
“Kau bahkan tidak dapat mengayunkan pedangmu dengan benar.”
Lu Bian menertawakan teknik pedang Liang Wei yang terlihat sangat amatir. tapi detik selanjutnya dia bahkan tak mampu tertawa lagi.
5 langkah sebelum ia berhasil menusukkan pedangnya pada Liang Wei, ia tiba – tiba merasakan ada yang salah pada tubuhnya, pedang yang ia pegang terjatuh.
Kedua lengannya tidaklah putus, tapi ia tidak dapat lagi merasakannya, kini kedua lengan itu hanya bergerak karena tiupan angin, hal itu membuat ia langsung menghentikan langkahnya.
‘Apa yang bocah itu lakukan padaku?’ pikirnya.
Ia tampak sangat marah dan ingin mengucapkan sumpah serapah kepada Liang Wei, namun suaranya tidak kunjung keluar. Bahkan ia mencoba untuk telepati dan itu tidak bisa.
Pada akhirnya ia hanya bisa menunjukkan kemarahannya lewat tatapan tajam dari matanya.
Melihat itu, Liang Wei tersenyum tanpa menyipitkan mata, ia bisa menebak apa yang ada dalam pikiran Lu Bian “Apa kau kaget karena itu tidak terasa sama sekali?.”
Mendengar itu, membuat Lu Bian terlihat semakin marah, di saat yang sama matanya memberitahu Liang Wei, bahwa ia tidak tahu apa yang terjadi pada dirinya.
“Kau tidak tahu apa yang terjadi pada tubuhmu, yah?. Aku tidak keberatan memberitahumu..”
“.. Aku hanya menumbalkan beberapa bagian tubuhmu pada sesuatu yang disebut Roh Hitam..”
“..Roh Hitam itu seperti namanya, ia hanya akan menelan sejenisnya (roh) tanpa melukai tubuh fisik..”
“.. Tapi dampaknya membuat tubuh fisik tidak berfungsi. Dalam kasusmu, aku telah menumbalkan kedua lengan dan benda pada tenggorokan yang memberimu kemampuan berbicara..”
Itulah sebabnya mengapa Lu Bian tak mampu menggerakkan kedua lengan, juga menjadi bisu dan tak dapat melakukan telepati.
“..Omong – omong, sesuatu yang ditumbalkan tidak akan pernah bisa disembuhkan lagi, dengan kata lain, kau sudah cacat!.”
‘cacat’
‘cacat’
Bagai petir yang menyambar tubuh Lu Bian, ia dipaksa menerima kenyataan itu, bagi seorang Pendekar, lengan adalah hal terpenting, jika tak ada lengan maka tak ada pedang, artinya lebih dari setengah kekuatannya telah menghilang bagai angin.
Ia hanya bisa merutuki Liang Wei dari dalam hatinya. di saat yang sama, ia juga menyesali kebodohannya.
Seandainya sejak awal ia tidak meremehkan Liang Wei, atau lebih tepatnya, seandainya sejak awal ia tidak menghadapi Liang Wei, maka ia tidak akan mengalaminya.
Depresi, putus asa, ia terjatuh dalam posisi berlutut sambil menundukkan kepala, sekarang ia hanya bisa pasrah jika Liang Wei menjadi malaikat mautnya.
“Jangan memasang wajah suram seperti itu, aku akan membiarkanmu tetap hidup!.”
Mendengar perkataan itu, Ia mendongak menatap Liang Wei ‘Hidup?’
Bagi Lu Bian, itu ada baiknya, ia tidak percaya bahwa dalam dunia Pendekar, ada sesuatu yang tidak dapat disembuhkan selain dantian yang rusak.
Ia menyeringai memikirkan sesuatu ‘Bagus bocah bodoh, biarkan aku tetap hidup, dan aku akan menuntut balas di masa depan!’
Saat ia sibuk memikirkan ambisinya, Liang Wei melanjutkan perkataannya.
“Aku pun akan memberikanmu ini dengan suka rela, gunakan sebaik mungkin agar kau dapat meningkatkan kekuatanmu!.”
Liang Wei menghilang dan muncul tepat di hadapan Lu Bian, ia lalu menyisipkan kitab hitam di balik jubah Lu Bian.
Di waktu yang sama ia membawa tubuh Lu Bian menghilang bersamanya.
--
Zhang Bingjie masih melayang di udara bersama rekan- rekannya, yang mereka lakukan sejak tadi adalah menunggu.
__ADS_1
“Ini sudah hampir setengah jam, namun orang yang menulis pesan itu belum juga menampakkan diri.”
Walau belum terlalu lama, salah satu rekan Zhang Bingjie sudah lelah menunggu, yang ia lakukan sepanjang waktu hanya melihat kebawah menatap bayangannya sendiri.
‘Tunggulah disini, dan kalian akan mendapatkan Kitab Hitam itu’ itulah isi pesan yang tercetak di antara rumput - rumput itu.
“Hey, lihat itu!, ada dua orang yang muncul dari bayangan kita.” Ia yang sejak tadi menatap bayangannya sendiri, dikagetkan dengan kemunculan keduanya.
“Aku telah memberikan Kitab itu padanya, dia menyimpannya di balik jubah, sekarang ambil sendiri darinya..” ucap Liang Wei dengan santai, lalu memberi jeda pada kata - katanya.
“.. katanya dia tidak takut kepada kalian, dia bahkan berkata bahwa kalian adalah sekutu yang bodoh!.”
Perkataan terakhir ia ucapkan dengan nada meremehkan.
Lu Bian menatap tajam Liang Wei penuh kebencian. Liang Wei hanya tertawa dalam hati dan mengirim pesan telepati kepada Lu Bian
‘Aku akan membiarkanmu tetap hidup, tapi aku tidak yakin jika mereka mau melakukan hal yang sama’
Setelah itu, ia kembali memasuki bayangannya dan menghilang dari tempat itu.
Lu Bian hanya bisa mengutuknya dalam hati, karena kini ia mendapat tatapan permusuhan dari Zhang Bingjie.
“Aku tidak menyangka bahwa kau berani menunjukkan keserakahanmu di depanku.”
Zhang Bingjie tersenyum ramah saat mengatakannya, namun siapapun mengerti bahwa itu adalah pertanda buruk.
Zhang Bingjie tidak percaya apapun selain apa yang ia lihat, penyebab ia percaya pada kata – kata Liang Wei, karena melihat dengan jelas bahwa kitab itu memang berada di balik jubah Lu Bian.
Lu Bian sangat mengerti situasinya sekarang, jika hanya berdiam diri saja, sudah pasti ia tewas oleh kelima orang yang lebih kuat darinya, maka dari itu ia langsung melarikan diri.
Semua itu karena ia tidak dapat mengeluarkan suara maupun melakukan telepati, sehingga ia tidak dapat menjelaskan kebenarannya kepada mereka.
“Jangan sisakan setitikpun bagian tubuhnya!.” Zhang Bingjie bersama rekannya tanpa buang waktu langsung bergerak.
Hal yang terjadi sudah bisa diperkirakan, tanpa butuh waktu yang lama, ledakan demi ledakan dengan brutal menggema di hutan itu, membuat banyak hewan berlarian kesana kemari dengan panik karena ledakan itu menghanguskan hutan di area itu.
Zhang Bingjie mengambil Kitab Hitam dengan mudah. Lalu, bersama rekan – rekannya ia menghabisi Lu Bian berkeping keping.
Setelah mendapatkan Kitab itu dan memastikan keasliannya, kelompok Zhang Bingjie langsung menghilang entah kemana.
--
Liang Wei muncul kembali di penjara bawah tanah, kini ia harus menghadapi bawahan Lu Bian.
Tatapan tajam Liang Wei tak pernah lepas dari orang yang kini mengarahkan pedang pada Lin Lixue.
“Ada apa bocah?, kenapa kau kembali sangat cepat, apakah Tuanku berubah pikiran dan memerintahkanmu untuk melawanku?.” Orang itu cukup santai walau terlihat mengancam.
Liang Wei berniat memprovokasinya “Apa kau cukup kuat untuk menghadapiku?, Tuanmu saja telah kukalahka…”
Belum sempat Liang Wei menyelesaikan ucapannya, orang itu sudah memotong ucapannya “Benarkah?, kalau begitu sekarang aku bebas mencari wanita cantik!.”
Liang Wei tidak merasakan kebohongan pada kata – katanya, dengan kata lain orang itu benar – benar tidak suka menjadi bawahan Lu Bian.
Ia dengan santai melewati Liang Wei dan bergumam “tunggu aku wanita cantik.” Lidahnya menjulur dan liurnya terjatuh bagai sejenis hewan yang bisa menggonggong.
Liang Wei sempat memijat keningnya karena tidak percaya dengan apa yang ia lihat. setelah itu ia langsung menyelamatkan Lin Lixue.
“Mundur sedikit!.”
Lin Lixue langsung mundur kebelakang, Satu Pedang Kaisar Siluman di tangan kanan Liang Wei diayunkan dengan ringan, namun efeknya mampu melelehkan jeruji yang ia sentuh.
__ADS_1
Jeruji itu tak lagi menghalangi Liang Wei, ia pun melangkah dengan cepat dan memangku kepala Lin Lixue.
Kekhawatiran tergambar jelas pada wajah Liang Wei, saat ia mengusap rambut Lin Lixue yang sedang berbaring di pangkuannya.
“Xue’er Apa kau tidak apa – apa?.” Kali ini Liang Wei tak memanggilnya ‘gadis aneh’, itu adalah ejekan kepadanya, dan bukan waktu yang tepat untuk menggunakan julukan itu.
Lin Lixue hanya tersenyum dan menjawabnya dengan anggukan.
“Maaf, kata – kataku tadi sangat kejam dan bahkan terkesan tak mempedulikanmu.” Liang Wei menyesali perkataan kejamnya, ia tahu itu, namun tak ada lagi cara lain yang bisa terpikir olehnya.
“Tidak apa – apa, apakah kau terluka?.” Tubuhnya sendiri sudah penuh luka, masih saja Lin Lixue mempedulikan keadaan Liang Wei.
“Dasar Gadis Bodoh, kita obati lukamu terlebih dahulu!.”
“Jawab aku!.”
Sifat keras kepala Lin Lixue, membuat Liang Wei harus menjawab pertanyaan itu, ia pun tak ingin berdebat, agar Lin Lixue dapat cepat diobati.
“Seperti yang kau lihat, aku tidak apa – apa, mereka terlalu lemah untuk melukaiku!.” Liang Wei mengucapkannya dengan sombong dan bangga.
“Syukurlah!.” Lin Lixue memegangi pipi Liang Wei dengan tangan kanannya yang penuh luka.
“Omong – omong, kau sekarang menyahut perkataanku?.” Itu yang membuat Liang Wei bingung.
“Karena kau sudah memanggil ‘nama’ ku.”
“Jadi selama ini karena itu?.” Liang Wei mengerutkan keningnya, wajahnya seakan tidak percaya, jika saja dari dulu ia tahu, mungkin ia tidak akan pernah memanggilnya gadis aneh.
“Pemikiran perempuan sebenarnya sangat sederhana, yang memperumitnya adalah laki - laki penuh logika seperti kau.” Jawab Lin Lixue dengan tawa ringan.
Liang Wei menghela napas dan berkata “Baiklah, aku berjanji, di masa depan nanti aku tidak akan memanggilmu ‘Gadis Aneh’ .”
“Emm.” Lin Lixue mengangguk dan tersenyum tipis.
“Kita rawat lukamu terlebih dahulu.” Liang Wei mengeluarkan obat dari ruang dimensionalnya.
--
Di Hutan sebelum Ibukota…
Jing Mao tersentak. lalu, mengendus udara dan tiba – tiba menjadi kesal “Apa ini?, aku mencium aroma perselingkuhan!.”
Ia akan pergi jika tidak mengingat perintah dari Liang Wei untuk tetap berada di situ.
“Datanglah cepat ke sini suamiku, dan mari kita lihat dengan siapa kali ini kau berselingkuh!.”
Urat di dahinya sudah berkedut, dan wajahnya sudah merah padam menahan amarah.
--
Setelah beberapa saat, kondisi Lin Lixue berangsur membaik, itu berkat obat yang diberikan Liang Wei, obat yang ia dapatkan dari Hong Cheung.
Liang Wei tidak tahu bahwa itu sangat mujarab, ia hanya tahu bahwa itu obat untuk luka, karena Hong Cheung pernah menggunakan yang serupa pada saat ia latihan.
“Baiklah, karena kau sudah membaik, mari kita pergi dari sini!.” Liang Wei menggenggam tangan Lin Lixue dan menghilang dari tempat itu.
Liang Wei dan Lin Lixue muncul ditempat Jing Mao berada…
“Ayo kita menuju ke Ibukot..”
“Jadi ini selingkuhanmu?.” Belum sempat menyelesaikan ucapannya, Liang Wei langsung disambut dengan pertanyaan dan bentakan Jing Mao.
__ADS_1