
7 bulan kemudian…
“baiklah nak, sampai bagian mana kau mempelajarinya?.” Tanya Hong Cheung membuka pembahasan.
“aku sudah menguasai 3 dari 7 bagian inti di dalam kitab misterius itu.” Jawab Liang Wei, tentu saja dengan sedikit bumbu kebohongan untuk menyedapkan kata – katanya.
“cukup bagus.” Ucap Hong Cheung dengan wajah datar.
Ala bisa karena terbiasa, Hong Cheung sepertinya tidak kaget lagi karena sudah terbiasa dengan kejutan yang diberikan Liang Wei, dia berpikir bahwa sejak awal Liang Wei memang di atas normal.
maka dari itu, se-luarbiasa apapun pencapaian Liang Wei, Hong Cheung akan tetap menganggap itu normal.
Yah, normal untuk standar orang yang lebih jenius daripada seorang jenius.
“kulihat kau sudah mencapai tingkat pendekar pemula tahap awal.” Ucap Hong Cheung merasakan tenaga dalam Liang Wei.
“engkau benar ayahanda guru, aku hampir tidak percaya Jiwa Dewa itu sungguh membuat tingkat kekuatanku meningkat dengan pesat.” Ujar Liang Wei cukup takjub.
“aku juga tidak menyangka akan seperti itu.” ucap Hong Cheung.
“kasusmu sangat unik, ini pertama kalinya Jiwa Dewa diwariskan kepada seseorang yang bahkan belum memiliki tenaga dalamnya.” Lanjut Hong Cheung
Hong Cheung mengingat pada saat Jiwa Dewa diwariskan pada Liang Wei, saat itu usianya baru menginjak 1 tahun, bahkan belum memiliki tenaga dalam.
“benarkah itu, ayahanda guru?.” Liang Wei mengklarifikasi.
“iya, biasanya Jiwa Dewa baru diwariskan ketika seseorang sudah pada tingka mahir.” Jawab Hong Cheung.
Liang Wei mengerti betul resiko memilki Jiwa Dewa, dia sangat bersyukur Jiwanya tidak rusak ataupun kehilangan akal saat Jiwa Dewa itu diwariskan padanya.
“berterima kasihlah pada sosok cahaya itu.” Ucap Hong Cheung.
“Cih” Gumam Liang Wei.
Dalam batin Liang Wei mengumpat “sosok cahaya bangs*at itu lagi, bahkan hanya memikirkan untuk mengucapkan ‘terima kasih’ padanya sudah membuatku mual.”
“apa yang kau gumamkan barusan?.” Tanya Hong Cheung sambil mengkerutkan dahi dan menaikkan satu alisnya.
“aku tidak menggumamkan apa – apa!.” jawab Liang Wei dengan santai menyembunyikan isi hati yang sebenarnya.
“ayahanda guru, yang lebih penting, bukankah ini sudah 7 bulan?. Jadi kapan kita berangkat?.” Tanya Liang Wei mengalihkan pembicaraan.
“Karena lusa seleksinya akan dimulai, kita akan berangkat pagi di hari esok, ingat kemas semua barangmu.” Ucap Hong Cheung.
“hari ini istirahatkan tubuhmu, karena esok hari akan berat bagimu.” Lanjut Hong Cheung membuat Liang Wei curiga.
__ADS_1
“apa yang berat esok hari?, bukannya ini hanya perjalanan biasa?.” Tanya Liang Wei.
“kau akan tahu besok.” Jawab Hong Cheung memberi sebuah misteri yang berhasil membuat Liang Wei tidur dengan rasa penasaran.
--
Keesokan harinya…
Di sore hari menjelang petang.
“hoeeeekkkkkk” seorang bocah berumur 7 tahun berusaha untuk tidak mengeluarkan isi perutnya. sambil menutup mulutnya dengan kedua tangan, ia terus mengumpat dalam hati.
bocah itu kini sedang berdiri di antara antrian orang – orang yang ingin masuk ke Ibukota.
“pantas saja kemarin dia mengatakan hari ini akan berat bagiku.” Batin bocah itu dengan wajah dan bibir yang pucat pasih.
“nak kau tidak apa – apa?.” Tanya seorang kakek yang ada di sampingnya.
“tidak apa – apa ayahanda gu..hoeeeekkkkkkkkkk.” Jawab bocah itu, namun di ujung kalimatnya ia tidak sengaja mengeluarkan pelangi yang seperti air terjun dari dalam perutnya.
bocah itu adalah Liang Wei, dan kakek yang ada di sebelahnya adalah Hong Cheung .
Seperti apa yang dikatakan Hong Cheung di hari kemarin, hari ini benar – benar berat untuk Liang Wei.
Selama perjalanan udara itu, Liang Wei terus berteriak karena kecepatan terbang Hong Cheung membuatnya hampir pingsan.
Hong Cheung terbang seperti halilintar yang menyambar kemana – mana, begitupun mulut Liang Wei yang menganga kemana – mana karena angin yang menyambar mulut dan wajahnya.
Liang Wei tak pernah merasa sekenyang itu memakan angin, Liang Wei merasa tidak membutuhkan makan malam lagi.
Bola matanya hampir jatuh tertiup angin, ia bahkan tidak bisa melihat dengan benar, bahkan saat ia berjalan, ia tak sengaja menabrak pohon.
Perjalanan itu serasa mengacak – acak semua isi perutnya, dan terasa bisa keluar kapan saja.
Kini saat ia berada di antrian masuk ke ibukota, ia tidak bisa lagi menahan rasa mualnya, ia mengeluarkan isi perutnya dengan damai.
“rasanya cukup menyegarkan.” ucap Liang Wei tanpa rasa malu mengomentari dirinya yang sukses mengeluarkan isi perutnya.
semua orang di antrian itu merasa jijik menyaksikan pemandangan pelangi yang sudah jatuh di tanah.
Salah seorang dengan pakaian berwarna hijau di antara antrian itu berkomentar “lihat, dia baru saja memakan ikan bakar, bahkan kepala ikannya masih utuh, bagaimana kira – kira cara dia memakannya?.”
Seseorang dengan pakaian berwarna biru didekatnya menatapnya dengan tajam, lalu menegurnya “untuk apa kau mengomentarinya, bodoh.”
“takkkk” dan sebuah jitakan mendarat di ubun – ubun kepala orang yang tadi berkomentar.
__ADS_1
“ahh” setelah mengeluhkan jitakan itu,ia menjadi diam sambil memegang ubun - ubun kepalanya sambil menahan sakit.
“maafkan kelancangan temanku ini tuan pendekar.” Ucap orang dengan pakaian biru itu kepada Hong Cheung.
“tidak apa – apa, kelihatannya anakku tidak merasa terganggu dengan ucapan temanmu itu.” Jawab Hong Cheung melihat Liang Wei yang sepertinya tidak menghiraukan komentar itu.
“kalau boleh tahu, apa tujuan tuan pendekar di ibukota ini? Apakah tuan pendekar ingin menyaksikan seleksi itu.” Tanya orang dengan pakaian biru.
“anakku hendak mengikuti seleksi itu.” Ucap Hong Cheung dengan santai.
“bocah ini.?” Ucap orang dengan pakaian biru, sambil menunjuk Liang Wei.
Kedua pemuda dengan pakaian berwarna hijau dan biru itu terlihat berusia 15 tahun, mereka tidak percaya jika bocah berusia 7 tahun di depannya itu mengikuti seleksi penerimaan murid baru perguruan beladiri di Ibukota.
“hahahah tuan pendekar memilki selera humor yang bagus.” Ucapnya orang dengan pakaian biru sambil tertawa dengan temannya.
“anak muda, aku tidak sedang bercanda.” Jawab Hong Cheung cukup santai.
“tapi tuan pendekar, anak ini bahkan tidak memiliki tenaga dalam.”
Tenaga dalam Liang Wei memang sengaja disembunyikan, sebelum Liang Wei berangkat, Hong Cheung memberikan kalung yang bisa menyamarkan tingkat kekuatan, bahkan seorang pendekar tingkat tinggi tidak akan dapat mendeteksinya.
“dia tidaklah payah.” Singkat saja Hong Cheung menjawab, ia tidak ingin memperpanjang pembahasan.
Mendengar jawaban dari Hong Cheung, kedua orang itu kembali tertawa, bahkan semua orang yang berada di depan gerbang kota itu ikut tertawa.
“dia memang tidaklah payah, tapi dia sangat payah, percuma saja wajah yang tampan itu .” Salah seorang mencibir.
Hong Cheung hanya tersenyum ramah menanggapinya, tapi hal yang selanjutnya terjadi membuat semua orang terdiam.
Hong Cheung dengan sengaja mengeluarkan aura pendekar tingkat tertinggi tahap awal yang ia miliki.
Suasana seketika jadi sunyi, aura itu berhasil membungkam orang – orang yang tadi tertawa
ada sebagian dari mereka yang pingsan karena tidak dapat menahan tekanan aura itu, ada juga yang pipis di celana karena ketakutan.
Semua orang merasakan aura itu kecuali para penjaga gerbang kota, Hong Cheung memang tidak mengarahkan auranya kepada mereka.
“baiklah kalian benar, anak ini memang payah, tapi tidak sepayah kalian.” Ucap Hong Cheung dengan senyum sinis.
Lalu, ia menarik auranya kembali sembari berjalan santai dengan Liang Wei memasuki kota setelah membungkam mulut penjaga gerbang dengan sekantung emas.
__ADS_1