?.” Liang Wei berpura pura kaget dan menutup mulutnya dengan telapak tangan.


Yang Huian mengeluarkan pedang dari cincin ruangnya sambil tertawa.


“Ah maaf, tanganku hanya tergelincir, sehingga tidak sengaja mengeluarkannya.”


“Tuan Putri dan Tuan muda, bukankah kita sedang ada hal penting untuk dibahas?.”


Wajah Liang Wei dan Yang Huian berubah menjadi serius.


“Huian, aku senang kau baik – baik saja, tentunya kau sudah punya beberapa hal untuk dikatakan, bukan?.” Kemungkinan besar Yang Huian memiliki hal yang Liang Wei ingin dengar.


“Maaf jika ini akan memakan waktu.” Cerita itu cukup panjang sehingga bisa memakan banyak waktu.


“Sebelum kau bercerita.” Liang Wei menoleh dari Yang Huian ke Xie Jian “Paman, bantu Tua tak berguna Chuang Li menangkap ayam - ayam di depan penginapan.”


Xie Jian langsung paham dan berlari keluar dari kamar itu meninggalkan keduanya.


Setelah Xie Jian pergi, hanya Liang Wei dan Yang Huian yang berada di kamar itu


“Nah, sekarang kau sudah bisa menceritakannya!.” Liang Wei duduk di kursi yang berada di depan Yang Huian yang sedang duduk di tempat tidur.


Yang Huian menarik napas yang dalam “Begini….”


Yang Huian bercerita panjang lebar, cerita yang ia sampaikan sama seperti cerita yang Liang Wei dengar dari Rou Lin, tetapi cerita dari Yang Huian lebih mendetail.

__ADS_1


Ia bercerita dengan emosional ketika membahas ibunya (Kaisar Huifang) , Pendekar Aliran Hitam itu  menggunakan ibunya sebagai sandera untuk menekan pergerakan Para Pendekar Aliran Putih di Kekaisaran Yang.


Ia juga bercerita bahwa Para Pendekar Hitam tidak memiliki ketertarikan dengan politik, karena itu mereka tidak peduli tentang bangsawan yang naik tahta, siapapun yang naik tahta mereka akan tetap untung.


Mereka hanya menerima semua sogokan tanpa membantu para bangsawan yang berselisih satu sama lain, mereka pun menikmati perselisihan itu, Para Pendekar Aliran Putih tidak akan pernah bisa memahami hal tak masuk akal itu.


“…Lalu, satu hal yang membuatku tidak paham adalah….mereka mengingikan suatu benda yang bernama ‘Jiwa Dewa’ atau semacamnya.”


Yang Huian mengakhiri ceritanya dengan pembahasan yang membuat Liang Wei kaget.


Raut wajah Liang Wei menggelap dan dingin “Aku tidak pernah menyangka bahwa Cao Pi sialan itu mengincarku….Kebetulan sekali…karena aku juga mengincarnya!.”


Ia memiliki beberapa urusan untuk diselesaikan dengan Cao Pi, ia tidak keberatan kalau harus bersinggungan dengannya.


“Siapa itu ‘Cao Pi’ ?.” Yang Huian tidak paham perkataan Liang Wei, apalagi nama orang yang disebutkan.


“Cao Pi adalah…” Liang Wei memberitahu Yang Huian bahwa Cao Pi adalah otak dibalik semua  kejadian itu.


Ia juga menceritakan tentang bagaimana cara manusia licik itu membunuh kedua orang tuanya.


Liang Wei bercerita banyak hal, dan semua adalah mengenai kelicikan Cao Pi, Yang Huian bisa merasakan amarah dari Liang Wei, ia pun mengepalkan tangannya saat menyimak cerita itu.


Liang Wei menceritakan semua itu karena melihat Yang Huian adalah orang yang bisa dipercaya, apalagi mereka memiliki musuh yang sama.


“…Tapi aku sangat senang, karena sesuatu yang ia cari ada di dalam diriku.” Liang Wei menunjuk dadanya.


“Jangan bilang?...” Mata Yang Huian membelalak, tak sadar ia berdiri dari duduknya, dan mendekati Liang Wei, lalu meletakkan kedua tangan di pundak Liang Wei dan mengguncangnya. “Jiwa Dewa ada padamu?.”


Jika benar sesuatu yang diinginkan musuh ada di tangan Liang Wei, maka tentu ada cara yang bisa dipikirkan untuk menyelesaikan masalah yang mereka hadapi.


Liang Wei menganggukkan kepala sambil menyeringai.


Melihat pembenaran Liang Wei,  Yang Huian tersenyum karena ada sinar harapan yang mungkin bisa membuatnya membalikkan keadaan.


“Wei’Gege!, kami sudah membereskan mata – mata it….” Lin Lixue menyerobot masuk ruangan itu tanpa mengetuk pintu.


Pandangannya jatuh pada Yang Huian yang sedang tersenyum sembari memegang kedua pundak Liang Wei di jarak yang sangat dekat.


Dari sudut pandang Lin Lixue, ia melihat Yang Huian menggoda Liang Wei.


Lin Lixue berlari dan dalam sekejap mata ia sudah berada di samping Yang Huian sambil mengacungkan pedang di lehernya.


Suara Lin Lixue membuat Yang Huian kedinginan “Sepertinya, kau semakin lancang, Rubah betina!.”

__ADS_1


Sebuah suara yang tak kalah dingin terdengar di dalam kepala Liang Wei ‘Su-a-mi-ku!…aku hanya tidak melihatmu beberapa jam…dan kau sudah menambah koleksi simpananmu?’


__ADS_2