
Yang Huian gemetar ketakutan sampai tak bisa berkata – kata , Liang Wei menghela napas dan memegang bilah pedang yang hampir menempel di leher Huian dengan tangan kosong “Xue’er turunkan pedangmu, ini hanya salah paham.”
Lin Lixue mendengus dingin, masih enggan menurunkannya “Kenapa kau membelanya sejauh itu!.”
Liang Wei kali ini tak bisa tenang, suaranya tak kalah dingin dengan Lin Lixue “Itu karena kau yang terlalu jauh mengambil tindakan tanpa memastikan kebenaran!.”
Lin Lixue bahkan belum mendengar penjelasannya, dan dia sudah meletakkan pedang itu untuk memutus leher seseorang.
“Mataku sudah menjelaskan semuanya!, dia jelas – jelas telah menggodamu dan kau membiarkannya, bahkan membelanya!.” Lin Lixue lebih percaya pada apa yang ia lihat.
“Jika memang demikian, mengapa itu bisa mengganggumu!?.... apa hubungannya denganmu!?.”
Wajah memerah Liang Wei sudah meledak. Ia bukanlah orang yang tidak peka terhadap perasaan wanita, hanya saja ia kecewa kepada Lin Lixue yang tidak mempercayainya. Dan, karena hal itu, Ia mulai berpikir untuk membuang perasaan yang tak perlu, yang menurutnya bisa membuatnya lemah.
Raut wajah Lin Lixue tetap dingin, tetapi matanya sudah berkaca – kaca, dia menarik pedangnya dan pergi dari situ tanpa kata.
Liang Wei hampir berdiri mengejarnya, tetapi ia mengurungkan niatnya dengan mengepalkan tangan sampai telapak tangannya mengeluarkan darah.
Setelah Liang Wei berurusan dengan Lin Lixue, kini giliran Jing Mao
‘Dengar!, kau adalah istriku di kehidupan sebelumnya, tetapi di kehidupan ini, kau bukan siapa – siapaku, jadi jangan pernah menggangguku lagi!.’
‘…..’Tidak ada jawaban dari Jing Mao. ia sudah gemetar ketakutan di tempat lain.
Yang Huian melihat pertengkaran kedua orang itu seperti pertengkaran sepasang kekasih, dan ia berada di tengah pertengkaran itu, sehingga ia menjadi sedikit canggung.
Ia bisa memahami perasaan dan kesalahpahaman Lin Lixue, karena ia juga wanita, Yang Huian sebelumnya menyimpan perasaan kepada Liang Wei, tetapi tidak dalam hingga menginginkan hubungan lebih, dan Lin Lixue di sisi lain mengira bahwa Yang Huian memiliki ambisi untuk merebut Liang Wei hingga membuatnya bertindak impulsif.
“Apa kau tidak terlalu kejam kepadanya?, bukankah kau sudah tahu bagaimana cara dia memandangmu?, dan…apakah kau tidak pernah sekalipun memandangnya?.” Yang Huian khawatir pada hal itu, ia tidak ingin merusak hubungan baik orang lain.
“Dia tidak akan mati hanya karena hal itu, selain itu, aku tidak butuh perasaan lain untuk balas dendamku.”
Yang Huian tersenyum tetapi dalam hati merasa iri kepada Lin Lixue. meskipun Liang Wei berkata seperti itu, tapi ia tidak menyangkal bahwa tidak pernah memandang Lin Lixue.
‘Sepasang orang bodoh’ Yang Huian menggelengkan kepalanya, ia bahkan tak mampu berkomentar apa – apa tentang keduanya.
__ADS_1
“Aku ingin bertanya kepadamu, apakah kau tau dimana persembunyian para pendekar aliran putih?.” Tanya Liang Wei.
Pendekar aliran hitam mengawasi dimana – mana, pergerakan pendekar aliran putih jadi terbatas, sehingga mereka membutuhkan suatu tempat tersembunyi untuk menjamin keamanannya.
“Aku tahu, kebetulan aku ingin membahasnya, jadi tempat pesembunyian mereka ada di….”
Setelah Yang Huian memberitahu Liang Wei, Liang Wei memberikan sebuah tugas kepadanya.
“Bawalah paman, Lin Lixue, dan Chuang Li, yang harus kau lakukan adalah….”
Setelah Liang Wei menjelaskannya, ia menanyakan kesanggupan Yang Huian, dan Yang Huian mengangguk menyanggupinya.
Pagi Hari di Keesokan harinya…
“Kita akan berpisah, 3 hari lagi adalah waktu yang dijanjikan.” Liang Wei akan melakukan misi penyusupan bersama ketiga murid Perguruan Beladiri, sedangkan sisanya berjalan terpisah untuk melakukan misi lain bersama Yang Huian.
Liang Wei kemudian menatap Xie Jian dan Chuang Li bergantian. “Aku serahkan keselamatan mereka kepada kalian!.”
Xie Jian dan Chuang Li mengangguk dan setelah itu mereka semua bergerak menjadi dua kelompok sesuai rencana.
“Senior, apakah misi ini akan berhasil?.” Xiao Ba tiba – tiba diliputi rasa khawatir. Da Ru dan Ting Zhe merasakan hal serupa.
“Misi akan berhasil dan Kalian akan hidup selama mengikuti rencana dan menuruti semua perintahku.”
Dengan cepat mereka menjawab “Kami akan melakukannya, Senior!.” menjawab dengan mantap walau dalam hati masih ragu.
“Mari kita pergi!.” Liang Wei membawa mereka ke arah barat dengan Langkah Kegelapan, tujuannya adalah Istana Kekaisaran Yang, Liang Wei memperkirakan dirinya akan tiba siang hari.
Siang Hari tiba…
“Kita sudah sampai di tempat tujuan!.” Liang Wei bersama tiga murid itu sudah tiba di sebuah gang sempit yang teduh tanpa sinar matahari.
“Teknik apa itu tadi senior?, apakah kau bisa mengajarkannya kepada kami?.” Ribuan kilometer Liang Wei tempuh secepat itu, Da Ru sangat antusias untuk mempelajari teknik yang serupa.
Liang Wei melepaskan kalungnya dan auranya sedikit bocor dari tubuhnya. “Kalian bisa mempelajarinya asalkan memiliki aura segelap ini!.”
__ADS_1
Aura itu sangat kelam dan mengandung ratusan juta jiwa orang yang telah ia bunuh, hanya orang dengan kekuatan jiwa yang kuat yang bisa mempelajari Teknik itu.
Itulah mengapa Liang Wei membiarkan Zhang Bingjie memiliki kitabnya, karena ia yakin walaupun Zhang Bingjie bisa mempelajarinya, tapi teknik itu tidak akan sempurna, teknik yang tidak sempurna justru akan membuat seseorang terluka.
“Se-senior Wei, ka-kau?.” Da Ru terjatuh, lututnya yang gemetar tak mampu menahan berat badannya.
Sedangkan, Ting Zhe dan Xiao Ba mematung dan tidak berani bergerak bahkan satu jari.
“Sejak awal aku memang Pendekar Aliran Hitam, jadi kalian akan benar – benar mati kalau tidak menuruti perintahku.”
Liang Wei menegaskan agar mereka membuang kemauan untuk tidak lari dari misinya.
Liang Wei tidak berniat mengungkap identitasnya, hanya saja ia harus menggunakan cara itu agar rencananya berhasil.
Dengan aura itu, Para Pendekar Aliran hitam akan menganggap dirinya sebagai rekan sehingga tidak akan ada yang menyadari dirinya menyusup.
Sedangkan ketiga orang itu memiliki tingkat kekuatan yang rendah sehingga musuh akan mengabaikannya, dan tidak memasang kewaspadaan kepada mereka.
“Sekarang, apakah kalian masih ragu?.” Dengan pertanyaan itu, Liang Wei memaksa mereka untuk memberanikan diri.
Keberanian tidak akan didapatkan dengan cara instan kalau bukan dengan ancaman.
“Ti-tidak senior.”Jawab ketiga murid itu.
“Kalau begitu mari kita lakukan!.”
Liang Wei mengikat ketiga orang itu dan menyeretnya seperti membawa hewan buruan dari hutan, itu adalah siasatnya agar lebih meyakinkan.
Saat Liang Wei hendak masuk di gerbang istana “Tunggu dulu!, kau siapa?.” Salah satu Pendekar Aliran Hitam mencegat Liang Wei.
Liang Wei melepaskan auranya “Apakah kau pikir aku adalah musuh?.” Suaranya sangat dingin.
Aura membunuh yang pekat dan tingkat kekuatan, serta kegelapan yang tidak wajar sungguh membuat mereka Penjaga gerbang itu gemetaran dan memucat.
“Si-silahkan masuk, Tuan!.” Para penjaga itu menganggap Liang Wei sebagai seorang sepuh yang menyamar untuk menangkap tiga orang yang ia seret, dan tidak ada kecurigaan sama sekali.
__ADS_1
Ketiga murid itu juga menunjukkan raut wajah ketakutan yang terlihat sangat nyata, itu karena mereka tidak sedang berpura – pura. awalnya mereka berniat bersandiwara, tetapi pada saat itu mereka benar – benar tidak bisa melakukannya, itu semua karena mereka takut kepada Liang Wei dan takut berada di sarang harimau.
“Bagus, sandiwara kalian terlihat sangat nyata.” Puji Liang Wei saat berjalan memasuki halaman Istana.