
“Jadi menurutku, sebaiknya kita …..” Liang Wei pun menjelaskan rencananya.
Setelah menjelaskannya, banyak respon yang berbeda, ada yang setuju ada yang menolak, ada pula yang hanya diam mengikuti keputusan akhir.
Orang yang setuju antara lain mereka yang yakin bahwa rencana itu akan berhasil, dan tidak mempermasalahkan resikonya, karena di saat genting itu, sudah bukan waktunya memikirkan resiko.
Sedangkan orang yang tidak setuju adalah orang yang sebenarnya juga yakin rencana itu akan berhasil, tapi khawatir akan resikonya.
Tetapi, Liang Wei berhasil meyakinkan mereka semua “Rencana yang kemungkinan besar berhasil, juga memiliki beresiko besar!, ini adalah Perang, kita tidak bisa menghindari korban.”
Mereka tidak dapat memberikan argumen yang sebanding atau lebih baik daripada itu, terpaksa mereka setuju.
Pertemuan itu menemui titik akhir dan telah selesai dengan dua rencana yang Liang Wei ajukan dan satu rencana tambahan yang merupakan rencana cadangan.
“Baiklah, karena pertemuan ini telah berakhir, semua orang kecuali para Leluhur, Bangsawan dan Petinggi Perguruan Beladiri sudah boleh meninggalkan Aula Kekaisaran.”
Kaisar Aiguo mempersilahkan orang – orang meninggalkan ruangan, tersisa orang – orang yang masih akan melakukan rapat Kekaisaran.
Beberapa jam kemudian..
“Kita telah mendapat respon baik dari rakyat, semua itu berkat orang - orang hebat yang berdedikasi dalam perang, kita harus menggunakannya untuk mendapatkan kepercayaan rakyat.”
Kaisar Aiguo memiliki rencana untuk mewujudkan poin kedua dalam pertemuan sebelumnya ‘Membuat rakyat percaya bahwa Kekaisaran sedang baik – baik saja.’
“Aku setuju, besok kita akan mengadakannya.” Hong Bingwen sangat setuju dengan rencana itu, ia mengusulkan untuk mengadakannya dalam waktu dekat, lebih cepat maka lebih baik.
“Baiklah, kita lakukan seperti itu!.” semuanya juga setuju dan rapat itu berakhir.
--
Di Kekaisaran Yang…
“Mereka pasti sedang panik, karena menyadari bahwa ini belum berakhir.”
Setelah orang itu berbicara, seisi Ruang singgasana itu jadi riuh akibat suara tawa lantang banyak orang.
“Cao Pi, aku tidak menyangka bahwa kau masih hidup dan berhasil mengecoh mereka, bahkan kau mengorbankan para pemimpin sekte bodoh itu.”
“Bukankah semua itu bagian dari rencana kita?, aku hanya melakukan siasatku. semua yang berada di Kekaisaran Yin hanyalah bidak dan tumbal, kekuatan kita sesungguhnya berpusat di Kekaisaran ini.”
Cao Pi sangat licik, bersama para Ahli Pendekar Mutlak di pihaknya, ia merencanakan sesuatu yang besar.
“Hahaha, Kau sungguh jahat.”
Semua orang tertawa kecuali satu orang yang disekap dan diikat di dekat singgasana.
“Akan tiba saatnya kalian menerima ganjaran atas perbuatan kalian!.” Ucap orang itu.
“Kaisar wanita yang sungguh bodoh, kau akan menjadi salah satu bagian penting untuk rencana kami, jadi diam dan lihatlah.”
Ucapan dingin datang dari seseorang yang duduk di Singgasana, ia merupakan salah satu ahli Pendekar Mutlak, juga merupakan ketua kelompok hitam itu.
“Apa yang dikatakan Tuan Xiao Feng benar, tapi sayang sekali kita harus kehilangan putrinya, padahal kita bisa memamfaatkannya agar rencana kita berjalan lebih lancar.”
Cao Pi memuji Xiao Feng, tapi kenyataannya ia Cuma menjilat, memanfaatkan kekuatan Xiao Feng demi tujuannya.
“Tuan, apakah kita harus mengejarnya?.”
“Tidak perlu, memiliki sandera atau tidak, kita akan tetap menang.” Xiao Feng menyeringai, ia sangat yakin bisa menang.
__ADS_1
--
Keesokan harinya di Alun - Alun Ibukota Kekaisaran Yin.
“Saya akan mengumumkan titah Kaisar.”
Semua penduduk yang berada di pusat Ibukota berlutut mendengarkan titah itu.
“Salam rakyatku tercinta, semoga semangat masih membara di hati kalian.”
“Siang ini, kami akan mengadakan acara penghargaan untuk orang – orang yang telah memberikan dedikasi selama perang.”
“Dengan kata lain, para rakyat akan melihat rupa dari pahlawan – pahlawan hebat yang telah menjaga tanah kelahiran kita.”
“Bersama dengan pengumuman ini, saya memberi titah kepada para rakyat untuk memeriahkannya.”
Riuh sorakan rakyat mewarnai Ibukota, mereka sangat senang dan antusias mendengar pengumuman itu dan tidak sabar menunggu siang hari, mereka seakan lupa keadaaan Ibukota yang masih hancur di mana – mana.
“Akhirnya ketemu juga kau, suamiku!. Ternyata selama ini kau bersembunyi di penginapan ini?.” Sudah sejak 2 hari terakhir, Liang Wei menjadi buronan Jing Mao dan Lin Lixue.
Melihat kehadiran Jing Mao, Liang Wei hanya menoleh sebentar, lalu kembali melihat keluar jendela seperti hal yang sedari awal ia lakukan.
Jing Mao mengendus seluruh aroma di ruangan itu dan mendapati hal yang membuat ia kesal.
“Aku sebelumnya heran mengapa aroma tubuhmu sangat sulit kulacak, ternyata kau menaburi wewangian di seluruh tubuhmu dan ruangan ini.”
Tapi ia tidak mempermasalahkannya lagi, karena sudah menemukan Liang Wei di penginapan yang berada tepat di dekat Alun – alun Ibukota itu.
“Omong – omong, ini adalah tempat sempurna untuk melakukannya bukan?, lagipula gadis kecil itu tidak ada di sini.” Ucap Jing Mao sambil mengedip – ngedipkan matanya.
Liang Wei yang awalnya hanya diam dan menatap keluar jendela, kini menoleh ke arah Jing Mao yang berdiri di sampingnya.
“A-aku akan melakukan apapun.” Jing Mao ketakutan, bulu kuduknya merinding, sudah sejak lama ia tidak pernah melihat rupa Kaisar Siluman yang penuh dendam dan haus darah.
“Habisi semut – semut di antara para penduduk Ibukota itu, tapi sisakan satu orang untuk diinterogasi.” Liang Wei kembali menoleh ke luar jendela.
“Ba-baiklah.” Jing Mao langsung mengerti maksud Liang Wei, sebelum ia tiba di penginapan itu, sepanjang jalan ia memang mendapati banyak aura jahat dari tubuh ratusan manusia di antara para penduduk Ibukota.
Tidak ingin menjadi pelampiasan amarah Liang Wei, Jing Mao segera pergi dari tempat itu dan berlari keluar secepat mungkin.
Hari kemarin…
Setelah pertemuan darurat, Liang Wei mencari jasad seseorang di antara mayat para pendekar hitam di Ibukota.
Ia dengan hati – hati dan teliti mencari jasad itu, namun setelah beberapa jam mencari, ia tak kunjung menemukan apa yang ia cari.
“Cao Pi, aku tidak akan melepaskanmu, akulah orang yang akan menanggalkan kepala itu dari tempatnya!.”
Raut wajahnya menunjukkan dendam, dari ingatan yang ia dapat dari ayah kandungnya, Liang Yi. Selain Lu Bian, Cao Pi adalah dalang dibalik terbunuhnya kedua orang tua kandungnya.
Kini alasannya untuk ikut andil dalam perang sudah jelas, dan ia berniat melakukannya dengan brutal. ‘Kita lihat saja nanti, sampai kau bertemu denganku, kita baru akan tahu berapa lama nyawamu akan tetap ada’
Kembali pada Hari setelahnya..
Liang Wei menghela napas dan menenangkan diri, semalaman ia gunakan untuk memikirkan cara menghabisi musuh – musuhnya, kini ia harus beristirahat.
Ia pun tertidur hingga siang hari tiba “Hoaam, aku tertidur cukup nyenyak. Sepertinya sudah waktunya pergi melihat acara penghargaan itu.”
Saat ia terbangun, ia seakan melupakan masalahnya, suasana hatinya pun membaik.
__ADS_1
Sebelumnya Hong Bingwen telah menyuruhnya untuk datang ke acara itu, ia pun tidak memiliki alasan untuk menolak karena memang sedang tidak ada kegiatan.
--
Halaman Istana Kekaisaran yang cukup luas sudah dipenuhi oleh rakyat yang berkerumun.
Liang Wei sudah tahu tentang keramaian itu, dan memilih jalan biasa untuk memasuki Istana, yaitu lewat pintu masuk bagian belakang.
Saat ia muncul, ia langsung di sambut oleh Liang Ye yang sudah menunggunya sejak lama di dekat taman.
“Akhirnya kau datang juga, cucukku. ayo kita ke depan dan mengambil tempat duduk!.”
Ucapnya, lalu menarik tangan Liang Wei dan memperlakukannya seperti anak kecil, padahal memang benar ia anak kecil.
Liang Wei hanya menurut, tapi dalam hatinya dia sedikit kesal ‘datang lagi satu manusia tua yang merepotkan’ ia terus ditarik Liang Ye hingga ke atas panggung.
Di bagian belakang panggung, terdapat tempat duduk khusus, tempat duduk itu berhadapan dengan para penduduk, sehingga para penduduk dapat melihat jelas siapa saja yang berada di sana.
Tempat duduk itu diisi oleh Para petinggi Kekaisaran, Permaisuri, Pangeran, serta Tuan Putri, dan juga termasuk Kaisar yang duduk di bagian paling tengah bersama kursi kebanggannya.
Liang Ye telah disediakan tempat khusus yang tidak jauh dari Para Petinggi Kekaisaran itu.
“Hey Tua tak berguna, kau lama sekali, kursi Leluhur Liang ini sudah hampir membeku kedinginan tanpa bokong hangat nan busukmu itu.” Yin Anguo bergurau kepada Liang Ye yang baru datang.
“Bagaimana kau bisa tahu?. Apakah kau sudah pernah menempelkan bibir keriputmu itu padanya?.” Liang Ye membalas gurauan itu. Para leluhur tertawa keras mendengar gurauan keduanya.
Hanya Liang Wei yang tidak tertawa “jika hanya tersedia satu kursi, lalu kursiku dimana?.”
“Hal – hal seperti itu tidak usah kau pusingkan nak!.” Liang Ye duduk dan menarik Liang Wei di pangkuannya.
‘Sialan, ini sangat memalukan, aku benar – benar diperlakukan seperti anak kecil’ Liang Wei tidak bisa menyembunyikan kekesalannya, wajahnya cemberut sepanjang waktu.
Tidak ada yang pernah membayangkan, Kaisar Siluman yang dikenal kejam dan tanpa ampun, berada di pangkuan kakek – kakek.
Di antara Para Penduduk Ibukota…
Jing Mao tertawa terbahak – bahak melihat raut wajah Liang Wei di atas panggung. Sedangkan Lin Lixue disampingnya menutup mulut menahan tawa.
“Bukankah raut wajahnya itu sangat lucu, biasanya dia selalu serius dan mengintimidasi musuhnya.”
Lin Lixue membayangkan raut wajah serius Liang Wei, dan akhirnya suara tawanya meledak.
‘Kau menikmatinya?’ suara Liang Wei terdengar di kepala Jing Mao, ia langsung berhenti tertawa.
‘Ti-tidak, suamiku’ Jing Mao membalas telepati itu dengan gugup.
‘Apa kau sudah melakukan tugasmu?’
‘Aku tidak melewatkan satupun dari mereka’ raut wajah Jing Mao berubah serius.
‘Lalu, bagaimana dengan orang satu orang yang masih hidup?.’ Liang Wei sebelumnya memerintahkan Jing Mao untuk menyisakan satu orang untuk diinterogasi.
‘Semut itu telah ku buat cacat dan ku sekap di tempat yang aman.’
‘Bagus!’
Telepati itu berakhir, ketika mereka mendengar suara dari atas panggung yang sangat lantang, Kaisar Aiguo menggunakan tenaga dalam agar suaranya dapat terdengar oleh semua orang.
“Rakyatku tercinta, tanpa basa basi lagi, dengan ini acara resmi dimulai!.” Kaisar Aiguo membuka acara itu dengan meriah.
__ADS_1