
“Aku hanya akan menjawab yang ingin kujawab.”
Liang Wei duduk sambil menyandarkan tubuhnya dan menyilangkan kedua tangan di depan dada.
Lalu, ia menatap Keluarga Kekaisaran dari kiri ke kanan dan berakhir pada Kaisar Aiguo.
Kaisar Aiguo langsung tahu, bahwa itu adalah isyarat untuk tak melibatkan Keluarga Kekaisaran dalam pembahasan itu.
“Sejak awal aku tak berniat melibatkan mereka.”
Keluarga Kekaisaran pun keluar dari ruangan itu setelah Kaisar Aiguo memberi perintah.
Setelah Keluarga Kekaisaran Keluar “Kumis Uban, apakah pembahasan ini ada hubungannya dengan para bawahanmu?.”
Bawahan yang dimaksud Liang Wei adalah para Petinggi Kekaisaran termasuk para Bangsawan di bawah Kaisar.
“Bagaimana kau bisa tahu?.” Kaisar Aiguo kaget mendengar tebakan tepat sasaran itu.
Liang Wei tersenyum, melengkungkan satu ujung bibirnya.
“Sederhana saja, ini adalah tempat yang cocok untuk menghujat mereka.” Liang Wei mengucapkannya sambil menunjuk kebawah.
Meskipun terdengar seperti candaan, tetapi ada maksud serius dibalik perkataan itu.
Jika Kaisar Aiguo ingin membahas hal lain, maka ia seharusnya menjamu Liang Wei dan dua orang lainnya di Ruang Perjamuan.
Kaisar Aiguo cukup cerdas, jika ia menjamu mereka di Ruang Perjamuan, maka ia berkewajiban mengundang banyak orang termasuk para bawahannya.
Sedangkan, menjamu mereka di Ruang Makan Keluarga Kekaisaran, tidak memberinya kewajiban itu.
Dengan tidak adanya kewajiban itu, maka Kaisar akan dengan leluasa menentukan siapa saja yang bisa berada di Ruang Makan itu.
Di saat yang sama, ia juga akan dengan leluasa membahas tentang orang – orang yang tidak berada di ruangan itu.
“Hahaha, seperti yang diharapkan dari Sang Kilat Hitam.”
Kaisar Aiguo memuji Liang Wei yang bisa dengan mudah membaca pikirannya, Liang Ye pun mengangguk sambil tersenyum bangga, sedangkan Jenderal Ding hanya diam menyimak.
“Berhenti mengucapkan gelar konyol itu!.” Liang Wei cukup kesal dengan panggilan yang menurutnya terlalu berlebihan.
Kaisar Aiguo hanya tersenyum sambil menggelangkan kepala, kemudian berbicara.
“Kalau begitu aku akan langsung pada intinya…...”
Kaisar Aiguo bertanya tentang beberapa hal kepada Liang Wei.
Pertama, bagaimana cara Liang Wei mengetahui bahwa Bangsawan Tao adalah musuh yang menyamar?.
Kedua, Apakah Liang Wei bisa mengajarkan cara untuk melakukannya?.
__ADS_1
Ketiga, merupakan permintaan, Apakah Liang Wei bisa membantunya memeriksa para bawahannya?.
“…Hanya itu yang ingin ku tanyakan.” Tutup Kaisar Aiguo.
“ ‘Hanya’ menurutmu, terlalu banyak menurutku.”
Liang Wei mengucapkannya dengan nada datar, tapi, raut wajahnya menunjukkan bahwa ia bisa menjitak kepala Kaisar kapan saja.
Akibat kata – kata dan raut wajah Liang Wei, Kaisar Aiguo tertawa canggung. Sedangkan Liang Ye dan Jenderal Ding menunjukkan ketertarikan pada pembahasan itu.
“Lalu, apakah kau akan menjawabnya, nak?.” Yang bertanya bukanlah Kaisar, melainkan Jenderal Ding.
Liang Wei menghela napas sebelum berbicara “Baiklah, karena kalian orang yang bisa dipercaya, maka aku akan menjawab pertanyaan itu..”
“..Alasan mengapa aku bisa mengetahui bahwa Bangsawan Tao adalah musuh yang menyamar adalah karena keahlian tertentu yang hanya bisa digunakan oleh diriku sendiri..”
Liang Wei hanya mengatakannya seperti itu, karena tidak mungkin mengatakan bahwa ia bisa merasakan niat membunuh.
Niat membunuh adalah sesuatu yang tersembunyi di dalam jiwa, sedangkan aura membunuh adalah perwujudan dari niat itu sendiri.
Aura membunuh dapat dirasakan dengan indera peka seorang Pendekar. Namun niat membunuh tidak.
Hal yang dibutuhkan untuk merasakan niat membunuh adalah memahami niat membunuh itu sendiri.
Orang – orang yang dapat memahami niat membunuh adalah mereka yang telah membunuh banyak manusia dalam jumlah tertentu.
“..Karena hanya bisa digunakan oleh diriku sendiri, maka aku tidak bisa mengajarkannya kepada orang lain.”
Kaisar Aiguo dan Jenderal Ding tidak paham perkataan Liang Wei.
“Hanya bisa digunakan olehmu?, Tidak bisa diajarkan?.” Kata Kaisar Aiguo, mewakili Jenderal Ding yang juga ingin menanyakan hal yang sama.
“Dia memang memiliki sesuatu dalam dirinya.”
Raut wajah Liang Ye cukup serius saat mengucapkannya, menunjukkan bahwa itu adalah rahasia yang sangat besar.
‘Apakah dia tahu sesuatu tentang niat membunuh?’ napas Liang Wei tertahan, ia tiba – tiba keringat dingin memikirkannya.
Jika memang itu seperti yang Liang Wei pikirkan, maka bisa jadi Liang Ye tahu identitasnya.
“Ada benda yang disebut Jiwa Dewa di dalam tubuhnya.”
Setelah Liang Ye melanjutkan perkataannya, barulah Liang Wei menghela napas lega. Sedangkan, Kaisar Aiguo dan Jenderal Ding mengernyitkan dahinya.
“Apakah itu benar, nak?.” Tanya Kaisar Aiguo untuk memastikan kebenarannya.
“Itu benar.” Liang Wei mengangguk dan mengkonfirmasinya.
Liang Wei berpikir, lebih baik membuat ketiga orang itu percaya bahwa Jiwa Dewa dapat mendeteksi musuh, daripada harus mengungkap sesuatu tentang niat membunuh.
__ADS_1
“Kenapa anda baru memberitahu hal sepenting ini kepada kami, Leluhur?.”
Raut wajah Liang Ye berubah semakin serius, menunjukkan bahwa jawaban dari pertanyaan itu mungkin adalah hal yang tidak boleh diungkapkan sembarangan.
Kaisar Aiguo melelan ludah dengan kasar saat menerka – nerka tentang jawaban dari pertanyaan itu.
“Aku Lupa!.” Jawab Liang Ye dengan wajah memerah, ia malu karena telah benar – benar melupakan hal itu untuk waktu yang sangat lama.
Kaisar Aiguo dan Jenderal Ding hampir terjatuh dari kursinya. Akibat raut wajah serius Liang Ye di awal – awal, Mereka tidak berekspektasi akan mendapatkan jawaban seperti itu.
Setiap kali Kaisar Aiguo dan Liang Ye bertemu, mereka hanya membahas hal lain, sehingga Liang Ye selalu lupa mengatakannya.
“Akhhem, tidak usah permasalahkan lupa atau tidaknya aku, yang penting aku sudah memberitahu kalian.”
Liang Ye berdeham dan berbicara untuk mengurangi rasa malunya, tapi ucapannya seolah tak tahu malu.
“Mulai sekarang kita harus menjaga Jiwa Dewa itu bersama, dan untuk Liang Wei, bisakah kau membantuku untuk melakukan sesuatu?.”
Kaisar Aiguo tidak enak hati membahas sesuatu yang membuat leluhur malu, maka dari itu ia mengubah topik pembahasan.
“Katakan dulu permintaanmu, baru ku pertimbangkan bisa atau tidak.” Hanya Liang Wei yang bisa mengatakan tidak pada titah Kaisar.
“Ini sebenarnya salah satu dari 3 pertanyaan yang tadi, bisakah kau membantu memeriksa para bawahanku?.” Itulah tujuan Kaisar Aiguo yang sebenarnya.
Kaisar Aiguo diliputi kecemasan akibat perang besar yang akan segera terjadi, sehingga dia harus memastikan tidak ada mata – mata di antara para bawahannya.
“Aku bisa saja melakukannya, tapi aku tidak bisa melakukannya secara terang - terangan.”
Kaisar Aiguo mengerti, jika Liang Wei melakukannya secara terang – terangan, maka ia akan jadi incaran musuh, memiliki kemampuan mendeteksinya adalah ancaman terbesar bagi musuh.
“Kalau begitu, mari kita memikirkan beberapa rencana.” Kata Kaisar Aiguo sambil memegangi kumis berubannya.
“Tidak, mari kita atur beberapa sandiwara.” Liang Wei menyeringai memikirkan idenya.
Beberapa menit kemudian…
Mereka semua telah selesai membahas apa yang mereka bahas, termasuk beberapa sandiwara yang mereka rencanakan.
Liang Wei pun pamit dengan alasan masih ada beberapa hal yang harus ia urus.
Saat Liang Wei keluar dari Istana, hari sudah malam menjelang waktu tidur.
Wossh!
Liang Wei muncul di kamarnya yang berada di penginapan.
Ia harus tetap berada di situ, agar dapat memudahkannya mengetahui perkembangan informasi di Ibukota, sekaligus mengawasi jika ada musuh yang menyusup.
“Aku sudah menunggumu sejak tadi, suamiku.”
__ADS_1