Reinkarnasi Kaisar Siluman

Reinkarnasi Kaisar Siluman
Mengajari Ketiga Murid Pengecut


__ADS_3

‘Senior Wei menjebak kita’


“Ti- tidak senior, tadi ada semut di bawah kaki kami, makanya kami kaget.”


Da Ru reflek mengucapkannya dengan gugup. Ting Zhe membisikkan sesuatu kepadanya.


“Bisakah sedetik saja kau tidak panik dan pesimis, senior ada bersama kita, mereka tidak akan membiarkan kita.”


“Syukurlah.” Da Rau dan Xiao Ba mengelus dadanya merasa lega.


‘Jangan pikir aku akan memantu kalian’ Liang Wei menghancurkan harapan mereka.


Kini mereka kembali panik, bahkan Ting Zhe yang awalnya tenang, menjadi sangat panik.


Chuang Li dan Lin Lixue tidak tahu apa – apa, mereka bingung melihat perubahan raut wajah ketiga murid itu yang dengan cepat berubah – ubah.


Sedangkan, orang – orang dengan pakaian hijau berjumlah 5 orang yang menganggu mereka merasa di ejek dengan raut wajah ketiga murid itu.


“Cukup, Aku Tuan muda Rou Lin akan memberikan pelajaran untuk kalian!.”


Orang bernama Rou Lin yang mengaku Tuan muda itu maju dan berjalan kebelakang kursi ketiga murid itu.


Ketiga murid itu langsung berlari menghindarinya dan mendekat ke belakang kursi Liang Wei.


“Senior tolong kami!....kami jauh lebih lemah daripada orang itu!, kami akan mati tanpa pertolonganmu!.” Da Ru berteriak histeris seperti orang yang sedang bersalin.


Dalam sekejap meja Liang Wei jadi pusat perhatian.


“Orang yang berumur 25 tahun meminta tolong kepada bocah?.” Bisikan para pengunjung rumah makan itu bisa terdengar jelas walupun itu disebut bisikan.


Rou Lin juga berpikiran sama “Sepertinya kalian sudah kehilangan akal sampai meminta tolong kepada bocah.”


“Kau tidak sebanding dengan senior Wei, dia tampan dan kuat, kau jelek dan lemah, hanya menindas yang lebih lemah!!!.”


Kali ini Xiao Ba yang berbicara, ia biasanya percaya diri, tapi kali ini ia ikut panik.


Di Perguruan Beladiri ia merasa selalu aman, karena murid dilarang saling membunuh, tapi di tempat itu dan detik itu, Xiao Ba merasa akan mati  kalau tidak mendapat bantuan dari Liang Wei.


“Apa kau bilang?... tarik kembali ucapanmu jal**g!.”


Saat keduanya sedang berdebat, Chuang Li berpikir ‘kenapa mereka tidak meminta tolong kepadaku?’


Ketiga murid itu percaya bahwa Liang Wei lebih kuat dan menyeramkan daripada Chuang Li.


“Aku tidak akan menarik ucapanku, karena itulah kenyatannya!.” Suara Xiao Ba semakin lantang.


Secara tidak langsung mereka bertiga mengagumi Liang Wei, maka dari itu ia akan membela Liang Wei melalui argumennya.

__ADS_1


Rou Lin menggertakkan giginya “Kau bocah, aku menantangmu!.”


Ia mengeluarkan pedang dan mengacungkannnya 1 jari di depan mata Liang Wei.


“Apakah kau yakin tidak akan menyesal.” Liang Wei menyentuh ujung bilah pedang itu dan berhasil membuat Rou Lin kaget.


Bilah pedang yang ia pegang langsung hancur dan jatuh di atas meja.


“Apa yang kau lakukan?.”


Rou Lin reflek melompat kebelakang dan menjaga jarak dari Liang Wei, begitupun para pengikut di belakangnya.


“Kenapa kau bertanya tanpa menjawab pertanyaanku?, aku ulangi sekali  lagi, APAKAH KAU YAKIN TIDAK AKAN MENYESAL?.”


Liang Wei menggunakan tenaga dalam untuk kata terakhir yang Ia tekankan, suaranya sangat lantang sampai membuat semua orang menutup telinganya karena sakit.


“A- ku tidak akan menyesal.” Rou Lin berbicara terbata – bata lalu menoleh pengikutnya “Apa yang kalian tunggu, cepat hajar bocah itu!.”


Tak ada yang bergerak, lutut para pengikut Rou Lin gemetaran.


“Kalau kau tidak menyesal, maka aku juga tidak akan menyesal mencabut nyawamu!.”


Liang Wei muncul tepat 1 jari di depan Rou Lin, ia bahkan belum berkedip dan Liang Wei sudah ada di depannya.


Rou Lin gemetaran seluruh badan, ia menelan ludahnya dengan kasar, orang orang dapat mendengarnya, sehingga semua orang dapat merasakan ketegangan Rou Lin.


Tubuh Liang Wei lebih pendek daripadanya, membuatnya tidak berani menunduk melihat Liang Wei, ia hanya mendongak menghindari tatapan mata dingin Liang Wei.


Semua orang menertawainya, ia tidak bisa berbuat apa – apa, ketakutannya pada Liang Wei bahkan membuatnya lupa merasa malu.


Ia merasa semakin takut saat melihat Liang Wei tidak berkedip dan mengalihkan pandangan kepadanya.


“Kalian bertiga, bunuh dia!.” Perintah Liang Wei kepada ketiga murid yang ikut dengannya.


“Tapi senior Wei, kami belum pernah membunuh sebelumnya.” Da Ru menolak itu dengan keras, ia ketakutan setengah mati ketika hampir dibunuh dan akan membunuh.


“Baiklah, kalian gantikan tempat mereka untuk kubunuh, aku tidak suka orang yang tidak berguna.” Suara Liang Wei benar – benar bisa membuat siapapun kedinginan hingga membeku.


Detak jantung ketiga murid itu berlomba satu sama lain, dan semakin lama semakin cepat.


Jika mereka tetap tidak memilih, maka Liang Wei akan memilih pilihannya sendiri.


Mereka mengerti bahwa Liang Wei tidak akan mempertahankan dan membawa orang yang tak berguna.


Selain itu, mereka harus memilih antara dibunuh atau membunuh.


“Kami akan melakukannya.!”

__ADS_1


Ucap ketiganya bersamaan, menegaskan bahwa mereka lebih memilih membunuh daripada dibunuh.


Dengan langkah gontai mereka mencoba mendekati Rou Lin yang masih di lantai dan tidak berani bergerak di depan Liang Wei.


Tubuh Rou Lin semakin lama semakin gemetaran sejak ia mendengar Liang Wei meminta ketiga murid itu menjadi algojonya.


“Tolong aku!!!, siapapun tolong aku!...aku akan membayar kalian berapapun itu!.”


Rou Lin berteriak putus asa karena sudah merasa hidupnya akan berakhir sebentar lagi kalau tidak mendapat pertolongan.


Ia pun tidak memikirkan harga dan bayarannya, yang penting ia bisa selamat dan tetap hidup.


Ada beberapa orang yang tergiur “Hey nak, tepati janjimu nanti.”


Seorang petapa yang cukup tua berdiri dari kursinya, dan membuat langkah ketiga murid itu berhenti.


“Jangan hiraukan orang itu, aku akan mengatasinya!.”


Dan tiba – tiba orang yang baru berdiri itu langsung duduk kembali, hal itu membuat ketiga murid itu bingung, karena yang mereka saksikan Liang Wei belum melakukan apapun, bahkan bergerak satu jari pun.


Mereka bertiga lupa bahwa Liang Wei bisa telepati.


‘Kalau kurasakan, kekuatanmu hanya berada pada rana tingkat tinggi tahap menengah, aku ragu kau bisa mengahadapiku’


Itulah pesan telepati Liang Wei kepada orang itu, sehingga ia langsung duduk kembali dengan wajah ketakutan, apalagi mendengar suara berat Liang Wei yang tidak wajar.


Ketiga murid itu akhirnya sudah benar – benar berada di depan Rou Lin.


“Lihatlah, pengikutmu dan semua orang di sini tidak membelamu bahkan dengan sejumlah emas yang kau miliki.  Sekarang terimalah takdir dibunuh oleh orang yang lebih lemah darimu”


Liang Wei mengucapkan itu untuk menambah putus asa Rou Lin, dan itu bekerja dengan baik, kini Rou Lin menunduk dengan tatapan kosong.


“Lakukan sekarang!.” Perintah Liang Wei kepada ketiga orang itu.


Liang Wei menghilang dan kembali muncul di tempat duduknya, berniat menonton pertunjukan yang akan ketiga murid itu lakukan.


Ketiga murid itu gemetaran memegang pedang di tangannya, bahkan Da Ru sampai menjatuhkan pedangnya.


Mata Da Ru tak pernah berhenti membelalak dan jantungnya semakin berdegup cepat


‘Gawat ! aku tidak bisa melakukannya’


“Aku hitung sampai tiga, jika pada hitungan ketiga dia masih hidup, maka kalian yang akan mati!.”


“Satu.”


“Tunggu dulu senior, kami masih belum siap, beri kami waktu sed…” Ting Zhe ikut panik.

__ADS_1


“Dua.”


“Ti….”


__ADS_2