
“Lancang kau boc..”
“Dari tadi, aku membiarkanmu bertindak se-enak hati, terima kasih masih hidup sampai beberapa detik yang lalu.”
Liang Wei muncul di belakang Bangsawan Tao dan menusuk jantungnya dari belakang dengan pedang biasa.
“Apa yang kau lakukan?.” semula suasana agak tenang dan berfokus pada pertemuan itu, kini menjadi riuh akibat orang – orang yang waspada dan melompat menjauh dari Liang Wei.
“Dia salah satu dari mereka!, apa ada lagi alasan lain yang lebih masuk akal?.” Orang yang mengucapkan itu adalah salah satu Bangsawan yang merupakan teman dekat dari Bangsawan Tao.
Apa yang mereka lakukan adalah hal yang wajar, siapa yang tidak curiga jika rekannya dibunuh di depan mata, terlebih lagi, bukan hanya ia yang menyaksikannya, tapi semua orang yang berada di Aula Kekaisaran.
Bahkan Kaisar Aiguo, Jenderal Ding, serta para leluhur reflek waspada karena menduga bahwa itu adalah tindakan pembelotan.
“Tenanglah!, dia adalah cucukku, mustahil dia mengkhianati Kekaisaran.” Hanya dua orang yang mempercayai tindakan Liang Wei dan salah satunya adalah Liang Ye.
“Benar kata leluhur Liang, anak ini selalu bertindak di luar akal sehat, tapi aku percaya, dia tidak mungkin melakukan hal yang bisa merugikan dirinya.” Dan satu orang lagi adalah Hong Bingwen.
Dua orang terdekat Liang Wei adalah orang – orang yang berdiri untuknya, tetapi ‘orang terdekat’ itu bisa menjadi masalah di saat seperti itu.
“Leluhur Liang dan Ketua Tertinggi!, kalian adalah orang terdekat dari bocah itu, aku harap kalian tidak melibatkan emosi pribadi dalam masalah ini!.” Jenderal Ding memberi peringatan kepada keduanya.
“Itu benar!, jangan membela pengkhianat itu!, biarkan kami menghabisinya!.”
Argumen Jenderal Ding berhasil membuat orang – orang di dalam ruangan itu semakin ribut dan menuntut untuk menghabisi Liang Wei.
“Cobalah membuat goresan sekecil semut pada tubuhnya, maka kau akan tahu apa itu penderitaan yang sesungguhnya.”
Satu Pedang Liang Ye melayang di atas bahunya, meski begitu, ia tidak meledakkan auranya.
Liang Ye tidak berniat memusuhi mereka, tapi ia tidak bisa membiarkan cucuknya ditindas seperti itu. maka dari itu, setiap tindakan impulsif akan ia balas dengan cara yang sama.
Beberapa orang jadi gentar, mereka sudah tahu tingkat kekuatan Liang Ye, dan mereka jauh di bawahnya.
“Liang Ye, tenanglah!, kami tidak akan melakukan apapun padanya jika dia bukan pengkhianat, jadi ku harap kau bisa bekerja sama.” Kali ini Yin Anguo yang berbicara.
Liang Ye tidak menyangka bahwa sahabatnya tidak mempercayainya. Ia dengan dingin berkata.
“Aku tidak masalah jika kau tidak percaya padaku. aku memang selalu gampang marah, tapi satu hal yang harus kau tahu!, aku kali ini bertindak rasional daripada emosional, jangan pernah kau coba menghalangiku!.”
__ADS_1
Tentu tidak ada yang mempercayai kata - katanya, kerena jelas – jelas mereka memiliki hubungan darah, orang yang memiliki hubungan darah satu sama lain pasti memiliki hubungan emosional di dalamnya.
Tatapan mata Yin Anguo menjadi tajam, sambil mengepalkan tangan, ia berkata.
“Aku tidak ingin menggunakan cara kasar padamu, kumohon mengertilah.” Itu adalah peringatan terakhir darinya.
Yin Anguo mengeluarkan pedangnya, ia tak pernah menyangka, bahwa akan tiba hari dimana ia akan menghadapi sahabatnya sejak kecil itu.
Liang Ye pun sudah siap dari tadi, pedangnya masih melayang di atas bahunya. Tidak ada keraguan sama sekali dalam dirinya, ia akan tetap membela cucuknya meski Dewa sekalipun yang menentangnya.
“Ayah, leluhur, tenanglah!, hormati aku sebagai Kaisar!.” Terlepas dari kekuatan mereka berdua yang besar, Kaisar Aiguo tetaplah Kaisar mereka, dan setiap ucapannya adalah hal yang harus mereka turuti.
“Aku masih tidak terima cucukku di tuduh seperti itu!.” Liang Ye masih tidak tenang, tentu saja, karena perkara tuduhan Liang Wei masih belum selesai.
“Aku pun tidak tahu mengapa dia melakukannya, tapi mari kita cari kebenarannya terlebih dahulu, kita tanyakan kepadanya secara langsung.” Meski ia juga tidak berada di pihak Liang Wei, tetapi sebagai Kaisar, ia bertanggung jawab menjadi penengah.
Semua orang langsung mengalihkan pandangannya pada Liang Wei, tetapi dia sudah tidak berada di belakang Bangsawan Tao.
“Dia benar – benar pengkhianat, menggunakan celah untuk melarikan diri, di saat kita tidak memperhatikannya.”
Bukankah dengan menghilangnya dia, sudah membuktikan bahwa ia memang berkhianat. Liang Ye menelan ludah dengan kasar, ia tidak menyangka cucuknya akan melakukan itu.
Seisi ruangan menjadi hening, karena menyesal telah melewatkan musuh di depan mata, tapi beberapa saat kemudian tidak lagi.
Teriakan seseorang memecah keheningan itu, ia melihat Liang Wei telah kembali di tempatnya semula.
Duduk di tempatnya, dan di atas meja Liang Wei menggunakan kedua tangannya sebagai bantal untuk kepalanya, matanya tertutup dan terdengar dengkuran kecil, ia bahkan mengigau.
“Kalian semua orang bodoh yang membosankan.” Gumamnya dengan lirih, tapi itu dapat terdengar dengan jelas oleh mereka semua.
Meski mereka tidak tahu mimpi apa yang Liang Wei alami, tapi mereka tetap saja tersinggung, karena kata – kata itu seolah ditujukan kepada mereka.
“Kalian lihatlah!, orang ini bukanlah Bangsawan Tao!.” Pandangan semua orang beralih dari Liang Wei ke Bangsawan Tao. Seseorang menemukan sesuatu saat tidak sengaja memperhatikan jasadnya.
Kepalanya terbaring di atas meja, menghadap kesamping dengan mata melotot, tetapi bukan itu yang aneh, melainkan wajahnya, itu bukanlah wajah Bangsawan Tao, dengan kata lain itu bukanlah Bangsawan Tao, tetapi seseorang yang menyamar sebagai dia.
“Apa?.” Reaksi semua orang seperti yang diperkirakan, mata membelalak dengan dagu yang hampir terjatuh ke tanah.
“Jika orang itu bukan Bangsawan Tao, Berarti..?.” tepat seperti yang mereka pikirkan, berarti, Liang Wei bukanlah pengkhianat, pengkhianat yang sebenarnya adalah orang yang menyamar sebagai Bangsawan Tao.
__ADS_1
Mereka jadi malu karena terlambat menyadarinya, di saat yang sama mereka pun jadi merasa bodoh.
‘Anak ini!’ Pikir Kaisar Aiguo sambil menggelengkan kepala dan memegangi pelipisnya.
“Hahahahaha, benar, kalian semua orang bodoh yang membosankan!.” Wajah menjadi merah, semua orang menjadi semakin malu mendengar kata – kata Liang Ye yang lantang.
Liang Ye tertawa terbahak – bahak, sedangkan semua orang pura – pura tidak mendengarnya dan kembali duduk di tempatnya masing – masing.
Kaisar Aiguo yang wajahnya juga merah mengalihkan pembahasan agar rasa malunya berkurang.
Ia berdehem sebelum mulai berbicara “Ehhemm, seseorang tolong bangunkan Liang Wei.”
Liang Wei telah bangun, dan setelah membereskan jasad Bangsawan Tao palsu, pertemuan itu dilanjutkan kembali.
“Sekarang kalian pasti mengerti, mengapa Informasi itu sangat penting. Tadi aku sengaja tidak menjelaskan apa – apa, karena kenyataan di depan mata lebih baik daripada kata – kata di depan telinga.”
Bukti lebih dipercayai daripada kata – kata yang tidak jelas kebenarannya, bukti tidak akan menghianati, sedangkan kata - kata bisa saja berdusta.
Tanpa Liang Wei katakan seperti itu, mereka sudah mengerti dengan jelas, adanya Bangsawan Tao palsu telah memberinya penjelasan lebih dari cukup.
Satu lagi hal penting yang mereka dapat dari Bangsawan Tao palsu, pengkhianat bisa saja berada dimana – mana, jika di Istana ada salah satunya, maka bagaimana dengan orang – orang yang berbaur di antara rakyat Kekaisaran.
“Jadi bisakah kau lanjutkan penjelasanmu?.” Kaisar Aiguo kembali pada pembahasan yang sempat tertunda akibat insiden tadi.
“Aku bahkan sempat ditindas dan dicap pengkhianat oleh beberapa ‘Orang Bodoh yang Membosankan’, apakah kata – kataku masih bisa dipercaya?.”
Liang Wei menekankan kata – katanya pada bagian tertentu sehingga membuat semua orang kembali malu.
“ ‘Orang Bodoh yang Membosankan’ ini, memohon untuk mendengar penjelasan anda.”
Lagi - lagi Liang Ye ikut mengejek semua orang, Hong Bingwen berusaha keras menahan tawa, sedangkan mereka berusaha keras menahan malu.
“Ya ampun kalian semua terlalu kaku, kalian harus tenang untuk mendapatkan jalan keluar terbaik.”
Kaisar Aiguo dan beberapa orang terlihat membelalakkan mata setelah mendengar kata – kata Liang Wei.
Mereka baru menyadari bahwa Liang Wei bukanlah mempermalukannya, melainkan mengatur ulang suasana hati mereka.
Mereka tertekan oleh masalah yang dihadapi, sehingga tidak bisa berpikir jernih, berkat Liang Wei, sekarang mereka tidak merasakannya lagi.
__ADS_1
“Baiklah, karena kakekku sudah memohon, maka akan ku lanjutkan penjelasanku.”
Semua pandangan mata berpusat pada Liang Wei, raut wajah semua orang berubah serius.