
H-2 Sebelum Keberangkatan Liang Wei..
Di Lapangan Perguruan Beladiri Xijing..
Hong Bingwen berdiri di depan para murid yang sedang berbaris dengan rapi, di dekatnya ada Liang Wei yang tidak tahu mengapa ia harus berada di situ.
“Paman, untuk apa aku berada di sini?.”
“Aku kesulitan memilihnya para murid, tidak ada yang mau mengalah.”
Hong Bingwen tertawa canggung, semestinya sehari sebelumnya Ia sudah memberikan nama – nama murid yang akan melakukan perjalanan dengan Liang Wei.
Namun, sampai hari itu ia masih belum menyerahkannya.
“Dengan kata lain kau butuh bantuanku?.” Hong Bingwen mengangguk mendengar pertanyaan Liang Wei.
Liang Wei pusing dengan ketidaktegasan Pamannya yang menduduki tempat tertinggi di Perguruan Beladiri Xijing itu.
Tapi, Liang Wei pada akhirnya mengerti alasannya, karena Pamannya tidak ingin sembarangan mengirim murid, sehingga dapat membahayakan murid itu maupun misinya.
Liang Wei melihat wajah memelas Hong Bingwen, tak ingin pamannya membuang harga diri untuknya, akhirnya ia setuju.
“Aku setuju, tapi serahkan sepenuhnya segala proses untukku.”
Liang Wei menegaskan bahwa jika ia yang melakukannya, maka cara yang dilakukan juga harus sesuai dengan aturannya.
“Memang sedari awal aku berniat seperti itu.”
Jawaban itu seolah bermaksud tidak mau ambil pusing sehingga membuat Liang Wei sedikit kesal.
‘Pamanku ini sepertinya lebih licik dari kelihatannya’
Liang Wei menduga, sejak awal Hong Bingwen memang ingin menyerahkan tanggung jawab itu kepada Liang Wei.
Alasan bahwa ‘para murid tidak ada yang mau mengalah’ mungkin adalah sesuatu yang sengaja ia biarkan, karena ia bisa saja menggunakan otoritasnya sebagai Ketua tertinggi untuk memutuskannya.
‘Sialan, dia mengakaliku’ baru kali ini ada yang berhasil membodohi Liang Wei. Ia berniat untuk tak mempercayai perkataan Hong Bingwen lagi di masa depan.
“Baiklah para murid bodoh sekalian, siapa di antara kalian yang ingin mengikuti misi besar ini?.”
Sejak awal mereka menyebutnya ‘misi besar’, tapi tidak mengatakan bahwa misi itu untuk keberhasilan perang.
Hal yang membuat para murid tidak ada yang mau mengalah, karena misi seperti itu menjanjikan banyak poin kontribusi.
Tentu saja para murid akan tergiur pada misi itu, apalagi mereka tahu, bahwa orang yang berdiri di atas panggung adalah murid nomor 1 sekaligus juniornya yang paling muda.
Harga diri mereka seakan diinjak karena murid nomor 1 yang mereka anggap remeh dan tidak pantas menyandangnya.
Tentu itu terjadi karena penampilan Liang Wei yang tidak meyakinkan, tubuh mungil dan kelihatan lemah itu membuat semua murid meragukan kehebatan Liang Wei.
Liang Wei tahu itu, tapi ia tidak mempedulikannya selama mereka tidak mengusik dirinya.
Tetapi, jika mereka sudah mulai membuat masalah untuk dirinya, maka ia tidak akan berpikir dua kali untuk mematahkan kaki orang yang mengganggunya.
Para murid bersorak, tetapi bukan bersorak memuji atau memuja kepada Liang Wei, melainkan bersorak menghujat.
“Kau tidak pantas menjadi murid nomor satu!.”
“Lengan ototmu terlihat seperti lidi dan selembek kapas!.”
“Buang poin kontribusimu, dan akui kebohonganmu selama perang.”
__ADS_1
Begitulah ucapan – ucapan mereka, Liang Wei hanya mengorek telinganya seolah tidak peduli.
“Aku tidak peduli pada opini orang bodoh, karena berargumen dengan orang bodoh adalah hal bodoh.”
Liang Wei mengucapkannya dengan acuh tak acuh, sehingga membuat para murid jadi marah.
“Aku menantangmu satu lawan satu!.”
Beberapa murid mengajukan beberapa permintaaan yang sama, Liang Wei tetap berdiri dengan malas.
“Panggil satu orang paling kuat di antara kalian!.”
Para murid saling menatap dan berpikir hal yang sama ‘dia meremehkan kita’.
Beberapa murid kemudian saling berebut untuk bertanding dengan Liang Wei, kejadian itu terjadi hingga membuat Liang Wei yang semula berdiri menjadi duduk di lantai dengan wajah ngantuk.
“Aku punya ide yang lebih baik, bagaimana jika kalian bertarung satu sama lain, dan pemenangnya akan melawanku.”
Seharusnya Liang Wei mengatakan bahwa semua orang maju melawannya sekaligus, tapi dia bukanlah seseorang yang suka buang – buang tenaga dengan cara yang bodoh.
Liang Wei lebih memilih membiarkan mereka membuang tenaga ketimbang dirinya sendiri.
“Bukankah kau akan diuntungkan?, karena setelah kami bertarung, kami sudah kehabisan tenaga dalam dan kau masih belum menggunakannya satu persen pun!.”
Protes salah seorang murid, ia menyadari kerugian setelah melakukan pertarungan itu.
“Hahaha, sepertinya ada yang takut pada bocah ini?.”
Liang Wei tersenyum meremehkan, sehingga membuat mereka harus memilih membuang harga diri atau tetap mempertahankannya.
“Kami tidak takut, kami akan melakukannya!.”
Tentu saja mereka akan memilih mempertahankan harga dirinya, seorang Pendekar memiliki harga diri yang tinggi.
“Paman bisakah kau membawakanku tempat duduk dan cemilan?.”
Kelihatannya Liang Wei akan bersantai dengan caranya sendiri, ia seperti sedang mengerjai Hong Bingwen.
Hong Bingwen menunda pemilihan murid – murid itu dengan malas, dan Liang Wei melakukan pemilihan murid – murid itu dengan malas juga.
“Baiklah!.”
Hong Bingwen pergi untuk mengabulkan keinginan Liang Wei, ia mulai menyesal dalam hati karena telah menyerahkan itu kepada Liang Wei, kini ia harus menjadi pesuruh Liang Wei.
Di Lapangan..
Sebagian murid memliih untuk tidak bertarung, mereka hanya menepi di sisi lapangan.
Sedangkan beberapa murid mulai bersiap dengan pedangnya, aturannya hanya satu, tidak boleh membunuh. Jadi, cara selicik apapun diperbolehkan.
Dan semua aturan itu tentu saja berasal dari Liang Wei.
Beberapa jam kemudian…
Pertarungan antara para murid di lapangan itu berlangsung sengit, sehingga tempo pertarungan itu menjadi selambat suara dengkuran Liang Wei yang sedang tidur siang di atas panggung.
Kursi santai, cemilan, dan pertarungan yang membosankan sudah cukup untuk membuat Liang Wei mengantuk, sehingga ia bisa tidur dengan cepat.
Waktu sudah menjelang petang, para murid yang tersisa hanya 3 orang termasuk Yin Shang.
Yin Shang memiliki dendam kepada Liang Wei, bukan karena Liang Wei menyinggungnya dalam perjamuan di Ruang Makan Kekaisaran, tapi karena Liang Wei lebih populer daripada dirinya.
__ADS_1
Dia bertahan Hingga akhir dengan alasan yang menurutnya penting itu.
Sedangkan dua orang lainnnya adalah murid nomor 1 dan nomor 2, di periode tahun sebelumnya.
Dua murid itu adalah murid senior di Perguruan itu. mantan murid nomor 1 itu bernama Zhou Wen, sedangkan mantan murid nomor 2 itu adalah gadis bernama Xie Nuo.
Boom!
Suara ledakan mulai terdengar, para murid yang terluka sudah mulai menjaga jarak dari mereka.
Pertarungan itu menjadi gaduh, karena ketiga murid memiliki tenaga dalam yang tinggi pada umurnya.
Liang Wei terbangun mendengar suara ledakan itu. ‘Sial, apa mereka tidak bisa melakukannya lebih tenang?.’
Liang Wei menghela napas, ia memindai ketiga murid itu, Dua murid senior itu sama – sama berada pada rana Pendekar tingkat tinggi tahap awal.
Hanya Yin Shang yang tingkat kekuatannya berada pada tahap pemula tahap menengah, sepertinya ia pun sebentar lagi akan kalah, sedari tadi ia hanya berlari dan berlari.
“Paman, kenapa murid – murid ini sangat lemah?, bukankah sewaktu perang ada murid yang melebihi kekuatan mereka?.” merasa itu cukup janggal, Liang Wei bertanya kepada Hong Bingwen yang duduk di sampingnya.
“Yang mengikuti perang adalah pasukan khusus yang dibentuk dari murid – murid yang telah lulus.”
Liang Wei baru paham tentang sistem itu, menurut Liang Wei itu sistem yang cukup bagus, karena hanya mereka yang matang yang boleh ikut dalam perang.
Tetapi ada satu masalah tentang itu.
“Mengapa paman baru bilang sekarang?.”
Jika Hong Bingwen memberitahunya sejak awal, maka penyeleksian murid yang masih lemah itu tidak perlu dilakukan.
Perkara akan selesai dengan cara sederhana dan tak buang waktu, hanya dengan memilih beberapa orang dari pasukan khusus yang dimaksud Hong Bingwen.
Hong Bingwen berdiri dari tempat duduknya, lalu berdehem
“Ini sudah terlanjur, mari kita memikirkan cara untuk melindungi mereka dalam misi nanti.”
Berarti itu kesalahan yang tidak sengaja dilakukan oleh Hong Bingwen.
“Paman, kita telah membuang waktu dan tenaga karenamu.” Liang Wei mengomeli Hong Bingwen.
“Kita tidak perlu memikirkan hal yang lalu, kita hanya perlu menatap kedepan untuk menghadapi masalah yang ada.” Hong Bingwen berucap seolah membaca puisi.
“Salah siapa sehingga kita harus menghadapi masalah yang seharusnya tidak terjadi?.”
“Akheem aku masih punya beberapa hal untuk di urus.”
Sekali lagi, Hong Bingwen pergi, dan meninggalkan tanggung jawab kepada Liang Wei.
‘Dasar Tua tak Berguna.’ Liang Wei hanya bisa merutukinya.
Akibat Hong Bingwen, Liang Wei harus mengubah strateginya, ia pun harus memilih murid itu dengan hati – hati.
Tidak membutuhkan waktu lama, akhirnya Liang Wei mendapat jalan keluar.
Di saat yang sama, pertandingan hampir berakhir, seperti yang diduga, Yin Shang keluar dari pertarungan dengan kekalahan telak.
Sedangkan, kedua murid yang masih bertahan, masih bertarung tanpa ada tanda – tanda akan mengalah.
“Hentikan pertarungan!.” Teriak Liang Wei.
Zhou Wen dan Xie Nuo reflek menghentikan pertarungan.
__ADS_1
“Pulihkan tenaga dalam kalian dan lawan aku setelahnya.”