Reinkarnasi Kaisar Siluman

Reinkarnasi Kaisar Siluman
Kematian Hong Cheung


__ADS_3

“oh tidak, ayaaaah!!” teriak Liang Wei.


Liang Wei segera berlari menuju Hong Cheung yang sudah terbaring lemah. saat ia tiba, ia membaringkan kepala Hong Cheung dipahanya.


“dia sebentar lagi akan mati, kau sudah tidak memilki alasan untuk tinggal di sini bukan?.” Ucap Siluman Bertanduk Domba sambil tersenyum tanpa menyipitkan mata.


“benar, kembalilah, kami masih bisa menerimamu meski sekarang kau lemah.” Siluman Bertanduk Kerbau menimpali dengan ekspresi yang sama.


“diaam!, sampai kapanpun aku tidak akan kembali” ucap Liang Wei dengan dingin dan tatapan kosong.


Kedua siluman itu tidak bisa mempercayai apa yang mereka dengar barusan.


“kau harus kembali, 20 tahun lagi kekuatan kita akan siap, aku sudah mempersiapkan segalanya, bukankah menyenangkan mengulangi kejadian 1000 tahun yang lalu?.” Ucap Siluman Bertanduk Domba.


20 tahun adalah waktu yang sangat singkat bagi mereka yang sudah hidup selama puluhan ribu tahun.


“Para manusia berpikir bahwa mereka sudah berhasil meningkatkan kekuatan tempurnya, namun mereka tidak tahu bahwa bukan cuma mereka yang sudah meningkatkan kekuatan, sia – sia saja mereka berusaha, lebih baik mereka bersujud tunduk dibawah kaki kita.” Lanjutnya, lalu mengulurkan tangan kanannya kepada Liang Wei.


Masih dengan tatapan kosong, Liang Wei mendongak melihat tangan kanan yang diulurkan Siluman itu.


Liang Wei pun mengulurkan tangan kanannya secara perlahan, Siluman itu tersenyum penuh kemenangan.


“benar raih tanganku, dengan adanya Kaisar lama, kejayaan Bangsa Siluman akan kembali.” Batin Siluman itu.


Tangan Liang Wei sebentar lagi meraih tangannya dan menjabatnya.


“plak” tanpa ia duga Liang Wei malah menampar punggung tangannya.


“apakah ini jawabanmu?.” Ucap Siluman Bertanduk Domba dengan nada meninggi, ia sungguh kesal dengan sifat keras kepala yang dimilki Liang Wei.


“aku bisa membawamu dengan paksa.” Sudah sangat frustasi, Siluman itu mencoba cara terakhir.


“silahkan saja, aku masih bisa menggunakan teknik terlarang itu untuk bereinkarnasi ke dunia lain.” Ancam Liang Wei.


Karena ucapannya itu Liang Wei mendapat tatapan tajam dari kedua Siluman itu. mereka berdua menghela napas panjang, tentu mereka tidak ingin hal itu terjadi.


“baiklah, jika itu maumu, namun jika kau berubah pikiran, kau bisa kembali sebelum 20 tahun.” ucap SIluman Bertanduk Domba masih mencoba membujuk Liang Wei.


“aku ingin melihat, apakah nantinya kau akan berjaya bersama kami, atau hancur bersama manusia lemah itu.” lanjutnya.

__ADS_1


Liang Wei hanya terdiam mendengar ucapan itu, saat ini perasaannya bercampur aduk.


Setelah mengucapkan kata – kata tadi, kedua Siluman itu menghilang begitu saja.


Liang Wei kemudian mengalihkan pandangannya pada Hong Cheung yang berbaring di pangkuannya.


Hong Cheung terlihat sangat lemah, darah keluar dari hidung dan mulutnya.


“ta-di, a-dalah pertama ka-kali kau memanggilku ayah.” Ucap Hong Cheung sambil tersenyum kepada Liang Wei, meski ia tersenyum, tercermin kesedihan di mata itu.


Mata Liang Wei berkaca – kaca mendengar perkataan Hong Cheung yang dengan susah payah ia sampaikan.


“a-ku tahu, ka-kau memanggilku ‘ayahanda guru’ ka-karena kau belum me-menerimaku sebagai ayahmu yang se-sebenarnya.”


Air mata Liang Wei akhirnya tanpa sadar terjatuh.


Sebelumnya ia memang tidak pernah menganggap Hong Cheung sebagai ayahnya, namun waktu yang mereka lalui bersama secara perlahan mengubah diri dan pribadi Liang Wei.


Dia awalnya hanya ingin memamfaatkan Hong Cheung, namun itu semua berubah, tanpa ia sadari kini ia merasa nyaman bergantung pada Hong Cheung dalam segala hal, meskipun Liang Wei selalu menyusahkannya, Hong Cheung dengan sabar membimbingnya.


Semua hal yang dilakukan Hong Cheung selalu memberi kehangatan dihatinya, hingga ia hampir lupa pada dirinya yang kejam dulu.


Di kehidupannya sebelumnya, ayah dan ibunya membuangnya, ia hanyalah sebatang kara yang beruntung memiliki kekuatan besar, sebatang kara yang tidak pernah mengerti apa itu kasih sayang.


Kini Liang Wei baru menyesal tidak memperlakukan Hong Cheung dengan baik, jika ia tahu ini akan terjadi, ia akan selalu mematuhi semua perintah dan ucapan Hong Cheung tanpa mengeluh.


“a-ambil i-ni.” Hong Cheung menyentuh tangan Liang Wei, seluruh benda yang berada di ruang dimensinya berpindah ke ruang dimensi Liang Wei.


Liang Wei hanya diam membiarkan Hong Cheung melakukan apa yang ia mau.


“anakku, a-aku malu me-manggil na-namamu, ta- pi i-zinkan aku un-tuk yang terakhir ka-li.”


Liang Wei hanya mengangguk, ia tidak bisa berkata – kata lagi, karena ia tahu betul, jika ia mengeluarkan satu kata saja, air matanya tidak akan bisa ia bendung lagi.


“Wei er anakku, a-aku men-cintaimu.” setitik air keluar dari sudut matanya, namun Hong Cheung mengucapkan itu sambil tersenyum penuh kebahagiaan.


Tidak lama setelah itu ia jadi terdiam, napasnya tidak berhembus lagi, dan jantungnya telah berhenti berdetak.


Ucapan itu merupakan kata – kata terakhir Hong Cheung sebelum ia menghembuskan napas terakhir.

__ADS_1


Sampai akhir hayatnya ia masih menunjukkan senyum kepada Liang Wei, seakan mengisyaratkan bahwa ia sangat bahagia dan tidak pernah menyesal memiliki Liang Wei.


“ayaaaaah!!!” teriak Liang Wei sambil memeluk tubuh Hong Cheung.


Liang Wei akhirnya menangis sejadi – jadinya, ia tidak pernah merasa sesedih ini sebelumnya, hatinya benar – benar hancur.


Liang Wei terus menangis dalam waktu yang lama.  Kaisar Aiguo dan Para petinggi yang tadi pingsan di ruangan itu tersadar satu persatu.


Kaisar Aiguo dan Para Petinggi menatap sedih Liang Wei, mereka tahu itu semua adalah perbuatan Kedua Siluman tadi.


Hong Bingwen juga terbangun, ia yang terbangun paling terakhir, pemandangan pertama yang ia lihat sama dengan yang Kaisar dan Para Petinggi lihat, yaitu Liang Wei yang menangis memeluk tubuh Hong Cheung yang sudah tidak bernyawa.


Hong Bingwen juga merasakan kesedihan yang sama dengan Liang Wei, itu wajar karena mereka adalah saudara kandung, namun Ia mengendalikan air matanya agar tidak jatuh dengan deras, meski begitu, terlihat ia berusaha keras menahannya.


“sudahlah nak, aku juga merasa sedih, tapi kita tidak boleh terlalu larut dalam kesedihan.” Ucap Hong Bingwen mencoba menenangkan Liang Wei.


Liang Wei tidak menanggapi perkataan Hong Bingwen. Ia masih terus memeluk tubuh Hong Cheung.


“tinggalkan aku sendiri.” Ucapnya dengan suara yang serak.


Hong Bingwen dan yang lainnya mengerti bahwa Liang Wei butuh waktu untuk meraih ketenangannya kembali, maka dari itu mereka meninggalkan Liang Wei di ruangan itu.


Tidak lama setelah itu, Liang Wei memapah tubuh Hong Cheung yang 3 kali lebih besar dari tubuhnya yang mungil.


Langkah Liang Wei penuh putus asa, namun ia tetap melangkah berniat mengubur tubuh Hong Cheung.


Liang Wei menuju ke belakang bangunan itu, perlahan tapi pasti dia tiba di tempat tujuannya, ia membuat tempat peristirahatan terakhir untuk Hong Cheung.


Sesudah menguburkan Hong Cheung, ia mengusap air matanya dan berusaha untuk tidak bersedih  lagi.


“aku akan membalaskan dendammu ayah. Aku tidak peduli harus melawan Bangsaku sendiri, bahkan jika itu adalah Dewa, aku akan tetap melawannya.” Ucap Liang Wei penuh tekad.


“wossh” tiba – tiba saja seseorang yang mencurigakan muncul di belakang Liang Wei, Liang Wei dapat merasakan angin yang berhembus akibat pergerakan orang itu.


“dia dari tadi mengikutiku, apa yang dia inginkan?.” Batin Liang Wei merasa kesal harus menghadapi musuh dengan suasana hati yang kacau.


Liang Wei reflek berbalik dan memberikan serangan.


 

__ADS_1


 


__ADS_2