
Memberikan pertanyaan kepada seseorang di saat darurat adalah hal yang sangat bodoh. “tidak usah bertanya, cepat beri Pertolongan!.” Ucap orang itu sambil membaringkan kepala Liang Wei pada pangkuannya. di sudut matanya air sudah mengalir deras.
Keadaan itu sungguh sangat darurat untuk Liang Wei, bahkan setengah detik sangat berharga dan bisa berpengaruh untuk keselamatannya, “Maafkan aku Yang Mulia.” Meminta maaf sambil membungkukkan sedikit tubuhnya, lalu berjalan kearah Liang Wei yang dibaringkan di pangkuan orang yang membawanya.
Saat tiba tepat di depan Liang Wei, Pria paruh baya itu langsung berjongkok dan mengulurkan tangan mengalirkan elemen kegelapan, begitulah cara menyembuhkan seseorang pendekar Aliran Hitam, sebaliknya jika pendekar Aliran Putih mereka harus menggunakan elemen cahaya sebagai penyembuh.
Beberapa saat setelah itu, Liang Wei bereaksi pada elemen kegelapan itu, tubuhnya gemetaran dan kejang, wajahnya yang pucat menjadi semakin pucat pasih. “ada apa ini?, semestinya ini berhasil!.” Pria paruh baya itu panik mematung melihat keadaan Liang Wei yang justru semakin memburuk setelah diberikan elemen penyembuh.
Keadaan seperti itu tak pernah ia hadapi sebelumnya dan diluar ekspektasi maupun teori yang selama ini ia pelajari, membuatnya jadi terdiam karena rasa kaget yang luar biasa.
“Cepat cari tahu, jangan hanya diam!, kau adalah tabib pendekar hitam terbaik yang pernah kutemukan!.” Bentak orang yang telah membawa Liang Wei.
Tetapi pria paruh baya itu bukan hanya yang terbaik yang pernah ditemukan, melainkan tabib pendekar hitam terbaik yang pernah ada, ia sudah menjadi incaran banyak sekte aliran hitam, apa lagi alasannya jika bukan karena keahliannya dalam mengobati seorang pendekar hitam.
Pria paruh baya itu tersentak mendengar teguran keras tanpa isyarat dari orang itu, ia menenangkan diri dan mencoba untuk lebih fokus lagi. “benar aku harus tenang dan fokus agar dapat menyelamatkan Yang Mulia.” Batinnya sambil menarik napas dalam – dalam lalu menghembuskannya secara perlahan.
“baiklah!.” Ucapnya setelah mendapatkan kembali ketenangannya, kemudian ia mengulurkan kedua tangan di atas tubuh Liang Wei, dari atas kebawah ia memindai seluruh tubuh untuk memastikan masalah apa yang sebenarnya terjadi pada di dalam tubuhnya.
“ini!” matanya membelalak saat menemukan sesuatu yang semestinya tidak ia temukan.
--
“boomm”
“duaaakkk”
Suara ledakan terdengar sangat lantang dan menggema keseluruh Ibukota Xijing, asap membumbung tinggi hingga ke langit, membuat jarak pandang terbatas.
__ADS_1
Semua itu akibat adu kekuatan Liang Ye dan Zhang Bingjie, banyak penduduk sekitar tempat itu yang terlempar, terluka parah, tidak diketahui apakah mereka masih hidup.
Beberapa lama kemudian, asap itu perlahan menghilang, terlihat Liang Ye dan Zhang Bingjie yang berada di udara dengan keadaan tubuh yang tidak terluka sedikitpun.
Saling memberikan tatapan tajam yang intens, bahkan tak ada kedipan sama sekali.
“Kau hampir membuat ratusan nyawa hilang!. Berterima kasihlah!, karena ada aku, ratusan nyawa itu terselamatkan, Tua Bodoh!.” Suara terdengar di kepala Liang Ye, itu adalah suara Yin Angúo melalui telepati, telepati hanya bisa dilakukan oleh seorang yang sudah sampai pada tingkat pendekar mutlak.
Detik – detik terakhir ketika dua kekuatan saling beradu Yin Angúo datang membawa para penduduk di sekitarnya dengan teknik yang ia miliki. Sebuah teknik ruang yang dapat memindahkan tubuh orang di area tertentu yang telah ditandai.
“Maafkan aku, itu semua karena orang ini telah menyakiti cucukku.” Balas Liang Ye pada Yin Angúo, terbawa amarahnya karena perbuatan Zhang Bingjie, apalagi ia masih mengira bahwa rekan Zhang Bingjie lah yang telah membawa Liang Wei pergi.
“Aku tidak peduli, aku hanya peduli pada nyawa para penduduk tidak bersalah itu, tenangkan dirimu Tua Bodoh!.” Sebagai Kaisar Kekaisaran Yin periode sebelumnya, ia tentu memiliki keinginan besar untuk melindungi para rakyat, tidak peduli apapun yang terjadi.
Liang Ye menghela napas “aku kan sudah meminta maaf Kaisar bang*at!.” Ia masih menganggap Yin Angúo sebagai seorang Kaisar karena tindakannya yang selalu untuk kepentingan rakyat, di saat yang sama dia juga bertingkah santai kepada teman segenerasinya itu.
“Kau meremehkanku.” Ucap Zhang Bingjie masih dengan wajah ramah dan intonasi datar dari suaranya, ia kemudian mengambil pedangnya di antara bangunan yang sudah rata dengan tanah, lalu terbang mengejar Liang Ye dari belakang dengan kecepatan terbang yang tak kalah tinggi.
Tidak dalam waktu yang lama mereka berdua tiba di tanah lapang berjarak 50 kilometer dari Ibukota, Liang Ye menghentikan laju terbangnya, namun Zhang Bingjie malah menambah kecepatannya lalu memberikan pukulan tangan kanan.
Liang Ye merasakan fluktuasi angin dari belakang segera membalik tubuhnya dan menangkap kepalan tangan yang menuju ke kepalanya
“plak”
__ADS_1
“Beginikah caramu bermain?.” Liang Ye mengenggam tinju Zhang Binjie, lalu menatapnya dengan tajam.
“Aku hanya memberi makanan pembuka sebelum memberi hidangan utama.” Zhang Bingjie kali ini mengucapkannya dengan dingin dan mata yang membulat sambil menggertakkan giginya.
“Sayangnya aku tidak sedang lapar, begini saja, berikanlah hidangan utama untuk kedua pedang cantikku.” Liang Ye tak kalah sengit dari Zhang Binjie, ia lalu menjentikan jarinya dan dua pedang tanpa gagang terbang dengan kecepatan yang lebih tinggi daripada kecepatan terbang mereka.
Pedang itu terbang dari dua arah yang berlawanan, satu pedang menuju ke kepala, sedangkan satunya lagi terbang menuju ke perut Zhang Bingjie.
Zhang Bingjie melirik ke kiri dan kanan, yang merupakan arah pedang itu datang. Saat kedua pedang itu tinggal 2 jari dari tubuh Zhang Binjie, ia terbang 3 jari kebelakang sehingga kedua pedang itu tak mengenai tubuhnya, namun di belakangnya sudah Liang Ye yang menunggu.
Liang Ye sengaja mengalihkan perhatian Zhang Bingjie, lalu terbang ke atas langit dan menuju kebelakangnya untuk memberikan sebuah pukulan. “Kau kira aku tidak tahu bodoh!.” Zhang Binjie sudah menusukkan pedangnya kebelakang tanpa berbalik.
Pedang itu menuju ke perut Liang Ye “Si*al, dia menyadari siasatku, padahal aku sudah hati – hati.” Batin Liang Ye.
Liang Ye kemudian terbang kebelakang untuk menghindari pedang yang menusuk itu. “tidak buruk.” Ucap Liang Ye kepada Zhang Binjie yang masih membelakanginya.
Liang Ye tersenyum puas penuh kemenangan karena telah berhasil menghidari serangan itu dengan mudah.
“Jika aku tidak buruk maka kau buruk.” Zhang Binjie masih mengarahkan pedangnya kebelakang dan tiba – tiba terbang mundur tanpa melirik kebelakang dengan kecepatan yang di luar perkiraan. “apa??” Liang Ye tak menduga itu, ia mengelak namun sedikit terlambat sehingga perutnya terkena goresan pedang Zhang Bingjie.
Setelah mendapatkan luka itu, Liang Ye terbang menjauh ke atas langit “Kau ternyata sangat licik dan pintar.” Sebuah hinaan dan pujian di waktu yang sama.
“hahaha, tidak, kaulah yang terlalu bodoh.” Ucap Zhang Bingjie sambil memperlihatkan senyum meremehkan.
__ADS_1