Reinkarnasi Kaisar Siluman

Reinkarnasi Kaisar Siluman
Acara Penghargaan


__ADS_3

“Rakyatku tercinta, tanpa basa basi, aku dengan resmi membuka acara ini!.” Kaisar Aiguo berdiri dari kursi kebanggannya dan membuka acara itu dengan meriah.


Sorakan para penduduk semakin menambah kemeriahan acara itu.


Biasanya Kaisar akan membukanya dengan pidato. tapi kali ini ia melangkahi itu dan langsung pada inti acara, karena rakyat terlihat sudah tidak sabar lagi.


Kaisar duduk kembali, dan setelah itu Hong Bingwen datang ke tengah panggung.


“Yang Mulia telah meresmikan acara ini!, saya Hong Bingwen selaku Ketua Tertinggi Perguruan Beladiri  Xijing, akan membacakan 3 nama..”


“.. 3 nama itu adalah orang – orang  yang telah berdedikasi besar dalam menjaga kedamaian Kekaisaran Yin.”


Hong Bingwen sengaja memberikan jeda pada kata – katanya untuk membuat Para penduduk penasaran dan menerka – nerka, tentang siapa orang – orang yang dimaksud.


“Sudah pasti para leluhur, bukan?, mereka datang di waktu penting, dan menghabisi para musuh dengan mudah.”


“Itu mungkin benar, tapi aku yakin, salah satu dari tiga orang itu bisa saja Petinggi dari Sekte atau Perguruan Beladiri, karena dari awal hingga akhir, mereka tidak gentar mempertahankan Ibukota untuk melindungi kita.”


Seperti yang diharapkan, para penduduk mulai ribut dan menebak  nama siapa yang akan disebutkan. Hong Bingwen pun melanjutkan kata - katanya.


“Sebelum saya membacakan nama – nama itu, terlebih dahulu saya akan memberitahu kalian, bahwa ….”


Hong Bingwen berkata bahwa Nama – nama yang akan muncul adalah nama – nama yang dipilih oleh rakyat itu sendiri, jadi siapapun yang naik ke atas panggung adalah orang yang paling diinginkan berada di situ.


Unit pengintai dari Perguruan Beladiri yang memiliki kemampuan hebat dalam mencari informasi, telah melakukan penelitian dengan caranya sendiri untuk mendapat nama – nama itu.


Pengusulan dan pemilihan nama - nama itu, tidak melibatkan keluarga Kekaisaran atau pihak lain, sehingga benar - benar murni berasal dari rakyat, dan Hong Bingwen hanya tinggal membacakannya.


“..seperti itu.” Hong Bingwen berhenti sejenak untuk memberikan kesempatan kepada para penduduk mencerna kata – katanya.


Lalu, beberapa saat setelah itu ia melanjutkannya.


“Orang nomor tiga yang paling berdedikasi adalah sosok yang pantang menyerah dan tak gentar meskipun musuh menyerang dari segala arah..”


“.. Ia berdiri di garda terdepan, dan  tetap berdiri sampai akhir untuk menjaga Kekaisaran..”


“..Kita sambut dengan meriah.. Jenderal Ding!.”


Jenderal Ding menaiki panggung dan memberi hormat kepada Kaisar, lalu melambaikan tangan kepada para penduduk yang terlihat antusias.


“Aku tahu Jenderal Ding akan akan mendapatkannya!.”


“Orang yang pantang menyerah patut mendapat pujian!.”


“Dia adalah pahlawan!.”


Berbagai pujian datang dari para penduduk, mereka sangat setuju Jenderal Ding merupakan salah satu dari tiga nama itu.


“Atas dedikasinya, Kekaisaran memberinya gelar tertinggi seorang Jenderal yaitu Jenderal Perang Tiada Tanding..”


Itu adalah gelar yang paling didambakan oleh seorang Jenderal, itu berarti Jenderal Ding akan menjadi satu – satunya yang menerima gelar itu di antara 5 Jenderal lainnya.


“..Selain itu, Kekaisaran akan memberinya 3 peti emas, dan satu tumbuhan langka.”


Hong Bingwen membacakan hadiah yang Kekaisaran berikan pada Jenderal Ding.


Para prajurit membawa hadiah itu, Jenderal Ding dengan senang hati menerimanya, setelah itu, ia menelangkupkan tangan kepada Kaisar, lalu meninggalkan panggung.


Setelah Jenderal Ding turun dari panggung, Hong Bingwen kembali memandu acara itu.

__ADS_1


“Kita lanjutkan kembali.. Orang nomor dua yang paling berdedikasi adalah orang yang sudah akrab dengan kita, dirinya adalah sosok terkuat di Kekaisaran Yin..”


”..dialah orang yang mengubah angin peperangan, bisa dikatakan bahwa tidak ada yang lebih kuat daripada dirinya di Kekaisaran ini,  kita sambut dengan meriah ..Leluhur Liang Ye!.”


Liang Ye berdiri dari tempat duduknya dan membiarkan Liang Wei duduk di kursinya. Liang Ye kemudian berjalan ke tengah panggung untuk menerima hadiah dari Kaisar.


Setelah menelangkupkan tangan kepada Kaisar, ia berdiri menghadap ke para penduduk, para penduduk berteriak antusias dan memujinya.


“Leluhur Liang!, kau sangat hebat.!”


“Beliau pantas mendapatkannya!.”


“Leluhur Liang yang terkuat!.”


“Leluhur Liang nikahilah aku!.” Itu adalah teriakan dari janda tua putus asa yang memiliki tiga anak.


Liang Ye melambaikan kedua tangannya menyambut sorakan para penduduk.


“Atas dedikasinya, Kekaisaran memberinya Gelar Leluhur Terkuat Sepanjang masa.”


Itu adalah gelar khusus sebagai apresiasi atas perannya sebagai kunci kemenangan dalam perang.


“Kekaisaran juga akan menghadiahinya 5 peti emas, dan 3 tumbuhan langka.”


Para prajurit membawakan hadiahnya dan Liang Ye menyimpannya di ruang dimensional.


Liang Ye kembali  menelangkupkan tangan kepada Kaisar sebelum kembali ke tempat duduknya semula, dia juga memangku Liang Wei seperti semula, dan Liang Wei pun masih cemberut seperti semula.


Liang Wei tidak bisa berbuat apa – apa karena di situ banyak orang, menghilang dari situ adalah pilihan buruk dan buang - buang tenaga.


Begitu dia menghilang, orang – orang akan langsung menyadarinya, begitupun Para Pendekar Mutlak yang bisa melacak dan membawanya kembali  dengan mudah.


“..meski tidak mengalahkan banyak musuh, dan tidak lebih kuat daripada kedua nama sebelumnya, tapi dia telah meresikokan nyawanya untuk menyelamatkan banyak kehidupan dalam peperangan itu..”


“.. dia bergerak lebih cepat daripada musuh dan menyelamatkan para penduduk yang terjebak dalam perang kejam itu..”


“..Kita sambut bersama…Liang Wei!!!.”


Liang Wei mematung dalam keadaan mata yang membelalak, ia tidak pernah berpikir namanya akan disebutkan.


Saat perang, dia sudah berusaha keras untuk tidak mencolok. dia bahkan menghindari pertarungan dan hanya fokus mengevakuasi para penduduk.


Tampil mencolok berarti menjadi pusat perhatian, menjadi pusat perhatian berarti orang – orang akan mencari informasi pribadi tentangnya, termasuk para musuh yang mencoba mencari tahu tingkat kekuatan dan kelemahannya.


Selain itu, menjadi pusat perhatian berarti membuang kedamaian dan ketenangan hidupnya, itu adalah hal yang paling ia benci, karena saat itu terjadi, dia tidak akan bisa bergerak bebas lagi di Ibukota itu.


‘Ini mustahil, aku tak pernah memikirkan pola ini sebelumnya, mungkin Paman Bingwen hanya salah menyebutkan nama, atau mungkin ada orang lain dengan nama Liang Wei selain aku’


Bisa saja ada Liang Wei selain dia, ia pun bertanya kepada Liang Ye.


“Kakek?, apakah kita memiliki Liang Wei yang lain di dalam klan?.”


Liang Ye mengerutkan kening mendengar pertanyaan itu.


“Klan Liang memiliki aturan dalam penamaan anak, salah satu aturannya adalah tidak boleh ada nama yang sama.”


Keringat dingin mengucur deras di punggung Liang Wei. “Jadi?.” Ia bertanya lagi meski sudah tahu jawabannya.


“Jadi, Liang Wei yang disebutkan sudah pasti adalah kau,  sekarang cepatlah ambil penghargaannya dan buat klan bangga.”

__ADS_1


Liang Ye bisa membaca penolakan dari wajah Liang Wei, maka dari itu, ia  mendorong tubuh mungil Liang Wei ke tengah panggung. Sedangkan Liang Wei hanya bisa mengutuk Liang Ye dalam hatinya.


‘Andai saja dia bukan kakekku di kehidupan ini, mungkin aku sudah membuatnya menyatu dengan tanah’ pikir Liang Wei dengan wajah kesal tanpa senyum sedikitpun.


“Liang Wei?, siapa itu?.” Riuh sorakan penonton tiba - tiba berhenti menjadi bisik – bisik kebingungan.


“Kak Liang Wei adalah orang yang membawa kita ke ruang bawah tanah dengan jurus menghilangnya yang sangat hebat!.” Bocah yang pernah ditolong Liang Wei dalam perang mengenalinya.


“Benar, dia adalah orang yang telah memberikan kita kesempatan hidup sekali lagi!.” dan beberapa orang mulai mengingat Liang Wei.


“Dia benar - benar pendekar kilat hitam itu.” bahkan ada yang telah memberinya julukan.


Setelah mereka mengingat Liang Wei dan jasanya kepada mereka, riuh para penduduk mulai terdengar, bahkan lebih ramai dan keras daripada sebelumnya.


“Liang Wei, kau pahlawan kami!, kau adalah bukti bahwa kekuatan bukanlah segalanya untuk menyelamatkan banyak nyawa, melainkan keberanian!.”


“Liang Wei Sang Kilat Hitam!.”


“Hidup Sang Kilat Hitam!,  Hidup Sang Kilat Hitam!, Hidup Sang Kilat Hitam!.”


Di atas panggung, Liang Wei tidak menyangka bahwa para penduduk akan memberinya reaksi seperti itu.


Hal itu membuat ia secara tidak sadar meneteskan air matanya, dan di saat yang sama ada perasaan nyaman dan hangat di dadanya.


‘Terkutuk Kau!’


‘Neraka adalah tempat abadi yang menunggumu’


‘Semoga kau cepat menemui ajalmu’


Selama hidupnya sebagai Kaisar Siluman, hanyalah hinaan dan kutukan yang pernah ia terima. Sehingga dia tidak pernah berpikir akan diakui dan dihargai.


‘Ayahanda, sepertinya hari ini aku menemukan kedamaian lain’ pikirnya sambil menutupi kedua matanya dengan lengan jubahnya.


Dia mengingat Hong Cheung yang memberinya perasaan hangat dan kedamaian untuk pertama kalinya.


“Atas dedikasinya, Ia mendapat Gelar khusus dari rakyat, dan itu telah di setujui oleh Kekaisaran, gelar tersebut adalah Sang Kilat Hitam..” Sejak hari itu, ia akan dikenal dengan gelar yang lebih mirip julukan itu.


“..Selain itu, Kekaisaran memberinya 10 peti emas dan 5 tumbuhan langka..”


“..dan satu lagi, Karena dia masih aktif sebagai murid Perguruan Beladiri, maka dia juga mendapat 1.000 poin kontribusi, dengan poin kontribusi itu, ia berhasil menjadi murid peringkat nomor 1 di Perguruan Beladiri.”


Perguruan Beladiri tidak menggunakan istilah murid luar, dalam, atau inti. tapi menggunakan sistem peringkat berdasarkan nilai atau poin kontribusi, jadi siapapun bisa jadi nomor satu tak peduli dia murid senior ataupun murid baru.


‘Woooo!!!’


Para penduduk serentak bersorak lebih keras daripada sebelumnya.


Liang Wei menarik napas dalam – dalam, lalu melepaskan lengan jubah dari kedua matanya yang sudah terlihat sembab.


Liang Wei kemudian mengambil  hadiahnya, hadiah itu sebenarnya hanyalah setitik jika dibandingkan gunungan – gunungan harta yang ada di ruang dimensionalnya.


Di antara para penduduk..


“Cih, siapapun bocah itu, dia harus mati!.”


Di tempat lain, di antara para penduduk…


Jing Mao merasakan aura membunuh dari salah satu orang di antara para penduduk Ibukota.

__ADS_1


‘Suamiku, aku merasakan aura membunuh’ Jing Mao langsung memberitahu Liang Wei.


__ADS_2