
“Katakan cara agar aku tetap hidup, Ayah!.” Teriak Liang Wei yang emosional.
Seseorang muncul di dekat Hong Cheung dan mengucapkan sesuatu yang membuat perhatian terlalihkan kepadanya “Guru, apakah dia yang engkau maksud anak kandungku?.” Ucapnya sambil memindai Liang Wei dari atas hingga bawah.
“Liang Yi, Apa kau tidak lihat wajahnya sama sepertimu?.” Jawab Hong Cheung sambil menggelengkan kepala.
“Siapa kau kakek dengan wajah breng*ek.” Liang Wei kesal karena orang itu membuat Hong Chueng menunda jawabannya.
“Bukankah wajahku mirip denganmu?.” ucap Liang Yi dengan wajah datar.
Liang Wei tidak bodoh, ia tahu bahwa orang itu adalah ayah kandung dari tubuh manusianya, namun ia bukan orang yang merasakan ikatan batin tanpa sebuah proses, ayah kandung di kehidupan sebelumnya pun telah membuangnya, itulah mengapa ia tidak mudah merasa luluh.
“Tidak, kau sudah keriput!.” Bentak Liang Wei. “Cepat katakan ayah!.” Ia mengalihkan pandangan kepada Hong Cheung dan dengan tidak sabar menanyakan tentang hal itu lagi, jika ia bisa membuka ruang dimensionalnya maka itu bukanlah masalah, namun ia sudah mencobanya beberapa kali tapi tetap saja tidak bisa.
“Tanyakan itu kepada ayah kandungmu!.” Ucap Hong Cheung sambil melirik Liang Yi. Ia bisa menjawabnya sendiri, namun ia ingin memberikan waktu kepada Liang Yi dan Liang Wei untuk saling mengenal.
Liang Wei memutar bola mata dengan malas “Katakan!.” Ucapnya sambil menatap Liang Yi yang berdiri di dekat Hong Cheung.
Liang Yi berjalan hingga kedepan Liang Wei, dan tanpa ragu ia memegang dahi Liang Wei dengan ibu jarinya “arghhht” kepala Liang Wei tiba – tiba jadi sangat sakit. “apa yang kau lakukan si*lan?.” Bentaknya sambil menahan sakit sambil memegangi kepala dengan kedua tangannya.
Liang Wei bahkan menjatuhkan tubuhnya dan berguling guling menahan sakit kepalanya.
Hingga beberapa saat kemudian, Tiba – tiba saja mata Liang Wei membelalak, sakit kepalanya menghilang, ia mendapatkan banyak sekali ingatan dari Liang Yi, mulai dari teknik hingga cara menjadi seorang alkemis, serta penempaan.
Tak hanya itu, ia juga melihat seluruh kenangan dari sudut pandang Liang Yi, termasuk saat Liang Wei dilahirkan dari ibu manusianya dan dirawat hingga berumur setahun.
Namun satu hal dari kenangan itu membuat Liang Wei jadi murka. Ia melihat ayah dan ibunya dikejar dan dibunuh oleh orang yang telah Liang Wei temui sebelumnya.
Cao Pi adalah yang telah Liang Wei temui di Ibukota, ia bersekongkol dengan Zhang Bingjie dan pembunuh bayaran yang mengincarnya.
Tak hanya Cao Pi, Liang Wei pun mengingat Lu Bian yang merupakan orang yang ia lihat saat ujian seleksi penerimaan murid baru Perguruan Beladiri.
“Ingatan kuatku bisa menjadi kutukan pada diriku, namun juga bisa menjadi kutukan bagi musuhku.” Batin Liang Wei, tanpa sadar ia telah menanam dendam lain.
“Ayah maafkan perkataanku tadi!.” Ucapnya kepada Liang Yi dengan tulus, setelah ia melihat kenangan Liang Yi, ia sadar bahwa orang itu benar – benar menyayanginya sebagai anak kandungnya.
“Syukurlah jika dengan cara itu kau bisa mengakuiku!.” Liang Yi ingin meneteskan air mata namun ditahan, ia pun ingin memeluk anaknya namun canggung dan malu.
__ADS_1
“nak, Jadi dari ingatan yang kuberikan, apakah kau sudah tahu cara untuk tetap hidup?.” Karena tak tahan dengan situasi canggung, Liang Yi mengalihkan pembahasan.
“Tentu saja!.” Liang Wei menjawabnya dengan santai.
Liang Wei hanya perlu membuat Jiwa Dewa seimbang dengan elemen kegelapannya, maka dari itu Liang Wei harus lebih sering menggunakan elemen cahaya, dan untuk mewujudkan itu, melatih teknik Pedang Jiwa adalah salah satu solusinya.
Pada dasarnya teknik pedang jiwa adalah teknik yang dikhususkan bagi pengguna elemen cahaya, namun seiring berjalannya waktu, teknik itu dikembangkan agar dapat digunakan dengan elemen angin yang dominan di seluruh Benua. tidak ada yang tahu sejarahnya kecuali pencipta teknik itu sendiri dan anaknya, yaitu Liang Ye yang merupakan kakek dari Liang Wei.
“Ambil itu, nak!.” Liang Yi melemparkan dua pedang ganda tanpa gagang.
Liang Wei sudah tahu apa yang harus ia lakukan, ia pun berlatih sekuat tenaga selama berada di ruang hampa itu.
--
Di Pusat Ibukota
“Si*l, bala bantuan telah datang, namun tidak lama setelah itu bala bantuan musuh juga datang.” Jenderal Ding kualahan menghadapi musuh yang lebih banyak daripada rekannya.
Jenderal Ding mengayunkan pedangnya kekiri dan kanan, menendangkan kaki, dan sesekali menghindar.
“Hentikan pemikiran itu!, sudah banyak korban, apakah kau pikir kita bisa menyelamatkan semuanya!.” Jenderal Ding tidak sadar berucap seperti itu karena tidak sabar menghabisi seluruh musuh di depannya.
“Jaga bicaramu!. Seluruh penduduk adalah prioritas kita!.” Suara menggema dari langit, Kaisar Aiguo berada di langit dan terjun bebas seperti kilatan cahaya.
“booom”
Kilatan cahaya itu menghantam musuh yang berada di daratan, dalam sekejap banyak yang terkapar maupun terlempar. “Jenderal, kita memang tidak bisa menyelamatkan semuanya, namun kita harus tetap berusaha menyelamatkan semuanya.” Kaisar Aiguo berdiri di antara musuh – musuh yang sudah tidak sadarkan diri akibat serangannya.
“Maafkan aku Yang Mulia!.” Jenderal Ding mengakui kesalahannya yang secara tidak langsung menganggap Penduduk adalah beban.
__ADS_1
“Kalau begitu tunggu apalagi!, angkat bilah pedang itu dengan tujuan melindungi seluruh penduduk!.” Titah Kaisar Aiguo dengan lantang.
“hyyaaaa.” Semangat Jenderal Ding membara setelah perkataan Kaisar Aiguo, tak hanya dirinya, namun seluruh rekan dan sekutu pun demikian.
--
“Serigala Tua, aku sudah menantikan ini sejak lama.” Ucap Hong Bingwen dengan dingin.
Mereka adalah musuh bebuyutan, sudah sejak lama Hong Bingwen ingin mengakhiri hidup otak dari Aliansi pendekar hitam itu.
Namun bagaikan belut yang licin, di saat Hong Bingwen ingin menghabisinya, selalu saja serigala tua itu punya cara untuk melarikan diri darinya.
“Aku merasa tersanjung, tapi kuharap kau tidak mengecewakan!.” Ucap Cao Pi sambil menyeringai.
“Akulah yang berharap kau tidak mengecewakan, kau selalu kabur seperti seorang pengecut, ahhh aku lupa, kau dan rekanmu memanglah pengecut. tidak mampu mengalahkan kami, makanya kalian bermain kotor dengan menghabisi para penduduk.”
Tatapan Cao Pi menajam karena sangat kesal mendengar perkataan itu “Tutup mulutmu, kita bukan pejabat kekaisaran yang bertarung dengan omong kosong!.” Ucapnya.
Dan setelah itu, keduanya terbang ke langit dan menyerang satu sama lain.
--
Di sebuah tempat, dimana sepanjang mata memandang hanya ada daratan yang tandus.
10 kilatan cahaya saling bertubrukan, menciptakan banyak ledakan dan berdampak membuat daratan semakin tandus.
5 kilatan cahaya secara bersamaan terjun bebas ketanah, dan membuat tanah itu berlubang.
“Mustahil!, mengapa tiba – tiba mereka menjadi lebih kuat!.” Liang Ye dan ke-empat rekannya terjatuh di tanah dengan lukanya masing masing.
__ADS_1