
Di pusat Ibukota
“hahahahaha.” Dengan pedang di tangan kirinya, Dai Yu menusuk satu persatu penduduk Ibukota Xijing dengan kejam.
“Hentikan wanita iblis!.” Zhi Qiang datang dan menebaskan pedang untuk mencegah Dai Yu menusuk penduduk yang lain.
“Cih!, siapa kau mengganggu kesenanganku!.” Dai Yu melompat kebelakang sambil memberikan tatapan malaikat maut kepada Zhi Qiang yang mengenakan penutup wajah. “Aku yakin wajahmu jelek seperti tingkah jelekmu yang mengangguku.” Ucapnya dengan senyum miring merendahkan.
“Wajahku tidak ada hubungannya dengan nyawamu yang sebentar lagi berakhir.” Zhi Qiang sangat dingin menanggapinya.
“hahahaha, aku jadi ingin mencicipi pria dingin sepertimu.” Dai Yu menjilat bibir berwarna gelapnya, memberikan kesan yang menakutkan bagi siapapun yang telah menjadi korbannya.
Zhi Qiang mengarahkan pedangnya menunjuk Dai Yu “Tutup mulutmu, karena sebentar lagi aku akan menutup usiamu!.” lalu terbang secepat kilat di ketinggian rendah, kakinya hanya melayang 2 jari dari udara.
“Aku orang yang tidak sabaran, makanya aku juga sangat suka orang yang tidak sabaran.” Ucap Dai Yu, menolakkan kakinya kebelakang dan juga terbang cepat di ketinggian yang rendah seperti Zhi Qiang.
--
Di pusat Ibukota tak jauh dari tempat Zhi Qiang berada
Sudah banyak korban berjatuhan, baik di pihak kawan ataupun lawan, namun karena kalah jumlah, pihak kawan jadi kelabakan dan kesulitan.
Menyadari bahwa semua tidak akan berjalan baik dan akan semakin memburuk jika dibiarkan, akhirnya Kaisar Aiguo memerintahkan para prajurit dan pendekar untuk menuntun para penduduk melewati jalur rahasia, jalan di bawah tanah untuk evakuasi.
“…pergilah, aku dan para petinggi akan menahan mereka di sini.” Titahnya sambil menatap ratusan ribu musuh yang bagaikan koloni semut di hadapannya.
“Tapi-.”
“Ini adalah titah dari seorang Kaisar, maka dari itu laksanakan!.” Bentak Kaisar Aiguo, ia yakin setidaknya bisa membunuh setengah dari musuh di depannya sebelum kehabisan tenaga.
“Kami laksanakan titah Yang Mulia.” Mau tidak mau mereka menurutinya, karena sifat Kaisar Aiguo yang tidak pernah mengalah jika sudah membahas perkara keselamatan para penduduk.
Hanya tersisa Kaisar Aiguo, Jenderal Ding, dan Para petinggi Perguruan Beladiri yang berdiri tegap seolah tak akan tumbang.
Kaisar Aiguo berucap tanpa menoleh orang yang masih setia berdiri bersamanya “Kita tidak lemah, kita bukanlah pengecut!, kalaupun nyawa ini harus berakhir, tak mengapa jika untuk melindungi Kekaisaran.”
Menyemangati sekaligus menusuk hati mereka, sadar dan sangat menyadari hidup sudah di ujung tanduk, namun tekad di mata tak juga hilang. “Kami siap mati untuk Kekaisaran!.” Ucap mereka serentak sambil mengangkat pedang masing - masing.
--
__ADS_1
“Bagaimana ini?. Apakah Yang Mulia tidak akan terselamatkan?.”
Wajah Liang Wei semakin pucat, seakan hidupnya dapat berakhir kapan saja jika tidak segera diberi pertolongan.
“Nyonya tenanglah, kita bisa mendapatkan solusi saat tenang.” Ucap Jing jian.
“Ini sudah lebih dari 2 minggu, dan bawahanku belum juga menemukan orang yang bisa menolongnya, Aku hanya bisa tenang jika Yang Mulia tetap hidup!.”
Mereka berdua khawatir, tidak tahu sampai kapan Liang Wei akan bertahan dalam keadaan kritisnya itu.
“Bagaimana jika Nyonya kembali ke Ibukota dan membawa salah satu tabib dari sana?.” Jing Jian memberikan solusi, namun sebuah bentakan dan tatapan penuh amarah yang ia dapat.
“Apa kau bodoh?!!!. Bukankah kau tahu, token itu hanya bisa digunakan sebulan sekali?.”
Jing jian tidak menyadari bahwa dirinya juga sedang tidak tenang, sehingga ia tidak dapat berpikir jernih.
“Maafkan aku Nyonya.” Ucapnya sambil menundukkan kepala.
Tiba – tiba saja tubuh Liang Wei kejang – kejang “apa yang terjadi pada Yang Mulia?.”
“aku tidak tahu Nyonya.” Jing Jian hanya berharap bahwa itu bukanlah hal yang buruk.
Kedua jadi panik karena tidak tahu harus berbuat apa.
--
Senyuman itu terlihat bahagia namun tak sesuai kenyataan di dalam hati yang sesak bagai di tindih batu besar.
“Apakah aku bisa kembali lagi ke tempat ini?.” Tanya Liang Wei, ia tentu menyayangkan kebersamaan mereka yang singkat.
“Tempat ini hanya bisa kau datangi sekali seumur hidup.” Liang Yi yang menjawab pertanyaan itu.
Tempat itu hanyalah ruang hampa yang berisi sisa - sisa kesadaran dari pengguna Jiwa Dewa, maka dari itu sisa kesadaran itu hanya bisa menampakkan diri sekali.
Liang Wei tersenyum kecut, ia sudah tahu namun tetap saja bertanya, ia tidaklah bodoh untuk menyadari bahwa kedua orang itu hanya sisa – sisa kesadaran dari orang yang telah tiada di dunia.
“Katakan, mengapa kau sangat peduli pada gadis kecil itu?.” Hong Cheung mengalihkan pembicaraan agar suasana sesak itu tidak berlanjut walaupun pada akhirnya akan berlanjut.
“Seperti ayah Cheung, ayah membuatku merasa memiliki seorang ayah, sedangkan dia membuatku merasa memiliki seorang adik.” Ucap Liang Wei dengan sebuah senyuman yang sedikit dipaksakan.
__ADS_1
ia tahu bahwa sebentar lagi ia akan kembali ke dunianya sekaligus meninggalkan dua orang di depannya, tiada pilihan selain memasang senyum manis agar perpisahan tak terlalu pahit.
Hong Cheung dan Liang Yi tidaklah bodoh untuk menyadari arti senyuman itu.
“Hahaha kau sepertiku dan ibumu saat muda, awalnya aku dan dia hanya adik-kakak-an, tapi semua itu hanyalah kedok untuk membawamu kedunia ini dengan beberapa gerakan yang diulang - ulang.” Liang Yi menggoda Liang Wei secara terang – terangan.
Liang Wei melotot, wajahnya memerah karena malu, tentu saja dia paham, karena ia pun telah melakukan hal ‘itu’ di kehidupan sebelumnya.
“Ayah Yi!.” Selalu saja seperti itu, saat malu, ia akan menyembunyikannya dengan amarah.
“Ahahahahaha.” Hong Cheung ikut tertawa lantang saat melihat raut wajah lucu Liang Wei yang berhasil digoda oleh ayah kandungnya.
“Terima kasih Ayah Yi.” Liang Wei tahu bahwa Liang Yi sengaja menggodanya agar tidak terlalu bersedih.
“Sama – sama nak.” Senyum merekah di sudut bibir mereka bertiga.
Walaupun itu momen terakhir mereka, namun mereka tetap menikmatinya. Hingga pada akhirnya tubuh kedua sosok di depan Liang Wei mulai kabur dan transparan secara perlahan.
“Inikah saatnya?.” Batin Liang Wei. Beberapa kalipun ia tersenyum, sesak di dada tetap saja memberitahunya bahwa senyum itu tak akan membuat ia merasa lebih baik.
“Nak sepertinya kau sudah sadar. ambillah semua sisa – sisa kekuatan ini.” Ucap Hong Cheung.
Hong Cheung berubah menjadi bola cahaya berwarna putih dan memasuki tubuh Liang Wei.
“Aku juga akan memberikan sisa kekuatanku, dengan begitu kita akan selalu bersama!.” Liang Yi memperlihatkan senyum paling bahagianya.
Setelah itu Liang Yi melakukan hal yang sama seperti Hong Cheung.
“Pergunakan kekuatan itu dengan bijak.” Ucap keduanya saat memasuki tubuh Liang Wei.
Liang Wei merasakan tubuhnya hangat dan mengalami peningkatan kekuatan yang sangat signifikan. Namun itu tidak membuatnya senang “Apa gunanya kuat jika tidak bahagia.” Batinnya.
Liang Wei menutup matanya menahan air yang sebentar lagi akan menetes.
Saat Liang Wei membuka matanya, ia sudah berada di tempat lain. Hal pertama yang ia lihat adalah sosok seorang gadis berusia 15 tahun yang meneteskan air mata menatapnya.
“Yang Mulia sadar!.”
“Syukurlah.” Jing Jian menarik napas lega setelah melihat Liang Wei siuman.
__ADS_1
Bagaimana mereka tidak lega, sebelumnya mereka sangat panik melihat tubuh Liang Wei kejang – kejang selama beberapa menit sebelum membuka mata. “Kalian siapa?.” Itu ucapan pertama yang keluar dari mulut Liang Wei.
“Kami…”