Reinkarnasi Kaisar Siluman

Reinkarnasi Kaisar Siluman
Dasar dari Segala Dasar


__ADS_3

Liang Wei sudah mulai bisa menggunakan tenaga dalamnya di umur 5 tahun, kini tepat 1 satu tahun dia mempelajarinya, dan ia sudah dapat menggendalikan tenaga dalam dengan baik atau dapat dikatakan ia sudah mahir melakukannya.


di usianya yang kini menginjak 6 tahun, Liang Wei harus mempelajari ilmu beladiri dari Hong Cheung.


ini merupakan rencana yang Hong Cheung sudah susun sebelumnya, walaupun itu sedikit meleset dari rencananya, lebih tepatnya ia harus mempercepat 2 tahun dari rencana awal.


Hong Cheung sebelumnya merencanakan Liang Wei pada usia paling tidak 8 tahun untuk mempelajari ilmu beladiri.


Alasan mengapa Hong Cheung ingin Liang Wei memulai pada usia 8 tahun adalah karena umumnya di usia itu seorang anak baru akan dapat mengendalikan tenaga dalam dengan baik.


namun Liang Wei adalah kasus yang berbeda, tenaga dalam yang seharusnya dikuasai dalam waktu kurang lebih 3 – 5 tahun, ia kuasai dalam waktu hanya setahun.


Hong Cheung tidak menduga hal itu, menurut yang ia pikirkan, walaupun Liang Wei memiliki Jiwa Dewa, namun untuk mulai mengendalikan tenaga dalam adalah hal yang berbeda.


Jiwa Dewa memang membuat pewarisnya bisa lebih cepat dalam peningkatan kekuatan dan tenaga dalam, namun tidak membantu pewarisnya ketika hendak mulai mengendalikan tenaga dalam.


Jiwa Dewa baru akan membantu ketika seseorang atau lebih tepatnya seorang anak yang sudah bisa mengendalikan tenaga dalam dengan baik.


Pengendalian tenaga dalam merupakan hal yang penting, jika seorang anak tidak dapat mengendalikannya dengan baik, maka dapat melukai diri sendiri.


contohnya adalah ketika seorang anak ingin mengeluarkan tenaga dalam pada jumlah sedikit tetapi yang tenaga dalam yang keluar malah lebih besar daripada yang diinginkan.


tenaga dalam yang keluar secara berlebihan akan menguras tenaga dalam itu sendiri dalam waktu yang singkat, sehingga mengakibatkan kerusakan organ dalam.


Pengendalian tenaga dalam Liang Wei sudah pada tahap sempurna, Hong Cheung sendiri baru bisa menguasai tenaga dalam di umur 7,5 tahun.


bisa dikatakan Hong Cheung adalah seseorang yang jenius, namun jika ia adalah seseorang jenius, berarti Liang Wei lebih jenius daripada seorang jenius


Kemahiran Liang Wei mengendalikan tenaga dalamnya tentu mengejutkan Hong Cheung, bahkan dalam waktu singkat itu, Liang Wei sudah menjadi pendekar tingkat dasar tahap menengah yang seharusnya dicapai dalam waktu kurang lebih 10 tahun.


namun yang tidak diketahui Hong Cheung adalah sebelumnya Liang Wei sudah pernah melakukan pengendalian tenaga dalam dikehidupan sebelumnya.


tidak dipungkiri ketika seseorang sudah mengetahui cara melakukan sesuatu tentu akan lebih mudah melakukannya.


--

__ADS_1


Hong Cheung berniat mengajarkan Ilmu beladiri kepada Liang Wei


Liang Wei sebenarnya menyembunyikan fakta bahwa ia telah memiliki dan menguasai ilmu beladiri dari kehidupan sebelumnya, tentu saja dia tidak akan mengungkapkannya karena akan membuat Hong Cheung curiga.


Ilmu beladiri yang di akan diajarkan Hong Cheung tidak lain adalah Ilmu beladiri dengan tangan kosong dan ilmu beladiri dengan pedang.


Namun sebelum Hong Cheung mengajarkan Ilmu beladiri, ia menyuruh Liang Wei untuk memperkuat dasar dari segala dasar dalam beladiri, yaitu kuda – kuda.


kuda – kuda yang kokoh dan bertahan dalam waktu yang lama juga akan membantu dalam pertempuran, terutama dalam adu fisik, siapa yang kuda – kudanya lebih lemah, maka dia yang tumbang lebih dulu.


“pasang kuda – kuda !.” suara Hong Cheung dengan tegas memberikan perintah kepada Liang Wei


Liang Wei yang memasang kuda – kuda terlihat sangat tidak stabil dan seperti tidak dapat melakukannya, hanya dalam waktu singkat lututnya terlihat bergetar seakan dapat tumbang kapan saja.


Dalam batin Liang Wei “aku harus senatural mungkin, jika tidak, dia akan curiga”


Liang Wei memang sengaja membuat dirinya telihat seakan tidak pernah belajar beladiri untuk menghindari kecurigaan Hong Cheung.


jika Hong Cheung mengetahuinya maka dia akan di interogasi. pertanyaan yang paling Liang Wei takutkan adalah ‘dimana kau mempelajari ilmu beladiri itu?’, sedangkan ia hanya tinggal berdua dengannnya, tidak ada kemungkinan orang lain mengajarkan Liang Wei kecuali Hong Cheung sendiri.


“huh huh huh aku sudah tidak kuat lagi ayahanda guru” ucap Liang Wei dengan napas terengah - engah dan lalu berjongkok.


“baik lah jika kau tidak kuat, maka…” Hong Cheung menjawab keluhan Liang Wei dan memberikan jeda sedikit pada kata – katanya. namun Hong Cheung tidak melanjutkannya dalam bentuk kata – kata, melainkan …


“plak” tiba – tiba sebuah cambuk yang entah darimana datangnya menyasar ke bokong Liang Wei.


“aaaaarggghhhhhhttt, apa yang kau lakukan ayahanda guru?” Liang Wei merasa kesakitan  karena cambuk yang berhasil mengenainya.


“kau boleh bermalas – malasan asal kau bisa menahan rasa sakit dari cambuk itu.” ucapan Hong Cheung membuat wajah Liang Wei seketika pucat, ia tiba – tiba keringat dingin membayangkan jika harus merasakan cambuk itu lagi.


“sial, ini sakit sekali, dan aku harus menahannya, semua ini agar dia tidak curiga, sungguh menyebalkan.” batin Liang Wei


Memanglah kebohongan selalu mengorbankan dan merugikan diri sendiri, hal itu yang terjadi pada Liang Wei sekarang ini.


“ba-baiklah baiklah ayahanda guru, aku tidak akan bermalas – malasan.” ucap Liang Wei memasang kuda – kuda sekali lagi.

__ADS_1


namun kali ini ia melakukannya dengan sedikit stabil. Ia melakukannya selama seharian penuh dan Hong Cheung belum menyuruhnya berhenti.


Sementara itu, Hong Cheung dengan santainya berpesta arak di depan Liang Wei yang sedang memasang kuda – kuda.


“aku tidak pernah merasa sedamai ini, ahh inilah hidup yang sebenarnya.” ucap Hong Cheung dengan lantang


ia sungguh berada di dunianya sendiri saat menikmati araknya. ia bersandar di sebuah pohon dan duduk dengan santai.


sesekali jari kelingkingnya mencari berlian di dalam lubang hidungnya, dan sesekali ia menggaruk bokongnya yang tidak gatal.


“sialan, orang tua ini benar – benar menyebalkan.” batin Liang Wei yang merasa kesal karena Hong Cheung terlihat seperti bahagia di atas penderitaan dirinya.


Liang Wei memang tahu cara memasang kuda – kuda agar lebih kokoh dan bertahan lama berdasarkan pengalamannya, namun yang ia lupakan adalah sekarang ia sudah tidak lagi berada di tubuh lamanya, sehingga percuma saja memiliki pengetahuan jika tak memiliki daya dan fisik untuk menerapkan pengetahuannya.


Hong Cheung tidak main – main menyuruhnya memasang kuda – kuda, karena dalam waktu yang cukup lama Hong Cheung masih belum menyuruhnya berhenti, ia merasa sangat kelelahan, namun tekadnya lebih kuat dari baja.


“aku adalah Kaisar Siluman yang agung, kelelahan ini tidak ada apa – apanya, ini bahkan ratusan juta kali lebih mudah daripada menaklukkan dunia.” ucapnya dalam batin menguatkan diri sendiri.


Hong Cheung sudah sejak awal menyadari bahwa Liang Wei kelelahan, namun dia tak mengucapkan sepatah katapun.


ia memang sengaja bersikap tidak acuh pada Liang Wei dan lebih memilih menikmati araknya, hingga pada akhirnya arak yang dimiliki Hong Cheung telah habis, barulah Hong Cheung membuka mulut mengeluarkan sebuah perkataan.


“baiklah, karena arakku telah habis, maka waktu latihan hari ini juga telah berkakhir.” ucap Hong Cheung dengan wajah yang memerah dan mata setengah terbuka karena efek mabuk.


seketika itu posisinya yang semula duduk menjadi terbaring, dan dalam waktu singkat mulai terdengar suara dengkurannya.


“apa maksud mu latihan ‘hari ini’ berakhir tua Bangka, ini sudah hari ‘ketujuh’ , dasar pemabuk yang tidak tahu diri.” batin Liang Wei


kini lututnya gemetaran tanpa sandiwara , ia melihat wajah Hong Cheung dengan kesal, urat didahinya mulai muncul.


ia sangat kesal karena sepertinya Hong Cheung lupa hari karena terlalu menikmati araknya, terhitung sudah 100 kendi arak ia habiskan.


“ini baru latihan kuda – kuda, jika sudah berlatih ilmu beladiri yang sebenarnya, akan seperti apa rasa lelahnya.” Batin Liang Wei.


Walaupun bukan karena rasa takut, namun entah mengapa memikirkannya saja membuat seluruh bulu kuduknya berdiri.

__ADS_1


__ADS_2