
Setelah Liang Wei sudah cukup tenang, Ia pun berniat kembali membaca surat itu.
“tok tok tok.” Namun sebelum ia melanjutkannya, seseorang di depan kamarnya mengetuk pintu.
“siapa yang menggangguku sepagi ini?.” Batin Liang Wei.
Liang Wei pun memasukkan surat dan kitab itu kembali ke ruang dimensionalnya, lalu ia berjalan untuk membuka pintu.
Saat ia membuka pintu, orang yang ia dapati adalah salah seorang prajurit istana.
“ada apa?.” Tanya Liang Wei.
“Kaisar memanggil anda.” Ucap Prajurit istana itu sambil menangkupkan kedua tangan.
“baiklah aku mengerti.” Ucap Liang Wei.
Prajurit itu pun pergi setelah berpamitan kepada Liang Wei.
“ada apa lagi ini?.” Batin Liang Wei, sebenarnya Ia sangat malas berurusan dengan orang – orang yang berada di dalam Istana Kekaisaran, ia lebih memilih untuk pulang daripada bertemu mereka, apalagi misinya sudah berakhir.
Liang Wei pun berjalan menuju ke ruangan dimana Kaisar Huifang berada.
--
“Tuan Muda Liang Wei memasuki istanaaa!.” Ucap Kasim istana dengan suara lantang.
Liang Wei pun memasuki ruangan itu, di dalam ruangan itu sudah ada Lin Lixue dan Chuang Li.
Liang Wei berjalan dengan santai mendekati Lin Lixue dan Chuang Li.
“kapan kita akan pulang?, aku sudah tidak betah.” Bisik Liang Wei kepada Chuang Li.
“huffft baru kali ini aku melihat orang yang tidak betah di istana.” Batin Chuang Li.
“setelah ini kita akan berangkat, kau ini sangat tidak sabaran, kau harus belajar dari kekasihmu itu.” Ucap Chuang Li sambil melirik Lin Lixue.
“aku menyesal telah mengajakmu berbicara.” Ucap Liang Wei, lalu mengalihkan padangannya kepada Kaisar Huifang yang duduk di singgasananya.
Terlihat juga Yang Huian duduk disamping Kaisar Huifang.
“ada apa? Kenapa kami dipanggil pagi – pagi begini?.” Liang Wei cukup penasaran dengan alasan mengapa mereka dipanggil.
“aku hanya ingin berterima kasih kepada kalian.” Ucap Kaisar Huifang lalu memanggil para Prajurit untuk membawa sesuatu masuk ke ruangan itu.
3 peti yang cukup besar terlihat di angkut oleh beberapa orang prajurit istana.
Liang Wei sudah bisa menduga apa isi peti itu, dan ia benar – benar malas menunggu hanya untuk itu.
“terimalah hadiah dariku, itu semua karena kalian telah membawa putriku dengan aman.” Ucap Kaisar Huifang.
Kaisar Huifang lalu memberikan isyarat kepada Prajurit istana untuk membuka peti itu, para prajurit pun segera mambuka ketiga peti itu.
__ADS_1
Dan benar sesuai dengan yang Liang Wei duga, isi kedua peti itu adalah tumpukan emas, dan satu peti sisanya berisi sumber daya yang sangat berharga untuk meningkatkan tenaga dalam.
“ini terlalu banyak Yang Mulia.” Ucap Chuang Li dengan mata melotot, seumur hidup ia tidak pernah melihat emas sebanyak itu.
“kalian bisa membaginya bertiga agar tidak terlalu banyak bukan?.” Ucap Kaisar Huifang sambil tersenyum.
Liang Wei kemudian berjalan menuju ke salah satu peti emas itu, ia mengeluarkan sebuah cincin ruang dari balik jubahnya.
Kemudian Liang Wei memasukkan satu peti emas dan setengah dari sumber daya ke dalam cincin ruang itu.
Setelah melakukan itu, ia kembali ketempat semula, di samping Lin Lixue.
“gadis aneh ambillah bagianku untukmu, aku tidak membutuhkannya.” Ucap Liang Wei.
Tiba – tiba ia memasangkan cincin ruang itu di jari manis Lin Lixue, Lin Lixue pun tidak menolaknya, namun wajahnya jadi memerah seperti tomat.
Cincin ruang itu langsung menyesuaikan ukurannya dengan jemari Lin Lixue.
Setelah memasangkan cincin itu, Liang Wei kembali mengalihkan pandangan pada Kaisar Huifang.
Liang Wei sangat malas dengan formalitas istana seperti ‘memberi hadiah’, karena selalu saja dibalik semua itu, pasti ada maksud tertentu.
Sama halnya memberi makan seekor sapi sampai kenyang, setelah sapi itu besar dan gemuk, maka giliran sapi itu yang mengenyangkan perut manusia.
Ia sudah sangat hapal tentang cara istana bekerja dari kehidupan sebelumnya, maka dari itu Liang Wei tidak ingin berhutang budi ataupun membalas budi, ia hanya ingin hidup tenang.
Kaisar Huifang sedikit kecewa melihat tindakan Liang Wei, dan Yang Huian jadi cemberut.
“lihatlah itu ibu.” Bisik Yang Huian dengan wajah cemberut, ia sangat cemburu melihat Lin Lixue.
Kaisar Huifang sangat paham dengan apa yang dirasakan oleh putrinya itu. Meski begitu ia tidak bisa berbuat apa –apa.
Karena memang jika barang sudah diserahkan, maka itu sudah menjadi hak orang itu untuk menerimanya atau memberikannya kepada orang lain.
“mengapa kau menyerahkan hadiahmu kepada orang lain nak? Apakah kau tidak menyukainya.” Tanya Kaisar Huifang.
“apapun hadiahnya aku tidak akan menerimanya, karena memang aku tidak mau.” Ucap Liang Wei dengan santai.
“baiklah, lalu bagaimana kalau kau tinggal di istana ini, aku akan memberimu jabatan yang penting.”
‘Karena hadiahnya tidak diterima, akhirnya Kaisar Huifang menawarkan hal lain’, itulah yang dipikirkan oleh orang lain.
Namun sebenarnya, sejak awal Kaisar Huifang memang ingin menawarkan itu pada Liang Wei, agar Yang Huian memiliki kesempatan untuk mendekatinya.
Kaisar Huifang tersenyum penuh kemenangan, ia sangat yakin tawarannya itu akan diterima, karena siapapun yang ditawari hal seperti itu pasti tergiur.
Bahkan Chuang Li jika di posisinya akan menerima tawaran itu tanpa pikir panjang.
“huuft kenapa nasib bocah ini sangat bagus.” Batin Chuang Li, ia sangat iri.
Yang Huain pun tersenyum, ia juga berpikir bahwa Liang Wei akan menerima itu.
__ADS_1
Lin Lixue di samping Liang Wei jadi sedikit panik, ia segera memegang lengan Liang Wei.
Liang Wei reflek memandang Lin Lixue di sampingnya.
“ada apa gadis aneh?.” Bisik Liang Wei melihat lengannya yang dipegang oleh Lin Lixue.
Lin Lixue hanya menggelengkan kepalanya sambil menatap tajam Liang Wei sebagai isyarat bahwa ‘jangan menerima tawaran itu, jika kau masih ingin hidup’ .
Entah mengapa Liang Wei memahaminya, ia sedikit merinding membayangkan hal itu, meskipun ia tidak takut, namun ia sedikit trauma mengingat kejadian di saat Lin Lixue memukulnya hingga pingsan.
“hufft tenang saja.” Bisik Liang Wei kepada Lin Lixue.
“aku menolak!.” Ucap Liang Wei dengan tegas.
“apaa???.” Kaisar Huifang, Chuang Li, dan Yang Huian kompak berteriak karena tidak percaya dengan apa yang mereka dengar barusan.
Sejak awal ia memang berencana menolak, baik itu hadiah ataupun tawaran apapun dari Kaisar Huifang.
Jadi, biarpun Lin Lixue tidak mengancamnya, ia akan tetap menolak tawaran yang menggiurkan bagi orang lain itu.
“hey, itu adalah tawaran yang langka, mengapa kau menyianyiakannya?.” Chuang Li malah kesal melihat Liang Wei menolaknya.
“aku tidak peduli.” Ucap Liang Wei dengan wajah datar dan acuh tak acuh.
“bolehkah kau mengucapkannya sekali lagi!. kami mungkin hanya salah mendengar.” Ucap Kaisar Huifang kepada Liang Wei.
“kalian tidaklah salah mendengar ucapanku barusan, aku memang menolaknya” Ucap Liang Wei karena sudah sangat kesal.
Tidak ingin ditanya lagi, dan sudah sangat malas meladeni orang – orang di ruangan itu, Liang Wei pun memegang tangan Lin Lixue dan menghilang ke dalam bayangannya. Ia pergi tanpa mengucapkan pamit.
Yang Huian sangat kesal melihat tindakan Liang Wei yang dengan keras menolak tawaran itu, ia pun langsung meninggalkan ruangan itu ketika melihat Liang Wei pergi dengan Lin Lixue.
Chuang Li menggelengkan kepala melihat kelakukan Liang Wei yang selalu semaunya.
“maafkan kelakuan tidak sopan bocah itu, dia masih belum banyak pengalaman, Yang Mulia.” Chuang Li meminta maaf dengan tulus.
“ia masih terlalu muda, itu adalah hal biasa, dan aku tidak mempermasalahkannya.” Ucap Kaisar Huifang.
--
Liang Wei dan Lin Lixue muncul di sebuah gang yang berada di antara bangunan besar di pusat Ibukota
Liang Wei pun berjalan sambil terus memegang tangan Lin Lixue tanpa mempedulikan wajahnya yang sudah memerah seperti tomat.
__ADS_1