Reinkarnasi Kaisar Siluman

Reinkarnasi Kaisar Siluman
Pertarungan di Kekaisaran Yang (Bagian 2)


__ADS_3

“Apakah kau akan terus seperti itu?“ Xiao Feng terpancing amarah akibat Liang Ye yang sejak awal hanya mengincar benda yang ia banggakan.


“Dasar bodoh, Itu disebut strategi,” jawab Liang Ye dengan santai.


Pertarungan mereka berdua sengit, kekuatan keduanya imbang, tetapi dalam segi strategi Liang Ye sedikit unggul. Saat Xiao Feng mendekat, Liang Ye akan menggerakkan satu tangan dari bawah ke atas, dan pedangnya mengikuti pergerakan tangannya. Pedang yang terbang dari bawah ke atas menyasar tubuh bagian bawah Xiao Feng, sehingga ia harus menghindar kebelakang, dipaksa bertarung jarak jauh yang merupakan keunggulan Liang Ye.


“Ini tidak akan berakhir dengan cara seperti ini, bukankah waktunya untuk serius?” Xiao Feng sudah tak sabar mengalahkan Liang Ye, ia meledakkan auranya, aura Pendekar Mutlak tahap akhir.


“Aku rasa, kau ada benarnya,” ucap Liang Ye dan memberikan jeda pada kata – katanya, lalu melanjutkan, “Ini memang waktunya untuk serius,” kemudian meledakkan aura yang setara dengan Xiao Feng, lalu ia mengeluarkan dua pedang dari cincin ruangnya, sekarang ia mengendalikan 3 pedang sebagai senjatanya.


“Hyaaa!”


Xiao Feng terbang dengan kecepatan tinggi, bersamaan dengan Liang Ye dari arah sebaliknya melakukan hal sama. Dari bawah, orang – orang dapat melihat dua cahaya berbeda warna yang bertabrakan di atas langit dan menghasilkan sebuah ledakan yang tidak kecil.


“Kau lumayan juga,” Liang Ye mengucapkan itu seperti pujian, tetapi Xiao Feng tahu bahwa ia sedang direndahkan.


“Kaulah yang hanya lumayan!” Xiao Feng mendengus kesal.


Xiao Feng menebaskan pedangnya ke bahu Liang Ye, tetapi Liang Ye hanya menggerakkan tangan kanannya dari kiri ke kanan dan pedang terbangnya datang menangkis serangan yang datang dengan mudah.


Sepersekian detik di waktu yang hampir sama, Liang Ye menggerakkan tangan kirinya dari atas kebawah dan pedang terbangnya datang dari langit menyasar kepala Xiao Feng. Xiao Feng reflek bergerak maju untuk menghindari serangan pedang itu sekaligus memberikan sebuah tinjuan tangan kiri ke perut Liang Ye.


Liang Ye terbang kesamping untuk menghindari tinjuan penuh tenaga dalam itu, di saat yang sama ia membuka kedua telapak tangan lalu mengepalkannya dan ketiga pedang yang Ia kendalikan menyerang Xiao Feng dari arah depan, belakang, dan bawah.


Xiao Feng mendengus lalu terbang ke atas menghindari pedang yang mengejar organ vitalnya. Tetapi ia tidak sadar bahwa dari atas langit Liang Ye sudah menunggunya dengan tendangan tumit yang dilapisi tenaga dalam intensitas banyak.


--

__ADS_1


“Mati!” Pedang Cao Pi akan mengenai leher Liang Wei.


Ting!


“Oh, Rupanya kau masih  bisa menangkisnya,” kata Cao Pi sambil menyeringai, “Mari kita lihat, sampai kapan pedang berkarat itu akan bertahan.”


Cao Pi terus menebaskan pedangnya dan Liang Wei masih berbaring tak diberikan kesempatan bangkit karena harus menangkis serangan itu.


Kekuatan Cao Pi yang besar membuat Liang Wei harus berjuang keras menahannya. Tebasan pedang Cao Pi yang tanpa henti dan jeda membuat tubuhnya terus terdorong ke bawah dan membuat lantai retak mengikuti bentuk tubuhnya.


Darah mulai keluar dari sudut bibir Liang Wei. Ia masih menderita kesakitan akibat serangan sebelumnya, sekarang ia harus bertahan dari tebasan pedang yang sangat brutal itu.


Jika Liang Wei hanya terus menangkis tanpa melakukan hal lain, maka cepat atau lambat ia akan kalah. Tetapi ia tidak bisa melakukan apa – apa saat itu, karena kedua tangannya digunakan untuk memegang gagang pedang dan bilahnya untuk menangkis serangan. Jika ia melepaskan satu tangan saja, maka kekuatan untuk menahan serangan akan berkurang sehingga bisa saja Cao Pi menggunakan momentum itu untuk menebas Liang Wei dengan mudah.


Liang Wei menggertakkan giginya sambil terus memutar otaknya mencari cara untuk memberikan perlawanan balik.


“Kenapa, bocah? Bukankah tadi kau sangat sombong?. Aku yakin kau akan segera menyusul ayah kandungmu ke neraka!” Cao Pi tertawa lantang mengejek, sambil terus melakukan serangan di tempat yang sama yaitu leher Liang Wei, dan Liang Wei terus menangkisnya.


“Apa kau bilang?” Cao Pi tersinggung. Ia sadar bahwa saat menelan pil itu, wajahnya berubah menyerupai iblis yang buruk rupa, matanya memerah dan kulit wajahnya seperti kulit reptil.


“Aku suka raut wajah kesal yang bodoh itu, terus tunjukkan padaku!” Liang Wei tertawa terbahak – bahak.


Cao Pi memelototi Liang Wei dan berkata, “Aku akan membuatmu menderita sampai memohon untuk mati!”


Liang Wei ditendang dan terhempas keluar dari rumah itu setelah membuat dindingnya berlubang karena benturan tubuhnya. Ia terus terhempas hingga menabrak dan membuat dinding rumah – rumah lain berlubang, lalu berakhir saat ia mendarat kasar di tanah yang merupakan jalanan Ibukota. Liang Wei terbaring tak bertenaga dengan luka di sekujur tubuh.


Cao Pi muncul di depannya, mencekik lehernya lalu berbicara tepat di depan wajah Liang Wei. “Apa kau masih bisa sombong?”

__ADS_1


Liang Wei sesak nafas, tetapi ia tertawa lantang lalu meludahi wajah Cao Pi sehingga membuat Raut wajahnya menjelek.


“Bangs**,” Umpat Cao Pi lalu membanting tubuh Liang Wei ke tanah “Aku berubah pikiran, akan ku akhiri kau sekarang!” Cao Pi menusukkan pedangnya menyasar jantung Liang Wei.


Pedang itu hendak mengenai jantung Liang Wei, tetapi ia menggunakan telapak tangannya untuk menahan tusukan pedang itu. Pedang itu tembus dari telapak hingga ke punggung tangannya. Kemudian ia menggerakkan  tangannya sedikit kesamping, sehingga pedang yang menembus tangannya tidak jadi mengenai jantungnya.


Sudut bibir Liang Wei melengkung, lalu ia berkata dengan angkuh, “Kau harus membunuh ratusan juta nyawa sebelum mencoba membunuhku.”


Dua pedang tanpa gagang keluar dari ruang dimensionalnya, lalu Liang Wei menerbangkan kedua pedang itu dengan kekuatan jiwannya. Berbeda dengan Liang Ye yang harus menggunakan jari atau tangan untuk mengendalikan teknik pedang jiwa, Liang Wei hanya menggunakan pikirannya, karena kekuatan jiwanya  telah berada di puncak.


Kedua pedang itu membidik kepala dan dada Cao Pi. Mata Cao Pi membelalak, ia melepaskan pegangan tangan dari gagang pedangnya lalu melompat kesamping dengan kecepatan reflek yang ia miliki.


Satu pedang berhasil ia hindari, tetapi karena jarak dirinya dengan kedua pedang itu sangat tipis, akhirnya satu pedang lainnya berhasil menggores lengan sehingga membuat ia naik pitam.


Cao Pi yang kehabisan kesabaran menjadi seperti kehilangan akal, sisi manusianya mulai hilang dikuasai kegelapan, matanya semakin bersinar merah dan taringnya semakin memanjang. Ia tidak berbicara dan hanya terus menggeram seperti harimau, lalu melompat ke arah Liang Wei yang masih terbaring, berniat untuk memberikan serangan mematikan tanpa menahan diri lagi seperti sebelumnya.


“Kau kira, aku hanya akan diam saja,” cibir Liang Wei mendengus meremehkan, lalu mengeluarkan satu pedang lagi di tangan kirinya, bersamaan dengan itu raut wajahnya berubah menjadi sangat dingin.


Saat Pedang ganda Kaisar Siluman telah berada di genggaman kedua tangannya, luka yang ia derita seketika sembuh dan menguap begitu saja, kecepatan dan kekuatannya tiba – tiba meningkat drastis. Ia bangkit dari posisi berbaring tanpa menggunakan tangan dan pedang sebagai tumpuan. Tanpa menunggu lagi, ia menebaskan pedangnya ke depan menyambut serangan Cao Pi.


Booom!


Akibat dua kekuatan besar yang saling berbenturan, bangunan di sekitarnya runtuh, asap muncul menghalangi jarak pandang. Kedua serangan berhenti sejenak seakan menunggu asap itu menghilang.


Beberapa saat kemudian, asap itu perlahan menghilang, lalu menampakkan Liang Wei dan Cao Pi yang saling bertukar pandang dengan tajam dan intens.


“Mari kita mulai pertarungan yang sebenarnya,” tantang Liang Wei kepada Cao Pi sambil mengacungkan pedang di tangan kanannya.

__ADS_1


Pedang Ganda Kaisar Siluman di tangan kanan dan kiri, serta dua pedang tanpa gagang melayang di atas bahunya. Untuk pertama kalinya, empat pedang ia kendalikan sekaligus, mendukung jarak dekat dan jarak jauh dalam pertarungannya.


“Grrrr!” Cao Pi tak mengatakan apapun selain menggeram.


__ADS_2