
“dia manusia?.” Batin Liang Wei yang jadi diam mematung dan membelalakkan matanya.
Ia jadi pusing memikirkan ‘siapa sebenarnya sosok berjubah hitam itu?’, atau lebih tepatnya, ‘mahluk apa dia?’.
Di saat sosok berjubah hitam itu berhasil kabur dan Liang Wei masih sibuk dengan pikirannya, orang yang tadi mendobrak pintu memasuki ruangan itu dan mencoba mengejar sosok berjubah hitam.
Namun saat orang itu ingin melompat ke jendela ruangan itu.
“jangan lakukan!.” Ucap Liang Wei mencegah orang itu dengan memegang tangannya.
Orang itu seperti biasa menatap Liang Wei dengan tajam, ia tentu saja adalah Lin Lixue.
“apa yang sebenarnya kau sembunyikan dariku, gadis aneh?.” Batin Liang Wei sambil menatap balik Lin Lixue, ia memikirkan perkataan terakhir sosok berjubah hitam itu.
“apa yang terjadi?.” Ucap Chuang Li yang muncul dari balik pintu.
Singkatnya, Chuang Li datang ke kamar Liang Wei karena mendengar suara ribut, ia berlari dan dengan cepat tiba di depan kamar Liang Wei.
Ia langsung masuk ke kamar itu, menyelisik ke seluruh isi ruangan mencari tahu apa yang terjadi dengan caranya sendiri.
Setelah beberapa saat, Pandangan matanya tertuju pada pintu kamar yang sudah hancur lebur.
Melihat pintu yang hancur, Ia bisa menduga bahwa ada sebuah pertengkaran serius tadi, dan akhirnya ia sampai pada suatu kesimpulan.
“hey bocah, jika kau bertengkar dengan kekasihmu, jangan hancurkan pintunya!.” Ucap Chuang Li lalu menggelengkan kepalanya.
“haaaaa??” ucap Liang Wei.
Liang Wei cukup heran pada Chuang Li, dari semua kemungkinan, mengapa ia bisa sampai pada kesimpulan itu.
“kalau bukan itu yang terjadi, lalu apa?.” Ucap Chuang Li, lalu menunjuk tangan Liang Wei yang masih memegang erat tangan Lin Lixue.
Liang Wei reflek langsung melepaskan genggaman tangannya itu, dan setelah itu Lin Lixue langsung keluar dari ruangan itu dengan langkah terburu - buru, terlihat telinganya memerah.
“lihatlah dia masih marah padamu.” Ucap Chuang Li sambil menghela napas.
“ini tidak seperti yang kau pikirkan!.” Ucap Liang Wei dengan nada meninggi.
“ah kau tidak usah malu mengatakannya, di saat aku masuk ke ruangan ini, aku melihat kalian saling bertatapan mesra.” Ucap Chuang Li sambil menepuk – nepuk lengan Liang Wei.
“bertatapan mesra jidatmu!. si*al, kenapa tua Bangka ini selalu saja salah paham.” Batin Liang Wei, urat di dahinya mulai muncul.
“aku..” sebelum Liang Wei menjelaskan apa yang terjadi, Chuang Li sudah memotong perkataanya.
“aku tidak peduli pertengkaran antara kekasih ini, tapi jangan menganggu orang lain dan bereskan kekacauan yang sudah kalian lakukan!.” Ucap Chuang Li sambil menunjuk ke pintu yang sudah hancur.
Setelah mengucapkan itu, Chuang Li langsung pergi begitu saja.
__ADS_1
“aku benar – benar tidak bisa berurusan dengan tua Bangka itu.” batin Liang Wei yang jadi kesal sendiri.
--
Beberapa jam berlalu, waktu makan malam akhirnya telah tiba.
Ming Hao dan Liu Changhai sudah berada di tempat makan yang disediakan oleh pihak penginapan.
“makanan di sini sangat enak, kakak. bahannya sangat segar.” Ucap Liu Changhai yang menikmati daging rebus dan sayuran yang disajikan.
“benar, lain kali jika melakukan perjalanan, aku tidak akan lupa singgah di tempat ini.” Ucap Ming Hao juga sangat menikmati makanan itu.
“tapi itu tidak cukup enak tanpa sebuah arak.” Ucap Liu Changhai, lalu mengangkat kendi araknya.
“ahahah, baru kali ini kau berkata sesuatu yang cerdas.” sindir Ming Hao, lalu melakukan hal yang sama.
“apa kau tadi mengatakan sesuatu?.” Liu Changhai pura pura tidak mendengar sindiran itu.
“hahahahaha”
Mereka berdua pun tertawa bersama karena candaan kecil itu.
Di meja yang berbeda, Yang Huian pun juga ikut serta untuk makan malam, setelah tidur dari siang hingga malam, ia jadi lapar.
Yang Huian tertidur sangat lama walau sebelumnya sempat mengeluh tentang penginapan itu, sebagai seorang Tuan Putri ingin menginap di tempat yang mewah, namun itu adalah penginapan satu – satunya di daerah itu, jadi ia tidak bisa berbuat apa - apa.
Makanan yang di sediakan penginapan itu pun ia nilai tidak sesuai dengan dirinya, namun disebabkan perut yang lapar, Ia terpaksa harus memakan makanan itu.
Di saat makanan itu masuk ke mulutnya, matanya tiba – tiba membelalak.
“untuk sebuah makanan rakyat jelata, ini tidak buruk.” komentar Yang Huian.
Ia pun memakannya dengan lahap, tak ada yang menyangka dia akan menikmati makanan itu.
“tap tap tap” Chuang Li menuruni tangga, ia menyaksikan semua orang sudah ada di tempat makan itu. Tapi ia tidak menemukan 2 orang yang ia kenal.
Yang Huian yang mendengar suara langkah kaki itu, reflek berbalik. melihat orang yang ia kenal, ia langsung berbicara.
“di mana mereka berdua?.” Yang Huian malah bertanya pada Chuang Li yang baru saja ingin bertanya padanya.
“aku baru ingin menanyakan hal itu pada anda, Tuan Putri.” Ucap Chuang Li sambil menghela napas.
Namun tidak lama setelah itu, Liang Wei dan Lin Lixue turun menuruni tangga, secara kebetulan mereka datang bersamaan.
“apakah kalian sudah selesai?.” Ucap Chuang Li sambil tersenyum penuh makna.
Liang Wei dan Lin Lixue tidak lagi mempedulikan Chuang Li. Ia hanya berjalan melewatinya seperti melewati patung.
__ADS_1
Chuang Li hanya menggelengkan kepala sambil sedikit tertawa.
“apa aku melewatkan sesuatu.” Batin Yang Huian yang mendengar perkataan Chuang Li tadi.
Liang Wei mengambil tempat duduk, Lin Lixue seperti biasa mengikutinya, ia pun hanya membiarkan Lin Lixue.
Sejak ia bertemu dengan Lin Lixue, Lin Lixue memang selalu mengikuti kemanapun ia pergi, pada awalnya dia sedikit jengkel, namun pada akhirnya ia jadi terbiasa dan merasa itu sudah menjadi hal biasa.
Namun lain halnya dengan Yang Huian, ia merasa aneh melihat mereka berdua.
Yang Huian mengangkat piringnya lalu berpindah ke tempat Liang Wei dan Lin Lixue.
Di saat Yang Huian meletakkan piringnya di meja, Lin Lixue memberinya tatapan tajam, Yang Huian membalas tatapan tajam itu, lalu duduk di kursi yang masih kosong.
Yang Huian kini duduk berhadapan dengan Lin Lixue dan Liang Wei.
“apa kalian memang selalu seperti ini?.” Tanya Yang Huian kepada Liang Wei, tanpa basi – basi ia langsung mengungkapkan isi pikirannya.
Liang Wei menghela napas dan menjawabnya “gadis jelek, untuk apa kau bertanya hal yang tidak penting.”
“kenapa kau selalu memanggilku gadis jelek?, bukankah sudah ku bilang aku punya nama!.” Sangat kesal Yang Huian dengan panggilan itu.
Di saat Yang Huian masih mengoceh, tiba – tiba raut wajah Liang Wei berubah menjadi serius.
“aku tidak menyangka mereka akan secepat ini mengirim orang lain.” Batin Liang Wei.
Ia merasakan niat membunuh yang berasal dari beberapa orang yang berada di tempat makan itu.
Liang Wei langsung meningkatkan kewaspadaanya sebagai tindakan antisipasi, namun ia berpura – pura tidak mengetahui keberadaan mereka untuk mengecohnya.
Dengan santai dan wajah yang datar, Liang Wei melanjutkan makanannya tanpa menoleh ke arah manapun.
“Hey apa kau mendengarku?.” Ucap Yang Huian dengan nada meninggi sambil berdiri dari tempatnya.
Berkat itu, ia jadi pusat perhatian semua orang, semua orang langsung mengalihkan pandangan matanya pada Yang Huian.
“lihatlah kau membuat orang lain terganggu, sekarang lebih baik duduklah dan makan dengan tenang.” Ucap Liang Wei dengan acuh tak acuh.
“cihh” Yang Huian pun terpaksa duduk kembali dan melanjutkan makannya.
Setelah beberapa saat..
“mereka bergerak!.” Batin Liang Wei yang merasakan niat membunuh itu semakin kuat.
“booom” tiba – tiba sebuah ledakan terdengar, membuat semua orang panik meninggalkan ruangan itu.
“Tuan Putri!.” Teriak Liu Changhai yang melihat dari mana asal ledakan itu.
__ADS_1