
“jadi begini…” Liang Wei mulai bercerita.
Pada Siang hingga sore hari, Liang Wei bersama Lin Lixue sibuk mencari pasar gelap, berdasarkan informasi yang didapat dari para pedagang, mereka akhirnya menemukannya.
Apa yang mereka cari adalah sebuah barang yang memilki daya ledak yang besar.
Setelah lama mencari dan bernegoisasi dengan para pedagang di pasar gelap, Liang Wei akhirnya mencapai kesepakatan dan mendapat ratusan ranjau peledak yang ia inginkan dengan harga yang murah.
Pada sore hingga malam hari, Liang Wei dan Lin Lixue menyebarkan ranjau peledak itu di beberapa tempat sepi dan tidak berpenghuni, agar ledakan itu tidak berdampak pada para penduduk Kota Wen.
Malam hari tiba, Liang Wei dan Lin Lixue beraksi, Liang Wei sengaja menyuruh Lin Lixue melepaskan auranya hingga jauh untuk memancing para musuh datang.
Ia melakukannya berkali – kali di tempat yang berbeda, sehingga musuh kebingungan dan terpecah menjadi beberapa kelompok.
Di saat para musuh datang ke titik dimana Lin Lixue melepaskan auranya, saat itu juga ranjau meledak dengan dahsyat. sehingga bisa di pastikan paling tidak, musuh akan mengalami luka berat.
Liang Wei datang ke bangunan tertinggi yang merupakan istana kota, dengan sengaja untuk menakut – nakuti Raja Anming dan membuatnya percaya dengan kebohongan tentang datangnya ‘Bangsa Siluman’.
Raja Anming percaya, sehingga ia mengevakuasi para penduduk tanpa mencari tahu hal yang sebenarnya terjadi.
Semua rencana itu berhasil sesuai dengan perhitungan Liang Wei.
Tujuan akhir Liang Wei adalah membawa rekannya ikut ke dalam kerumunan penduduk yang sedang dievakuasi, sehingga para musuh tidak menyadari kepergian mereka.
“… jadi begitulah!.” Liang Wei mengakhiri cerita tentang rencananya.
Mendengar semua itu, Chuang Li dan yang lainnya menganga tidak percaya, satu genggam tangan dan satu serangga akan muat di mulut mereka.
Bagaimana bisa bocah lancang yang kelihatan gampang marah dan selalu mengikuti emosinya malah memiliki otak yang encer.
Awalnya mereka semua berpikir bahwa yang akan Liang Wei lakukan dengan rencananya hanyalah cari mati, itulah mengapa mereka mencegahnya pergi.
Mereka jadi merasa malu dan bodoh karena sebelumnya telah melarang Liang Wei dengan keras.
Mereka juga malu kepada diri sendiri karena tidak bisa memikirkan jalan keluar seperti yang Liang Wei pikirkan.
Dengan semua rasa kagum kepada Liang Wei, mereka berjanji dalam hati tak akan mencela dan meragukan semua rencana Liang Wei lagi.
“kerja bagus!.” Chuang Li akhirnya mengucapkan sebuah pujian untuk Liang Wei.
“kerja bagus jidatmu!, sebelumnya kau yang paling keras mencegahku pergi.” Ucap Liang Wei dengan Urat di dahi yang muncul karena mendengar perkataan Chuang Li, ia jadi kesal sendiri.
“hahaha, baguslah kau kembali seperti dirimu sebelumnya, sejujurnya menjadi pintar tidak cocok denganmu.” Chuang Li dengan mulutnya yang tidak bisa dikondisikan kembali mengundang perseteruan.
“kakek si*lan!!” ucap Liang Wei dengan nada meninggi.
__ADS_1
“hahahahaha”
Semua orang di ruangan itu tertawa dengan lantang melihat raut wajah kesal Liang Wei, bahkan Lin Lixue terlihat menahan tawa.
“kau juga?.” Ucap Liang Wei yang melirik Lin Lixue dibelakangnya.
Tertawaan Chuang Li dan yang lain semakin pecah, di kala Lin Lixue segera berlari keluar dari ruangan karena tidak dapat lagi menahan tawa.
“selama ini aku beripikir bahwa kau selalu berada di pihakku.” Liang Wei meneriaki Lin Lixue dengan kesal.
Meskipun Liang Wei kesal, entah mengapa ada perasaan nyaman dalam hati yang tak pernah ia rasakan sebelumnya.
Perasaan yang tidak Liang Wei kenali, sebenarnya itulah perasaan memiliki teman.
--
“cepat naik, utamakan orang tua, wanita, dan anak – anak!.” Jenderal Fei menuntun para penduduk untuk segera menaiki kereta kuda untuk mempercepat evakuasi.
Terlihat banyak orang berdesak – desakan, berebut masuk ke kereta kuda itu, mereka semua ketakutan bahwa bangsa siluman datang menyerang.
“aku dengar yang melakukan serangan tadi menyebut diri mereka ‘Sepasang Siluman Hitam’, tapi aku heran, mengapa tidak ada satupun korban?.”
Obrolan di dalam kereta kuda evakuasi bermulai di saat seorang wanita paruh baya atau ibu - ibu membuka pembahasan.
“aku juga menanyakan hal yang sama, namun tidak ada yang bisa menjawabnya.” Wanita paruh baya yang lain menanggapi dan setuju.
“hey, apa kalian lebih senang jika ada korban?.” Wanita paruh baya lain yang tidak terlihat ramah mulai berbicara karena merasa tergannggu dengan omongan mereka.
“kami tentu tidak menginginkan hal itu, namun dalam situasi apapun kami hanya melakukan hal yang normal sebagai wanita paruh baya.” Ucap wanita paruh baya yang membuka pembahasan tadi.
“oh apa itu?.” ucap wanita paruh baya yang tidak terlihat ramah.
“tentu saja memburukkan yang tidak buruk.” Balas wanita paruh baya yang membuka pembahasan tadi.
“aku tidak paham.” Cukup bingung wanita paruh baya yang tidak terlihat ramah.
“maaf kau berada di luar lingkaran kami.” Singkat, tidak padat, dan tidak jelas jawaban yang diberikan.
Dan begitulah pembahasan itu di tutup…
dua orang yang duduk paling ujung di dalam kereta kuda itu terlihat menahan malu mendengar omongan para wanita paruh baya itu.
“hebat sekali ‘Sepasang Siluman Hitam’ itu.“ gumam Chuang Li yang tersenyum penuh makna sambil melirik Liang Wei dan Lin Lixue yang berada di tempat duduk paling ujung.
Ming Hao, Liu Changhai, Yang Huian terlihat kesulitan menahan tawa mendengar gumaman itu.
__ADS_1
“ini menyebalkan, dia melakukan itu sepanjang waktu.” Batin Liang Wei yang menunduk karena malu.
--
“tuan, sepertinya semua orang yang kita kirim telah gagal!, termasuk para pembunuh bayaran itu.” ucap seseorang sambil berlutut di depan majikannya yang sedang duduk santai di sebuah kursi.
“dasar tidak bergunaaaa!” pria dengan jubah merah yang merupakan majikannya, langsung menggebrak meja untuk melampiaskan kekesalannya.
Orang yang berlutut berkeringat dingin melihat kemarahan majikannya, meski takut ia tetap harus menyampaikan semua laporannya hingga tuntas.
“mereka telah keluar dari kota Wen, tetapi kami tidak tahu dimana sekarang mereka berada.” keringat dingin mengucur di dahi, ia benar – benar tidak ingin salah bicara.
“segera cari mereka, atau aku akan mencarikan algojo untuk lehermu itu!.” ucap Pria Berjubah Merah dengan dingin.
Mendengar perintah, orang itu segera berdiri dan beranjak dari tempatnya lalu keluar dari ruangan itu, namun tidak lama setelah itu ia kembali masuk dan berlutut lagi.
“apa lagi?.”
“ampuni hamba Tuan, masih ada yang ingin hamba sampaikan.“ ia hampir lupa dengan sesuatu hal.
“katakan!”
“Tuan, mereka di tolong oleh ‘Sepasang Siluman Hitam’.”
“siapa ‘Sepasang Siluman Hitam’ itu?.”
“menurut informasi, Raja Anming yang bertemu langsung dengan mereka, mengatakan bahwa keduanya merupakan Bangsa Siluman asli.”
“apaaaa?.” Pria Berjubah Merah berdiri dari duduknya karena sangat kaget Mendengar hal itu.
“jika memang benar, aku harus lebih berhati – hati mengambil langkah.” Batin Pria Berjubah Merah dengan raut wajah serius.
“jangan melakukan apa – apa untuk saat ini, hentikan semua pengintaian!. terlebih dahulu, pastikan kebenaran tentang informasi itu!.” akhirnya Pria Berjubah Merah memilih untuk tidak gegabah.
Salah satu tujuan rencana Liang Wei adalah untuk membuat musuh mereka jadi bingung, itu sudah tercapai di saat Pria Berjubah Merah mengambil langkah yang sangat hati – hati.
Hal itu membuat Liang Wei dan rekan seperjalannya sedikit lebih leluasa bergerak.
Begitulah rencana Liang Wei berjalan sesuai dengan apa yang ia inginkan.
__ADS_1