
“hentikan nyonya.”
Pemilik penginapan itu tidak dapat lagi menahan emosinya, ia berlari dan melakukan gerakan menebas yang ditujukan pada Liang Wei yang mulutnya masih ditutup oleh Hong Cheung.
Tebasan itu bukanlah tebasan sembarangan, ia mengaliri pedangnya tenaga dalam yang tidak sedikit untuk memperkuat tebasan itu.
Pedangnya yang dilapisi dengan tenaga dalam sedikit bersinar kebiruan.
“tebasan pembelah laut.”
Sudah terlambat bagi Hong Cheung untuk menghindari pertarungan.
“hufft apa boleh buat.” Gumam Hong Cheung sambil menghela napas.
ia berusaha menghindari serangan itu sambil membawa tubuh Liang Wei, dengan sedikit gerakan kekanan tanpa usaha keras ia mencoba menghindarinya.
Tubuhnya hanya bergeser 5 jari dari posisinya semula, namun nyatanya dengan gerakan seminimal itu, ia berhasil menghindari tebasan pedang yang ganas itu.
Pemilik penginapan sangat kaget melihat tebasannya berhasil dihindari, namun ia tidak menyerah melakukan serangan.
Ia kemudian mengubah arah tebasannya dari vertikal ke horizontal.
“mati kau” teriak pemilik penginapan itu melihat pedangnya hanya berjarak sekitar 3 jari dari leher Liang Wei dan perut Hong Cheung.
Serangan itu kemungkinan besar akan berhasil, Karena sangat sulit menghindari serangan dengan jarak sedekat itu.
Namun yang terjadi berikutnya berhasil membuat ia membelalakkan matanya menjadi bulat sempurna.
Dalam sepersekian detik yang sangat singkat, dari arah bawah, jari telunjuk Hong Cheung menyentil bilah pedang itu ke arah atas.
pemilik penginapan tidak menyadari pedangnya sudah terlepas dari tangannya, Ia baru menyadarinya ketika melihat pedangnya sudah terlempar ke atas.
Ia kemudian berniat meraih kembali pedangnya dengan melompat sangat tinggi.
Namun sebelum ia berhasil melompat, kakinya diinjak oleh Hong Cheung, dan kemudian Hong Cheung melakukan gerakan memutar, sehingga dalam sekejap ia berada di belakang pemilik penginapan itu.
Ketika berada di belakang pemilik penginapan itu, Hong Cheung dengan cepat mengunci kedua tangan pemilik penginapan itu.
Kedua tangan pemilik penginapan itu kini terkunci di belakang punggungnya sendiri.
Semua orang dibuat takjub menyaksikan gerakan yang ditunjukkan Hong Cheung.
“gerakan yang sangat luar biasa dan penuh ketenangan, dia bahkan belum menggunakan tenaga dalamnya, dia pasti bukan orang biasa.” Komentar salah seorang dari mereka yang menyaksikan.
Pegawai penginapan juga menyaksikan hal itu, namun dia tidak takjub, lebih tepatnya rasa takut membuat ia lupa untuk takjub.
“pemilik penginapan saja tidak cukup kuat menghadapinya, matilah aku.” Ucapnya sambil menelan ludah dengan kasar.
Pemilik penginapan itu mencoba melepaskan diri dengan merontah dan menendang kebelakang dengan kakinya yang masih bebas.
Namun sedikit dorongan dari Hong Cheung membuat ia terpaksa tengkurap.
“sialaan, lepaskan aku, dasar mesum.” Ucap pemilik penginapan itu sambil mengumpat.
“maafkan aku nyonya, aku terpaksa melakukan ini.” Ucap Hong Cheung.
“kau benar – benar tidak jantan melakukan ini kepada wanita.” Pemilik penginapan itu menyinggung gender sebagai tameng.
__ADS_1
“sudahlah nyonya, lebih baik kita bicarakan ini dengan baik – baik, dan untuk apa nyonya tersinggung dengan hal kecil seperti itu.” ucap Hong Cheung mencoba menenangkan.
“apa?, hal kecil?, kau bilang menyinggung soal umur seorang wanita itu hal kecil?.” Ucap pemilik penginapan itu.
Ucapan Hong Cheung yang bertujuan menenangkannya malah membuat ia semakin marah.
Hong Cheung pun bingung dibuatnya, ia berpikir lebih baik berhadapan dengan raja iblis daripada bersilat lidah dengan wanita.
Seribu logika seorang pria tidak akan mampu mengalahkan satu perasaan tersinggung seorang wanita.
“apa salahku.” Keluh Hong Cheung dalam batin.
Hong Cheung kemudian menarik napas dalam – dalam dan mencoba menenangkan diri sendiri.
Karena untuk menenangkan orang lain, ia harus menenangkan diri sendiri terlebih dahulu.
“lalu apa yang bisa menenangkan nyonya?.” Ucap Hong Cheung dengan sabar.
“suruh dia menarik ucapannya.” Ucap pemilik penginapan itu dengan menatap Liang Wei dengan tajam.
Liang Wei hanya menanggapi dengan wajah datar, suasana hatinya masih buruk karena perutnya masih mual akibat perjalanan udara sebelumnya.
“nak, kau dengar itu, cepat tarik ucapanmu.” Perintah Hong Cheung.
“mengapa aku harus menarik ucapanku?, aku hanya berkata jujur, dan kejujuran itu adalah hal baik” Ucap Liang Wei dengan santai.
“kejujuran adalah hal baik jika tujuannya baik.” Balas Hong Cheung memberi sedikit penekanan.
“bukankah aku sudah baik membantu dia menerima kenyataan.” ‘Kenyataan’ yang dimaksud Liang Wei adalah tentang umur wanita itu.
Liang Wei tetap keras hati dan tidak ingin meminta maaf, ia menunjukkan raut wajah kesal.
Ancaman itu membuat Liang Wei sedikit panik, dalam batin ia mengumpat dan berkata “tua Bangka ini.”
Benar adanya hal yang di sukai kadang kala menjadi kelemahan, itulah sekarang yang terjadi pada Liang Wei.
Ia menjadi dilema harus memilih menarik ucapannya atau kehilangan daging panggang.
Setelah beberapa saat berpikir barulah ia memutuskan.
“huft baiklah aku menarik ucapanku.” Ucap Liang Wei terpaksa mengalah.
“maafkan aku nyonya.” Ucap Liang Wei sambil sedikit membungkukkan badan dan menangkupkan kedua tangan.
“nyonya, ia sudah menarik ucapannya kembali, sekarang apakah kita bisa bicara baik – baik.” Kata Hong Cheung.
“baiklah, sebelum itu lepaskan aku.”
Hong Cheung melepaskan pemilik penginapan itu karena didapatnya ia sudah sedikit tenang.
“lihatlah baju ku kotor karena mu.” ucap pemilik penginapan itu, sambil menepuk bagian pakaian yang kotor.
“aku akan mengganti rugi.” Ucap Hong Cheung.
“50 keping emas, termasuk biaya menginap di sini.” Ucap pemilik penginapan itu sambil tersenyum penuh makna.
dalam batin ia berkata “aku menang.”
__ADS_1
Liang Wei yang mendengar perkataan pemilik penginapan itu sedikit kesal.
“cih, dasar rubah betina.” Batin Liang Wei.
Terlihat dengan jelas, pemilik penginapan itu berniat mempermalukan Hong Cheung dan Liang Wei.
Hong Cheung juga menyadari permainan baru yang mulai di lakukan oleh pemilik penginapan itu.
Namun Lain halnya dengan Liang Wei, Hong Cheung terlihat tetap tenang dan santai. ia berniat mengikuti alur permainan yang di atur oleh pemilik penginapan itu.
Hong Cheung tidak langsung menanggapi perkataan pemilik penginapan itu.
Ia kemudian dengan santai mengeluarkan sekantung emas dari ruang hampa.
Hal yang dilakukan Hong Cheung membuat mereka yang menyaksikannya jadi kaget.
“darimana dia mengeluarkannya, dia tidak terlihat memiliki cincin ruang.” Itulah yang mereka pikirkan secara serentak.
“itu adalah ruang dimensi, dikatakan hanya mereka yang memilki kekuatan di atas tingkat mahir yang dapat melakukannya.” salah seorang dari mereka mengetahui tentang hal itu.
Ucapan itu membuat jantung mereka semua berdegup kencang. Mereka mulai menerka – nerka tentang tingkat kekuatan yang dimiliki Hong Cheung.
Ada beberapa dari mereka langsung meninggalkan tempatnya, karena takut akan terlibat masalah.
Dengan pendengaran tajamnya, Hong Cheung tentu mendengar semua perkataan itu, namun ia tidak menghiraukannya.
Hong Cheung kemudian menyerahkan sekantung emas itu kepada pemilik penginapan.
“terimalah ini nyonya, aku melebihkan jumlahnya sebagai permintaan maaf atas perkataan anakku tadi.”
“baiklah, aku terima.” Ucap Pemilik penginapan dengan tangan bergetar.
Dengan kekuatan yang berada pada tingkat mahir tahap menengah, ia tentu mendengar ucapan orang – orang tadi.
Ia tiba – tiba merasa takut dan menjadi kikuk, Kendati demikian ia tidak menolak sekantung emas itu karena harga dirinya.
Ia menutupi rasa takut itu dengan merubah perlakuannya menjadi ramah dan sopan.
“ini kunci kamarnya, tuan. Kamarnya ada di lantai 2.” Ucapnya mempertahankan senyum ramah, walau terlihat keringat mengucur didahinya.
Liang Wei menyaksikan itu membuat ekspresi jijik, ia membatin “ho ho ho lihatlah perubahan sikapnya, sungguh sandiwara yang apik.”
“kalau boleh tahu, siapa nama tuan pendekar?.” Pemilik penginapan itu cukup penasaran dengan identitas Hong Cheung.
“namaku Cheung, margaku adalah Hong, dan ini anakku Wei.” Ucap Hong Cheung memperkenalkan dirinya sekaligus Liang Wei.
“Pendekar Hong, maafkan perlakuan bawahanku tadi.”
Meski ia tidak tahu perlakuan pegawainya tadi secara rinci, ia tetap meminta maaf.
Ia tentu melindungi pegawainya, karena pegawai itu salah satu pegawai terbaik yang ia miliki.
“aku tidak pernah mempermasalahkannya.” ucap Hong Cheung.
lalu ia beranjak dari tempatnya bersama Liang Wei menuju kamarnya di lantai 2.
Setelah Hong Cheung dan Liang Wei pergi, barulah pemilik penginapan itu menceramahi pegawainya.
__ADS_1
“lain kali perlakukan semua tamu dengan sopan, jangan melihat hanya dari penampilannya.”