Reinkarnasi Kaisar Siluman

Reinkarnasi Kaisar Siluman
Dua Elemen yang Saling Menolak


__ADS_3

“Hey nak!, mengapa kau bisa sampai di sini?, dan secepat ini?.” Suara seseorang terdengar di belakangnya.


Mata Liang Wei membulat karena merasa sangat familiar dengan pemilik suara itu “itu kan?.” ia pun membalik tubuhnya kebelakang.


Liang Wei menatap orang di depannya, tanpa sadar matanya bagai langit gelap dengan hujan yang jatuh deras, suara tetesan demi tetesan terdengar menggema di ruangan hampa itu. ia sadar akan hal itu dan telah mencoba menahannya, namun tetap saja air itu mengalir di pipinya sebelum jatuh di lantai dengan deras. sudah lama ia ingin bertemu dengan sosok yang berdiri di hadapannya itu. “Ayah?.” Ucapnya dengan suara yang bergetar.


Ia pun berlari dan memeluk Hong Cheung. “Hey nak, apa kau sakit?, setahuku kau tidak akan seperti ini padaku?, dan juga aku melatihmu untuk jadi kuat, bukan untuk jadi cengeng.” Ucap Hong Cheung, ia bingung melihat tingkah Liang Wei yang tidak seperti biasanya.


Liang Wei hanya diam tak menggubris perkataan Hong Cheung, ia hanya bergumam “Seharusnya aku sudah di neraka, namun mengapa aku berada di surga.” Memikirkan tentang neraka karena dosa yang telah ia perbuat di masa lalu.


“Apa yang kau gumamkan, nak?.”


Sama seperti sebelumnya, tak ada jawaban atas pertanyaan yang diberikan, keheningan itu terjadi hingga beberapa saat sampai Liang Wei sedikit tenang.


Liang Wei melepaskan pelukannya dan mengusap air matanya dengan lengan jubahnya. Dengan tubuh mungilnya yang lebih pendek daripada Hong Cheung, Ia mendongakkan kepala menatap orang yang telah ia anggap sebagai ayah kandungnya itu.


“Ayah sudah tahu siapa aku, mengapa masih menganggapku sebagai anak?.” Itu pertanyaan yang sudah lama ingin ia tanyakan. Jika orang lain tahu bahwa ia adalah Kaisar Siluman yang bereinkarnasi, maka hidupnya sudah lama berakhir di tangan orang yang dendam padanya.


Mata Hong Cheung sedikit membulat namun beberapa saat kemudian kembali normal, Hong Cheung menghela napas “begitu rupanya, kau telah membaca surat itu.” ucapnya. Liang Wei hanya menganggukkan kepala.


“Benar. Seperti yang tertulis di dalam surat itu, aku sudah tahu siapa identitasmu.” Hong Cheung mengklarifikasi bahwa itu benar.


“Bagaimana ayah bisa mengetahuinya?.” Meskipun ia sudah bisa menebaknya, namun ia masih tetap menanyakannya.


Hong Cheung menarik napas panjang dan mulai menjawabnya “Manusia terakhir yang telah kau tewaskan adalah ayah kandungku, aku mengingat dengan jelas aura yang kau keluarkan saat itu. aura itu identik dengan aura yang pernah kau keluarkan saat baru belajar tenaga dalam.” ia mengucapkannya cukup santai dan tanpa beban.


Mata Liang Wei membelalak, rasanya ada yang menimpa dadanya hingga sesak, Liang Wei masih mengingat betul kata – kata terakhir dari orang itu ‘percayalah! Tujuanmu mungkin tercapai, namun selamanya itu tak akan membuat hatimu tenang! .‘


Seperti kata orang itu, Ia benar – benar tidak bisa membuat hatinya tenang sampai sekarang, dan Liang Wei semakin tidak tenang karena tidak bisa melupakan teknik dan wajah orang yang telah ia bunuh. Dalam ingatannya, fitur wajah orang itu memang kurang lebih sama seperti  Hong Cheung, perbedaannya hanya pada mata, mungkin Hong Cheung mewarisi mata seperti ibunya.


“Suatu keistimewaan yang merupakan kutukan.” Itulah pikiran Liang Wei yang menyesal ingatannya yang kuat.

__ADS_1


“Maafkan aku ayah, kumohon bunuh saja aku!.” Merasa bersalah, Ia sudah pasrah dan putus asa. lagipula ia yakin raganya sudah tak bernyawa, maka dari itu ia berharap rohnya pun akan dilenyapkan.


 


 


“Plaakk”


 


 


Hong Cheung menempeleng kepala Liang Wei. “Argghtt, apa – apaan ayah ini?.” Ucap Liang Wei sambil memegangi dan mengusap kepalanya.


“Kaulah yang apa – apaan!, hentikan wajah memelas, menyedihkan, sekaligus bodoh itu. sungguh tidak cocok dengan suaramu yang seperti kakek dari kakekku!.” Ledek Hong Cheung.


Sebenarnya ia sebentar lagi akan ikut menangis karena tidak tega jika Liang Wei terus menunjukkan raut wajah seperti itu, makanya ia menghentikannya.


“Ckk!” Liang Wei berdecak “Aku sempat lupa bahwa kau begitu menyebalkan!.” ia kelepasan berkata tidak sopan.


“hahahha.” Hong Cheung tertawa dengan lantang melihat wajah kesal dan kata – kata kurang ajar ala Liang Wei yang seperti biasanya. Itulah yang ia nantikan dari tadi.


“Aku kira kau bukanlah Liang Wei, namun sepertinya aku salah.” Lagi – lagi Hong Chueng meledeknya.


“Tua Bangka si*alan!.” Batin Liang Wei dengan sangat kesal, tapi di saat yang sama ada perasaan nyaman dan lega di hatinya. mungkin karena ia senang bertemu dengan Hong Cheung lagi.


“Lalu, katakan mengapa kau bisa sampai di tempat ini?.” Tanya Hong Cheung, ia cukup  heran.


“Begini..” Liang Wei menceritakan bahwa ia menghadapi pertarungan yang memaksanya menggunakan kekuatan yang tak semestinya dan belum waktunya  ia gunakan, tentu saja hal itu memberi dampak buruk pada tubuhnya.


Sangat tak beruntung, karena sebelum ia berhasil menghabisi seluruh musuh, tubuhnya sudah sampai pada batasnya.

__ADS_1


“..  aku kehabisan tenaga, diserang musuh lalu tak sadarkan diri, dan setelah itu aku sudah berada di sini, sepertinya aku telah mati.” Liang Wei menutup penjelasannya dengan kesimpulan yang ia buat sendiri.


Hong Cheung mengerutkan dahi “Apakah kau belum membaca surat itu hingga akhir?.”


“iya!.” Jawab Liang Wei dengan wajah bingung.


“Pantas saja kau tidak tahu!. Kau belumlah mati. di dalam surat itu, tertulis tentang keadaan yang akan kau hadapi saat memaksa tubuhmu. Sebenarnya tubuhmu bukan sedang pada batasnya, namun sebentar lagi akan melampaui batasnya, hanya saja itu terhalang oleh sesuatu.” Ucap Hong Cheung.


Hong Cheung menghela napas dan lalu lanjut menjelaskan “Jiwa Dewa membantumu melampaui batas, namun Elemen Kegelapan dalam tubuhmu melakukan penolakan pada Jiwa Dewa yang memiliki Elemen Cahaya.”


“Aku sudah menduga hal itu akan terjadi, karena Jiwa Dewa memang baru kali ini diturunkan pada Pendekar Aliran Hitam.”


“Jadi begitu.” Liang Wei akhirnya mengerti “lalu, jika sampai akhir Elemen kegelapan dalam tubuhku masih menolak Jiwa Dewa, apa yang akan terjadi?.” Ia merasa harus tahu itu.


Dengan serius Hong Cheung menjawab “Mati!.” Singkat saja jawabannya, namun Liang Wei tidak kaget, seolah ia memang menginginkannya.


Hong Cheung bisa membaca pikiran Liang Wei dari raut wajahnya “jangan berpikiran seperti itu, di bagian penutup surat itu aku menuliskan cara agar kau tetap hidup!.” Ia tidak ingin Liang Wei menyusulnya.


“Namun aku sudah tidak memiliki alasan untuk tetap hidup.” Liang Wei acuh tak acuh tentang hal itu, dendam kepada bangsa siluman memang telah menjadi alasan hidupnya, namun bertemu Hong Chueng saat ini membuat ia lebih memilih tetap berada di situ untuk beberapa saat.


“Apa kau sungguh yakin tidak memiliki alasan?.” Ucap Hong Cheung, lalu menjentikkan jari, dan muncul sesuatu seperti layar, di layar itu terlihat Lin Lixue yang sedang dikurung dan menangis tersedu – sedu sambil memegangi jeruji yang dapat menangkal tenaga dalam.


“Bang*at\, si*lan\, siapa yang melakukan itu padanya?.” Liang Wei tanpa sadar mengucapkannya dengan lantang\, entah mengapa ia tak dapat menahan amarah melihat gadis kecil itu menderita.


“Entahlah, apakah mungkin rekan dari orang yang telah membunuhku.” Ucap Hong Cheung, ia sebenarnya tidak tahu, namun ia mengucapkannya agar Liang Wei memilih tetap hidup daripada berada di tempat yang sekarang.


“Katakan cara agar aku tetap hidup, Ayah!.” Berapi – api ia mengucapkannya, seolah api dendam yang telah padam kembali tertiup oleh angin dan menjadi lebih besar daripada sebelumnya.


 


 

__ADS_1


__ADS_2