
Seseorang muncul di belakangnya sambil tersenyum tanpa menyipitkan mata, ia segera melompat ke arah Liang Wei.
“siapa kau?.” Ketika orang itu melingkarkan kedua tangan di perutnya, barulah Liang Wei menyadari seseorang ada di belakangnya.
“aku tidak boleh ceroboh, di balik kedua tangan itu, mungkin dia menyiapkan senjata tersembunyi.” Batin Liang Wei melihat 2 tangan yang berada tepat di perutnya.
Tidak ada jawaban dari orang itu, sehingga membuat Liang Wei reflek melirik kebelakang.
Meskipun malam itu sangat gelap tanpa bulan purnama, namun dengan elemen kegelapannya, Liang Wei bisa melihat dengan jelas.
“huft, ternyata kau, mengapa kau tiba – tiba memelukku dari belakang, gadis aneh?.” Ucap Liang Wei bernapas lega, karena orang itu adalah orang yang ia kenal.
Orang itu adalah Lin Lixue. Setelah membawa rekannya yang terluka untuk diberi pertolongan, ia segera kembali ke tempat sebelumnya.
Di saat ia tiba di tempat itu, ia tersenyum melihat Liang Wei yang sedang bermeditasi, seperti biasa ia tersenyum dengan tatapan tajamnya.
Dengan langkah cepat seolah sangat terburu - buru, ia melompat dan memeluk Liang Wei dari belakang.
Meski matanya sudah sembab, namun masih terlihat air mengalir di sudut mata Lin Lixue.
Di saat ia menyadari Liang Wei menatapnya, ia segera membenamkan wajahnya di punggung Liang Wei.
“ia sedang bersedih?, apa yang membuat ia menangis?.” Batin Liang Wei.
Liang Wei sangat bingung, dan memang selalu bingung dengan segala tindakan Lin Lixue, lebih tepatnya ia tidak tahu alasan segala tindakan yang Lin Lixue lakukan.
Namun Ia sadar bahwa bukan saat yang tepat untuk mempertanyakannya, akhirnya ia hanya membiarkan Lin Lixue melampiaskan kesedihannya.
Terdengar di telinga Liang Wei, suara lirih tanpa kata dari Lin Lixue, meskipun tanpa sepatah kata, namun itu sudah menjelaskan betapa sedih dirinya.
Sangat jelas bahwa Lin Lixue berusaha untuk meredam suara itu, namun sekeras apapun ia berusaha, suara tangisan lirihnya itu tetap saja terdengar jelas.
Setelah beberapa saat, Lin Lixue sudah sedikit tenang, ia segera melepaskan pelukannya dan mengusap air matanya.
“kalau kau melakukannya sekali lagi, aku akan membunuhmu!.” Ucap Lin Lixue yang masih berada di belakang Liang Wei, Akhirnya Lin Lixue mengucapkan sesuatu.
Sangat jarang ia berbicara pada Liang Wei, karena setiap kali Liang Wei berusaha membuat ia berbicara, ia terus saja bungkam.
Namun kali ini, ia berinisiatif memulai pembicaraan. Sungguh hal yang langka bagi Liang Wei.
“aku tidak mengerti maksudmu.” Ucap Liang Wei lalu membalikkan badan menatap Lin Lixue.
Saat Liang Wei telah membalikkan badan, ia melihat mata sembab Lin Lixue.
__ADS_1
“apa dia sudah lama menangis?.” Batin Liang Wei. Ia baru memperhatikan mata sembab itu, ia tahu bahwa mata seseorang yang baru saja menangis tidak akan se-sembab itu.
Liang Wei tiba – tiba membelalakkan mata mengingat apa yang sebelumnya ia lakukan pada Lin Lixue.
Lin Lixue sebelumnya mencegah ia pergi dengan menggenggam tangannya, namun ia melepaskan genggaman Lin Lixue dengan paksa.
Lalu ia meninggalkan Lin Lixue untuk menghadapi para pembunuh bayaran, yang secara akal sehat mustahil ia kalahkan dengan kekuatan.
Akhirnya Liang Wei menyadari alasan yang membuat Lin Lixue bisa menangis, dan semua alasan itu berasal dari dirinya.
Ia tiba - tiba diliputi rasa bersalah yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya, rasa bersalah itu juga tidak pernah ia dapatkan selama hidupnya sebelum bereinkarnasi.
“hati lemah tubuh manusiaku lagi – lagi tidak bisa diam.” Batin Liang Wei.
“kau mengkhawatirkanku, dan dengan bodohnya aku tidak tahu.” Ucap Liang Wei dengan raut wajah serius, lalu mendekap erat tubuh mungil Lin Lixue.
Liang Wei tidak mengucapkan ‘maaf’ , karena dalam keadaan itu, sebuah dekapan lebih baik daripada seribu kata maaf.
“kau boleh membunuhku jika aku melakukannya lagi.” Ucap Liang Wei, lalu mengusap lembut kepala Lin Lixue yang sedang dalam dekapannya.
Lin Lixue sedikit kaget saat Liang Wei melakukan hal itu, namun ia segera membalas dekapan itu, lalu membenamkan wajah di dada Liang Wei dan menangis sejadi – jadinya.
--
“di mana ini?, bukannya tadi aku berada dalam kurungan batu itu.” Ucap Chuang Li yang baru sadar.
Ia mencium aroma tumbuhan obat yang kuat di dalam ruangan itu, ia reflek melirik kedua lengannya dan melihat kedua lengannya sudah dibalut dengan kain putih.
Ia bisa merasakan tumbuhan obat di balik balutan kain putih itu, dan itu terlihat juga dari kain putih yang sedikit berubah warna menjadi hijau.
“siapa yang merawat luka ku?.” Batin Chuang Li.
Chuang Li merasa bingung tentang siapakah gerangan orang yang telah menolongnya.
Ia sangat yakin, jika ia tidak mendapat pertolongan secepatnya, maka bisa dipastikan ia akan mati kehabisan darah.
Ingin berterima kasih pada orang yang menolongnya, namun ia tidak tahu siapa orang itu.
Berniat mencari orang yang menolongnya, Ia menengok ke kiri dan ke kanan.
Pandangannya mendapati Ming Hao, Liu Changhai, dan Yang Huian juga terbaring di sana.
Menyadari dua orang lain tidak berada di tempat itu, ia akhirnya bisa menduga siapa yang telah menolongnya.
__ADS_1
“sepertinya mereka berdua telah menolong kami.” Batin Chuang Li sambil tersenyum.
Ia sangat bersyukur masih diberikan kesempatan untuk hidup, dalam hati ia sangat berterimakasih kepada Liang Wei dan Lin Lixue yang telah menolongnya.
“sepasang kekasih itu memang sangat berguna.” Ucap Chuang Li, lalu mengangguk – anggukkan kepala.
“siapa yang kau maksud sepasang kekasih?.” Ucap Liang Wei tiba – tiba membuka pintu ruangan itu, lalu masuk dengan langkah santai.
Liang Wei memasuki ruangan itu bersama Lin Lixue yang berjalan mengekor di belakangnya seperti biasa.
“tentu saja kalian, bukankah kau sudah mengakuinya?.” Ucap Chuang Li sengaja menggoda Liang Wei, tersungging senyum genit dari wajah tuanya.
“aku lebih memilih bermimpi buruk daripada melihat senyumannya itu.” Batin Liang Wei dengan tengkuk leher belakang yang menegang.
“aku sempat merasa khawatir padamu, tapi melihat kau bisa bercanda, sepertinya semua itu sia – sia.” Ucap Liang Wei dengan kesal.
“hahahaha, baiklah karena kau telah mengkhawatirkanku, maka aku akan berhenti untuk saat ini!.” Ucap Chuang Li sambil tertawa menikmati raut wajah kesal Liang Wei.
“hufft, untuk saat ini?.” Ucap Liang Wei sambil menghela napas.
--
Di sebuah tempat tersembunyi yang tidak diketahui oleh orang lain kecuali para penghuninya, Markas Utama Klan Pembunuh Bayaran Shé Tóu.
Terlihat dua orang dengan pakaian hitam yang sama, pakaian tanpa lengan, pakaian itu memperlihatkan lengan kekar dan tato kepala ular cobra di lengan itu.
“arrgght! siapa yang telah membunuh Shé Huo dan Shé Yan.” Teriak seseorang, dengan kesal melihat giok jiwa milik kedua orang yang Ia sebutkan pecah.
Ia adalah kakek bernama Shé Dú, pemimpin utama Klan Pembunuh Bayaran Shé Tóu, Ia memiliki elemen racun.
“Pemimpin ketiga dan Shé Yan adalah orang yang kuat, maka bisa dipastikan orang yang membunuhnya bukanlah orang yang lemah.” Sahut seseorang yang lain.
Orang yang menyahut perkataan Shé Dú adalah kakek bernama Shé Hú, pemimpin kedua Klan Pembunuh Bayaran Shé Tóu, ia memiliki elemen air.
“jika memang demikian, kita harus mencari tahu tentang siapa orang itu, Shé Tóu tidak akan membiarkan kutu kecil sekalipun lari.” ucap Shé Dú sambil tersenyum tanpa menyipitkan mata.
Kekalahan pemimpin ketiga mereka, merupakan kegagalan pertama kali Shé Tóu dalam menjalankan misinya, hal itu bisa membuat reputasi Shé Tóu menurun.
Maka dari itu Shé Dú berniat menghapus noda kecil yang telah mempermalukan Klan Pembunuh Bayaran terbesar di seluruh Benua itu.
__ADS_1