Reinkarnasi Kaisar Siluman

Reinkarnasi Kaisar Siluman
Hal yang Tak Ingin Yin Anguo dan Liang Ye Dengar


__ADS_3

Boom!


Liang Ye dan Yin Anguo menghabisi seluruh musuh di Ibukota, sementara ketiga leluhur lainnya membagi tugas, antara lain menjaga jalur pelarian musuh dan menjaga para penduduk yang telah dievakuasi.


Kaisar Aiguo dan Jenderal Ding, termasuk Perguruan Beladiri dan Sekte, ikut andil dalam pembersihan musuh, semua menempatkan dirinya untuk memenangkan perang.


“Akhirnya perang ini berakhir!.” Liang Ye menghela napas panjang setelah membereskan musuh terakhir.


Orang – orang terakhir yang mereka habisi adalah para pemimpin sekte yang kehabisan cara untuk melarikan diri.


“Apa kau tidak merasa ada hal yang janggal?.”


Tapi bukannya senang, Yin Anguo merasa ada yang aneh dengan kemenangan mereka itu.


“Apa maksudmu, Kaisar sialan?.”


Liang Ye jadi kesal karena mantan Kaisar itu telah merusak suasana hatinya yang sedang senang. Ia berpikir bahwa Yin Anguo hanya iri padanya karena telah menghabisi musuh terakhir.


“Aku serius, aku bisa menjelaskannya.” Yin Anguo kelihatannya tidak sedang bercanda.


Melihat wajah serius itu, Liang Ye berkata “Kalau begitu, jelaskanlah!.”


Setelah diberi kesempatan, Yin Anguo mengatakan pendapatnya.


“Menurutku, perang ini terlalu mudah atau sengaja mereka buat seperti itu. mereka sepertinya tidak menggunakan seluruh orang – orangnya..”


“..aku yakin, setidaknya, mereka masih memiliki beberapa Ahli Pendekar Mutlak selain 5 orang yang telah pergi dari medan perang.”


Mendengar penjelasan itu membuat Liang Ye bingung, setaunya ia telah banyak menghabisi leluhur Pendekar Hitam.


“Apa maksudmu?, bukankah para Ahli mereka telah kita habisi di masa lalu?.”


“Aku tidak yakin kita telah menghabisi semuanya, kau tau mereka sangat licik dan licin, selain itu, ada juga sebagian dari mereka yang masih bermeditasi di tempat tersembunyi.”


Benar kata Yin Anguo, yang mereka habisi hanyalah yang mereka lihat, tapi bagaimana dengan orang yang melarikan diri dan masih berada dalam pertapaan.


“Kau ada benarnya.”


Liang Ye memegangi dagunya dan memicingkan mata, Perkataan Yin Anguo berhasil membuat Liang Ye sadar, bahwa perang ini tidak sesederhana kelihatannya.


Masih sibuk dalam pikirannya sendiri, Yin Anguo melanjutkan perkataannya.


“Dalam permainan Xianqi (catur gajah), ini mungkin seperti Strategi Pengalihan.” Yin Anguo memegangi janggut putihnya sambil memikirkan tujuan musuh yang sebenarnya.


‘Strategi Pengalihan?’ Mereka berdua tiba – tiba menyadari sesuatu dan bertatapan satu sama lain dengan mata membelalak.

__ADS_1


“Jangan jangan?.” Ucap mereka secara bersamaan.


“Semoga apa yang ada dalam pikiran kita tidak menjadi keny…”


Perkataan Yin Anguo terpotong oleh seseorang yang tiba – tiba menghampirinya “Leluhur, perang ini belum berakhir, ‘Kekaisaran Yang’ telah jatuh pada musuh.”


Zhi Qiang datang dengan tergesa – gesa, ia langsung menelangkupkan kedua tangan kepada Liang Ye dan Yin Anguo yang berdiri di depannya.


Liang Ye dan Yin Anguo memucat, informasi yang disampaikan itu adalah hal yang paling tak ingin mereka dengar, karena itu sesuai dengan pemikiran mereka barusan.


“Sial, Kita kalah satu langkah dari mereka, semua musuh yang berada di Ibukota ini hanyalah tumbal!.”


Meski perkataannya tidak sabar, tapi Yin Anguo tetap sadar dan mengendalikan kemarahannya dengan menghela napas panjang.


Di sisi lain Liang Ye mengepalkan tangan dan meledakkan auranya, lalu melompat ke udara.


“Hey mau kemana kau?.” Yin Anguo mencegat Liang Ye yang ingin terbang ke arah barat.


“Jangan menghalangiku, mereka semua terkutuk, aku akan menghabisi mereka tanpa sisa!.”


Mendengar itu, raut wajah Yin Anguo jadi serius, dengan suara sedingin es ia berkata.


“Jangan melakukan hal yang mereka mau, jika kau ingin mati konyol, aku bisa membunuhmu sekarang juga.”


Zhi Qiang yang masih menelangkupkan tangan merasa merinding mendengar perkataan itu, ia langsung menunduk dan berpura – pura tidak pernah mendengarnya.


Setelah Liang Ye pergi, Yin Anguo memberi perintah kepada Zhi Qiang.


“Cepat beritahu hal ini kepada Kaisar Aiguo, dan jaga kerahasiaan informasi itu dari siapapun!.”


“Baik, leluhur!.”


--


Liang Ye mendarat tepat di belakang Istana, tempat ia biasanya menenangkan diri jika suasana hatinya sedang tidak baik.


Di belakang Istana Kekaisaran terdapat taman bunga yang indah, di dekat taman bunga itu terdapat sungai, dan di seberang sungai itu adalah hutan yang luas.


Tempat itu sangat sempurna untuk menenangkan diri, karena itu Liang Ye memilihnya.


Liang Ye berjalan sampai di tepi sungai itu. ia kemudian duduk bersila dan berniat melakukan meditasi.


“Hemm?.” Liang Ye merasakan pergerakan aneh dan menghentikan niatnya untuk bermeditasi.


‘Ia tidak memiliki aura, apa dia salah satu dari mereka?’

__ADS_1


Meski tidak merasakan aura dari sosok yang kemungkinan adalah musuhnya itu, ia bisa dengan jelas mendengar suara langkah kakinya, seorang Pendekar Mutlak memiliki indera yang sangat peka.


Sosok itu muncul entah darimana, melihat ke kanan dan kiri,  berjalan mengendap – ngendap menuju jalan masuk dari belakang istana.


Pakaiannya yang serba hitam dan penutup pada kepalanya adalah ciri khas Pendekar Hitam.


Wajah Liang Ye merah karena marah, ia datang ke tempat itu untuk menenangkan diri, jika musuh datang maka ia tidak akan bisa tenang lagi. Suasana hatinya  menuntut untuk mencegat sosok itu.


“Siapa kau?, dan apa yang kau inginkan?.” Liang Ye sengaja menekan sosok itu dengan auranya.


“Senior, aku hanya ingin bertemu dengan pamanku.” Sosok itu sedikit sesak merasakan aura Liang Ye.


“Berhenti menyamar menjadi bocah yang mencari pamannya, karena suaramu lupa kau samarkan, bodoh!.”


Entah mengapa setelah mendengar bentakan Liang Ye, sosok itu tidak takut, malah balik memarahi Liang Ye.


“Siapa kau orang tua tak tahu malu!?.” Nada suara sosok itu tidak kalah tinggi dari Liang Ye.


Ia mengeluarkan dua pedang tanpa gagang dari balik jubahnya. Kedua pedang itu melayang di atas telapak tangannya, pertanda bahwa ia bersiap untuk melakukan pertarungan.


“Darimana kau mendapatkan pedang itu?, apa kau mencurinya!.” Liang Ye membentak, sebentar lagi ia akan meledak.


Mengenai  teknik yang sosok itu gunakan, Liang Ye tidaklah curiga, karena bisa saja ia mendapatkannya dari Sekte, tapi kedua pedang itu membuatnya berpikir tentang beberapa hal.


Ia mengenalinnya dan mulai curiga bahwa sosok itu telah mencurinya dari pemilik sebelumnya, atau dengan kata lain, sosok itu telah melakukan pembunuhan untuk memiliki kedua pedang itu.


“Aku tidak mencurinya, ini dari ayahku, sialan!.” Teriakan itu jelas mengandung kekesalan, ia tidak terima dituduh tanpa sebab seperti itu.


Tanpa aba – aba, sosok itu menghentakkan kaki kebelakang dan berlari ke arah Liang Ye.


“Tunggu!.”


Liang Ye menggerakkan telapak tangannya kedepan sebagai isyarat untuk menghentikan pertarungan yang hampir dimulai.


Tadinya Liang Ye yang menantangnya duluan, sekarang ia yang menghentikannya.


“Ada apa, orang tua tak tahu malu?. apakah kau sudah mulai pikun dan linglung, lebih baik kau pergi mengistirahatkan tubuh tuamu yang hampir tak memiliki nyawa itu.”


Sosok itu mencemooh Liang Ye yang tidak konsisten dan plin plan dalam mengambil keputusan.


“Katakan siapa namamu dan aku akan menentukan tindakan atau hukuman apa yang pantas untukmu!.”


Suara Liang Ye menjadi dingin, seolah tak ingin membuang – buang waktu, ada hal yang ia ingin pastikan, itulah sebabnya ia tak langsung menghabisi sosok itu.


Sebelum sosok itu menjawab pertanyaan Liang Ye, seseorang datang dari belakang Liang Ye dan menyapa sosok itu.

__ADS_1


“Apa yang kau lakukan di sini, Liang Wei?, cepat masuk!, Kaisar telah menunggumu dari tadi!.” Orang yang menyapanya adalah Hong Bingwen.


__ADS_2