Reinkarnasi Kaisar Siluman

Reinkarnasi Kaisar Siluman
Elemen Air Racun


__ADS_3

"Sudah pasti dia tewas, ia salah memilih tempat, tidak ada jalur pelarian di ruang bawah tanah itu.”


Shé Hú menatap ruang bawah tanah yang  telah menjadi kolam air berwarna hijau yang mengandung racun.


“Kenapa kau bisa seyakin itu?.”  suara Liang Wei terdengar hingga mengagetkan Shé Hú.


“Dimana kau si*lan?.” Shé Hú geram karena Liang Wei masih hidup, ia mellihat ke segala arah mencari Liang Wei.


Lalu segera Shé Hú meninju kebelakang, sebelumnya ia melihat bahwa Liang Wei membuat Kilat Malam tewas seketika dengan serangan dari belakang, ia berharap dapat lebih dulu membunuh Liang Wei.


Namun ia hanya mengenai udara kosong karena tidak ada Liang Wei di situ.


“awas!.” Suara Liang Wei bergema, Shé Hú jadi semakin waspada dan melirik kesana kemari dan menjaga titik butanya.


“hahahahaha. Lihatlah wajah bodoh itu.” Liang Wei sangat puas mempermainkan penjahat itu, orang lain tidak akan percaya jika melihat seorang bocah mempermainkan seorang pembunuh bayaran yang kejam.


“Bang*at!, keluar kau!.” Amarah Shé Hú tidak terbendung lagi setelah Liang Wei melakukan itu, ia sangat ingin melampiaskan amarahnya namun Liang Wei tidak juga menampakkan dirinya.


Ia hanya tidak tahu bahwa Liang Wei bersembunyi di balik elemen kegelapan yang ada sehingga suaranya bergema dari semua titik elemen kegelapan itu, dan malam hari tanpa purnama itu secara alami menciptakan banyak elemen kegelapan untuk Liang Wei.


“Tangan Kegelapan.” Suara Liang Wei terdengar kembali.


“Aku tidak akan tertipu lagi.” Batin Shé Hú.


Namun beberapa saat kemudian, tangan Liang Wei muncul dari balik jubah Shé Hú dan meninju dagunya dengan telak.


Shé Hú terlempar dan jatuh ketanah. “Bagaimana ia bisa melakukan itu!?.” ia heran melihat cara bertarung Liang Wei, ia mencoba meraih tangan itu namun sudah hilang.


Meskipun Liang Wei berhasil mengenainya namun itu belum cukup untuk mengalahkan Shé Hú, seorang pendekar tingkat tertinggi tahap menengah takkan mudah untuk dikalahkan.

__ADS_1


Shé Hú terbaring di tanah, namun tersenyum.”serangan itu tidak terasa, lakukan lagi gelitikan itu.” tentu saja perbedaan tingkat kekuatan yang sangat jauh membuat Liang Wei tidak dapat mengalahkan Shé Hú dengan mudah.


“wooosh.” Liang Wei kemudian muncul 10 langkah di depan Shé Hú yang baru saja berdiri sambil menepuk – nepuk pakaiannya.


Liang Wei sudah menduga bahwa menghadapi Shé Hú tidak akan mudah, dan ia sadar tidak akan bisa mengalahkannya hanya dengan pukulan dan trik, maka dari itu ia memilih melawannya secara langsung.


“Akhirnya kau muncul juga!.” Shé Hú menyeringai melihat Liang Wei menampakkan diri, ia tidak sabar untuk segera membalaskan dendamnya. ia menatap remeh dan rendah kepada Liang Wei.


Liang Wei tahu ia belumlah setara dengan Shé Hú, namun untuk membuatnya setara atau melampauinya, ia mengeluarkan Pedang Ganda Kaisar Siluman, satu pedang masing – masing berada di tangan kanan dan kirinya.


Liang Wei tahu betul akan resiko penggunaan kedua pedang itu, namun ia tidak dalam keadaan bisa memilih cara untuk mengalahkan Shé Hú.


Shé Hú melotot melihat kedua pedang itu. “darimana kau mendapatkan itu?.” ia sangat penasaran, terlihat mata serakahnya memindai kedua pedang itu, ia mengenalinya karena ia salah satu penyintas di masa invasi bangsa siluman.


“Aku tidak menyangka ada yang mengenali kedua pedang ini.” Batin Liang Wei dengan tatapan tajam, bisa ia simpulkan bahwa orang tua di depannya sekarang merupakan salah satu orang yang telah melihatnya bertarung dikehidupannya sebelumnya, maka dari itu  Shé Hú harus segera ia musnahkan.


Tentu saja ia menyembunyikan fakta tentang itu  agar identitasnya tidak terbongkar.


Tepat seperti yang Liang Wei inginkan, terlihat wajah Shé Hú sudah merah padam karena ucapan dan tatapan mengejek yang ia tunjukkan, hal itu menandakan bahwa Shé Hú telah terprovokasi.


“Aku akan membunuhmu untuk mendapatkannya!.” ia tidak peduli lagi darimana pedang itu berasal, asalkan dapat memilikinya.


Shé Hú pun terbang sekali lagi ke arah Liang Wei, dalam 3 tarikan napas  ia sudah berada di depan Liang Wei,  kali ini ia melapasi tinjunya dengan elemen air berwarna hijau. Ia mengarahkan tinju itu tepat ke jantung Liang Wei.


Melihat jantungnya menjadi sasaran, Liang Wei tidak tinggal diam, pedang yang telah ia hunuskan dari sarungnya segera ia tebaskan secara vertikal menyambut tangan Shé Hú yang datang.


Shé Hú segera menarik kembali tangan kanannya dan membatalkan serangan itu, lalu ia menggerakkan tubuhnya  ke kanan menghindari tebasan pedang kiri Liang Wei.


Namun saat ia menggerakkan tubuhnya ke kanan, pedang di tangan kanan Liang Wei terlihat bergerak secara horizontal ke arah perutnya.

__ADS_1


Melihat serangan horizontal itu, ia melompat ke atas dan terbang ke langit menggunakan keunggulannya yang dapat melayang bebas di udara.


Ia tersenyum mengejek, dan melihat kebawah di tempat Liang Wei berdiri, namun ia segera membelalakkan mata karena tidak melihat Liang Wei berdiri di situ.


Tanpa ia duga Liang Wei tiba – tiba muncul di depannya dan menusukkan pedang ke arahnya menuju perut, ia dengan mudah menghindarinya.


“Kau lambat!.” Shé Hú mengejek Liang Wei, lalu memberikan sebuah tinjuan tangan kanan yang tentu saja di lapisi elemen air yang beracun.


“Benarkah demikian?.” Bilah Pedang Liang Wei yang menusuk udara kosong menghilang dan muncul dari belakang menuju jantung Shé Hú.


“Apa???.” Shé Hú merasakan fluktuasi pedang di belakangya, terpaksa ia membatalkan serangannya dan menghindari serangan pedang Liang Wei ke samping, namun karena sedikit terlambat lengan kanannya terkena tusukan pedang Liang Wei, ia pun segera terbang menjauh.


“Dimana lagi dia?.” Ucap Shé Hú sambil memegang lengannya yang mengeluarkan darah dengan deras, ia lagi - lagi tidak melihat Liang Wei dimana – mana.


Baru saja Shé Hú mengucapkan itu, Liang Wei sudah muncul menebaskan pedangnya dari atas. Liang Wei tidak bisa terbang, namun ia bisa mencul dari segala tempat karena malam itu tidak purnama.


Shé Hú cepat menyadarinya sehingga Ia menangkis tebasan itu dengan pedangnya. Setelah itu ia melancarkan serangan elemen air racunnya, serangan itu seperti air yang menyembur kearah Liang Wei.


Air itu menyembur sangat cepat,  namun Liang Wei sudah tidak berada di tempat sebelumnya karena telah muncul 10 langkah di belakang Shé Hú.


“Tarian Raja Kegelapan.” Teknik itu telah ia biasakan dengan tubuh manusianya dalam waktu seminggu di hutan.


Elemen kegelapan membuat pedang itu di selimuti kabut berwarna hitam, kabut itu bergerak lebih cepat daripada kedua pedang Liang Wei.


Liang Wei menebaskan kedua pedangnya ke arah kedua bahu Shé Hú. Pedangnya memang tidak menjangkau Shé Hú , namun kedua kabut berwarna hitam itu memanjang dan berhasil mendarat di kedua bahu Shé Hú.


“argght.” Shé Hú mengeluh dan berteriak kesakitan, ia tidak menyangka bahwa ada serangan yang lebih cepat daripada elemen air racunnya, bahkan tak cukup setengah tarikan napas, ia sudah terkena serangan itu dengan telak.


Meski merasa sangat sakit, tapi tidak terlihat sedikitpun bercak darah. “apa yang kau lakukan!.” kendati demikian kedua tangannya tidak dapat ia gerakkan lagi sehingga ia semakin geram.

__ADS_1


__ADS_2