
“Hey apa yang kau lakukan di punggungku?, seperti monyet yang memanjat pohon!.”
Jing Mao memeluknya erat dari belakang dan melingkarkan kedua kakinya pada pinggang Liang Wei.
“Suamiku, ini sudah sangat lama, aku ingin dimanjakan olehmu.” Wajahnya memerah, nada bicaranya semakin aneh dan berat.
“Ini bukan waktu yang tepat!.” Liang Wei sedikit kesal. Dalam keadaan darurat itu, bisa – bisanya Jing Mao mengatakan hal tidak penting seperti itu.
Jing Mao mendekatkan mulutnya ke telinga Liang Wei dan membisikkan. “Berarti kau setuju melakukannya, hanya saja bukan sekarang.”
Liang Wei dapat merasakan bahwa mahluk di punggungnya itu sudah puas karena telah mendengar perkataan yang ia ingin dengar.
‘Wanita memang pandai memasang jebakan pada kata - katanya’
Liang Wei tahu bahwa semakin ia mencoba untuk menolak, semakin Jing Mao akan memaksanya.
Semakin lama itu berlangsung, maka akan membuang waktu untuk menyelamatkan Lin Lixue.
“Baiklah.” Ia sebenarnya tak ingin menyetujuinya, hanya tak ingin berdebat, selain itu ia berpikir kekuatan Jing Mao mungkin akan sangat membantunya.
“Aku lega mendengarnya.” Jing Mao membenamkan wajahnya pada punggung Liang Wei, senyumnya mekar tanpa ia sadari.
Meski membawa tubuh Jing Mao yang lebih dewasa darinya, namun tak mengurangi kecepatannya, Liang Wei terus menggunakan tekniknya dan menghilang dari kegelapan hutan ke kegelapan hutan yang lain, mengikuti nalurinya untuk menemukan Lin Lixue.
Nalurinya secara alami menuntun dirinya menuju Lin Lixue, meskipun sangat tidak masuk akal baginya, namun ia masih mempercayainya, penyebabnya akan segera ia tahu.
Liang Wei melakukan perjalanan itu sambil memikirkan siasat yang tepat untuk melepaskan Lin Lixue dan menghentikan peperangan.
“Bisakah kau melakukan sesuatu untukku?.”
Liang Wei memikirkan sebuah rencana yang mungkin bisa menyelesaikan semuanya, beruntung ia memiliki Jing Mao.
“Tentu saja, apapun itu!.” dan Jing Mao tanpa ragu langsung setuju.
“Sebenarnya aku sendiri bisa melakukannya, tapi pasti akan membuang banyak tenaga dalam, jadi aku meminta bantuanmu untuk…”
Liang Wei pun menjelaskan rencananya, dan menanyakan kesanggupan Jing Mao.
Setelah Mendengar itu, Jing Mao tersenyum “Ku kira apa, ternyata hanya itu?, sangatlah mudah!, serahkan saja padaku!, selama kau memanjakanku aku akan melakukan apapun.”
Jing Mao mantap menyatakan kesanggupannya, Liang Wei senang mendengarnya, kecuali kata – kata terakhir yang membuat Liang Wei sedikit berkeringat dingin.
“Ba-baguslah.” Ucap Liang Wei sambil menambah kecepatannya menggunakan langkah kegelapan.
--
“Cih, bocah itu belum juga datang.” Lu Bian jadi kesal karena Liang Wei yang ia tunggu tak kunjung datang.
“Tuan, apakah kita bunuh saja gadis kecil itu, lagipula dia masih terlalu kecil untuk dinikmati.”
Lu Bian yang sudah kesal menjadi semakin kesal karena perkataan bawahannya itu.
“Dasar dungu!.” Lu Bian meledakkan aura pendekar tingkat tertinggi tahap menengah miliknya.
“Jika dia kubunuh, maka kita tidak punya sandera lagi.” Itulah alasan mengapa dia sampai sekarang masih membiarkan Lin Lixue hidup.
__ADS_1
“Ma- maafkan aku tuan!.” Ia bergetar ketakutan karena aura itu ditujukan kepadanya, sementara ia berada satu rana lebih rendah daripada Lu Bian.
“Tu-tuan, mungkin ini lancang, tapi aku ingin bertanya.” Dengan gugup, ia memberanikan diri bertanya kepada Lu Bian.
“Aku akan mendengarnya jika itu pertanyaan yang masuk akal.”
“Tentu saja, Tuan.”
“Kalau begitu cepat katakan!.”
“Ini adalah penjara bawah tanah yang mungkin hanya kita berdua yang tahu, bagaimana mungkin bocah itu menemukan kita?.”
Itulah yang menjadi pertanyaan terbesarnya, entah apa yang ada dalam pikiran Lu Bian, sehingga ia sangat yakin Liang Wei akan datang.
“Kau akan tahu itu nanti!.” Jawaban ambigu bukanlah hal yang ia cari, tapi ia memilih bungkam dan tidak bertanya lagi, karena takut akan membuat Lu Bian marah.
‘Setiap Pendekar Aliran hitam pasti memiliki cara tersendiri untuk menemukan orang terdekatnya.’
Pendekar Aliran Hitam adalah orang – orang yang memiliki banyak musuh, mereka memiliki cara tersendiri untuk melindungi orang terdekatnya, termasuk melacaknya.
Lu Bian tahu bahwa Liang Wei sebenarnya adalah Pendekar Aliran Hitam dan pengguna elemen kegelapan, elemen kegelapan adalah elemen yang paling mudah mendeteksi lokasi paling tertutup sekalipun.
Tetapi pemikiran itu adalah salah besar, karena ada hal lain yang menghubungkan mereka berdua, dan hanya Lin Lixue yang tahu.
‘Aku sudah tidak sabar memiliki kitab hitam dan kekuatan tersembunyi dalam jiwanya’ Lu Bian menyeringai sambil menatap penjara di mana Lin Lixue ditawan.
Lin Lixue terus meninju penjara itu, kendati demikian tak ada tanda – tanda sedikitpun akan retak.
“Percuma, gadis kecil. itu mengunci tenaga dalam, sekarang kau tak ada bedanya dengan manusia biasa.” Lu Bian menertawakan hal yang Lin Lixue lakukan dengan tangan mungil itu.
Lin Lixue tak menghiraukan ucapan yang bertujuan mengendurkan semangatnya itu, ia tetap melakukan apa yang ia lakukan.
“Tunggu dan lihatlah, saat bocah itu tiba, akan ku kuliti dia di depan matamu!, hahahahaha.”
Tertawa dengan lantang, memprovokasi gadis kecil itu, entah mengapa ada perasaan puas di hati saat melihat penderitaan orang lain.
Lin Lixue tiba – tiba berhenti menggerakkan tinjunya. Ia menggertakkan giginya diiringi tatapannya yang berubah dingin, dan ucapannya juga terdengar dingin bagai es.
“Jika kau berani melakukannya!, aku akan membunuhmu!.”
“Uh aku hampir membeku, hahahaha. Lupakan tentang membunuhku, cobalah keluar dulu dari sana!.”
Lu Bian mencibir ketidakmampuan Lin Lixue. Ia lalu tertawa keras bersama bawahannya, gema suara tawa itu membuat Lin Lixue geram.
Seakan sudah kehilangan akal, Lin Lixue berteriak histeris dan mengamuk di dalam penjara. Setiap detik ia menderita, dan setiap detiknya Lu Bian menikmati keputus-asaannya.
--
Hutan di sekitar Ibukota...
“Kalau tidak salah di sekitar sini tempatnya.” Naluri Liang Wei mengatakan bahwa Lin Lixue berada di dekat area itu.
“Suamiku, kenapa kita berhenti di sini?, bukankah kita akan menuju ke Ibukota?.”
Jing Mao bingung, Liang Wei memang sengaja tak memberitahu tujuan sebenarnya untuk beberapa alasan.
__ADS_1
“Lakukanlah rencana itu di sini!.” Jing Mao menggangguk dan melakukan hal yang Liang Wei perintahkan.
“Tunggu dulu!.” Liang Wei hampir lupa akan suatu hal.
“Ada apa?.” Jing Mao bertanya.
“Lakukan itu hanya kepada orang – orang yang berada di Ibukota, dan hutan di sisi lain, jangan lakukan itu di sekitar area ini.”
Jing Mao tak paham maksud dan tujuan Liang Wei. “aku mengerti.” Meski begitu Ia memilih tak mempertanyakannya.
Beberapa saat kemudian…
“Aku sudah melakukannya!.” ucap Jing Mao sambil menepuk dadanya.
Tanpa kata, Liang Wei mengusap rambut h~~~~itam panjang milik Jing Mao, ia memang selalu melakukan itu sebagai bentuk pujian, Jing Mao sangat suka dimanjakan dan cara itu adalah salah satunya.
Bibir tipis Jing Mao melengkung, mata indahnya menyipit mengiringi senyuman bahagianya.
Liang Wei juga tersenyum, tapi di dalam hati tidak, hal yang ia pikirkan jika semua masalahnya sudah selesai adalah cara untuk melarikan diri dari Jing Mao. ‘Bagaimana aku menghindarinya nanti?’
Melarikan diri dari Jing Mao sangatlah mustahil, penciumannya sangatlah tajam, buktinya Jing Mao menyelamatkannya di saat kritis, berarti sudah sejak lama Siluman Kucing itu mengawasinya.
Memikirkan hidupnya di masa depan tidak akan tenang karena kehadiran Jing Mao, membuat wajah Liang Wei pucat.
“Suamiku. Kenapa wajahmu jadi pucat?.”
“A-aku hanya sedang berpikir tentang rencana selanjutnya,hahaha.”
Liang Wei sedikit gugup menjawab Jing Mao. Kendati demikian itu tidak membuat Jing Mao curiga sedikitpun, meskipun kuat, namun ia sangat polos.
“Kalau begitu apa yang harus ku lakukan selanjutnya?.” Kata Jing Mao dengan mata berbinar dan antusias.
“Kau hanya perlu berjaga di tempat ini, jika ada yang melintas, maka habisi saja tanpa pandang bulu!.” Liang Wei kembali serius saat mengatakan itu.
“Baiklah!.” Jing Mao menyeringai, sudah lama ia tidak bertarung, jadi ia langsung setuju pada perkataan Liang Wei.
“Tunggu aku di sini, aku tidak akan lama!.” Liang Wei kemudian menghilang dari hadapan Jing Mao.
--
Di sisi lain Hutan…
Pertarungan Liang Ye dan yang lainnya tiba – tiba terhenti saat kelompoknya dan kelompok Zhang Bingjie mendengar pesan telepati skala luas.
Liang Ye dan rekannya tidak mengerti isi pesan itu, namun Zhang Bingjie dan rekannya tiba – tiba menjadi pucat.
Liang Ye memperhatikan perubahan raut wajah Zhang Bingjie. ‘mereka mengerti isi pesan itu?’
Terlihat Zhang Bingjie menoleh ke kanan dan kiri pada rekan – rekannya. setelah itu ia mengangguk, dan dibalas dengan anggukan oleh rekan - rekannya.
“Pertandingan kita harus ditunda.” Zhang Bingjie hanya mengatakan itu dan berlalu bersama rekan – rekannya.
Yin Anguo mencoba menghentikan mereka namun terlambat, mereka sudah menghilang tanpa jejak.
“Aku tidak tahu apa yang membuat mereka pergi, namun bukankah itu bagus, kita bisa turut melindungi ibukota.”
__ADS_1
Liang Ye mencegah rekan yang ingin mengejar Zhang Bingjie. Ia memberitahu rekannya bahwa dengan perginya kelompok Zhang Bingjie, maka mereka memiliki kesempatan lebih besar mengalahkan para Pendekar aliran hitam yang menyerang.
Baik Yin Anguo dan yang lainnya setuju dengan pendapat Liang Ye. Tanpa menunda lagi, mereka menuju ke ibukota yang telah porak – poranda.