Reinkarnasi Kaisar Siluman

Reinkarnasi Kaisar Siluman
Ujian Tahap Pertama (Bagian Kedua)


__ADS_3

Ujian seleksi tahap pertama untuk penerimaan murid baru di Perguruan beladiri Xijing selalu dilakukan dengan skema yang berbeda, dan jenis ujian yang juga berbeda tiap diadakan.


terkadang ujian tertulis atau ujian tentang pengetahuan, terkadang ujian fisik atau uji tingkat kekuatan.


Ujian tahap pertama itu memang dengan sengaja selalu diubah oleh para petinggi Perguruan Beladiri.


menurut para petinggi, pendekar yang hebat adalah ia yang bisa tenang menghadapi hal yang tidak ia ketahui, maka dari itu ujian tahap pertama selalu berubah berubah tergantung pada kemauan penguji.


sulit bagi calon murid untuk memprediksi ujian apa yang akan mereka hadapi, seolah jika belajar akan percuma, karena tidak tahu apa yang di ujian-kan.


Seperti kondisi yang sekarang terjadi di ruang tunggu peserta ujian.


Mereka tidak dibiarkan mengambil jalan mundur, hanya ada jalan maju bagi para peserta.


Sunyi sudah ruangan itu tanpa ada satu pun suara terdengar, jika pun ada suara yang terdengar itu adalah detak jantung para peserta yang berdetak sangat cepat.


Tatapan mata mereka kosong, seakan tak ada lagi semangat hidup, mereka hanya diam karena guncangan mental yang baru saja mereka alami.


“baiklah, siapa lagi yang akan mencoba?.” Ditengah rasa putus asa mereka, Chuang Li masih saja bertanya dengan nada santai tanpa mempedulikan perasaan mereka.


Tak satu jawaban yang terdengar dari pertanyaan Chuang Li.


Mereka semua memilih bungkam, tentu saja jika seorang manusia masih memiliki akal sehat, ia tidak akan memilih jalan yang sudah pasti menuju ke kematian.


“bukan kah aturannya tidak boleh membunuh!, lalu apa yang kau lakukan pada peserta tadi! .“ protes salah seorang dengan baju merah.


“apakah aku pernah menyebutkan aturan untuk seorang penguji?. Ucap Chuang Li dengan senyum mengejek.


“tapi bukankah ini terlalu berlebihan?.” Peserta lain ikut berbicara, mereka marah dengan tanggapan Chuang Li tadi yang seakan nyawa mereka tiada artinya.


Baru kali ini mereka melihat ujian yang mempertaruhkan nyawa,  ujian itu tidak sejalan dengan paham pendekar aliran putih.


“apanya yang berlebihan, mereka sendiri yang memilih untuk masuk ke ruangan itu.” ucap Chuang Li tidak peduli.


“bagaimana bisa kau menyebut dirimu pendekar aliran putih dengan sikapmu itu.” bentak peserta dengan baju merah tidak dapat lagi menahan rasa kesalnya.


“aku juga ingin tahu apakah aku terlihat seperti seorang pendekar aliran putih.” Ucap Chuang Li dengan nada dingin sambil membocorkan sedikit aura pendekar tingkat tinggi tahap puncak yang ia miliki.


Aura yang Ia miliki berwarna hitam pekat, para peserta mulai sesak napas dengan aura itu.

__ADS_1


“di-diaa se-seorang pendekar aliran hitam!.” Ucap salah seorang peserta, ia terlihat kesulitan bernapas, sama seperti peserta lainnya.


Mereka berpikir Peserta dengan baju merah itu tidak sadar sudah menginjak ranjau mematikan yang bisa berimbas pada peserta lainnya.


Berbagai sumpah serapah telah peserta lain teriakkan dalam hati kepada peserta dengan baju merah itu.


Tindakan bodohnya memprovokasi pendekar aliran hitam adalah hal yang salah dan sepenuhnya salah.  Teringat dipikiran mereka semua cerita dari orang – orang tentang seberapa buruknya seorang pendekar aliran hitam.


Pendekar aliran hitam yang mereka tahu adalah para pendekar yang selalu haus darah dan tidak kenal ampun. Bahkan kerap kali mereka memakan anggota tubuh manusia di depan mata orang yang memiliki anggota tubuh itu.


Bagi para peserta, pendekar aliran hitam adalah mimpi paling buruk daripada peristiwa yang sebelumnya yang mengguncang mental mereka.


Terlintas rasa takut di benak mereka semua, apapun yang mereka lakukan di ruangan tunggu itu ujung – ujungnya  menuju ke kematian.


“apakah masih ada yang ingin berbicara?.” Ucap Chuang Li lalu menarik auranya, semua peserta terlihat bernapas lega.


Tidak ada lagi protes dari peserta, Chuang Li sedikit tersenyum


“bagaimana jika aku menawarkan kalian sesuatu?.”


Mendengar ucapan itu para peserta cukup penasaran, namun mereka tidak berharap banyak karena menduga apapun pilihannya, Chuang Li akan selalu membawa mereka ke pilihan akhir yaitu mati.


Mereka cukup senang mendengar itu, tapi…


“apakah ini bukan sebuah tipuan.” Bertanya salah seorang dari peserta.


“tidak, tapi jika kalian mengannggapnya tipuan, kalian boleh saja berdiri.” Ucap Chuang Li dengan senyuman tanpa menyipitkan mata yang sangat menyeramkan.


Para peserta merinding mendengar itu, seketika mereka semua memilih untuk menyerah, artinya mereka harus tetap duduk dan diam.


Tidak ada satupun peserta yang terlihat berdiri. Chuang Li cukup kecewa dengan apa yang ia lihat di depannya. ia berpikir bahwa setidaknya ada 10 orang peserta yang akan berdiri, namun sepertinya apa yang ia harapkan tidak akan terwujud.


“hoaaaammm, kurasa tidurku sudah cukup.” Ucap Liang Wei yang terbangun lalu berdiri meregangkan tubuhnya.


Ia memandang ke-kanan dan ke-kiri melihat para peserta dengan ekspresi bingung.


Semua peserta melihatnya dengan iba, para peserta sangat menyayangkan tindakan ceroboh Liang Wei yang tidak tahu apa – apa.


Tidak bisa mereka bayangkan apa  kejadian buruk yang akan menimpa bocah polos berumur 7 tahun itu.

__ADS_1


“Sayang sekali dia harus berakhir di perut singa besar itu.” batin salah seorang peserta.


Bahkan Ada beberapa peserta yang menangisi Liang Wei.


“sungguh nasib buruk telah menimpanya” pikir para peserta yang menangis.


Saat mereka semua sudah larut dalam perasaan kasihan kepada Liang Wei, telihat seorang gadis kecil yang tidak diduga kini berdiri dihadapan Liang Wei.


Para peserta tidak tahu harus bereaksi seperti apa, Liang Wei mungkin terlihat tidak sengaja karena baru terbangun dari tidurnya.


Tapi gadis kecil itu terlihat dengan penuh kesadaran melakukannya, dari pandangan para peserta gadis kecil itu sangat lemah dan rapuh, sehingga membuat mereka semakin kasihan.


“apa ini, apa gadis itu adalah kekasihnya.” Salah satu peserta mengucapkannya sambil menahan tangis.


Gadis kecil itu tiba – tiba memegang tangan Liang Wei tanpa berkata  apa – apa.


“sepertinya memang benar, dan dia ingin mati dengannya.” Batin peserta lain semakin kasihan melihat adegan didepannya.


Tidak mempedulikan sekitarnya, raut wajah gadis kecil itu terlihat datar, dan matanya menatap tajam pada Liang Wei.


Liang sedikit terganggu dengan hal itu. namun meski begitu ia tidak berusaha melepaskan pegangan tangan dari gadis kecil itu.


“cih, dia juga tahu.” Batin Liang Wei sedikit mengeluh dalam batin.


Liang Wei menyadari bahwa gadis kecil itu memegang tangannya memberi isyarat bahwa bukan hanya kau yang tahu tentang ujian ini, dan tatapan tajam itu juga merupakan isyarat bahwa jangan selalu bertindak seolah tidak tahu apa - apa.


Liang Wei hanya menghela napas lalu, dan menatap balik mata gadis kecil itu, lalu Liang Wei menganggukkan kepala sebagai isyarat bahwa kau benar dan kau menang.


“hahahahahahaha”


Suara Chuang Li menyadarkan para peserta yang melihat adegan menyedihkan didepannya.


“selamat!!!, hanya kalian berdua yang lolos ketahap selanjutnya.” Ucap Chuang Li sangat senang.


“apaaaaa???!!!!” teriak para peserta bersamaaan.


 


 

__ADS_1


__ADS_2