Reinkarnasi Kaisar Siluman

Reinkarnasi Kaisar Siluman
Permainan dan Siasat Liang Wei


__ADS_3

“Aku sudah menunggumu sejak tadi, suamiku.”


“Kau membawanya kesini?, bagus!.”


Liang Wei melihat Jing Mao bersama orang yang akan diinterogasi.


Saat pandangan Liang Wei jatuh pada orang itu, ia tiba – tiba merasa tidak senang. Lalu, ia menoleh ke Jing Mao yang berdiri di dekatnya.


‘Bukankah kau terlalu berlebihan?.’ Suara terdengar di dalam kepala Jing Mao.


Seluruh tubuh penuh luka dan bekas darah yang mengering, tangan dan kaki sudah patah, dantiannya tersegel, sehingga orang itu tak ada bedanya dengan manusia biasa.


Liang Wei khawatir, orang itu akan putus asa bahkan sebelum ia menjalankan siasatnya.


Jing Mao menggaruk belakang kepalanya dan tertawa canggung


‘Maaf suamiku, aku terlalu terbawa suasana.’


Jing Mao kuat dan cerdas, ia akan jadi sempurna jika tanpa kepolosan yang seringkali membuatnya ceroboh.


Liang Wei menggelengkan kepala dan menghela napas. meski Jing Mao berbuat salah, tapi Liang Wei tetap memberinya pujian dengan mengelus kepalanya.


Jing Mao merasa senang dan nyaman dalam hati, ia ingin meminta hal lain jika saja Liang Wei tidak ada urusan lain.


Liang Wei berjongkok, lalu memindai pria yang mulutnya disumpal kain dan di ikat dalam posisi berbaring itu dengan seksama.


Setelah itu, Liang Wei melepaskan kain yang menyumpal mulut orang itu.


“Kau adalah bawahan Cao Pi, bukan?.”


Nada suara Liang Wei biasa saja dan tak mengintimidasi, ia memiliki alasan tersendiri melakukan itu.


Mata pria itu membelalak. ‘Bagaimana dia bisa tahu?’


Liang Wei tersenyum saat melihat raut wajah yang sesuai harapannya itu.


Sebenarnya Liang Wei hanya asal menebak, tapi ternyata tebakannya benar.


“Mengapa kau begitu percaya pada pengkhianat itu?.” Liang Wei menunjukkan raut wajah heran.


“Apa maksudmu bocah sialan?.” Meski tubuhnya dipenuhi luka, namun suaranya masih tegas dan tidak menunjukkan tanda – tanda ketakutan.


Ia tidak ketakutan mungkin karena melihat Liang Wei yang tubuhnya mungil dan kelihatan lemah.


“Lihatlah aku sekarang, aku terperangkap dalam tubuh kecil ini akibat ulahnya.”


Liang Wei melepaskan kalungnya dan mengeluarkan sedikit auranya, tampak sesuatu berwarna hitam keluar dari seluruh tubuh Liang Wei.


“Apa?, Kau juga Pendekar Aliran Hitam?.” Pria itu kaget menyaksikan sesuatu di depan matanya.

__ADS_1


Mungkin jika hanya dengan kata – kata, ia tidak akan percaya, tapi suara berat Liang Wei dan aura hitam itu menunjukkan bahwa Liang Wei tidaklah berbohong.


Liang Wei memang tidak berbohong bahwa ia Pendekar Aliran Hitam, tapi ia tidak mengatakan bahwa setiap kata – katanya adalah kejujuran.


“Kau benar, tapi tidak sepenuhnya benar, lebih tepatnya aku adalah Pendekar Aliran Hitam yang telah dikhianati oleh Cao Pi sialan itu!.”


Liang Wei menunduk dan menutup wajahnya dengan lengan jubahnya, tak berapa lama, tubuh Liang Wei gemetaran seperti orang menangis.


“Apa yang Tuan Cao Pi lakukan padamu?.”


Mendengar pertanyaan itu, Liang Wei menyeringai dibalik lengan jubahnya. Ia mulai berbicara dengan suara yang sendu.


“Cao Pi sialan itu telah menjadikanku tumbal untuk melarikan diri. Beruntung aku bisa menyelamatkan diri bersama istriku.”


Liang Wei masih belum melepaskan lengah jubah itu dari wajahnya, ia hanya menggerakkan tangannya sebelah untuk menunjuk Jing Mao.


Jing Mao tahu bahwa Liang Wei memintanya untuk mendukung permainan interogasi halus itu.


Jing Mao memulai permainannya, ia berlutut, lalu memeluk tubuh dan membenamkan wajahnya di dada Liang Wei.


“Suamiku, kita harus bersabar menghadapi pengkhianatan orang itu.” ucapnya dengan tangis yang dibuat – buat.


Jing Mao mendalami dan menikmati permainannya sendiri sambil mengendus aroma tubuh yang sudah lama tidak ia rasakan.


‘Woy!, kau jangan berlebihan!’ Ucap Liang Wei melalui telepati.


‘Baiklah, lakukan seperti itu’ Akhirnya Liang Wei mengalah.


Pria itu tidak menyadari sandiwara keduanya, sehingga ia mulai percaya kepada Liang Wei dan mulai meragukan kepercayaannya kepada Cao Pi.


‘Jika kedua orang ini jujur, berarti Tuan Cao Pi telah melakukan hal yang sama kepadaku’


Liang Wei melepaskan lengah jubahnya, lalu menatap orang itu dengan matanya yang sembab.


Mata sembabnya itu bukan karena menangis, tapi karena ia telah menaruh sesuatu di lengah jubahnya, sehingga air matanya keluar secara paksa.


“Apa kau tahu mengapa Cao Pi tidak berada di Kekaisaran ini?.”


Liang Wei membuat seolah – olah ia tahu di mana Cao Pi berada, padahal sebenarnya ia hanya menduga bahwa Cao Pi sedang berada di Kekaisaran Yang, dan pertanyaan yang ia berikan kepada pria itu bertujuan untuk memastikan dugaannya.


“Kenapa?.”


Menjawab dengan bertanya, secara tidak langsung pria itu membenarkan dugaan Liang Wei, karena ia tidak membantah bahwa Cao Pi tidak berada di Kekaisaran Yin.


Liang Wei tertawa dalam hati karena ia tidak merasakan dusta dari perkataan pria itu.


Jika saja Liang Wei mendapatkan kedustaan pada kata – kata orang itu, maka ia akan kebingungan mencari cara untuk mengetahui keberadaan Cao Pi.


Setelah berhasil mendapatkan informasi penting, ia menjawab pertanyaan orang itu.

__ADS_1


“Dia tidak berada disini karena ia ingin menumbalkan kita untuk menguras tenaga musuh.”


“Dan pada akhirnya dia akan mengambil keuntungan mengalahkan musuh dengan mudah.”


“Kita tidak  mendapat apa – apa selain kematian, sedangkan dia akan mendapatkan harta dan wanita.”


Liang Wei menegaskan kata – katanya untuk membuat orang itu berpikir bahwa semua itu adalah kelicikan Cao Pi yang ingin mencapai tujuan tanpa memikirkan nyawa para pengikutnya.


Namun pria itu meragukan perkataan itu. “Itu tidak masuk akal.” Ucap Pria itu.


“Kenapa menurutmu itu tidak masuk akal?, musuh memiliki Pendekar tingkat Mutlak, sedangkan seluruh Pendekar tingkat Mutlak kita tidak berada di sini.”


Menghadapi Pendekar tingkat Mutlak tanpa Pendekar tingkat Mutlak sudah pasti mencari mati.


Jika pria itu tidak percaya pada argumennya, maka Liang Wei harus menggunakan cara terakhir untuk mendapatkan informasi.


Yaitu mengambil ingatannya secara paksa, tapi jika Liang Wei melakukan itu, maka orang itu akan mati dan Liang Wei tidak bisa memanfaatkannya lagi.


Sejak awal, tujuan Liang Wei selain mencari informasi adalah mengacaukan musuh dari dalam. Maka dari itu, ia sangat menyayangkan jika orang itu mati.


“Meski benar seperti yang kau katakan, tapi itu tidak sejalan dengan tindakan kalian yang mencurigakan!.”


Pria itu mengakui bahwa kata – kata Liang Wei memang sangat meyakinkan, tetapi Liang Wei dan Jing Mao mencurigakan, sehingga pria itu meragukannya.


“Wanitamu itu sangat mencurigakan, dia menghajar dan menyekapku!”


“Kau juga mencurigakan, jika kita memang rekan, kenapa kau tidak melepaskan ikatan ini?.”


Orang itu cukup cerdas, tapi Liang Wei lebih cerdas.


“Jika kami tidak melakukan itu padamu, apakah kau akan mendengarkan kata – kata kami seperti tadi?.”


Jika dia tidak disekap, tentu saja dia akan bertarung sampai mati daripada berbicara.


“Baiklah aku tidak meragukan kalian lagi. tapi aku tidak percaya sesuatu yang tanpa bukti.”


Dari perkataan orang itu, Liang Wei memutuskan untuk tidak menggunakan cara terakhir.


Alasannya, karena ia tahu, bahwa orang itu sudah percaya pada kata – katanya, namun hanya ingin memastikannya melalui bukti.


“Baiklah, jika kau ingin bukti, silahkan pastikan sendiri!.”


“Setelah aku melepaskanmu, carilah para rekanmu, apakah mereka tetap berada di Kekaisaran ini?, atau sudah meninggalkanmu karena menyadari kelicikan Cao Pi.”


Liang Wei melepaskan ikatan orang itu sekaligus melepaskan segel pada dantiannya, lalu, menghilang dari tempat itu bersama Jing Mao.


Pria itu tidak akan pernah mendapatkan rekan – rekannya di Ibukota, karena Jing Mao telah menghabisinya.


Liang Wei tahu bahwa mereka bergerak sendiri – sendiri, jadi, pasti pria itu tidak tahu apa yang telah terjadi pada rekan – rekannya.

__ADS_1


__ADS_2