Reinkarnasi Kaisar Siluman

Reinkarnasi Kaisar Siluman
Dendam yang Belum Terbalaskan


__ADS_3

Tidak lama setelah itu, para musuh keluar dari semak belukar di arah yang sama.


“kenapa sejenis banteng selalu membuat masalah.” Entah mengapa Liang Wei jadi sebal melihat wajah musuh di depannya.


Hutan itu merupakan sarang hewan spiritual, jadi wajar saja jika dia mendapatkan hewan spiritual sebagai lawannya.


Namun yang membuatnya heran, dari sekian banyak hewan spiritual, mengapa dia harus melawan hewan spiritual sejenis banteng.


Banteng adalah hewan spiritual yang pernah memberikan pengalaman menyebalkan pada Liang Wei, ia masih ingat dengan sangat jelas di saat Hewan itu membuatnya babak  belur dan kesulitan untuk mengalahkannya.


Segerombolan banteng berjumlah 30 di depannya memiliki dua titik cahaya di dahi dan mata yang berwarna hijau. Satu di antaranya memilki mata yang berwarna merah.


Berarti Liang Wei seperti sedang melawan segerombolan pendekar pemula tahap awal dan satu pemula tahap akhir.


Mengendalikan diri agar tidak mengumpati mereka, Liang Wei segera meraih ketenangannya kembali.


Raut wajah Liang Wei jadi sangat serius, jika hanya untuk keselamatan dirinya dia tidak masalah, tapi Lin Lixue yang sedang tidak sadarkan diri ada bersamanya.


Liang Wei mengeluarkan satu pedang Kaisar Siluman miliknya untuk menghadapi segerombolan banteng yang sedang berlari ke arahnya.


Jarak mereka tinggal 10 meter, Liang Wei sudah bersiap menghadapi mereka semua.


Salah satu banteng paling besar maju dengan kecepatan lebih tinggi daripada yang lain, sehingga ia mendahului yang lain sampai di depan Liang Wei.


Liang Wei sangat yakin bahwa banteng itu adalah pemimpin dari segerombolan banteng yang berlari belakangnya.


“Langkah Kegelapan.”


Liang Wei menghilang kedalam bayangan dan muncul kembali  ke barisan paling belakang banteng itu, ia segera menusuk perut banteng itu tanpa basa – basi.


Liang Wei sengaja menyerang dari arah belakang karena ia ingin para banteng itu menjauhi Lin Lixue yang sedang tidak sadarkan diri.


Jika itu adalah manusia, Liang Wei tidak akan bisa melakukannya, namun karena kecerdasan hewan itu tidak seperti manusia, maka dengan mudah Liang Wei melakukannya.


Membuat satu banteng di barisan paling belakang mengeluarkan suara kesakitan dan mati seketika, akhirnya Liang Wei berhasil mengalihkan perhatian mereka, sehingga mereka berlari menjauhi Lin Lixue.


“benar!, datanglah untuk dibantai.” Ucap Liang Wei dengan dingin.


Liang Wei tidak berniat berlama – lama  dengan para banteng itu. akhirnya ia menggunakan salah satu tekniknya.


“Ketamakan Memakan Jiwa.”


Liang Wei menusukkan pedang ke bayangannya sendiri, pedang itu masuk ke dalam bayangannya, dan muncul kembali dari balik bayangan masing – masing banteng itu.

__ADS_1


Pedang yang muncul sesuai dengan jumlah segerombolan banteng itu.


Tidak menduga pedang keluar dari bayangannya, para banteng itu tertusuk pada bagian perut.


“gggrrrrr”


Para banteng itu mengeluarkan suara yang lantang karena kesakitan, tidak lama kemudian tubuh para banteng yang awalnya gemuk, menjadi kurus kering tidak berisi dan akhirnya tewas.


Masing  - masing pedang yang telah menewaskan mereka, masuk kembali kedalam bayangan dan muncul dari bayangan Liang Wei menjadi satu pedang.


Liang Wei menyisakan satu banteng tetap hidup, banteng itu adalah satu – satunya banteng yang memiliki mata merah, pemimpin para segerombolan banteng.


“kerabatmu telah memberikan pengalaman buruk bagiku, izinkan aku memberimu pengalaman itu juga.” Itu lah yang diucapkan Liang Wei sambil tersenyum tanpa menyipitkan mata.


Dan tidak lama setelah itu, terdengar teriakan lantang dan memilukan dari banteng itu, sangat lantang hingga bergema di seluruh hutan, suara lantang itu bergema dalam waktu yang sangat lama sebelum akhirnya berhenti.


Apa yang Liang Wei lakukan adalah memotong kaki banteng itu satu persatu, dan setelah itu ia memakan  mentah daging dari empat kaki yang telah terpotong  di depan banteng yang masih hidup.


Tidak sampai di situ, setelah Liang Wei memakan kaki banteng itu, Liang Wei menguliti banteng itu hidup – hidup.


Akhirnya karena tidak bisa menahan sakit yang luar biasa, banteng itu tewas.


“balas dendam memang membuatku puas.” Ucap Liang Wei merasa senang.


“Bangsa Siluman, aku pernah menjadi Kaisar untuk kalian, namun kalian memperlakukanku seperti ini, kalian lihatlah apa yang akan kulakukan pada kalian nanti.” Mata Liang Wei jadi penuh kebencian.


Ia tidak mungkin bisa melupakan kejadian saat Jing Fu membunuh Hong Cheung yang ia anggap sebagai ayah kandungnya.


“aku akan menyiksa kalian lebih kejam daripada aku menyiksa banteng ini.” Liang Wei bertekad melakukannya.


Siapapun yang membuat dirinya menderita di masa lalu, akan ia buat 100 kali menderita di masa depan.


--


Waktu sore telah tiba, dan sebentar lagi malam hari akan datang.


Liang Wei mencari kayu bakar di dalam hutan untuk membuat api unggun agar mereka tetap hangat.


Meskipun seorang pendekar tahan terhadap dingin, namun ada perasaan nyaman saat merasakan hangat dari api unggun.


Selain itu, Liang Wei juga ingin membakar daging banteng yang telah ia siksa tadi.


Tidak dalam waktu yang lama, malam pun datang.

__ADS_1


Terlihat Liang Wei sedang duduk santai sambil membakar daging  banteng. Liang Wei sebelumnya telah memotong daging itu kecil kecil dan menusuknya dengan kayu kecil.


“hmmmm” suara lirih Lin Lixue terdengar.


“ah kau sudah bangun.” Liang Wei pun meletakkan satai yang ia bakar, dan mendatangi Lin Lixue untuk membantunya bangun.


Lin Lixue memegang kepalanya, sepertinya Ia merasa pusing akibat pingsan dalam waktu yang lama.


“minum.” Setelah membantu ia bangun, Liang Wei pun membantunya untuk meminum air.


“tenangkan dulu dirimu, dan makanlah obat ini.” Liang Wei menyerahkan tumbuhan obat itu.


Lin Lixue pun menurut dan langsung menelannya, Liang Wei berpindah kebelakang Lin Lixue untuk mengalirkan tenaga dalam agar tanaman obat itu cepat terserap.


Setelah beberapa saat, Lin Lixue sudah merasa baikan.


Liang Wei kembali melanjutkan kegiatan sebelumnya, dan tidak butuh waktu lama akhirnya daging itu matang.


“makan.” Liang Wei memberikan beberapa satai kepada Lin Lixue, dan ia pun mengambil dan segera memakan satai yang diberikan Liang Wei.


Liang Wei pun juga memakan daging itu. “aku tidak menyangka bahwa banteng jelek itu rasanya akan se- enak ini saat dipanggang.”


Liang Wei sebelumnya mengira bahwa rasa daging banteng dengan wajah menyebalkan itu akan pahit seperti kakinya.


“gadis aneh, kau suka?.” Tanya Liang Wei sambil tersenyum kepada Lin Lixue.


Entah mengapa Lin Lixue terlihat tersentak, lalu menatap Liang Wei. “apa?, kau sudah tahu?.” Ucap Lin Lixue.


“apa maksudmu?, aku sedang membahas daging ini.” Ucap Liang Wei, lalu tiba – tiba matanya membelalak karena baru menyadari sesuatu.


“hey kau barusan berbicara kepadaku?.” Ucap Liang Wei dengan nada meninggi, itulah hal yang baru ia sadari.


Lin Lixue sangat kaget, itu adalah ketidaksengajaan, terlihat wajah Lin Lixue jadi memerah, ia pun berbalik membelakangi Liang Wei.


Liang Wei tahu bahwa jika Lin Lixue sudah melakukan itu, maka dia akan diam lagi.


“gadis aneh, kenapa kau selalu diam dengan sengaja.” Ucap Liang Wei sambil menghela napas.


Setelah mengatakan itu, Liang Wei juga berbalik membelakangi Lin Lixue, akhirnya mereka berdua  duduk saling membelakangi.


“aku masih menanti kau berbincang denganku, banyak hal yang ingin ku tanyakan, termasuk siapa? dan darimana kau? .” ucap Liang Wei lalu menyandarkan punggungnya di punggung Lin Lixue.


 

__ADS_1


 


__ADS_2