
“Pulihkan tenaga dalam kalian dan lawan aku setelahnya.”
Liang Wei mempersilahkan mereka untuk mengisi tenaga dalam sebelum bertarung dengannya, Kedua orang itu menentang dengan keras.
“Aku tidak butuh beristirahat hanya untuk melawan orang lemah sepertimu.” Kata Zhou Wen yang penampilannya seperti remaja berusia 25 tahun.
“Bocah, mari kita langsung mulai saja, agar kau bisa pulang tidur, aku yakin sebentar lagi akan tiba jam tidur anak kecil.” Ejek Xie Nuo yang penampilannya seperti gadis berusia 20 tahun.
Suara tawa orang – orang di pinggir lapangan membenarkan ejekan itu.
Liang Wei tidak peduli, ia bahkan melengkungkan sebelah ujung bibirnya.
“Aku tidak mau jika kalian kalah, kalian akan beralasan bahwa kalian hanya kehabisan tenaga dalam atau aku curang.”
Dua alasan itu adalah cara para pengecut yang tidak mau mengakui kekalahannya.
“Itu tidak perlu, Aku Zhou Wen!, jika aku kalah, aku tidak akan beralasan seperti pengecut. para murid ini akan jadi saksi.”
Zhou Wen memberikan tenaga dalam pada suaranya, agar semua murid dapat mendengarnya.
“Aku pun demikian, jika aku kalah, aku tidak akan menganggap bahwa Liang Wei curang dalam kemenangannya.”
Xie Nuo melakukan hal yang sama, sehingga para murid dapat dengan jelas mendengarkan pengakuannya.
“Aku Liang Wei, akan menggunakan cara yang adil untuk membuat kedua orang ini malu.” Liang Wei juga melakukan hal yang sama.
Suara tawa dari para murid yang sedari awal tidak ikut bertarung terdengar dari sisi lapangan yang lain.
“Kau!.” Kedua orang itu tersulut amarah akibat provokasi Liang Wei.
“Mari berhenti bersilat lidah dan kita buktikan dengan cara Pendekar.” Tantang Liang Wei kepada kedua orang itu.
Kedua orang itu sudah memegang pedangnya, sedangkan Liang Wei hanya menggunakan tangan kosong.
“Keluarkan pedangmu!.” Zhou Wen menyuruh Liang Wei melakukannya.
“Tidak, aku hanya seperti ini, dan sudah kubilang mari kita lakukan dengan cara Pendekar!.”
Itu jelas – jelas mengejek mereka berdua, Zhou Wen dan Xie Nuo pun menyerang secara bersamaan.
Kedua murid yang sebenarnya berusia lebih dari 150 tahun itu berlari dan menusukkan pedangnya ke depan secara terang – terangan kepada Liang Wei yang masih santai duduk di atas panggung.
“Mati kau bocah!.” Bagi Zhou Wen, mustahil Liang Wei dapat menghindari Pedang yang tinggal 2 jari dari jantungnya.
Xie Nuo pun memikirkan hal yang sama “Sepertinya, kesombonganmu cukup sampai disini bocah!.”
Boom!!!
__ADS_1
Seisi panggung itu penuh debu dan asap yang menghalangi pandangan mata.
Di pinggir lapangan…
“Berakhir sudah, senior Zhou dan Xia adalah dua murid terkuat, ledakan itu menandakan bahwa bocah itu telah hancur tak menyisakan setitikpun bagian tubuhnya.”
“Mereka berdua pasti sudah membunuh murid nomor 1 palsu itu.”
“Orang lemah itu pasti tidak berumur panjang!.”
Berbagai cemoohan datang dari para murid yang terluka dari pertarungan sebelumnya.
Di atas panggung, asap mulai menghilang dan pandangan yang terbatas sebelumnya perlahan mulai jelas.
Dua orang berdiri di atas panggung yang lantainya telah hancur.
“Dia pasti sudah hancur berkeping keping oleh teknik kita.” Zhou Wen mempercayai dugaanya itu, karena Liang Wei sudah tidak berada pada tempatnya.
“Aku yakin demikian.” Xie Nuo setuju.
Mereka berdua pun tertawa untuk merayakan kemenangannya.
“Hoaam. Sudah terlalu lama kalian tertawa di panggung itu, kalian seperti sedang bersandiwara lawak saja.”
Liang Wei mengantuk duduk dengan kursinya di tengah lapangan melihat pertunjukan dua orang itu.
Para murid di pinggir lapangan juga tidak kalah kaget, bahkan ada beberapa dari mereka yang sampai berdiri karena tidak percaya dengan apa yang telah ia saksikan.
Kedua murid di atas panggung sudah bernapas dengan pendek dan memburu.
“Kalian bahkan sudah tidak memiliki kekuatan untuk berbicara, Sepertinya tadi itu merupakan tenaga dalam terakhir kalian.”
Tebakan Liang Wei tepat sasaran, kedua orang di atas panggung sudah di ambang batas, jika dilanjutkan lagi maka keduanya bisa saja pingsan.
“Saranku lebih baik kalian menyerah!.”
Tetapi, menyerah berarti juga menyerahkan harga diri keduanya, dan kedua orang dengan harga diri setinggi langit itu tidak mungkin menerimanya.
“Huf, Huf, Huf, tutup mulutmu bocah.” Suara Zhou Wen sudah tidak bertenaga, seluruh tubuhnya yang sudah gemetaran karena lelah.
Xie Nuo pun sama, ia bahkan tidak ingin berbicara karena merasa sangat lelah.
“Lihatlah kebodohan kalian!, kalian telah menghabiskan sisa tenaga untuk tertawa dan merayakan kemenangan yang belum kalian pastikan!.”
Teguran keras itu membuat Zhou Wen dan Xie Nuo hanya bisa diam kali ini.
“Jika itu adalah Perang, apakah kalian tidak akan memulihkan tenaga dalam hanya karena meremehkan musuh?.”
__ADS_1
Para murid di pinggir lapangan yang tadinya mengejek Liang Wei, kini mengangguk setuju pada perkataan Liang Wei, bahasa tubuh mereka menunjukkan bahwa kata – kata Liang Wei sepenuhnya tidak salah.
“Jika aku adalah musuh, mungkin kalian sudah mati berkali – kali!.”
Liang Wei menutup kalimatnya, kedua orang itu merenungi perkataan Liang Wei.
Mereka baru menyadari, sejak awal Liang Wei telah mencoba menegur keduanya, bahwa harga diri adalah hal yang tidak boleh dikedepankan dalam perang.
Tidak ada salahnya bertindak seolah – oleh menjadi seorang pengecut yang berlari memulihkan diri.
Karena pada akhirnya, dengan memenangkan perang itu sendiri, harga diri seorang pendekar akan kembali, bahkan itu bisa dibanggakan.
“Kami mengaku kalah!.”
Mereka berdua tidak akan menghapus bekas cambuk di hati mereka, teguran itu berhasil mengenai mereka secara telak, sehingga memberikan mereka pelajaran yang sangat berharga.
“Pulihkan tenaga dalam kalian, atau itu akan berakibat buruk pada tubuh kalian!.” Ucap Liang Wei.
Beberapa saat kemudian, Zhou Wen dan Xie Nuo telah memulihkan tenaga dalamnya.
“Aku punya permintaan padamu junior.” Zhou Wen kini berucap lebih sopan kepada Liang Wei.
“Aku tidak akan membantu jika aku tidak suka.” Liang Wei jujur, bahwa ia tidak akan meladeni hal yang tidak penting.
“Baiklah, Aku masih penasaran dengan kekuatan junior.”
Liang Wei sangat paham maksud perkataan Zhou Wen, ia masih berniat menguji atau bertarung dengan Liang Wei.
Liang Wei menghela napas sebelum menyetujuinya
“Baiklah, Silahkan datang!.” Liang Wei berdiri dari tempat duduknya, lalu memasang kuda – kuda.
“Apakah junior masih tidak menggunakan pedang?.”
“Ada alasan dibalik itu, mari kita mulai saja.” Alasannya, Ia tidak ingin membunuh Zhou Wen.
Zhou Wen berlari dengan kecepatan yang luar biasa, tidak butuh waktu lama, dia sudah berada satu langkah dari tempat Liang Wei berdiri.
Zhou Wen menebaskan pedangnya dari atas kebawah, tujuannya tidak lain untuk membelah Liang Wei
Liang Wei merasakan hal aneh pada aura yang keluar dari tubuh Zhou Wen.
‘Gawat, Dia menggunakan Jimat Terlarang untuk meningkatkan kekuatannya secara drastis!.’
Mata Liang Wei membelalak, kelihatannya Zhou Wen sudah menantikan celah yang Liang Wei tunjukkan.
Boom!
__ADS_1