
Latihan mengokohkan kuda – kuda, telah Liang Wei lakukan 8 kali dalam waktu lebih dari 2 bulan.
Ia melakukannya setiap 7 hari, dan mengambil jeda sehari hanya untuk makan dan minum.
walaupun sebenarnya ia tidak membutuhkannya, karena ia sudah memiliki tenaga dalam yang membuatnya tidak akan lapar dan haus.
cara kerja tenaga dalam cukup sederhana, dimana tenaga dalam secara otomatis akan selalu mengisi lambung dan mengganti fungsi makanan dalam memberi nutrisi yang dibutuhkan oleh tubuh.
Nutrisi yang di dapat dari makanan sudah di ganti dengan adanya tenaga dalam, namun bagi Liang Wei makan adalah kebiasaan yang tidak bisa ia tolak, apalagi memakan daging panggang kesukaannya.
kembali pada pembahasan latihan mengokohkan kuda – kuda yang dilakukan Liang Wei, pola latihan yang Liang Wei lakukan masih sama dengan saat pertama kali dia melakukannya.
Diawali dengan perintah Hong Cheung, dihiasi dengan suara cambuk yang membuatnya hampir menyerah, dan 7 hari kemudian di akhiri ketika arak yang Hong Cheung miliki sudah habis.
Jadi selama lebih dari 2 bulan itu, selain dia berhasil melatih mengokohkan dan menguatkan kuda – kudanya, dia juga berhasil melatih kesabarannya dalam menghadapi sifat menyebalkan Hong Cheung.
Awalnya dia sangat depresi, lelah, dan kesal, bahkan urat didahinya selalu terlihat karena tindakan mabuk – mabukan Hong Cheung itu sama sekali tidak membantu proses latihannya, justru malah menganggunya.
Namun lama – kelamaan dia mulai terbiasa dan mulai santai, tidak lagi merasa kelelahan, maupun merasa kesal terhadap hal menyebalkan yang dilakukan oleh Hong Cheung.
Hong Cheung memang sedari awal sengaja bertingkah menyebalkan, Karena sebenarnya ia mengisyaratkan bahwa kuda – kuda yang kokoh dan kuat adalah kuda - kuda yang selain tahan dari rasa lelah, juga tahan dari tekanan batin, dan provokasi dari luar.
Dengan tujuan membuat Liang Wei kuat dan tahan dari provokasi musuh di masa depan, Hong Cheung rela mengorbankan harga dirinya sebagai seorang Pendekar.
Bukan tanpa alasan Hong Cheung mempertaruhkan harga dirinya hanya untuk melatih ketahanan Liang Wei dari provokasi musuh, di dunia yang kejam ini, bukan hanya tentang siapa yang lebih kuat dia yang akan bertahan hidup, tapi juga tentang siapa yang lebih cerdas maka dia yang akan bertahan hidup.
Percuma saja seorang Pendekar memiliki kekuatan besar, tapi tidak memiliki kecerdasan untuk memahami, menyadari, dan menahan provokasi yang dilakukan musuh.
Seberapapun kuatnya seseorang jika amarah sudah menguasainya maka kelengahan dan kelemahannya akan terlihat dengan cepat.
Begitulah cara kerja amarah, cukup sederhana, amarah menganggu konsentrasi dan potensi kekuatan yang dikeluarkan seseorang. Bahkan masalah hidup kerap kali muncul karena amarah.
Jika dalam keadaan normal seorang pendekar dapat mengeluarkan potensi kekuatannya hingga 100% , dalam keadaan penuh amarah seseorang akan kehilangan lebih dari setengah potensi yang ia keluarkan.
__ADS_1
Hong Cheung bertaruh dengan modal harga dirinya sebagai Pendekar, dan pertaruhan yang Hong Cheung lakukan sepenuhnya berhasil.
Kini Kokohnya kuda – kuda yang dimiliki Liang Wei tidak terganggu dalam kondisi apapun, Bahkan Liang Wei pernah ketiduran pada saat ia latihan, namun kuda – kudanya tidak goyah satu jari pun.
--
Di pagi hari yang cerah, dikedalaman hutan, terlihat seorang kakek dan anak kecil yang berdiri di dekat rumah pohon.
Kakek itu memiliki penampilan yang lusuh, wajahnya kotor seperti tidak pernah ia bersihkan, rambutnya yang gondrong tidak terawat menutupi sebagian wajahnya, bahkan burung akan menyangka itu adalah sarangnya.
Sedangkan anak kecil itu terlihat bersih dan memiliki wajah yang sangat tampan bahkan di usianya yang masih berumur 6 tahun.
Mereka adalah Hong Cheung dan Liang Wei sedang berdiri berhadap - hadapan.
Hong Cheung menunjukkan ekspresi serius dan begitu pula dengan Liang Wei.
“karena latihan tahap pertamamu sudah selesai kemarin, hari ini kita akan memulai latihan tahap kedua” ucap Hong Cheung memulai pembicaraan dengan wajah yang masih serius.
“tapi sebelum itu, aku ingin mengatakan sesuatu.” lanjut Hong Cheung dengan tatapan tajam
“maafkan aku ayahanda guru, aku telah mengecewakanmu.” Ucap Liang Wei.
Liang Wei hanya tertunduk meminta maaf, namun dalam batinnya “sebenarnya seberapa cepat jangka latihan yang normal bagi seorang manusia, mengapa dia berkata bahwa aku membutuhkan waktu yang lama, sial.”
“eh Tapi tunggu dulu, bukan kah ini bagus, dengan begitu dia tidak akan curiga, hahaha sandiwara ku memang sempurna.” Lanjut Liang Wei dalam batin, ia saat ini dalam suasana hati yang baik.
Karena Liang Wei merasa sandiwaranya sudah sempurna, ia merasa tidak perlu mempertanyakan jangka latihan yang normal bagi seorang manusia yang mulai berlatih tahap pertama dalam ilmu beladiri.
Namun sebenarnya, ucapan Hong Cheung yang terakhir merupakan suatu kebohongan.
Hong Cheung mengucapkan kebohongan itu bukan tanpa alasan, ucapan itu sebenarnya bertujuan agar Liang Wei tidak besar kepala, merasa hebat, dan atau bermalas – malasan.
Hong Cheung sendiri sesungguhnya sedikit tidak percaya dengan pencapaian Liang Wei , ia sendiri yang dikatakan jenius membutuhkan waktu kurang lebih 2 tahun hanya untuk mengokohkan kuda – kudanya.
__ADS_1
“baiklah selanjutnya kau akan mempelajari semua yang ada pada kitab rahasia ini” ucap Hong Cheung sambil mengeluarkan sebuah kitab tanpa nama yang misterius dan berwarna hitam dari ruang dimensinya.
Hong Cheung mulai membuka bagian pertama dari kitab itu. Dengan serius ia membacanya.
“Bagian pertama dari kitab ini, membahas dasar kedua dari segala aspek beladiri, yaitu kecepatan, teknik ini disebut ‘langkah kegelapan’ .” ucap Hong Cheung yang membuat Liang Wei menyipitkan mata karena merasa salah mendengar.
“maaf ayahanda guru, bolehkah anda ulangi nama tekniknya, aku kurang jelas mendengarnya.” Liang Wei bertanya untuk mengklarifikasi .
“huft. pasang telingamu baik – baik, teknik bagian pertama disebut ‘langkah kegelapan’ .“ perkataan itu membuat Liang Wei menahan napas.
“ayahanda guru bolehkah aku melihat isi kitab itu” dengan wajah memelas ia memohon dengan tujuan memastikan sesuatu.
“baiklah, kau boleh melihatnya, ini” ucap Hong Cheung tidak keberatan membiarkan Liang Wei melihatnya, sedikit Hong Cheung bingung dengan tindakan anak angkatnya, namun ia tidak mempermasalahkannya karena berpikir mungkin Liang Wei hanya penasaran dengan isi kitab itu.
Di saat Liang Wei memegang kitab itu, tangannya sedikit bergetar, dia sangat gugup memikirkan kemungkinan yang menurutnya mustahil.
“jangan bilang hal yang kupikir adalah benar” batin Liang Wei
Dengan tangan masih bergetar hebat dan jantung yang berdegup cepat ia memberanikan diri membuka halaman bagian pertama kitab itu.
Saat matanya membaca baris pertama dari bagian pertama kitab itu, matanya membulat tidak percaya dengan apa yang dilihatnya, bagian pertama kitab itu benar – benar tertulis ‘langkah kegelapan’.
Namun ia masih berpikir itu hanyalah sebuah kebetulan, karena banyak kemungkinan nama yang sama dalam penamaan suatu teknik.
Liang Wei ingin memastikannya sekali lagi, ia mencoba membuka bagian selanjutnya, tapi tangannya semakin bergetar hebat sehingga tidak sengaja menjatuhkan kitab itu.
“ma-maafkan aku guru, aku tidak sengaja.” ucap Liang Wei dengan gugup, membuat Hong Cheung heran dan membatin “apa yang membuatnya gugup?.”
Saat Liang Wei berjongkok dan tangannya hendak meraih kitab itu, matanya tertuju pada satu halaman kitab yang tidak sengaja terbuka, isi halaman itu berbunyi ‘bagian kesepuluh – tebasan iblis’, seketika ia mematung menahan napasnya, matanya melotot dengan maksimal, jantungnya semakin berdegup cepat bagai genderang.
“ini bukan suatu kebetulan, ini benar - benar teknik yang kuciptakan, tapi bagaimana bisa ada dalam kitab ini.” Batin Liang Wei tidak percaya bahwa teknik yang ia ciptakan berada di dalam kitab itu, ia mulai memikirkan segala kemungkinan dan alasan bagaimana teknik itu bisa berada di dalam kitab misterius itu.
__ADS_1