
Penjaga gerbang kota itu heran menyaksikan apa yang terjadi di depannya, ia sempat curiga Hong Cheung adalah penjahat, namun ia tidak lagi mempermasalahkannya, karena sekantung emas membuatnya berhenti curiga.
saat Hong Cheung dan Liang Wei sudah pergi, barulah mereka semua bernapas lega.
“aku tidak tahu identitas mereka, tapi sepertinya kita telah menganggu orang yang salah.” Ucap orang dengan baju biru.
Mereka semua setuju dengan perkataan itu, mereka menyesali kebodohan yang telah mereka lakukan tadi.
“bahkan hanya dengan auranya kita bisa mati.” Kata seseorang menimpali, perkataan itu membuat wajah mereka serentak pucat.
“tapi aku merasa ada yang aneh dengan suara bocah itu.” Tiba – tiba salah seorang dari mereka menyadari kejanggalan itu.
“hey kau! Kita sudah beruntung masih hidup, jika kau tidak ingin keberuntungan itu habis, lupakan perkataanmu barusan !.” salah seorang di antrian itu menanggapinya dengan nada meninggi.
tentu saja tidak ada seorangpun yang ingin mendatangi masalah, apalagi jika masalah itu mengenai nyawa.
Seketika suasana menjadi sunyi, tak ada lagi yang ingin berucap.
Mereka semua memilih untuk bungkam, tidak lagi membahas apapun yang berkaitan dengan Hong Cheung dan Liang Wei.
--
Kota Xijing, Ibukota kekaisaran Yin yang berada di wilayah barat benua Tian, kota itu berjarak sekitar 500 kilometer dari hutan tempat Liang Wei berada sebelumnya.
Perjalanan dengan jalan kaki membutuhkan waktu sekitar 2 minggu, dengan berkuda dapat dipersingkat menjadi 7 hari.
Sedangkan dengan kecepatan terbang Hong Cheung, dirinya dan Liang Wei hanya membutuhkan waktu satu hari.
perjalanan jauh yang ditempuh Liang Wei dengan cara kilat itu membuatnya terlihat lelah, dan masih merasa mual.
“aku benci berada di tubuh lemah ini.” Batin Liang Wei.
“kemana tujuan kita ayahanda guru?.” Liang Wei bertanya dengan wajah yang pucat.
“karena kondisimu saat ini, kita harus mencari penginapan terlebih dahulu.” Jawab Hong Cheung.
“baiklah ayahanda guru.” Kata Liang Wei tidak membantah, karena memang ia membutuhkan istirahat.
Beberapa saat kemudian mereka tiba di sebuah penginapan mewah yang bernama penginapan Langit Xijing.
“permisi, apakah masih ada kamar yang kosong?.” Tanya Hong Cheung kepada seorang pria yang merupakan pegawai penginapan itu.
Pegawai penginapan itu memindai penampilan Hong Cheung dan Liang Wei dari atas hingga bawah.
ia kemudian memberikan tatapan merendahkan, karena dilhatnya Hong Cheung dan Liang Wei dengan pakaian lusuh.
__ADS_1
“tidak ada kamar kosong untuk pengemis.” Ketus pegawai penginapan itu.
“katakan saja berapa biayanya permalam.” Kata Hong Cheung, ia sudah terbiasa menghadapi orang seperti yang ada dihadapannya.
“cuiiih! biarpun ku katakan kau tidak akan sanggup membayarnya.” Ejek pegawai penginapan itu.
Tiba – tiba saja “bruaaakk” terdengar suara letupan yang lantang.
Suara itu berasal tubuh pegawai penginapan itu terpental hingga keluar penginapan.
“aku sedang tidak dalam suasana hati yang baik, bangs*at.” Ucap Liang Wei yang baru saja memberikan pukulan pada pegawai penginapan itu.
Hong Cheung hanya menggelengkan kepala dan menepuk jidatnya, kepalanya sakit melihat tindakan Liang Wei.
“sepertinya semua latihan kesabaran itu percuma, kembalikan harga diriku.” Batin Hong Cheung.
“hey, tahan emosimu nak.” Tegur Hong Cheung kepada Liang Wei dengan nada meninggi.
“tapi ayahanda guru, dia sungguh menyebalkan.” Balas Liang Wei yang merasa sangat kesal.
“aku tahu, tapi kau harus terbiasa dengan orang semacam itu.” ucap Hong Cheung memberikan tatapan tajam.
“hufft baiklah ayahanda guru, aku akan diam kali ini.” Melihat tatapan Hong Cheung, Liang Wei akhirnya memilih bungkam.
Para Penghuni penginapan yang mendengar suara lantang dari lantai dasar, mulai berdatangan ingin menyaksikan apa yang terjadi. Dalam waktu singkat sudah banyak orang berkerumun.
Seorang wanita cantik mencoba menerobos kerumunan itu, wanita itu terlihat berusia 20 tahunan akhir, ia memiliki lekukan tubuh yang indah.
Wanita itu mengamati keadaan dengan seksama, ia menyaksikan seorang kakek yang sedang mengomeli bocah berumur 7 tahun, sementara itu pegawai penginapan terlihat terkapar di luar penginapan.
Ia sudah bisa memikirkan beberapa kemungkianan yang mungkin telah terjadi, ia kemudian menghampiri pegawai penginapan yang terlihat sudah payah berdiri.
Wanita itu memindai tubuh pegawai penginapan itu dan mendapati ada retakan pada tulang rusuknya, terlihat memang pegawai itu memegang bagian rusuknya yang sakit.
“apa yang terjadi?.” Wanita itu menanyakan kronologi kejadiannya kepada pegawai penginapan itu.
“kedua orang itu ingin menginap di sini, aku menegurnya karena mereka tidak memilki uang, tapi orang itu tiba – tiba memukulku nyonya.” Jawab pegawai penginapan itu sambil menunjuk Liang Wei.
Mendengar perkataannya , Liang Wei menatap pegawai penginapan itu dengan tajam, ia yang menyadari di tatap hanya memalingkan wajah.
“kenapa aku takut dengan tatapan bocah itu.” batin pegawai penginapan dengan buluk kuduk yang berdiri.
“maaf tuan, saya pemilik penginapan ini, apakah yang dikatakannya benar?. “ Tanya wanita yang ternyata pemiliik penginapan itu.
“semua yang dikatakannya benar, kecuali bagian ‘kami tidak memiliki uang’ .” Jawab Hong Cheung.
__ADS_1
“jika kalian memang memiliki uang, mengapa tidak membayarnya tadi.” Ucap pemilik penginapan itu.
Liang Wei yang awalnya bungkam kini mulai angkat bicara karena tidak tahan melihatnya.
“hey nenek, pegawai mu itu bahkan belum memberitahu kami berapa biaya menginap di penginapan ini.”
“apa?, nenek?.” Mendengar perkataan tidak sopan dari Liang Wei, urat didahinya muncul.
“iya nenek, kau berpenampiilan seperti itu, kau kira aku tidak tahu setua apa kau sebenarnya?.” Balas Liang Wei.
“hei jaga mulutmu bocah sialan, sepertinya kau juga lebih tua dari kelihatannya, suara mu bahkan seperti kakek buyutku.” Kini ia membalas tidak kalah sengit dari Liang Wei.
“ ‘juga’? , kau baru saja mengakui dirimu sudah tua, ah begini saja, aku akan mengatakan umurmu yang sebenarnya, jika aku benar anggukan kepalamu, nenek.” Ucap Liang Wei memprovokasi.
“apa kau bilang?.” teriak pemilik penginapan itu mulai tidak bisa mengontrol emosinya.
Terlihat ia mengeluarkan pedang yang masih tersarung dari cincin ruangnya, aura pendekar tingkat mahir tahap menengah keluar dari tubuhnya, ia memasang kuda – kuda bersiap melakukan serangan.
Hong Cheung cepat membaca situasi, ia menatap Liang Wei dengan datar, ia membatin “baru saja dia ku tegur, tapi dia melakukannya lagi.”
Hong Cheung kemudian menutup mulut Liang Wei dengan telapak tangannya. Liang Wei sedikit memberontak, tapi dengan tatapan dingin Hong Cheung ia menjadi diam.
“harus diam itu menyebalkan.” Keluh Liang Wei dalam batin.
“permisi nyonya, bisa hentikan itu, anak ini memang menyebalkan tapi apa yang dikatakannya benar.” Kata Hong Cheung menengahi karena melihat keadaan sedikit tidak terkendali.
“apa?, kau mengatakan itu benar?.” Kata pemilik penginapan itu dengan tatapan tajam, ia mengira Hong Cheung juga membahas umurnya.
Cepat tanggap Hong Cheung menyadari perkataannya yang sedikit ambigu.
“ahh bu-bukan tentang itu, tapi kata – kata yang sebelumnya, pegawai mu itu memang belum memberitahu biaya menginap di sini.” Hong Cheung mengatakannya dengan panik.
Liang Wei yang menyaksikan keduanya tidak dapat menahan tawa.
Ia ingin tertawa dengan lepas, namun telapak tangan Hong Cheung di mulutnya membuat tawaaannya sedikit aneh, karena terdengar seperti suara orang yang sedang buang angin.
tawa aneh itu justru terdengar sangat menyebalkan di telinga wanita itu, ia yang sudah tersulut emosi dengan sangat cepat menghunus pedangnya lalu berlari menyerang Liang Wei.
“hentikan nyonya.” teriak Hong Cheung.
__ADS_1