
“apaaa.?” Kaisar Huifang tidak sadar telah berteriak setelah membaca surat itu.
Surat yang Kaisar Aiguo tujukan padanya berisi tentang informasi perang yang cepat atau lambat akan terjadi.
Selain itu, di dalam surat itu tertulis tentang siapa saja sekte yang telah ketahuan melakukan kerjasama dengan musuh atau aliansi para pendekar hitam.
Hal yang membuatnya kaget sampai tidak sadar berteriak adalah salah satu sekte terbesar yang berada di Kekaisarannya, tertulis di dalam daftar itu.
Jika surat itu berasal dari orang lain maka dia tidak akan percaya, namun Kaisar Aiguo sendiri yang menulis surat itu, sangat jelas stempel asli Kekaisaran Yin di dalam surat itu.
Kaisar Huifang jadi sangat geram, ternyata selain Pejabat Kakaisaran, salah satu sekte besar juga telah melakukan penghianatan besar.
“mengapa Kekaisaran ini menjadi sarang para penjahat?.” Batin Kaisar Huifang, ia merasa sudah gagal menjadi pemimpin.
Namun dengan cepat ia sadar dan segera memotivasi diri sendiri. saat itu ia berpikir bahwa ia harus berjuang demi rakyatnya, sehingga semangatnya kembali berkobar.
“jika aku menyerah hanya karena hal ini, maka bagaimana nasib para rakyat yang berharap besar padaku.” Batin Kaisar Huifang dengan tekad yang membara untuk mengahadapi semua musuhnya.
Kaisar Huifang kemudian mengalihkan pandangannya kepada Chuang Li yang berada di depannya.
“terima kasih telah menyampaikan pesan ini, tunggu aku menuliskan balasan untuk surat itu.”
Pelayan pun membawakan Kaisar Huifang sebuah meja, kertas beserta alat tulisnya.
Kaisar Huifang terlihat terburu – buru menulis surat itu, sehingga dalam waktu singkat surat itu selesai. dan setelah itu, diberi stempel Kekaisaran sebagai tanda bahwa surat itu resmi dari Kekaisaran Yang.
“Sampaikan surat itu pada Kaisar Aiguo.” Ucap Kaisar Huifang lalu menyerahkan surat itu melalui pelayan istana.
Pelayan istana itu membawa surat itu kepada Chuang Li yang telah mengulurkan kedua telapak tangan untuk menerima surat itu.
“hamba akan akan menyampaikannya, Yang Mulia!.” Ucap Chuang Li setelah menerima surat penting itu dari pelayan istana.
Chuang Li pun memasukkan surat itu kedalam cincin ruangnya, agar lebih aman.
Kini Chuang Li dalam misi yang tidak kalah besar daripada misi sebelumnya.
“kalau begitu hamba pamit!.” Lanjut Chuang Li berpamitan dengan menangkupkan kedua tangan, lalu beranjak meninggalkan istana Kekaisaran Yang.
Di saat Chuang Li sudah tidak terlihat, Kaisar Huifang menyuruh pelayan istana memanggil seseorang yang paling ia percaya.
Tidak dalam waktu yang lama, orang dimaksud pun datang.
__ADS_1
“hamba menghadap sesuai perintah Yang Mulia.” Ucap orang itu sambil berlutut.
“Xie Jian, cepat panggil para sekte besar, lakukan dengan diam – diam, tanpa mengundang sekte Pedang Jiwa.” Titah Kaisar Huifang kepada Pejabat Kekaisaran yang paling ia percaya.
Kekaisaran Yang masih mengandalkan sekte, mereka belum berhasil mengikuti cara Kekaisaran Yin, yaitu menggunakan Perguruan Beladiri sebagai pilarnya.
“hamba laksanakan titah anda, Yang Mulia!.” Xie Jian menangkupkan tangan dan bangkit dari posisi berlututnya. Setelah itu ia beranjak keluar ruangan.
--
Sebulan lebih perjalanan telah ditempuh oleh Liang Wei dan Lin Lixue bersama.
Liang Wei sangat bersyukur bahwa Lin Lixue tidak cerewet seperti Yang Huian, sehingga ia tidak perlu pusing dan perjalanan jadi jauh lebih cepat.
Perjalanan itu menjadi semakin cepat karena Liang Wei hanya berhenti ketika malam dan saat melakukan perjalanan, ia tidak pernah singgah di kota besar manapun.
Hal itu Liang Wei lakukan untuk menghindari musuh datang padanya, ia tahu situasi sekarang kurang kondusif, karena ketika ia memasuki beberapa kota, ia merasakan banyak niat membunuh yang kuat.
Hal itu membuat ia sangat waspada dan berhati – hati, meski tidak takut menghadapi musuh, namun Liang Wei memilih untuk menghindari pertarungan yang dapat memperlambat perjalanannya.
“sepertinya akan ada perang!.” Batin Liang Wei.
Liang Wei bisa mengambil kesimpulan hanya berdasarkan kondisi yang ia lihat selama melakukan perjalanan, namun ia tidak tahu bahwa apa yang ia pikirkan adalah sesuai dengan yang sebenarnya akan terjadi.
“aku harus menjadi yang terkuat sekali lagi sebelum itu terjadi!.” Itulah solusi yang ia pikirkan, ujung – ujungnya ‘kekuatan’ menjadi solusi dari segala masalah di dalam dunia yang kejam itu.
Saat ini Liang Wei dan Lin Lixue telah berada di dalam hutan.
Tepatnya tempat mereka diserang oleh para perampok sebelumnya, Liang Wei memacu kudanya lebih kencang karena jalur itu sudah sangat sepi.
Liang Wei mengendalikan kuda memasuki hutan yang lebih dalam, ia tidak ingin segera pulang, karena berniat ingin berlatih di dalam hutan itu.
Lin Lixue kebingungan di saat Liang Wei memacu kuda tidak pada jalur yang seharusnya.
Lin Lixue reflek menoleh kebelakang menatap Liang Wei di belakangnya.
Namun Ia lupa bahwa sedang berada di atas kuda, dan mereka sangat dekat, sehingga saat Lin Lixue menoleh kebelakang, apa yang ia dapat adalah wajah Liang Wei yang sangat dekat dengan wajahnya.
Dalam sepersekian detik itu Lin Lixue sangat gugup, sehingga jadi mematung.
Ia semakin gugup di saat Liang Wei tiba – tiba menatap matanya, dan mereka pun melakukan kontak mata dengan sangat dekat.
__ADS_1
“apa kau sakit?, wajahmu kelihatan sangat memerah.” Ucap Liang Wei.
Kedua tangan Liang Wei memegang tali kuda, ia tidak bisa mengecek suhu tubuh Lin Lixue dengan tangannya, sehingga ia dengan terpaksa menempelkan dahinya ke dahi Lin Lixue.
Di saat Liang Wei melakukan itu, Lin Lixue terlihat mengeluarkan darah dari hidungnya.
“gawat, sepertinya dia benar – benar sakit!.” Batin Liang Wei sedikit panik.
Liang Wei segera menghentikan laju kudanya, lalu mengangkat tubuh Lin Lixue turun dari kuda.
Ia kemudian menyandarkan tubuh Lin Lixue di sebuah pohon yang berada di sekitar area itu.
“maaf, sepertinya perjalanan ini sangat berat untukmu, ayo kita beristirahat beberapa hari di tempat ini.” Ucap Liang Wei lalu mengeluarkan tumbuhan obat dan air dari ruang dimensionalnya.
Lin Lixue yang masih terdiam mematung tiba – tiba menutup matanya tanpa ia mau, Ia pingsan.
“dia pingsan?.” Ucap Liang Wei dengan wajah datar sambil menggelengkan kepala.
Liang Wei pun dengan terpaksa meminumkan air itu kepada Lin Lixue. Sedangkan karena tumbuhan obat itu rasanya pahit, maka ia akan menunggu Lin Lixue sadar.
Sambil menunggu Lin Lixue sadar, Liang Wei berniat membaca kembali surat dari Hong Cheung. Ia sangat penasaran tentang kelanjutan surat itu.
Ia berpikir bahwa sekarang adalah saat yang tepat untuk membacanya, karena tidak ada gangguan seperti sebelumnya.
Liang Wei mengeluarkan gulungan surat itu dan membukanya, berniat untuk segera membacanya lagi.
Namun ia tiba – tiba memasukkannya kembali karena merasakan pergerakan dan niat membunuh 50 meter dari tempatnya berada.
Setelah Liang Wei memasukkan kembali surat itu, ia memasang kuda – kuda paling kokoh miliknya.
Kewaspadaan Liang Wei harus ia tingkatkan ke tahap selanjutnya, karena selain bertarung, ia juga harus melindungi Lin Lixue yang tidak sadarkan diri.
Liang Wei menutup mata dan berusaha untuk fokus pada indera pendengarannya.
Liang Wei mulai mendengar suara banyak langkah kaki yang menginjak dedaunan tidak jauh darinya.
“mereka datang!.” Ucap Liang Wei lalu membuka matanya.
Raut wajah Liang Wei jadi sangat serius merasakan musuhnya semakin dekat.
Tidak lama setelah itu, para musuh keluar dari semak belukar di segala arah.
__ADS_1